Manfaat Daun Lamtoro Hijauan Pakan Ternak dan Ikan

loading...

Hijauan Pakan Ternak Ruminansia Sumber Protein, Daun Lamtoro (Petai Cina)

Lamtoro ini termasuk jenis tanaman perdu, dengan ketinggian mampu hingga 18 meter. Model batangnya tegak dengan sistem perakaran tunggang. Batangnya berwarna coklat kemerahan, dengan cabang yang banyak.. Bentuk daunnya memanjang dengan tipe majemuk, menyirip ganda dua. Warnanya hijau muda dan ukurannya kecil.

Bunganya termasuk tipe majemuk yang berupa bonggol, bertangkai panjang dan memiliki dua hingga enam bonggol. Dalam satu bonggol, tersusun 100 sampai 180 kuntum bunga yang membentuk bola berwarna putih atau kekuningan, dengan diameter 12-21 mm. Buah lamtoro berbentuk polong pipih tipis. Dalam satu tandan bisa terisi 20-30 buah polong. Satu polong Lamtoro memuat antara 15-30 biji.

Biji Lamtoro ini elips terbalik dan pipih. Warnanya hijau mengkilat saat muda, dan coklat kehitaman saat tua.
Lamtoro merupakan tanaman perdu yang buah dan daunnya hampir mirip dengan petai, namun ukuran lamtoro jauh lebih kecil. Jika dimakan aroma lamtoro juga menyerupai aroma petai. Tanaman lamtoro banyak digunakan sebagai tanaman pelindung pada perkebunan kopi, perkebunan teh, dan sebagai pencegah erosi. Daun lamtoro biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pohonnya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Daun dari tanaman yang konon berasal dari Amerika ini juga sangat baik dimanfaatkan sebagai pupuk hijau. Tanaman lamtoro banyak terdapat diseluruh wilayah di Indonesia. Tanaman lamtoro biasanya terdapat dipinggir-pinggir kebun, dipekarangan atau di pinggir jalan.Lamtoro / Prtai Cina

Lamtoro, petai selong atau petai cina disetiap daerah memiliki nama yang berbeda, misalnya orang melayu menyebut lamtoro dengan nama petai jawa atau petai belalang. Orang sunda menyebutnya dengan nama peuteuy selong atau pelending, sementara orang madura menyebut lamtoro dengan nama lantoro atau kalandhingan. Sedangkan dalam bahasa jawa disebut metir, mlanding, lamtoro, atau kemlandingan. Lamtoro dalam bahasa Inggris disebut wite leadtree atau leucaena dan dalam bahasa Perancis disebut leucaene atau faux mimosa. Dalam bahasa asing lainnya seperti Thailand lamtoro disebut krathin, orang Filipina menyebut ipil-ipil, elena dan karikis, orang Papua Nugini menyebut lamandro. Varietas lamtoro yang memiliki buah dan polong lebih besar disebut lamtoro gung.

Ada pun manfaat Lamtoro bagi para petani dan peternak adalah sebagai bahan baku pakan ternak dan sebagai pupuk hijau. Karena daun Lamtoro yang luruh ke tanah, bisa menjadi sumber unsur nitrogen bagi tanaman lain.

“Selain itu, pohon Lamtoro ini bisa menjadi sumber kayu bakar, peneduh bagi tanaman lain dan pencegah erosi,” kata Junaedi.

Lamtoro diketahui juga dapat digunakan sebagai bahan baku obat-obatan. Beberapa literatur menyebutkan, Lamtoro bisa mengobati kencing manis, cacing, bengkak radang ginjal, bisul, patah tulang, abses paru, luka terpukul, insomnia dan meningkatkan gairah seks.

“Saya memang tidak mempelajari secara mendalam bagaimana Lamtoro bisa menyembuhkan penyakit. Tapi kalau dilihat dari kandungan yang terdapat dari daunnya, hal ini memang mungkin,” ucap Junaedi.

Data menunjukkan, bahwa daun Lamtoro mengandung zat aktif alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, mimosin dan leukanin.

