Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK), Gejala, Penyebab dan Cara Penularan Pada Ternak

loading...

Jenis Penyakit Berbahaya Yang Mudah Menular Dari Ternak Satu Ke Yang Lainnya Meskipun Berbeda Spesiesnya


Penyakit Mulut dan Kuku (biasa disingkat PMK) merupakan penyakit epizootika yang menyerang ternak besar, terutama sapi dan babi. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari familia Picornaviridae. Daya tular penyakit ini sangat tinggi, dan dapat menulari rusa, kambing, domba, serta hewan berkuku genap lainnya.
Indonesia sudah bebas dari PMK sejak tahun 1986, diakui di lingkungan ASEAN sejak 1987 dan diakui secara internasional oleh organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties-OIE) sejak 1990. Prestasi ini dicapai dengan susah payah. Ledakan wabah PMK pertama kali diketahui di Indonesia tahun 1887 di daerah Malang, Jawa Timur, kemudian penyakit menyebar ke berbagai daerah seperti Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit virus yang sangat menular pada hewan berkuku belah/bercabang dua misalnya sapi, babi, dan domba. PMK menyebabkan luka menyakitkan dan lecet pada kaki, mulut dan puting hewan. Hadirnya PMK pada ternak memiliki konsekuensi sangat tinggi karena penyakit ini berpotensi menyebar dengan cepat, menimbulkan pembatasan perdagangan hingga berdampak pada kelabilan ekonomi suatu wilayah/negara. Hingga saat ini, PMK telah terjadi di sebagian wilayah Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Selatan, namun telah berhasil diberantas dari wilayah Amerika Utara, Australia, Selandia Baru, Greenland, Islandia, dan sebagian besar Eropa.

Gejala dan Ciri-Ciri Penyakit PMK Pada Sapi

  • Suhu tubuh meningkat (demam) mencapau 41 derajat celcius.
  • Kondisi tubuh lemah, lesu dan bulu kusam.
  • Nafsu makan menurun, sehingga bobot badan berkurang.
  • Tidak mau berdiri, bahkan ternak akan pincang.
  • Mengosokan bibit, membunyikan gigi.
  • Suka menendang kaki, disebabkan oleh vesikula (lepuh) pada membrane mukosa hidung dan bukal serta antara kuku.
  • Tanda khusus PMK adalah leupu-lepuh berupa tonjolan bulat yang berisi cairan saliva pada rongga mulut, lidah sebelah atas, bibir sebelah dalam dan sebagainya.

Penyakit yang disebabkan oleh virus picorna ini memiliki gejala klinis antara lain, suhu tubuh meningkat dan akan terlihat jelas pada sapi yang masih muda, dan biasanya suhu tubuh akan turun sendirinya setelah terbentuknya lepuh-lepuh.

Lepuh tersebut berupa tonjolan bulat yang berisi cairan imfe pada rongga mulut, lidah bagian atas, bibir sebelah dalam, gusi, langit-langit, dan juga pada lekukan kaki.

Dengan terbentuknya lepuh didalam mulut akan menyebabkan meningkatnya saliva dalam mulut sehingga terbentuk busa disekitar bibir dan mulut. Lepuh tersebut i menyebabkan rasa sakit atau nyeri pada hewan yang menderita, sehingga sapi susah makan karena merasa sakit saat menguyah dan menyebabkan sapi tersebut hanya tiduran saja.

Karena asupan makanan terbatas, maka hewan tersebut akan sakit dan ahirnya mati. Cara penularan PMK adalah melalui udarater buka sehingga dapat menyerang sapi pada saluran pernafasan, dan dapat juga melalui kontak langsung dengan hewan yang menderita penyakit mulut dan kuku lewat makanan dan minimum yang tecemar oleh virus picorna.

