Jenis Tanaman Yang Dianggap Gulma, Rumput Teki (Cyperus rotundus), Kandungan Nutrisi dan Manfaatnya Yang Diluar Dugaan Banyak Orang

loading...
Gulma Rumput Teki (Cyperus rotundus) Yang Menyimpan Manfaat Untuk Kesehatan Dan Beberapa Hasil Penelitian Khasiat Serta Kegunaan Rumput Teki
Rumput teki telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di India dan China.

Rumput teki (Cyperus rotundus) atau diluar negeri disebut sebagai nutgrass adalah tumbuhan semak abadi yang tingginya mampu mencapai 140 cm. Batangnya tipis berwarna hijau gelap, daunnya panjang dan tajam. Batang bunganya memiliki penampang segitiga. Tanaman ini aslinya berasal dari Afrika, Asia Selatan, Eropa tengah dan Selatan.

Rumput teki bukan hanya sekedar rumput atau gulma. Rumput ini telah digunakan untuk mengobati sejumlah penyakit dalam sistem pengobatan ayurveda (pengobatan tradisional India) dan di China. Di Pakistan digunakan untuk mengobati masalah perut, sebagai diuretik dan stimulan serta meningkatkan fungsi sistem saraf. Rimpangnya dapat menghasilkan minyak yang digunakan dalam industri parfum.

Manfaat Rumput Teki (Cyperus rotundus) untuk Kesehatan

Rumput teki mengandung banyak senyawa kimia seperti minyak aromatik, alkaloid, mineral, vitamin, kalsium, fosfor, natrium, karbonat dan lain sebagainya. Dari kesemua kandungan tersebut memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh.

Bagi kaum wanita, masalah yang sering mengganggu tiap bulannya adalah masalah gangguan haid. Memang tidak semua wanita mengalami problema ini. Ada yang beruntung tidak mengalami keluhan apapun ketika kedatangan tamu ini , namun dilain pihak ada yang mengalami berbagai masalah. Mulai dari rasa yang tidak enak di perut sampai rasa kesakitan yang sangat, datang bulan tidak teratur, ataupun keluhan lainnya. Untuk membantu mengatasi hal ini, ternyata ada tanaman yang mungkin sudah pernah anda kenal ataupun dengar yang dapat berguna meringankan keluhan ini. Tanaman itu adalah rumput teki. Banyak kegunaan dari tanaman ini yang perlu kita ketahui , bukan hanya bagi para wanita, namun juga seseorang yang mengalami gaangguan kesehatan.

Rumput Teki (Cyperus rotundus .L) atau terkadang disebut Teki, Mota, Koreha wai, Rukut Teki, Rukut Wuta adalah rumput palsu (batang segitiga) yang dapat hidup sepanjang tahun dengan ketinggian 10 sampai dengan 75 cm. Beberapa negara memberi nama tanaman ini : Musta, Mustaka, Mutha, Mothan, Nagamothan, Xiang Fu, Nutgrass, Tirirca, Tagernut, Hama-Suge, So Ken Chiu, Tage-Tage. Tanaman ini biasanya tumbuh liar di kebun, ladang ataupun tempat lain dengan ketinggian sampai 1000 m dari permukaan laut. Tanaman ini mudah dikenali karena bunga-bunganya berwarna hijau kecoklatan, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas helm benang sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir, mengelompok menjadi satu berupa payung. Ciri khasnya terletak pada buah-buahnya yang berbentuk kerucut besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk berwarna coklat, dengan panjang 1,5 – 4,5 cm dengan diameter 5 – 10 mm. Daunnya berbentuk pita, berwarna mengkilat dan terdiri dari 4-10 helai, terdapat pada pangkal batang membentuk rozel akar, dengan pelepah daun tertutup tanah. Pada rimpangnya yang sudah tua terdapat banyak tunas yang menjadi umbi berwarna coklat atau hitam. Rasanya sepat kepahit-pahitan dan baunya wangi. Umbi-umbi ini biasanya mengumpul berupa rumpun.


