Berita Pilihan Peternakan

Realisasi Import Sapi Kuartal I 2015. Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa realisasi impor sapi hidup bakalan pada kuartal pertama 2015 mencapai 97.747 ekor, dari total kuota impor yang diberikan untuk peride Januari-Maret 2015 sebanyak 100.000 ekor.

"Realisasi sebanyak 97.747 ekor, sisanya kurang lebih 2.000 ekor lagi. Hampir masuk semua," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Partogi Pangaribuan di Jakarta, baru-baru ini. Partogi mengatakan, para importir sapi hidup bakalan tersebut masih memiliki waktu hingga akhir Maret 2015 untuk merealisasikan sisa dari kuota tersebut, yang kurang lebih sebanyak 2.253 ekor.

"Bisa saja di sana masih belum tersedia juga, karena spesifikasi juga kita berikan untuk impor sapi bakalan tersebut," ucap Partogi. Untuk kwartal kedua, lanjut Partogi, pihaknya masih melakukan evaluasi dari perhitungan tahun sebelumnya dan juga adanya kebutuhan untuk puasa dan Lebaran di tahun 2015.

"Kita masih evaluasi, kita analisis kemudian nanti akan diambil keputusan, saat ini masih belum," tutur Partogi. Pada kwartal pertama tahun 2015, Kementerian Perdagangan mengeluarkan kuota impor sapi hidup bakalan sebanyak 100.000 ekor, yang diberikan kepada 30 importir sapi bakalan di dalam negeri.

Izin impor sapi hidup bakalan tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2014 lalu, di mana kuota yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan sebanyak 131.000 ekor.

Kementerian Perdagangan beranggapan, pengurangan kuota impor sapi hidup bakalan tersebut dikarenakan kondisi sentra sapi lokal yang sudah membaik, dan juga untuk memberdayakan peternak sapi di dalam negeri. Sentra sapi seperti di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah dan Lampung dinilai mampu memenuhi kebutuhan sapi dalam negeri. (Sumber: Antara)


Kerjasama Sapi antara DKI Jakarta dengan NTT. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok baru saja menandatangani nota kesepahaman terkait kerja sama pengembangbiakan sapi dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Ahok mengaku kerja sama ini juga untuk meneruskan ide Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjalankan swasembada pangan. "Saya hanya meneruskan rencana Pak Jokowi. Dia punya ide, bagaimana DKI kerja sama dengan daerah lain untuk swasembada sapi," kata Ahok di kawasan Rumpin, Bogor, Jawa Barat, Jumat (27/3/2015).

Kemenristek Dikti lewat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah meneliti bersama PT Karya Anugerah Rumpin (KAR) terkait perbaikan genetik sapi dan penyebarannya. Hasil penelitian itu akan digunakan untuk pengembangbiakan sapi milik PD Dharma Jaya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu sebagai tindak lanjut dari kerja sama yang dilakukan dengan Pemprov NTT beberapa waktu lalu. Ahok memastikan, Jakarta sesungguhnya mempunyai dana yang cukup untuk mengembangkan peternakan sapi. Hanya saja, Ibukota tidak punya cukup lahan untuk membangun peternakan di Jakarta. Karena itu kerja sama dengan daerah sangat diperlukan.

"DKI ada uang, ada LIPI yang juga yang memiliki teknologi dan pengusaha yang mampu, kenapa tidak dilakukan untuk business to business. Kami akan bawa copy ini ke daerah, sehingga peternak di daerah akan lebih sejahtera," tutur dia. Dalam kerja sama ini, lanjut Ahok, Pemprov DKI Jakarta akan memberi penyertaan modal pemerintah (PMP) kepada PD Dharma Jaya guna pengembangan peternakan. Ahok mengaku, menyediakan dana tak terbatas. "Kalau anggaran mah Kita unlimited," ucap Ahok sambil tertawa.