Penularan Penyakit Kuku dan Mulut Pada Ternak

Penularan virus penyakit kuku dan mulut bisa terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung yaitu melalui kontak dengan penderita, sekresi, ekskresi atau hasil hasil ternak seperti air susu, semen atau sperma yang dibekukan dan daging. Penularan secara tidak langsung yaitu melalui bahan bahan (makanan, minuman dan peralatan kandang) yang tercemar virus. Selain itu penularan dapat melalui udara. Udara yang terinfeksi bisa tahan sampai beberapa jam di dalam kondisi yang cocok, terutama jika kelembaban lebih dari 70 % dan dalam suhu rendah. Udara yg tercemar virus dapat terbawa angin sampai sejauh 250 Km. Petugas teknis atau paramedis harus berhati-hati agar supaya tidak menyebarkan penyakit seusai menangani kasus. Setelah hewan sembuh virus penyakit kuku dan mulut dapat tetap tinggal di kerongkongan selama 2 tahun.

Cara mencegah dan mengatasi PMK dapat dilakukan dengan mencegah masuknya sapi dan hasil-hasilnya dari negara-negara atau daerah-daerah dimana terdapat penyakit PMK. Dengan melakukan vaksinasi pada sapi yang rentan terhadap penyakit pada daerah perbatasan antara daerah yang terinfeksi dan yang tidak. Pemusanahan sapi-sapi yang terinfeksi dan yang kontak langsung ketika terjadi wabah di daerah tersebut. Belum ada obat yang diklaim bisa untuk mengobati PMK ini.

Kampanye vaksinasi massal memberantas PMK dimulai tahun 1974 sehingga pada periode 1980-1982 seolah PMK telah hilang. Tetapi tahun 1983 muncul lagi di Jawa Tengah dan menular kemana-mana. Melalui program vaksinasi secara teratur setiap tahun, wabah dapat dikendalikan dan kasus PMK tidak muncul lagi. Pada tahun 1986 Indonesia menyatakan bebas PMK.

Pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku 

PMK disebabkan oleh virus dari genus Apthovirus, famili Picornaviridae yang berukuran sekitar 20-25 mikron. Satu-satunya penyebab PMK yang menyerang Indonesia saat ini yaitu virus dari tipe O. Strainnya ialah O1 yang pada wabah tahun 1983 ternyata berubah menjadi lebih kuat sehingga vaksin dari kampanye vaksinasi tahun 1970-an tidak mempan lagi dan harus dicarikan vaksin baru melalui kegiatan penelitian.

Mengingat betapa besarnya biaya, tanaga dan waktu yang sudah digunakan dimasa lampau untuk membebaskan nusantara ini dari PMK, perlu dilakukan usaha-usaha pencegahan agar wabah tersebut tidak terulang lagi di wilayah negeri kita. Tindakan yang paling menonjol dari langkah-langkah pencegahan yang diambil berbagai negara setelah merebaknya PMK di Inggris adalah mengamankan pintu masuk negara masing-masing dari penularan virus PMK dari daerah epidemik itu. Pers dunia memberitakan larangan-larangan impor produk hewan dan lainnya yang kemungkinan mengandung virus PMK dari Inggris, Perancis dan bahkan Uni Eropa. Juga tindakan-tindakan karantina dan pengamanan lainnya di pelabuhan laut maupun udara. 

Tindakan-tindakan pencegahan yang telah dilakukan di Indonesia antara lain Departemen Pertanian melalui Ditjen Bina Produksi Peternakan telah mengeluarkan keputusan melarang impor hewan, bahan asal dan hasil hewan berikut produk ikutannya dari Uni Eropa dan Amerika Selatan. Meskipun berbagai pihak keberatan dengan kebijakan itu tetapi Departemen Pertanian bertahan tetap melaksanakannya. 

Bila PMK sampai merebak lagi di Indonesia maka kerugian yang akan ditanggung mencapai Rp 70 triliun dalam tahun pertama, kerugian lain adalah akan menurunnya tingkat ekspor ke Luar negeri akibat kecurigaan negara-negara tujuan ekspor terhadap kemungkinan produk ekspor Indonesia tercemar PMK. Akibat lain adalah industri kita akan mengalami kelesuan dan menurunnya citra bangsa Indonesia di mata negara-negara lain. 