Kandungan Kimia Yang Dimiliki Rumput Teki
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa umbi (rimpang) rumput teki ini mengandung alkaloid, glikosida jantung, flavonoid dan minyak menguap sebanyak 0,3-1% yang isinya bervariasi, tergantung daerah asal tumbuhnya. Akar yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperone, cyperotundone dan cyperolone, sedangkan yang berasal dari China berisi patchoulenone dan cyperene. Minyak essensial yang diperoleh dari umbi rumput teki ini mengandung sedikitnya 27 senyawa yang terdiri dari seskuiterpen, hidrokarbon, epokside, keton-keton, monoterpen dan alifatik alkohol serta beberapa senyawa lain yang belum dapat diidentifikasi

Manfaat Rumput Teki
Secara tradisional, masyarakat di berbagai daerah di banyak negara telah lama dan banyak memanfaatkan umbi ( rimpang) dari tanamaan ini sebagai obat untuk memperlancar menstruasi , mengurangi rasa sakit pada waktu haid, penyakit-penyakit kewanitaan, obat sakit perut, obat pencuci anti keringat, dalam bentuk air rebusan sebagai obat untuk mengatasi penyakit mulut ( sebagai obat kumur), panas, disentri, obat untuk memperlancar kencing, obat cacingan, obat antikejang pada sakit mencret dan juga obat borok.

Mengatasi Menstruasi yang Tidak Teratur

Peneliti telah melakukan serangkaian percobaan untuk mengetahui mengapa umbi (rimpang) dari rumput teki ini banyak digunakan oleh masyarakat di berbagai daerah di banyak negara untuk mengatasi masalah datang bulan yang tidak teratur. Mereka mencoba efek dari minyak menguap (minyak atsiri) dari umbi rumput ini yang diberikan secara injeksi (suntikan sub kutan) pada daerah vagina dari hewan coba tikus betina. Dari hasil percobaan diperoleh, bahwa ternyata minyak menguap ini mempunyai efek esterogenik (sedang). Senyawa dari minyak menguap yang paling memberikan khasiat adalah cyperene I. Senyawa ini dipercayai akan menjadi senyawa proesterogen yang memperlihatkan biaoaktivitas tinggi setelah terjadi biotransformasi. Efek esterogenik inilah yang dipercaya menjadi dasar penting bagi penggunaan rumput teki pada pengobatan untuk mengatasi masalah haid yang tidak teratur pada kaum wanita.

Sebagai Penghilang Rasa Sakit dan Mengatasi Demam

Kegunaan lain secara tradisional dari rumput teki ini adalah untuk mengobati panas ( penurun demam) dan juga sebagai penghilang rasa sakit. Untuk melihat efektifitas tanaman ini dalam menurunkan panas, peneliti telah mencoba dengan memberikan ekstrak etanol dari umbi rumput teki pada tikus yang telah dibuat demam terlebih dahulu. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa kemanjuran dari ekstrak tanaman ini ternyata 6 kali lipat dibandingkan dengan obat modern natrium salisilat. Kemudian dari penelitian untuk mengetahui efek analgesik (penghilang rasa sakit) digunakan mencit yang disuntik dengan ekstrak etanol dari umbi(rimpang) tanaman ini. Ternyata efek penghilang rasa sakit dari senyawa triterpen IV B yang dipunyai tanaman ini pada 5 mg/Kg BB mencit sebanding dengan pemberian obat modern penghilang rasa sakit yaitu asam asetilsalisilat pada dosis 30 mg/kg BB mencit. Berdasarkan uraian diatas , penggunaan secara tradisional tanaman ini dalam mengatasi rasa sakit yang menyerang dikala menstruasi dapat dimengerti secara ilmiah.