Dengan adanya kerja sama ini diharapkan 10 tahun ke depan, Pemprov DKI Jakarta dapat memenuhi 30% kebutuhan daging di Jakarta. Sehingga saat hari raya besar seperti Idul Fitri, tidak ada lagi lonjakan harga daging yang signifikan. "Jangan sampai Lebaran nanti harga daging melonjak. Kami juga minta PD Pasar Jaya mengawasi kalau ada pedagang yang mematok harga jauh lebih tinggi langsung kita usir," ujar Ahok.

Sementara, Dirut Dharma Jaya, Marina Ratna Dwikusuma mengatakan, pada April 2015 mendatang akan mengirimkan tim untuk melakukan uji coba pengembangbiakan sapi. Tim terdiri dari LIPI, PT KAR, dan PD Dharma Jaya sendiri.  "April tim akan berangkat ke NTT. Bisa juga nanti juga bisa embrio atau bibitnya dibawa sebagai percontohan," pungkas Marina. (Ndy/Ans) / Liputan6.
100 ribu ekor jatah import sapi untuk kuartal 1 2015. Setelah menunggu cukup lama, para eksportir ternak Australia akhirnya mendapatkan jawaban mengenai kepastian impor sapi dari Indonesia. Pemerintah Indonesia akhirnya mengeluarkan izin impor 100 ribu ekor sapi dari Australia selama kuartal-I 2015, periode Januari hingga Maret.
Mendapatkan jawaban tersebut, para eksportir ternak hidup Australia justru merasa terkejut karena jumlahnya lebih rendah dari pengiriman beberapa kuartal sebelumnya. "Para eksportir berharap dapat mengirim lebih ke Indonesia. Kabar ini tak sebaik yang kami bayangkan," tutur Manajer Operasi Frontier International Ashley James seperti dikutip dari ABC News, Rabu (14/1/2015).
Dia menjelaskan, para eksportir Australia berharap dapat mengirimkan 150 ribu hingga 160 ribu ekor sapi ke Indonesia untuk periode tersebut. Pasalnya saat ini kebutuhan daging sapi di Indonesia masih cukup besar. "Tampaknya pemerintah yang baru memiliki pemikiran lain mengenai hal ini. Indonesia hanya memberikan izin impor 100 ribu sapi untuk kuartal-I, jadi begitulah yang harus kami terima," ungkapnya.
Melihat pembelian tahun lalu, para eksportir telah mempersiapkan sebagian besar sapinya untuk dikirim ke Indonesia selama tiga bulan pertama tahun ini. Apalagi harganya mencapai rekor cukup tinggi yaitu US$ 2,7 per kilogram. "Cukup sudah. Kami mendapatkan momentum yang tepat. Saat ini para eksportir tengah berusaha mengatasi situasi izin pengiriman yang rendah dari Indonesia," katanya.
James menejelaskan, dirinya memahami keputusan Departemen Perdagangan Indonesia, tapi peran tersebut seharusnya diserahkan pada Departemen Pertanian. Meski begitu, dia menegaskan, Indonesia tetap akan menjadi pasar terbesar untuk ekspor sapinya. (Sis/Nrm) (Sumber :liputan6.com)
Duta Besar Palestina Untuk Indonesia Apresiasi Teknologi Inseminasi Buatan Indonesia : MALANG (03/03/2015)_ Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Fariz Mehdawi mengapresiasi Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam melaksanakan pelatihan inseminasi buatan bagi 10 (sepuluh) petugas Palestina di Indonesia.  “It is not a simply training” ungkapnya saat memberikan sambutan pada acara pembukaan “Training program on frozen semen production and breeding of small ruminant for Palentine”
Duta Besar Palestina untuk Indonesia menekankan bahwa pembelajaran teknologi dari Indonesia akan digunakan untuk meningkatkan produksi peternakan di Palestina sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Pelatihan tersebut dilaksanakan di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari-Malang, yang merupakan salah satu UPT dibawah koordinasi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mulai pada 3-11 Maret 2015.
Target pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para petugas Palestina melalui transfer teknologi inseminasi buatan dari Indonesia.  Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Syukur Iwantoro menyampaikan bahwa, “Ini merupakan kemajuan bagi Indonesia, bahwa teknologi di bidang peternakan yakni inseminasi buatan telah maju dan diakui secara internasional”.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya negara yang telah dilatih di Indonesia dari berbagai negara di Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah baik melalui dana partner luar negeri yakni Japan International Cooperation Agency/JICA, Islamic Development Bank/IDB, maupun melalui dana APBN.  “Selain Palestina, negara-negara yang pernah dilatih di Indonesia diantaranya Cambodia, Myanmar, Malaysia, Thailand, Mongolia, Philipina, Afganistan, Kyrgyztan, Kazakhstan, Papua Nugini, Fiji, Timor Leste, Sudan, Kenya, Zimbabwe, Yaman, Srilanka, India, Bangladesh” imbuh Syukur Iwantoro.