Persiapan menghadapi kemungkinan munculnya PMK secara tiba-tiba di dalam negeri telah dilakukan. Namun lebih penting lagi adalah penyebaran infomasi yang seluas dan sedini mungkin dengan sasaran-sasaran yang tepat untuk membangun suatu kesiagaan darurat dalam wujud kewaspadaan umum (public awareness). Inilah salah satu yang kini diusahakan rumusannya oleh Ditjen Bina Produksi Peternakan dengan bantuan seorang pakar komunikasi dari OIE, Daniel Gregorie yang telah mengunjungi Indonesia selama dua pekan. Hasil kerjasama dengan OIE itu dalam waktu dekat akan berhasil merumuskan strategi untuk mengembangkan dan melaksanakan program public awareness dan komunikasi yang akan mendukung tindakan pencegahan serta kesiagaan darurat nasional terhadap PMK yang direncanakan.

Sesuai dengan pandangan OIE dan Deptan, kelihatannya rumusan itu akan mengikutsertakan peranan pers dan media masa. Sangat minim dan kurangnya peranan pers dalam membangun kesiagaan darurat dalam pemberitaan yang bersifat peringatan dini (early warning) terhadap PMK sejak kasus di Argentina dan menyusul kasus di Inggris membuat negara-negara lain termasuk Indonesia menjadi waspada akan kemungkinan tertular penyakit tersebut. 

Pengendalian PMK di lapangan bukanlah tugas Badan Litbang Pertanian. Namun Badan Litbang Pertanian melalui unit-unit kerja yang ada secara aktif melakukan penelitian tentang pengendalian penyakit ini. Bentuk nyata sikap proaktif dan antisipatif terhadap isu-isu kejadian dan ancaman PMK dituangkan dalam berbagai bentuk mulai dari pelayanan bantuan teknis, advokasi, monitoring, seminar-seminar, diskusi, maupun dalam bentuk saran alternatif kebijakan pemerintah yang disalurkan melalui saluran internal organisasi. Saran dan rekomendasi sebagian juga dituangkan dalam berbagai dokumentasi ilmiah yang diterbitkan dalam majalah atau jurnal ilmiah maupun populer, sehingga dapat diakses oleh semua pihak. Lebih dari itu, pengembangan teknologi yang berkaitan dengan penyakit-penyakit tersebut dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit berbahaya tersebut.

Kupas Tuntas PMK Pada Ternak Sapi

Genus dari Aphthovirus menyebabkan penyakit mulut dan kuku (PMK). Terdapat tujuh serotype dari virus PMK yang telah diidentifikasi melaui uji serologi dan perlindungan-silang; virus itu dinyatakan dengan O (Oise) dan A (Allemagne); C (sebagai antisispasi bahwa O dan A mungkin akan dinamai kembali untuk memungkinkan persamaan tipe selanjutnya A, B, C, dst); SAT1, SAT2, SAT3 (South African territories) dan Asia1.

Secara historis tiap tipe sudah dibedakan lagi menjadi subtipe berdasarkan beda kualitatif. Keragaman antigenik ini disebut heterogenitas antigen. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam penggunaan vaksin, karena vaksin spesifik pada serotipe tapi tidak pada subtipe. Di Indonesia pernah terjadi wabah PMK akibat adanya tipe O11.

Karakteristik :

Virus famili Picornaviridae, genus Aphtovirus
Virion picornavirus : ikosahedron, tidak beramplop, diameter 25-30 nm; ssRNA; sintesa di sitoplasma
Aphtovirus tidak stabil pada ph 7,0
Menyerang hewan ungulata (berkuku belah)/ teracak à sapi, domba, kerbau, kambing, babi, ruminan liar
Diselubungi oleh protein, sangat labil
Antigenisitasnya cepat dan mudah berubah
Tidak tahan pH asam dan basa, panas, sinar UV, desinfektans, karena terdapat protein virus PMK tahan berbulan-bulan terhadap kekeringan dan dingin
Stabil pada pH 3,0, tahan pada asam lambung, tahan terhadap empedu.
Suhu optimal 36-37 derajat celcius
Habitat alami: traktus gastrointestinalis
Untuk Aphtovirus bersifat: non stabil dibawah pH 7, memiliki asam polisitidilat, peka terhadap sodium carbonat.
Ketahanan Aphtovirus hidup dalam ekskreta sapi, misalnya pada: saliva (11 hari), semen (10 hari), darah (5 hari), urine (5 hari), feses (5 hari), susu (5 hari), dan aerosol (5 hari).