Aturan pakai :
Untuk mengatasi problema menstruasi yang tidak teratur sekaligus keluhan lainnya, anda bisa membuat ramuan dari umbi (rimpang) rumput teki ini . Caranya : Bersihkan terlebih dahulu umbi tersebut lalu iris dengan ukuran secukupnya, jangan terlalu tebal agar cepat kering, namun juga jangan terlalu tipis agar minyak berkhasiatnya tidak hilang menguap. Selanjutnya keringkan dengan cara diangin-anginkan, jangan terkena matahari langsung. Kemudian anda bisa membuat seduhan dari serbuk umbi ini sebanyak 6-9 g setiap harinya dengan air secukupnya . Seduhan harus dibuat dari air yang mendidih. Tutup wadah dan diamkan sejenak sampai agak dingin, kemudian minumlah tanpa ampasnya. Ramuan ini dapat anda minum beberapa hari menjelang datangnya menstruasi

Mengatasi Gangguan Saluraan Pencernaan

Selain di pulau Jawa, beberapa negara seperti Cina, Mesir, India, dan Sudan ternyata telah lama menggunakan tanaman ini selain untuk gangguaan menstruasi, juga untuk mengatasi gangguan fungsi pencernaan seperti mual, muntah, nyeri lambung dan nyeri perut. Dari hasil percobaan yang dilakukan paraa ilmuwan pada anjing sebagai hewan coba, diketahui bahwa tanaman ini mempunyai efek antihistamin dan memiliki khasiat sebagai antiemetik (antimuntah). Sedangkan untuk mengatasi kejang perut yang dapat mengakibatkan nyeri , sakit perut dan keluhan lainnya, Para peneliti menggunakan usus halus dari hewan coba kelinci. Hasil percobaan membuktikan bahwa setelah diberi ekstrak etanol dari umbi (rimpang) tanaman ini, usus halus dari kelinci yang telah dibuat kejang dengan histamin spray dapat mengalami relaksasi yang berarti dapat digunakan untuk mengatasi kejang pada usus. Dari uraian diatas, penggunaan rumput teki untuk mengatasi gangguan saluran pencernaan tidak hanya berdasarkan pemakaian tradisional, namun juga dapat dibuktikan secara ilmiah.

Aturan Pakai :
Buatlah seduhan dari serbuk rimpang (umbi) rumput teki ini sebanyak 3 g dengan air mendidih secukupnya. Minumlah sehari 1 kali setiap pagi, sampai dirasa keluhan sudah hilang, atau kondisi membaik.

Keamanan Penggunaan Rumput teki
Tanaman ini dapat dikategorikan mempunyai profile toksisitas yang rendah. Pada percobaan dengan menggunakan ekstrak etanol dari umbi tanaman ini yang diberikan secara injeksi intraperitonial pada hewan coba mencit diketahui dosis kematian mencit terjadi pada 1500 mg/kg BB. Sedangkan dosis kematian dari mencit yang diinjeksi secara intraperitonial senyawa aktif triterpen IV B ( salah satu senyawa aktif yang dipunyai umbi rumput teki) yang mempunyai efek anti radang dan penghilang rasa sakit adalah 50 mg/kg BB.

Efek samping pemakain tanaman ini jarang terjadi. Hanya berdasarkan pengalaman dari para herbalis di negara Cina, bagi para penderita yang mempunyai vital energi rendah harus lebih berhati-hati. Dalam beberapa kasus, dijumpai pula terjadi konstipasi (sembelit) serta penurunan dari tekanan darah.
Mengobati penyakit kulit
Daun dan akar dari rumput teki mampu mengobati berbagai macam penyakit kulit.

Rumput teki digunakan dalam mengobati penyakit kulit terkait seperti kudis, eksim, kutu air hingga panu. Tanaman ini bekerja dengan membantu mengurangi rasa gatal. Anda cukup merajang atau melumatkan daun rumput teki dan aplikasian pada daerah yang terkena penyakit kulit.

Mengobati gejala sakit mata

Ekstrak dari akar rumput teki mampu meringankan gejala mata konjungtivitis, untuk mengurangi rasa sakit dan kemerahan.

Merawat kulit
Minyak esensial yang dihasilkan dari ektstrak akarnya dipercaya mampu merawat kecantikan kulit.

Extrapone adalah formulasi khusus dari rumput teki yang digunakan untuk mencerahkan kulit dan telah banyak digunakan pada produk kecantikan. Akar rumput teki juga telah ditemukan memiliki sifat anti-penuaan untuk kulit. Selain itu, ekstrak akar rumput teki juga mampu menghilangkan bintik-bintik hitam pada wajah.