Pengolahan Daun Lamtoro Secara Fisik Dengan Bentuk Mash, Pellet Dan Wafer Sebagai Suplemen Pakan Domba Priangan

Hijauan alternatif yang banyak digunakan sebagai pakan ternak antara lain daun lamtoro (Leucaena leucocephala). Daun dan polong lamtoro masing-masing memiliki kandungan protein kasar sebesar 34.4% dan 31%. Kadar mimosin dari daun dan polong lamtoro masing-masing sebesar 7.19% dan 12.13% dari total kandungan protein kasar. Kadar mimosin pada daun lebih rendah dibandingkan pada polong lamtoro. Daun lamtoro memiliki kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan polong serta tidak digunakan sebagai bahan pangan. Hal tersebut merupakan pertimbangan daun lamtoro digunakan sebagai pakan ternak. Keracunan mimosin dari leucaena terdiri dari dua bentuk yaitu akut dan kronik. Beberapa cara untuk mengurangi resiko keracunan pada ternak ruminansia yaitu dengan proses pemanasan (pengeringan atau pelayuan) dan perendaman dalam air panas. Pada proses pembuatan wafer dan pellet, bahan pakan hijauan akan melalui proses pengepresan dengan pemanasan, sehingga diharapkan kadar mimosin berkurang. Ransum berbentuk mash adalah ransum yang telah mengalami proses penggilingan sehingga ukuran partikel menjadi kecil (tepung). Metode pengawetan lainnya yaitu dengan teknologi pengepresan menggunakan mesin kempa sehingga dapat menghasilkan produk ransum berbentuk wafer. Selain pengawetan dengan bentuk wafer, ransum dapat diawetkan dalam bentuk pellet. Proses pembuatan pelet merupakan proses penekanan dan pemampatan bahan-bahan melalui die dalam sebuah proses mekanik yang melibatkan panas, tekanan dan kadar air. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa perubahan kandungan mimosin daun lamtoro dalam bentuk mash, pellet dan wafer serta pengaruhnya terhadap performa dan kecernaan domba priangan. Ternak yang digunakan adalah domba priangan jantan dengan bobot rata-rata 21.2±1.6 kg, dengan umur pada kisaran 8 – 12 bulan sebanyak 12 ekor. Daun lamtoro yang digunakan berasal dari seluruh bagian daun termasuk pucuk dan daun tua. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 kelompok sebagai ulangan. Pengelompokan didasarkan pada bobot badan yaitu kecil, sedang dan besar. Perlakuan pada penelitian ini R1 : ransum kontrol, R2 : ransum kontrol + 15% suplemen daun lamtoro bentuk mash, R3 : ransum kontrol + 15% suplemen daun lamtoro bentuk pellet, R4 : ransum kontrol + 15% suplemen daun lamtoro bentuk wafer. Peubah yang diamati antara lain konsumsi bahan kering, bahan organik, dan protein kasar, serta pertambahan bobot badan (PBB), efisiensi, IOFC, kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan proses pencetakan pellet mampu mereduksi mimosin sebanyak 34%. Proses pencetakan wafer mampu mereduksi mimosin sebanyak 33%. Konsumsi bahan kering, bahan organik dan protein kasar, serta PBB dan IOFC pada penelitian ini berdampak nyata (P<0.05) pada pemberian suplemen daun lamtoro. Perlakuan R1 menunjukkan konsumsi bahan kering, bahan organik dan protein kasar serta PBB dan IOFC yang paling rendah dibandingkan perlakuan pemberian suplemen daun lamtoro pada R2, R3, dan R4. Pemberian suplemen daun lamtoro pada perlakuan R2, R3 dan R4 berbeda nyata (P<0.05) terhadap konsumsi bahan kering, bahan organik dan protein kasar, serta PBB dan IOFC. Perlakuan R4 konsumsi bahan kering, bahan organik dan protein kasar serta PBB dan IOFC paling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Perlakuan R2 dan R3 nilai konsumsi bahan kering, bahan organik dan protein kasar serta PBB dan IOFC tidak berbeda, namun lebih baik dari R1. Untuk parameter efisiensi, kecernaan bahan kering dan bahan organik pada penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan antar perlakuan. Pengaruh terhadap performa ternak dalam penelitian ini karena konsumsi bahan kering yang berbeda. Pengolahan daun lamtoro secara fisik dengan bentuk mash, pellet dan wafer sebagai suplemen dapat diaplikasikan untuk ternak domba. Pengolahan daun lamtoro secara fisik dengan bentuk pellet dan wafer mampu menurunkan kadar mimosin lebih dari 30%. Pemberian suplemen daun lamtoro bentuk mash, pellet dan wafer dapat meningkatkan konsumsi bahan kering harian. Konsumsi bahan kering, bahan organik dan protein kasar pada pemberian suplemen bentuk wafer lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Berdasarkan performa ternak, nilai PBB menunjukkan hasil terbaik didapat dari perlakuan suplemen daun lamtoro bentuk wafer lebih tinggi 102% dibandingkan kontrol. Keuntungan peternak juga meningkat dengan angka IOFC terbaik didapat dari perlakuan pemberian suplemen bentuk wafer yaitu 144% lebih tinggi dibandingkan kontrol.