Virion Aphtovirus

Aphtovirus, 7 tipe : A (Allemagne), O (Oise), C, SAT (South African territories) 1, SAT 2, SAT 3, Asia
Tidak membentuk inclusion bodies.
Dapat diperbanyak dalam biakan sel-sel (epitel lidah sapi, sel-sel ginjal sapi, hamster, dan babi), sel-sel kelenjar perisai sapi dan menimbulkan kematian sel.
Keluarga Picornaviridae dikelompokkan dalam 5 genus yaitu : Enterovirus , Cardiovirus , Rhinovirus , Aphthovirus dan Hepatovirus .

Perbedaan dari kelima genus dalam fisikokimianya ialah stabilitas pada PH rendah :

Aphthovirus : tidak stabil pada PH dibawah 7
Enterovirus, Cardiovirus , Hepatovirus : stabil pada PH 3
Rhinovirus : kehilangan aktivitas dibawah PH 5

Proses timbulnya penyakit

Hewan yang rentan adalah Sapi, kerbau, unta, gajah, rusa, kambing, domba, babi, gajah, dan jerapah (hewan berkuku genap).

Timbulnya suatu penyakit atau proses infeksi dari suatu penyakit, tidak terlepas dari adanya 3 faktor yang mempengaruhi pola penyakit tersebut, yaitu faktor agen(antigenik), hospes (inang) dan faktor lingkungannya. 

Pada Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pun sama, disini akan coba dijelaskan proses infeksi dari penyakit PMK dari segi 3 faktor tersebut.

Faktor Antigenik

Virus Penyebab
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau Apthae epizootica (AE) atau ­Foot and mouth desease (FMD) disebabkan oleh virus genus Aphthovirus Famili Picornaviridae. Virus ini merupakan virus RNA genom rantai tunggal RNA linier yang memiliki kapsid icosahedral dan tidak beramplop. Virus famili Picornaviridae merupakan virus RNA terkecil dengan diameter 25-30nm dengan replikasinya di dalam sitoplasma.

Ada 7 serotipe virus PMK yaitu : Tipe A, O, C, SAT 1, SAT2, SAT3, dan tipe Asia 1. Di Indonesia wabah PMK disebabkan oleh tipe O11. Setiap serotipe ini memiliki sifat antigenik yang berbeda – beda, sehingga yang hanya dapat berkembang baik di Indonesia adalah hanya tipe O11.

Virulensi
Virus PMK sangat labil, antigenitasnya cepat dan mudah berubah, sehingga tubuh akan sulit membentuk antibodi terhadap virus ini. Morbilitas atau angka kesakitan mencapai 100% namun tingkat mortalitas atau kematian hewan sangat rendah sekitar 2%. Mortalitas tergantung pada virulensi virus dari strain virus tersebut. Namun pada hewan yang masih muda dapat menyebabkan kematian hingga 20%.

Viabilitas
Virus ini dapat bertahan lama pada darah, sumsum tulang, kelenjar limfa dan semen, juga dapat bertahan lama pada bahan yang mengandung protein; tahan kekeringan dan tahan dingin. Virus ini juga tahan lama pada lingkungan diluar tubuh. Aphthovirus merupakan virus yang hidup pada pH normal, virus PMK tidak dapat hidup pada pH lebih rendah dari 7. Artinya Aphthovirus tidak tahan akan suasana asam.

Patogenesis
Terdapat dua rute infeksi, yaitu:

Primer

Melalui inhalasi: aerosol dari hewan yang terinfeksi akan terhirup oleh hewan yang peka → partikel virus akan masuk ke dalam faring → kemudian virus berplikasi dalam epitel faring → setelah 24-72 jam berikutnya akan terjadi viremia → terjadi kenaikan suhu tubuh → hewan akan mengalami demam → akhirnya demam akan turun → fase viremia berakhir → terjadi lepuh-lepuh pada lidah/ gingiva sapi.

Sekunder

Melalui makanan yang tercemar, vaksinasi yang tercemar dan inseminasi yang tercemar.

- Virus dapat bertahan hidup dalam faring selama 2 tahun (sapi) dan 6 bulan (kambing dan domba).