Mengobati gejala PMS
Senyawa yang terdapat pada rumput teki mampu menormalkan gannguan pada payudara saat menstruasi dan menjaga suhu tubuh tetap normal. Anda bisa membuat sendiri ramuan dari umbi rumput teki. Bilas dan bersihkan umbi rumput teki, lumatkan dan masukkan dalam panci berisi air hingga mendidih. Anda bisa meminum ramuan hasil rebusan tersebut.

Mengobati luka

Daun rumput teki dapat menyembuhkan luka luar dengan cepat. Anda bisa menumbuk daunnya hingga halus dan oleskan pada daerah yang luka.

Menjaga sistem pencernaan
Bubuk yang terbuat dari umbi rumput teki.

Rumput teki juga bisa diolah menjadi bubuk. Dengan mengonsumsi bubuk rumput teki mampu membunuh kuman atau cacing dan melancarkan pencernaan. Obat herbal yang terbuat dari rumput teki mampu melancarkan buang air besar.

Mengobati diare

Menurut review yang diterbitkan pada tahun 2010 dalam “Journal of Ayurveda dan Integrative Medicine” para peneliti menemukan bahwa tikus yang diobati dengan rumput teki menghambat gejala diare sebanyak 46%.

Menurunkan berat badan

Rumput teki juga dapat menghambat kenaikan berat badan. Sebuah studi pada tahun 2007, para peneliti memberikan beberapa ekstrak rumput teki selama 60 hari pada sekelompok tikus. Kelompok tikus ini mengalami penurunan yang signifikan pada berat badan.

Meredakan demam

Rumput teki dianggap sebagai ramuan terbaik untuk mengobati demam. Bila diterapkan pada tubuh, rumput teki mampu menginduksi keringat sehingga membantu menormalkan suhu tubuh. Anda cukup menghaluskan umbinya dan mencampurnya dengan sedikit air, lalu kompreskan pada tubuh.

Mengobati gangguan mental

Akar dari rumput teki juga berguna dalam mengobati penyakit mental, epilepsi dan psikosis.

Efek Samping Dari Penggunaan Tanaman Ini

Di balik manfaat yang hebat pasti tetap ada efek sampingnya, hal ini juga berlaku pada pemanfaatan rumput teki. Efek samping ini muncul di karenakan penggunaan yang berlebihan.

Sebaiknya ibu hamil, menyusui, anak-anak, penderita batu ginja, penyakit jantung, serta orang yang kekurangan tiamin (vitamin B1), sebaiknya konsultasi pada dokter sebelum mengkonsumsi teh suket teki. Adapun efek samping yang dirasakan oleh tubuh adalah :
Ketidakseimbangan elektrolit
Mengalami Demam
Kekurangan tiamin (vitamin B1)
Masalah kulit
Gangguan denyut nadi
Kelemahan otot

Sebagian besar jenis-jenis Cyperus adalah higrofili dan tumbuh di daerah-daerah lembab atau basah pada ketinggian rendah dan menengah. Rumput teki tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindungi dari sinar matahari pada lapangan rumput, pinggir jalan, tegalan atau lahan pertanian. Rumput tersebut mampu tumbuh pada berbagai macam jenis tanah dengan ketinggian tempat 1-1.000 mdpl. Umumnya rumput teki tumbuh liar di Afrika Selatan, Korea, Cina, Jepang, Taiwan, Malaysia, Indonesia, dan Kawasan Asia Tenggara. Rumput teki banyak dijumpai pada daerah dengan curah hujan >1.000 mm/tahun, serta memiliki kelembaban 60-85%. Tumbuhan tersebut dapat tumbuh dengan baik pada suhu rerata 250 C, pH tanah 4 – 7,5. Tumbuhan teki tergolong dalam tanaman yang memiliki jalur fotosintesis C4, sehingga akan lebih efisien dalam memanfaatkan air, suhu dan sinar matahari. Oleh sebab itu, biasanya tumbuhan tersebut akan lebih mampu bersaing dalam memperoleh sinar matahari, meski dalam keadaan mendung dibanding tanaman budidaya (Budiyanto, 2013). Cyperus rotundus juga dapat tumbuh di padang rumput basah musiman, tanah-tanah pertanian yang beririgasi, padang rumput basah dan sepanjang aliran air. Jenis tersebut juga tahan terhadap daerah yang sama sekali kering tetapi tidak bertoleransi terhadap naungan. Fotoperiode pendek 8-12 jam mendukung pembentukan umbi, sedangkan fotoperiode panjang mendukung pertumbuhan vegetatif lainnya.