Pelatihan untuk kesepuluh petugas Palestina kali ini didanai melalui kerjasama dengan JICA.  Program tersebut merupakan tindaklanjut dari the 2nd conference of CEAPAD (Cooperation among East Asian countries for Palestinian) pada akhir Maret 2014 di Jakarta.
“Kemampuan Indonesia di bidang inseminasi buatan baik pengetahuan maupun penguasaan teknologinya sangat memadai untuk dilakukan disseminasi ke negara lainnya”, ungkap Dinur Krismasari, Senior Representative JICA Indonesia Office pada acara pembukaan training tersebut.
Salah satu peserta pelatihan dari Palestina mengakui, bahwa berdasarkan pengalaman sebelumnya mengikuti pelatihan inseminasi buatan di Indonesia, sangat bermanfaat dan secara nyata menambah keterampilan dan pengetahuannya.  Pihaknya telah mencoba mengikuti pelatihan serupa di negara tetangga sekitar Palestina, namun dirasa tidak memenuhi harapan mereka.  Oleh karena itu Palestina meminta untuk dapat meningkatkan kapasitasnya di bidang inseminasi buatan di Indonesia.  Hal ini disampaikannya saat video conference antara Palestina, Kementerian Pertanian Indonesia dan JICA saat merancang program pelatihan tersebut.

Pengembangan teknologi inseminasi buatan di Indonesia dimulai sejak tahun 1976 dengan dibangunnya Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang-Jawa Barat, yang disusul dengan pembangunan BBIB Sigosari-Malang pada tahun 1982.  “Teknologi inseminasi buatan di Indonesia maju pesat, dengan dicapainya swasembada semen beku pada tahun 2012.  Selanjutnya pada tahun 2013, Indonesia telah berhasil mencapai swasembada Bull (pejantan unggul)” jelas Syukur Iwantoro.
Indonesia tidak hanya mampu menghasilkan semen beku sapi, namun juga memproduksi semen beku kambing, domba dan ikan.   Keunggulan lainnya teknologi inseminasi buatan.  Kemajuan teknologi inseminasi buatan lainnya yang dimiliki Indonesia adalah teknologi sexing.  Teknologi sexing semen beku tersebut, dapat menentukan jenis kelamin kelahiran ternak sesuai dengan kebutuhan peternak.  Teknologi sexing tersebut juga telah diakui oleh internasional dengan diundangnya Indonesia oleh instansi di Jepang dan Perancis untuk mempraktekkan formulasi sexing dalam produksi semen beku.

Keuntungan dari penggunaan teknologi inseminasi buatan dalam produksi ternak dibandingkan dengan kawin alam, yakni memperbaiki kualitas genetik ternak, lebih efisiensi, menghindari inbreeding, dan mengurangi resiko penyebaran penyakit reproduksi. (Sumber : Dirjen Peternakan)

Sukseskan Gertak Birahi Dan Inseminasi Buatan Serta Embrio Transfer (GBIB-ET) 2015:Ditjen PKH, Jakarta. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) gandeng LIPI, Perguruan Tinggi, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian, serta STPP untuk berkolaborasi mensukseskan GBIB-ET 2015. “Salah satu kegiatan Ditjen PKH tahun 2015 adalah Gertak Birahi dan Inseminasi Buatan serta Embrio Transfer (GBIB-ET)” ungkap Dirjen PKH Syukur Iwantoro pada pertemuan dengan pihak/lembaga terkait seperti Perguruan Tinggi, Litbangnak, BPSDMP, LIPI, dan STPP pada Hari Jumat, 23 Januari 2015 di Ditjen PKH-Jakarta. Dirjen PKH menyampaikan bahwa kegiatan ini direspon positif oleh Presiden RI yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapai kedaulatan pangan khususnya yang bersumber dari protein hewani.
Syukur Iwantoro menyampaikan bahwa kesukseskan kegiatan tersebut nantinya, bukan hanya keberhasilan Ditjen PKH tapi merupakan hasil kerjasama dan kerja keras LIPI, Perguruan Tinggi, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian, serta STPP.