Selain itu Penularan lainnya adalah :

1. Kontak dengan hewan yang sakit baik melalui sekresi ataupun ekskresi.

2. Dapat ditularkan melalui produk asal ternak seperti air susu dan daging.

Penularan dapat juga terjadi akibat lalu lintas barang/bahan yang tercemar virus PMK seperti sepatu, kendaraan dan pakaian.

Melalui angin dapat menularkan penyakit ke kawasan yang luas.

Jalur utama infeksi pada ruminansia adalah melalui penghirupan (secara aerosol) tetapi konsumsi pakan yang terinfeksi, inokulasi dengan vaksin yang tercemar, inseminasi dengan semen yang tercemar dan kontak dengan peralatan ternak yang tercemar semuanya dapat menimbulkan infeksi. Pada hewan yang terinfeksi melalui saluran pernafasan, replikasi awal virus berlangsung pada faring, diikuti oleh viremia yang menyebar ke jaringan dan organ yang lain sebelum mulainya penyakit klinis.

Pengeluaran virus mulai sekitar 24 jam sebelum mulainya penyakit klinis dan berlangsung selama beberapa hari. Virus PMK dapat tinggal dalam faring beberapa jenis hewan sampai beberapa lama setelah sembuh. Pada sapi virus dapat dideteksi sampai 2 tahun setelah terinfeksi, pada domba sampai sekitar 6 bulan. Kemenetapan virus tidak terjadi pada babi. Uap air yang dikeluarkan oleh hewan yang terinfeksi mengandung sejumlah besar virus, khusunya yang dihasilkan oleh babi. Sejumlah besar virus juga dikeluarkan dalam susu(Fenner, 2011)

Virus PMK dapat tinggal dalam farings beberapa jenis hewan sampai beberapa lama setelah sembuh. Pada sapi, virus dapat dideteksi sampai dua tahun setelah terinfeksi, pada domba sekitar 6 bulan. Namun pada domba tidak terjadi kemenetapan virus.

Virus bersifat stabil dalam lingkungan terbuka untuk jangka waktu yang lama, yang kemudian disebarkan secara aerosol, terutama bila kelembaban udara melebihi 70% dan suhu udara yang dingin. Virus bersifat peka terhadap alkali maupun asam

Penyakit ini dibagi menjadi 3 macam bentuk : bentuk dermostomatitis yang tenang (benigna), bentuk interrmediate toxic dengan penyakit yang lebih berat, dan bentuk ganas (malignant) dengan perubahan pada otot janung dan sklelet.(Subronto, 2003)

Meskipun infeksi biasanya terjadi melalui inhalasi, virus dapat masuk ke jaringan melalui ingesti, inseminasi dan inokulasi dan melalui kontak dengan kulit luka yang terbuka. Replikasi virus utama, setelah inhalasi berada di mukosa dan jaringan limfatik di faring.

Viremia terjadi pada multiplikasi utama dengan replikasi virus lebih lanjut pada nodus limpatikus, glandula mamae, dan organ lain seperti sel epithelial pada mulut, moncong, putting susu, celah interdigitalis dan coronary band. Pada daerah tersebut pembentukan vesikula dihasilkan dari bengkak dan rupturnya keratinosit pada stratum spinosum (Quinn,2002).

Perubahan histopatologi yang dapat diamati adalah adanya edema inter dan intraseluler pada sratum spinosum. Namun, jika vesikula sudah pecah, maka semua penyakit vesikuler memiliki gambaran mikroskopi yang mirip sehingga tidak memungkinkan untuk mendiagnosa penyakit PMK hanya bedasarkan gambaran mikroskopi. Virus PMK tidak membentuk viral inclusion bodys (Ressang,1984).

Perubahan patologis yang terjadi adalah pembantukan lepuh dan kadang terdapat radang kataral dari mulut, tekak, dan saluran udara. Lepuh dan ulser mungkin terbentuk di dalam pangkal tekak, kerongkongan, rumen, reticulum, omasum, usus, dan bronchi,. Dalam keadaan yang lebih berat, dapat terjadi gastroenteritis yang disertai perdarahan kecil dan ulserasi.