Cyperus pada umumnya tersebar diseluruh dunia, tetapi yang terbesar ditemukan di daerah tropik. Cyperus esculentus mempunyai persebaran yang sangat luas mulai dari Mediterranea sampai Afrika bagian selatan, dari India keseluruh Asia Tenggara sampai Australia dan melimpah di Amerika; seringkali tersebar dengan sengaja bersama-sama dengan tanaman pertanian lainnya. Di Malesia, jenis tersebut jarang ditemukan dan hanya dikoleksi dari Jawa. Juga dibudidayakan untuk diambil umbinya yang enak dimakan dan di beberapa daerah dimana jenis tersebut menjadi gulma secara cepat. Bentuk budidayanya diduga asli dari Mediterranea. Penyebaran teki dapat secara vegetatif yaitu melalui perkembangbiakan vegetatif. Kebanyakan penyebaran teki dibantu oleh hewan, angin, air yang membawa biji teki.

Perbanyaakan teki umumnya dilakukan secara vegetatif dengan umbi akar (tuber root). Umbi akar teki menyimpan cadangan makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan tunas. Pada umbi tersebut juga terdapat calon tunas, sehingga prkembangbiakan dapat terjadi melalui pertumbuhan tunasnya. Iqbal et al. (2012) mengemukakan bahwa sebagian besar umbi teki mengandung senyawa alelopat yang mampu menghambat pertumbuhan tanaman lain, meliputi ferulic, caffeic, hydoxil benzoic, syringic, chlorogenic, dan p-coumaric acid. Umbi teki tidakmampu membentuk tunas atau berkecambah apabila dilakukan solarisasi, pengolahan tanah maupun pemberian naungan, sehingga hal tersebut dapat menjadi salah satu cara pengendalian gulma teki. Iqbal et al. (2012) menambahkan bahwa pemanasan atau pengeringan umbi teki pada suhu >420 C mengakibatkan umbi teki kehilangan viabilitasnya. Kondisi tersebut dapat terjadi karean berbagai enzim maupun hormon yang berperan dalam aktivitas perkecambahan mengalami degradasi. Di samping itu, jaringan pada umbi teki telah banyak mengalami plasmolisis dan kadar air pada jaringan tanaman juga semakin rendah. Hal ini akan berakibat pada hilangnya kemampuan umbi untuk bertunas. Adapun menurut Evgenia dan Hershenhorn (2013) menyebutkan bahwa perlakuan pendiginan (vernalisasi) pada suhu 40 C selama 4 hari memberikan pengaruh yang signifikan terhadap bertunasnya umbi teki. Proses pertunasan akan berlangsung lebih cepat, yang tentunya akan diikuti dengan semakin banyaknya jumlah tunas yang dihasilkan. Kondisi tersebut berakibat pada semakin tingginya potensi hidup tumbuhan teki dan penyebaran yang akan semakin mudah dan meluas.

Mahasiswa Kedokteran ini Ungkap Kandungan Umbi Rumput Teki Mampu Atasi Leukimia

Ternyata umbi rumput teki bermanfaat sebagai bahan anti leukemia. Hal ini terungkap setelah penelitian yang dilakukan mahasiswa program doktor ilmu kedokteran (biomedik) Sulistyo Mulyo Agustini, yang meneliti ekstrak umbi rumput teki.