Pada kesempatan tersebut beberapa masukan model pendampingan yang ditawarkan terkait dengan kegiatan GBIB dan ET antara lain memanfaatkan Sekolah Peternak Rakyat (SPR), kehati-hatian dalam pelaksanaan khususnya masalah gangguan reproduksi sehingga dibutuhkan tenaga terlatih, ahli dan bersertifikat untuk menghindari keguguran (abortus), pakan yang berkualitas dan pemberian obat cacing, kuliah kerja profesi, incubator (calon wirausahawan), penelitian, one village one product, pembekalan singkat, sekolah laboratorium lapang dan pengembangan kawasan serta penjaringan betina produktif. (Dirjen Peternakan). 

Indonesia Cuek Dengan Ancaman Boikot Dagang Australia : Ketegasan pemerintah Indonesia menjalankan hukuman mati bagi duo 'Bali Nine' diperlihatkan dengan pemindahan dua terpidana mati tersebut dari Lapas Kerobokan ke Lapas Nusakambangan di Cilacap, Jawa Tengah. Pemindahan ini langsung disikapi keras pemerintah Australia.
Menteri Luar Negeri Australia Julie Isabel Bishop menyatakan misi dagang ke Indonesia tidak patut dilakukan di saat negaranya mengkritik keras keputusan Indonesia mengeksekusi dua warga negara Australia itu.

Padahal rencananya, pada awal bulan ini, rombongan misi dagang Australia dipimpin langsung Menteri Perdagangan Andrew Robb akan berkunjung ke Indonesia. Lawatan itu dibatalkan setelah Kejaksaan Agung memindahkan duo Bali Nine ke Nusakambangan pagi tadi, Rabu (4/3).
"Ini bukan waktu yang tepat bagi Australia untuk melawat ke Indonesia dalam misi dagang yang besar," ujarnya seperti dilansir Sydney Morning Herald.
"Dalam beberapa bulan mendatang, dijadwalkan beberapa pertemuan bilateral RI-Australia. Semuanya forum itu ditunda sampai waktu tidak ditentukan," kata Bishop.

Dengan boikot misi dagang ini, Australia secara sadar mengabaikan kelanjutan perdagangan ekspor sapi senilai USD 3 miliar. Tahun lalu saja, Indonesia mengimpor USD 1,2 miliar daging beku serta USD 460 juta sapi anakan dari Negeri Kanguru.
Di Jakarta, sejumlah kalangan baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat justru menanggapi santai. Bahkan muncul desakan mengakhiri hubungan dagang yang selama ini harmonis dengan negara kanguru. (Sumber : Merdeka.com)