Kelenjar limferegional dan limpa juga dapat mengalami pembesaran, di sampning perdarahan pada otot jantung jantung. Perubahan histologik di dalam jantung meliputi degenerasi serabut otot serta adanya infiltrasi sel kecil bulat pada jaringan interstisial.

Pada saat vesikel terbentuk epitel di atasnya mengalami nekrosis dan vesikel kemudian pecah dalam waktu lebih kurang 24 jam. Virus dapat ditemukan di ambing kira-kira 2-4 hari setelah inokulasi. Virus tersebut dapat ditemukan dalam sel-sel yang menghasilkan susu. Ada 4 cara pembebasan virus dari sel yang tertular yaitu, pembebasan virus ke dalam vesikel yang berdinding, pembebasan ikatan dengan kasein dalam lumen, pembebasan dengan butir-butir lemak, dan pembebasan melalui pelarutan dari sel-sel yang tertular (Subronto, 2003).

Penyakit ini dibagi menjadi 3 macam bentuk:
· Bentuk dermostomatitis yang tenang (benigna)
· Bentuk inrmadiate toxic dengan penyakit yang lebih berat
· Bentuk ganas (malignant) dengan perubahan pada otot janung dan sklelet.

Faktor Inang

Hewan yang peka terhadap virus ini adalah hewan berkuku genap. Hewan yang sering terkena adalah jenis ruminansia (sapi, kambing, kerbau, domba dan rusa), babi serta hewan liar lainnya yang berkuku genap. Pada sapi dan kerbau hewan dapat berperan sebagai karier selama 2 tahun. Domba dan kambing dapat juga menjadi karier namun hanya selama 9 minggu. Sedangkan babi merupakan amplifier host.

Virus PMK tidak memandang umur, hewan muda ataupun tua dapat terjangkit penyakit ini. Namun lebih fatal akibatnya pada hewan yang lebih muda, hal ini karena respon imun pada hewan muda belum sesempurna hewan dewasa. Pada hewan yang lebih gemuk gejala yang timbul lebih hebat, akibatnyapun lebih fatal. Penyakit PMK bersifat zoonosis, namun pada manusia hanya sebagai karier.

Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa babi memproduksi virus jauh lebih banyak dari pada sapi ataupun domba. Babi memproduksi virus PMK sebanyak 108 per harinya.

Faktor Lingkungan

Kasus pertamakali di Indonesia dilaporkan pada tahun 1887 pada sapi perah di Malang, Jawa timur dan menyebar ke berbagai daerah seperti Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Pada tahun 1986 Indonesia menyatakan bebas PMK. Hal ini diakui di lingkungan ASEAN sejak 1987 dan diakui secara internasional oleh organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties-OIE) sejak 1990.

Pada tahun 2001 terjadi wabah PMK di Inggris dan Irlandia Utara dan akhirnya menyebar dengan cepat hampir ke seluruh daratan Eropa. (Kompas, Rabu, 21 Maret 2001 (Halaman 32). Kasus ini membuktikan virus dapat bertahan lama pada lingkungan.

Faktor pertama yang menyebabkan adanya wabah PMK adalah adanya import sapi ataupun daging sapi dari suatu negara ke negara lainnya. Penularan virus PMK sangat sulit sekali untuk dihentikan, karena virus dapat terbawa sampai beberapa mil jauhnya oleh angin, orang, atau kendaraan. Pada kelembaban relatif >60%, maka virus PMK dapat terbawa terbang oleh udara atau angin melewati daratan sampai sejauh 60 km dan melewati lautan sampai sejauh 250 km.

Pada kasus ini faktor lingkungan yang mempengaruhi penyebaran virus adalah angin, virus dapat dibawa oleh angin kemudian angin akan dihirup oleh hewan lain. Hewan yang jauh letaknya dari tempat pertama kali virus berada akan terkena dampaknya juga.

Sekali timbul wabah PMK di suatu daerah/negara tertentu, maka penyakit ini biasanya menyebar bagaikan api yang menjalar secara liar melalui kelompok domba, sapi, kambing dan babi. Masa inkubasi penyakit ini bisa berlangsung 24 jam sampai paling lama 2 minggu.