Melansir dari Okezone.com Sabtu (22/9/2018), leukemia yang ditelitinya adalah Leukemia Mieloblastik Akut atau Acute Myeloblastic Leukemia (AML). Pada AML, meskipun 40 sampai 45 persen pasien usia lebih muda dari usia 65 tahun dapat diterapi dengan terapi terbaru, hanya 10 persen yang memiliki harapan hidup lebih panjang.

Walaupun kejadian leukemia tidak banyak bila dibandingkan kanker lainnya, namun menurut Sulistyo, AML termasuk kegawat-daruratan onkologi hematologi, keterlambatan terapi dapat mengakibatkan kematian. Sehingga ia memilih AML dibandingkan kanker lainnya.

“Umbi rumput teki mudah dijumpai sebagai tanaman gulma yang ternyata diindikasi memiliki senyawa aktif sebagai anti kanker,” ujarnya

Sulistyo menambahkan tidak semua rumput teki yang tersebar di seluruh dunia ini memiliki senyawa yang sama karena jenisnya yang beragam. Analisis ekstrak Umbi Rumput Teki (Cyperus rotundus L) ini telah menghasilkan temuan adanya 24 senyawa.

“Komposisi senyawa kimia yang terkandung dalam umbi rumput teki setelah diidentifikasi ternyata bisa digunakan sebagai obat medis tradisional yang tergolong sebagai antioksidan,” jelasnya

Menurut Sulistyo selama ini kemoterapi memang menjadi solusi pengobatan untuk penyakit leukimia, namun kemoterapi nyatanya menimbulkan efek samping tinggi dan belum lagi mempunyai mekanisme yang spesifik terhadap target sel. Karena obat yang digunakannya juga membunuh sel yang sehat.

Dosen yang mengajar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terdorong untuk meneliti hal ini dengan pendekatan secara biomolekuler sebagai strategi pengobatan yang mengacu pada pendekatan individualized therapy.

Spray Antiseptik Berbahan Rumput Teki

Rumput teki bukan hanya jadi inspirasi lagu yang dinyanyikan Nella Kharisma atau Didi Kempot.

Bagi mahasiswa Universitas Airlangga, rumput teki bisa jadi bahan pengembangan obat alami. Sediaan bahan alam tak hanya bisa memberikan efek terapi yang mumpuni, tapi juga memiliki efek samping yang jauh lebih rendah dibanding Bahan sintetis.

Intan Purnama, Alexander, dan Suciati Fitri, tim dari Fakultas Farmasi, memanfaatkan rimpang rumput teki sebagai bahan utama penyembuh luka. Rimpang rumput teki mengandung senyawa flavonoid dan minyak atsiri yang memiliki efek analgesik (anti nyeri) dan antiseptik terhadap luka sayatan dan luka gores.

Pembuatan spray dilakukan dengan sistem atomisasi. Sistem ini bertujuan memecah zat cair menjadi droplet (butiran semprot). Proses pembuatan sediaan spray dimulai dari penghalusan umbi rumput teki, proses maserasi, ekstraksi, dan formulasi sediaan spray.

Sediaan spray rumput teki kemudian dibandingkan dengan sediaan antiseptik povidone iodine dan air. Hal ini bertujuan untuk mengetahui efek yang dihasilkan dan untuk menentukan konsentrasi terbaik ekstrak rumput teki. Sediaan kemudian diujikan pada mencit selama beberapa hari.

“Kami memilih sediaan dalam bentuk spray agar lebih mudah digunakan, mudah dibawa, dan bisa lebih efektif. Penggunaannya juga bisa tepat sasaran di bagian yang luka,” tutur Intan.

Spray ini memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan produk sejenis di pasaran. Karena dibuat dari bahan alami, spray ini memiliki efek samping yang jauh lebih rendah. Selain itu, penggunaan bahan alami juga dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya alergi saat penggunaan.

“Dengan penggunaan rumput teki sebagai bahan utama spray antiseptik ini, kami juga ingin memanfaatkan kekayaan flora Indonesia yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal,” kata Intan.