Menurut Mathius (1993), lamtoro sebagai pakan hijauan yang berkualitas belum dimanfaatkan secara optimal dan belum banyak dikomersilkan. Dengan meningkatnya pengetahuan para peternak maupun penyuluh di lapangan, diharapkan pemanfaatan lamtoro untuk pakan ternak bisa meningkatkan produktivitas ternak di pedesaan terutama pada peternakan rakyat berskala kecil.

Nilai Nutrisi Lamtoro Untuk Pakan Ternak

No Uraian  Bahan Kering    %

1        Protein Kasar (PK)  29,89

2        Lemak                        5,4

3        Serat Kasar               19,61

4        NDF                          39,94

5        Lignin                         5,5

6        Kalsium                      1,2

7        Pospor                        0,22

Selain itu lamtoro mempunyai (3 karoten yang merupakan provitamin A. Sekalipun pada musim kering daun lamtoro tetap berwarna hijau berbeda dengan rumput yang pada musim kering menjadi kecoklatan (Jones,1979).

Zat Anti Nutisi Pada Lamtoro

Lamtoro adalah tanama yang termasuk hijauan yang mempunyai gizi tinggi tapi pemanfaatan lamtoro untuk pakan ternak pemberiannya perlu kita dibatasi. Lamtoro mengandung zat anti nutrisi yaitu asam amino non protein yang disebut mimosin, yang bisa menimbulkan keracunan atau gangguan kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama (Haryanto, 1993 dan Siregar, 1994).

Ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba yang mengkonsumsi pakan yang mengandung mimosin dalam dosis yang tinggi bisa menunjukkan gejala kehilangan bulu. Namun dengan bantuan mikroorganisme tertentu atau enzim, mimosin bisa dirombak menjadi 3-hydroxy-4 (IH) pyridone (DHP) yang derajad keracunannya Iebih rendah. Mikroorganisme tersebut terdapat dalam rumen ternak ruminansia Indonesia (Lowry, 1982 dan Haryanto, 1993), sedangkan enzim terdapat pada tanaman Iamtoro dewasa dan hampir terdapat pada semua bagian sel tanaman (Lowry, 1982).

Menurut Jones (1979) konsentrasi tertinggi terdapat pada tunas baru (12% bahan kering), kemudian biji (4-5% bahan kering) dan terendah pada ranting yang masih hijau (1-2% bahan kering).

Zat anti nutrisi Iainnya yang terdapat di dalam lamtoro yaitu asam sianida (HCN) yang sangat berpengaruh buruk karena bisa menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar tiroid pada ternak. Asam sianida bisa menyebabkan keracunan akut (mematikan) dan keracunan kronis. Pada dosis rendah HCN yang masuk dalam tubuh ternak dalam jangka waktu yang cukup lama bisa menurunkan kesehatan ternak.