Amankan Produksi lewat Asuransi Pertanian : Pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta tengah mengembangkan asuransi pertanian demi melindungi petani dari risiko kegagalan usaha.
Puso atau gagal panen seringkali diderita petani padi. Penyebabnya mulai dari kekeringan, serangan hama sangat hebat, banjir, hingga bencana alam melanda daerah persawahan yang sulit dihindari.
Kondisi itu merupakan pukulan telak bagi petani, terutama yang kepemilikan lahannya sempit. Hasil jerih payah selama 100 hari sirna begitu saja. Belum lagi untuk mulai menanam kembali, tidak sedikit petani terpaksa berutang dari para rentenir. Imbasnya, petani kerap terkendala dalam pelunasan akibat bunga yang tidak wajar.
Untuk itu, pemerintah memberikan perlindungan bagi petani untuk meminimalkan dampak dari kegagalan panen melalui UU no.19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan. Mulyadi Hendiawan, Direktur Pembiayaan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, mengatakan, perlindungan ini akan diberikan dalam bentuk asuransi. “Jadi petani akan mendapat penggantian kerugian jika mengalami gagal panen sehingga terhindar dari peminjaman modal kerja dari pelepas uang berbunga tinggi,” terangnya ketika ditemui AGRINA.
Upaya pemerintah dilakukan cara dengan memberikan subsidi bagi petani berbentuk pembayaran premi asuransi. Dalam hal ini pemerintah akan menanggung 80% biaya premi, sedangkan sisanya merupakan kewajiban petani. Angka premi itu 3% dari pertanggungan yang dipatok Rp6 juta per hektar, atau setara dengan Rp180 ribu. Artinya petani cukup membayar premi sebesar Rp36 ribu/hektar.
Layanan ini terbilang baru bagi dunia pertanian sehingga dibutuhkan uji coba sebagai pengenalan kepada para petani. Menurut Mulyadi, uji coba itu berlangsung sejak 2012 dan sudah melampaui target untuk menjaring 3.000 ha sawah. “Realisasinya sudah sampai 3.685 ha,” imbuhnya.
Lokasi yang dipilih merupakan kombinasi antara daerah yang kecil dengan yang besar potensinya terjadi puso. Tujuannya, supaya ada dinamika di dalam praktik asuransi ini. “Memang dipilih lokasi yang kemungkinan ada klaim. Jangan sampai nggak ada klaim, kalau uji coba nggak ada klaim nggak bisa dites, bagaimana cara klaimnya, bagaimana petani ambil uangnya, pengecekan lapangannya, untuk mengetahui pihak asuransi siap atau tidak dengan kondisi seperti itu,” jelas pemegang gelar Magister Manajemen dari IPB ini.
Lebih lanjut mengenai liputan ini baca di Tabloid AGRINA versi Cetak volume 10 Edisi No. 244 yang terbit pada Rabu, 7 Januari 2015.

Australia Kewalahan : Para eksportir ternak sapi Australia tengah menghadapi tantangan berat dalam memenuhi permintaan yang luar biasa dari Indonesia, pada kuartal keempat tahun ini.
Harga yang tinggi telah membuat cadangan sapi dikeluarkan dari kandangnya dan mempengaruhi suplai ternak yang stabil mulai dari Queensland hingga ke Darwin.
Ketua Asosiasi Eksportir Ternak Wilayah Utara Australia yang baru, Andy Gray, mengatakan, sekitar setengah dari ternak sapi yang saat ini dikirim ke Indonesia, berasal dari Queensland.

“Ada banyak sapi yang diternakkan di Darwin dan sekitarnya. Uang yang dihasilkan dari ekspor ternak sapi sungguh menjanjikan dan ini mengundang perhatian para peternak dari berbagai penjuru,” ujarnya.
Pasokan yang meningkat membuat harga ternak sapi terkoreksi, yang kini telah melonjak ke kisaran 2,5 dolar (sekitar Rp 25 ribu) perkilogram. Sapi jantan yang dikirim ke Indonesia melalui Darwin kini dihargai 2,4 dolar perkilo dan sapi muda dihargai 2,2 dolar perkilonya.
Tak seperti pada kuartal sebelumnya, industri ternak sapi kini menghadapi situasi ‘gunakan atau hilang’ dengan izin kuartal keempat, dan tak akan menerima dispensasi untuk mengekspor sapi setelah 31 Desember 2014.

“Semua sapi yang meninggalkan Australia untuk dikirim ke Indonesia harus beres sebelum Natal. Kami mengharap akan ada banyak aktivitas selama bulan Desember mengingat para eksportir berlomba untuk memenuhi kuota yang mereka dapatkan,” tutur Andy.
Pada akhir Oktober, lebih dari 415.000 ekor sapi telah diekspor dari pelabuhan Darwin. Lebih dari 325.000 di antaranya dikirim ke Indonesia.(Tribunews.com)


Pemerintah Terjunkan Tim Untuk Penanganan Outbreak Anthrax Di Kab Blitar, Jawa Timur : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menerjunkan tim ke Kabupaten Blitar Propinsi Jawa Timur untuk menangani outbreak Anthrax. Hal ini menyusul terjadinya kematian ternak sapi perah dengan tanda klinis dan hasil ulas darah diduga (suspect) penyakit Anthrax di Desa Kendalrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur. Ternak sapi perah tersebut milik Bapak Yudiono, dengan jumlah kematian 9 ekor dari total populasi 26 ekor yang dia miliki, dengan lokasi kematian dalam satu kandang.