“Selama ini bahan baku untuk obat antiseptik didapatkan dengan cara impor. Kami ingin memberi alternatif yang lebih mudah didapat dan tentunya lebih ekonomis,” lanjutnya,

Intan berharap, melalui penelitian ini ia dan rekan dapat turut membantu meningkatkan kualitas kesehatan di Indonesia. Spray antiseptik rumput teki diharapkan bisa menjadi alternatif untuk masyarakat yang menginginkan produk lebih aman dan mudah digunakan.

“Kami berharap ke depannya spray antiseptik ini bisa diproduksi secara komersial, sehingga bahan alam di Indonesia juga bisa dimanfaatkan secara optimal,” kata Intan.

Siswi SMK di Sragen Sulap Umbi Rumput Teki Jadi Permen Pereda Nyeri Haid

Rumput teki yang mudah tumbuh di berbagai tempat dan biasa dijadikan pakan ternak, disulap tiga siswi SMK Citra Medika Sragen, Jawa Tengah menjadi permen yang bisa meredakan nyeri haid. Cukup dengan satu permen kecil, nyeri haid bisa mereda.

Adalah Risma Mustika, Selviana Sholikah, dan Natasha Salsabella penemunya. Mereka awalnya merasakan dan melihat teman-temannya sakit saat haid, kemudian mereka mendapatkan ide membuat obat berbahan alami yang mudah didapat. Berbekal pelajaran Farmakognosi yang didapat, akhirnya tercipta Permen Teki.

"Kami lihat teman-teman yang sakit saat haid. Terus kami kepikiran membuat obatnya," kata Natasha di kantor Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Jawa Tengah, Rabu (25/5/2016).

Dalam materi yang dipelajari, tiga siswi ini melihat potensi rumput teki yang biasa digunakan untuk pakan ternak. Memang bukan rumputnya yang dimanfaatkan langsung, namun umbinya. Ternyata umbi rumput teki bisa mengatasi nyeri haid, haid tidak teratur, sakit kepala, sakit dada, dan sebagainya. Mereka pun mencari cara agar umbi rumput Teki mudah dikonsumsi bagi yang masih dalam masa haid.

"Muncullah ide untuk dibuat permen. Rumputnya biasanya digunakan untuk pakan ternak," tandasnya.

Cara membuatnya sangat mudah yaitu dengan mengupas umbi rumput Teki kemudian dicuci. Setelah itu campurkan dengan air dengan perbandingan 20 mili liter air untuk 50 gram umbi. masak selama beberapa menit lalu campurkan dengan 100 gram gula pasir agar mengental. Berikutnya hasil olahan dicetak dan diamkan hingga mengeras menjadi permen.

"Setiap 20 mili liter biasanya menghasilkan 10 permen. Rasa permen juga bisa divariasi sendiri," terang Natasha.

Dari hasil riset mereka, umbi rumput teki bisa mengurangi nyeri haid karena mengandung beberapa zat antara lain glikosida dan flavonoid. Dengan wujud permen, memudahkan bagi orang yang mengkonsumsi, dan reaksinya cukup cepat. Jika dijual di pasaran, harganya tidak mahal, hanya Rp 500 per butir.

Saat ini produk itu masih dipakai internal sekolahan dan masih diikutkan dalam ajang Kreasi dan Inovasi Masyakat (Krenova) yang diadakan Balitbang Jateng. Natasha berharap temuannya itu bisa dijual bebas untuk memudahkan wanita yang mengalami haid agar tidak terganggu nyeri.

Kepala Balitbang Jateng, Tegoeh Wynarno mengatakan pihaknya mengapresiasi permen temuan tiga siwi SMK itu karena bermanfaat. Balitbang berjanji akan memfasilitasi kreator dan inovator agar temuan-temuannya bisa digunakan banyak orang, termasuk juga untuk mengurus hak paten dam sebagainya.

"Temuan ini juga memiliki nilai menumbuhkan perekonomian masyarakat. Pemerintah dalam hal ini Balitbang bertugas memfasilitasi para kreator dan inovator di Jawa Tengah," tandas Tegoeh.

Diolah dari berbagai sumber

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 01:39
loading...
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.