Rencana import daging juga mempengaruhi penyebaran dari PMK ini, karena daging atau produk asal hewan dapat menularkan ke hewan lainnya ataupun ke manusia. Manusia bertindak sebagai carrier atau pembawa penyakit ini. Seseorang yang baru saja mengunjungi peternakan tertular, akan membawa virus PMK di sepatu atau pakaiannya, dan virus tersebut mampu bertahan sampai selama 9–14 minggu. 

Hal inilah yang menyebabkan pada kejadian wabah di Inggris, ribuan peternak dan keluarganya terpaksa tinggal di rumah dan tidak dapat meninggalkan areal rumah tinggalnya sebagai upaya pihak berwenang yang hampir putus asa untuk mencoba menahan ancaman wabah untuk tidak semakin meluas.

Gejala Klinis Pada Hewan Terinfeksi

Gejala umum berupa hipersalivasi (saliva tampak seperti tergantung), anoreksia, enggan berdiri, berat badan menurun, produksi susu menurun, lesu, pincang dan hewan terlihat depresi. Hewan pincang dan enggan berdiri disebabkan karena adanya luka pada kuku dan kakinya. Sedangkan pada kasus hipersalivasi dan anoreksia disebabkan karena lepuh pada lidah dan gusinya.

Masa inkubasi antara 2 – 7 hari, ada juga yang menyebutkan 3 – 11 hari. Tergantung strain virus, dosis infektif dan rute penularannya. Sapi biasanya 3-5 hari, sedangkan pada babi antara 4-9 hari.

Suhu tubuh tinggi mencapai 41oC. Suhu tubuh meningkat dan akan terlihat jelas pada sapi yang masih muda. Kenaikan ini akibat dari fase viremia dari virus picornavirus. Dan biasanya suhu tersebut akan turun setelah terbentuknya lepuh-lepuh.

Tanda klinis khusus penyakit ini adalah adanya lepuh-lepuh berupa penonjolan berisi cairan bening hingga kuning keruh, kemerahan (cairan limfe) dan dapat dengan mudah terkelupas. Lepuh ini sering ditemukan pada bagian lidah, bibir, mucosa pipi, gusi, langit-langit mulut, ujung kaki, teracak dan ambing pada hewan betina. Lepuh pada awalnya berukuran kecil berwarna putih dan berisi cairan, tetapi kemudian berkembang secara cepat sampai mencapai ukuran sekitar 3 cm.

Seringkali lepuh tersebut menyatu menjadi lebih besar. Lepuh primer mulai terlihat 1-5 hari setelah infeksi serta luka pada kaki. Lepuh yang ditemukan pada ambing akan menyebabkan produksi susu turun dan kadang dapat menyebabkan keguguran.

Pada tracak biasanya lepuh terjadi bersamaan dengan proses yang terjadi didalam mulut. Lepuh yang terjadi menyebabkan rasa sakit atau nyeri pada hewan yang menderita, sehingga menyebabkan hewan tersebut malas bergerak dan hanya mau berbaring. Kesembuhan dari lesi yang tidak mengalami komplikasi akan berlangsung dengan cepat berkisar antara 1-2 minggu, namun apabila ada infeksi skunder maka kesembuhan akan tertunda.

Gejala pada sapi

Pyrexia (demam) mencapai 41°C, anorexia (tidak nafsu makan), menggigil, penurunan produksi susu yang drastis pada sapi perah untuk 2-3 hari, kemudian. Menggosokkan bibir, menggeretakkan gigi, leleran mulut, suka menendangkan kaki: disebabkan oleh vesikula (lepuh) pada membrane mukosa hidung dan bukal serta antara kuku

Setelah 24 jam: vesikula tersebut rupture/pecah setelah terjadi erosi Vesikula bisa juga terjadi pada kelenjar susu. Proses penyembuhan umumnya terjadi antara 8 – 15 hari.

Komplikasi: erosi di lidah, superinfeksi dari lesi, mastitis dan penurunan produksi susu permanen, myocarditis, abotus kematian pada hewan muda, kehilangan berat badan permanen, kehilangan kontrol panas.

Diolah dari berbagai sumber

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 00:12
loading...
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.