Kronologi deteksi terjadinya outbreak sebagai berikut:
1. Akhir Agustus 2014
Peternak membeli ternak baru dari Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Propinsi Jawa Timur;
2. Akhir November - 1 Desember 2014
Terjadi kasus kematian secara beruntun sejumlah 9 ekor sapi perah dengan tanda klinis mencirikan penyakit Anthrax yang dilaporkan ke Dinas Peternakan pada tanggal 1 Desember 2014 milik Bapak Yudiono di Kabupaten Blitar;
3. 1 Desember 2014
Dilakukan potong paksa terhadap ternak yang sakit di kandang peternakan yang sama pada poin ‘2’, yang kemudian dibawa ke RPH Dimoro Kota Blitar.  Setelah dilakukan pemeriksaan post mortem oleh petugas keurmaster RPH, diketahui adanya pembesaran limpa;
4. 1 - 2 Desember 2014
Tim dari Dinas Peternakan Kab Blitar, Kota Blitar, Provinsi Jatim dan Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates kemudian mengambil sampel untuk dilakukan pengujian ulas darah. Hasil sampel tersebut, menunjukkan bentuk spesifik dari bakteri Bacilus. Disamping itu, telah dikirim sampel ke BBVet Wates untuk mendapatkan konfirmasi laboratorium lebih lanjut;
5. Berdasarkan peneguhan diagnosa laboratorium dengan pemeriksaan sampel darah dengan metode uji kultur Anthrax yang dilakukan oleh BBVet Wates, menunjukkan hasil positif Anthrax.

Dalam rangka mencegah penyebaran penyakit lebih meluas, upaya-upaya yang telah dilakukan antara lain:
  1. Membentuk posko di dekat lokasi kasus kejadian;
  2. Melakukan pemantauan di lokasi kasus sebagai upaya untuk mengawasi dan memastikan bahwa tidak dilakukan lalu-lintas ternak (baik keluar atau masuk ternak baru);
  3. Memetakan dan menentukan koordinat titik kasus terakhir yang akan digunakan sebagai landasan teknis untuk tindakan selanjutnya;
  4. Melanjutkan surveilance aktif di wilayah yang lebih luas untuk memastikan tingkat penyebaran kasus;
  5. Melaksanakan vaksinasi Anthrax dengan vaksin yang telah dialokasikan oleh Pusvetma.
Sedangkan tindakan yang sudah dilakukan di lokasi peternakan sapi perah terjadinya outbreak, antara lain:
  1. Mengubur bangkai, menyiramkan formalin, kemudian membakar dan menutup lubang kuburan ternak;
  2. Membersihkan sisa pakan, lantai kandang dan kotoran sapi dan dilakukan desinfeksi;
  3. Selain itu, dilakukan isolasi ternak yang memperlihatkan tanda-tanda sakit, melakukan suntikan antibiotik yang diulang setiap 2 hari terhadap sapi sekandang yang masih sehat;
  4. Meminimalisir keluar masuknya orang yang tidak berkepentingan ke kandang, serta menerapkan pola hidup sehat dan bersih bagi petugas dan peternak yang kontak dengan ternak di kandang.
Pada RPH yang bersangkutan, juga dilakukan tindakan terhadap daging dan produk ikutan lainnya (kulit, jerohan, kotoran, dll), yaitu :
  1. Menguburkan dan menyiram formalin untuk kemudian di bakar serta menutup lubang kuburan produk ternak;
  2. Membersihkan tempat pemotongan ternak yang terduga terkontaminasi Anthrax untuk kemudian dilakukan desinfeksi selama 7 hari termasuk melakukan desinfeksi di lingkungan RPH;
  3. Petugas RPH yang kontak langsung dengan ternak yang terduga Anthrax, dilakukan pengobatan antibiotika oleh petugas medis. (Sumber: Dirjen Peternakan)
Impor Sapi dari Jepang? No : Masih segar di ingatan, antara tahun 2001-2004, ketika Menteri Pertanian (Peternakan) Indonesia Prof Dr Ir Bungaran Saragih, M.Ec berkunjung ke Jepang, Menteri Pertanian pernah meminta langsung menteri kita itu agar memperkenankan Jepang mengekspor daging sapi ke Indonesia. Namun dengan tegas Indonesia menolak karena tahu daging sapi Jepang tercemar penyakit.
Dalam sejarah sedikitnya 20 tahun ini, mungkin itulah satu-satunya Indonesia menolak permintaan Jepang. Tidak memperkenankan daging sapi Jepang memasuki Indonesia, takut kalau sapi Indonesia tercemar penyakit sapi Jepang pula.

Lalu sakit apa yang dialami sapi Jepang? Sedikitnya dua macam. Sapi Jepang di Jepang pernah terkena penyakit mulut dan kuku (PMK) pada bulan Mei 2010 di Miyazaki Jepang, menjadi wabah sehingga banyak sapi yang terpaksa harus dibumihanguskan, dibunuh dan dibakar, agar penyakit tidak menyebar luar.
Gubernur Miyazaki saat itu Hideo Higashikokubaru sangat kewalahan. Sangat capai sekali menangani kasus tersebut. Untung tidak sampai karoshi (meninggal karena kecapekan). Namun akhirnya bisa juga teratasi dengan baik. Setidaknya Jepang pernah cacat kena penyakit PMK.

Membaca berita hari ini, Kamis  (9/1/2014), di sebuah media online, entah benar entah salah sang wartawan, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syukur Iwantoro mengatakan Indonesia bisa mengimpor sapi Jepang.
Begitu tulis berita tersebut, "Kementerian Pertanian memastikan Indonesia bisa mengimpor daging sapi dari Jepang. Ini dimungkinkan karena Negeri Matahari Tersebut tersebut secara country based  bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK)."
Sekali tercemar penyakit, bahkan wabah penyakit, bagi saya tak percaya lagi dan sangat bijaksana apabila kita tidak mengimpor daging sapi dari Jepang sesuai pula yang pernah seorang menteri pertanian Indonesia kita itu menolak keinginan Jepang untuk mengekspor daging sapi ke Indonesia.
Penyakit sapi di Jepang bukan itu saja. Satu lagi yaitu penyakit sapi gila atau Bovine spongiform encephalopathy (BSE).

Berdasarkan data Food Safety Commission tahun 2003, setidaknya 36 kasus BSE tersebar di Jepang dan jumlah ini jumlah kasus terbesar di luar Eropa. Plus juga satu kasus di Jepang dengan nama vCJD atau penyakit Creutzfeldt–Jakob, gangguan saraf degeneratif yang tidak dapat disembuhkan dan selalu fatal.
Setidaknya dua penyakit besar itu terkena pada sapi-sapi Jepang itu menjadi pertimbangan mantan Menteri Pertanian kita itu menentang dan terbuka menolak impor sapi Jepang ke Indonesia.
Apakah dengan berjalannya waktu sudah kita anggap hilang semua penyakit tersebut sehingga aman dan bisa diimpor ke Indonesia?

Mungkin para ahli peternakan Indonesia perlu survei dulu ke berbagai tempat di Jepang yang pernah terkena penyakit sapi tersebut agar sadar dan yakin penuh saat ini (2014) memang sudah steril tak ada lagi tersisa penyakit tersebut di Jepang. Kalau tak tahu tempatnya, penulis dapat membantu memberitahukan daerah rawan penyakit sapi di Jepang.Apakah kita memang ingin sapi cantik dan bersih kita terkena penyakit-penyakit tersebut, yang berarti manusia juga akan terkena dampaknya memakan daging sakit yang berpenyakitan itu. (Tribunews.com)

Peternakan dan Herbal Updated at: 19:26
loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.