Disamping itu lamtoro juga mengandung tanin yang bisa menurunkan palatabilitas pakan clan penurunan kecernaan protein (Siregar, 1994). Namun menurut Jones (1979) dan Manurung (1996) adanya sejumlah tanin dalam Lamtoro bisa mencegah kembung dan melindungi degradasi protein yang berlebihan oleh mikroba rumen.

Dengan adanya zat anti nutrisi dalam hijaun lamtoro tidak mengurangi nilai manfaatnya sebagai pakan hijauan yang berkualitas. Pencampuran hijauan ini ke dalam hijauan Iainnya merupakan salah satu cara mengurangi resiko keracunan pada ternak ruminansia. Selain itu, proses pemanasan (pengeringan atau pelayuan) bisa meningkatkan pemecahan mimosin menjadi DHP yang kurang toksik (Tangendjaya dan Lowry, 1984.

Menurut Lowry (1982 ) bahwa pengeringan sebaiknya dilakukan pada suhu antara 55-700C, jika lebih tinggi dari 70°C akan menyebabkan terjadinya denaturasi enzim . Perendaman lamtoro di dalam air panas pada suhu 60°C selama 3 menit bisa mengubah mimosin menjadi DHP hanya terjadi pada daun, sedangkan pada tangkai daun tidak terjadi penurunan.
Pemanfaatan Lamtoro untuk Pakan Ternak

Pemberian pakan tunggal pada ternak yang terdiri dari rumput-rumputan yang biasanya rendah kandungan nitrogennya tidak akan memenuhi kebutuhan zat-zat gizi minimal ternak, campuran rumput atau jerami dengan daun lamtoro sangat menguntungkan untuk memperbaiki nilai gizi yang rendah.

Dari beberapa hasil penelitian pemberian daun lamtoro sebagai campuran pada rumput atau jerami bisa memperbaiki nilai gizi ransum. Sitorus (1987) melaporkan bahwa penambahan hijauan lamtoro segar sebanyak 0,5 kg pada ransum dasar domba dan kambing (ransum dasar terdiri dari 1,8 kg rumput gajah yang ditambah jerami padi yang diberikan secara bebas) menunjukkan adanya perbaikan dalam nilai konsumsi pakan bila dibandingkan dengan ternak yang hanya mendapat ransum dasar.

Hasil riset yang telah dilakukan oleh Semali dan Mathius (1984) menunjukkan bahwa pemberian daun lamtoro sebanyak 1 kg/hari adalah jumlah pemberian yang optimal untuk pertumbuhan ternak domba muda.

Sedangkan, menurut hasil riset Wina (1982) penambahan daun lamtoro sampai dengan 30% pada ternak domba yang diberi ransum dasar rumput gajah menunjukkan nilai koefisien cerna protein, bahan organik dan energi yang lebih tinggi daripada kaliandra dan gamal, tapi tidak berbeda dalam pertambahan bobot badan dan konsumsi ransum (bahan kering, bahan organik dan energi.

Menurut Wahyuni dkk. (1981) melaporkan hasil percobaan pada ternak sapi PO (Peranakan Ongole) yang diberi ransum pokok rumput lapangan ditambah daun lamtoro sebanyak 0%, 20%, 40%, 60% dan 100% yang memberikan

pertambahan bobot badan harian masing-masing sebesar 0,02 kg, 0,29 kg, 0,54 kg dan 0,57 kg dan 0,38 kg. Pemberian lamtoro 40% dan 60% adalah terbaik bila dibandingkan dengan pemberian lamtoro sebanyak 0%, 20% dan 100% (Gambarl). Selain itu selama 26 minggu (182 hari) dilakukan percobaan tidak terlihat adanya gejala keracunan pada ternak.

Pemanfaatan Tepung Daun Lamtoro (Laucaena Gluca) Yang Telah Difermentasikan Dalam Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Nila Merah (Oreochromis Niloticus)

Rachma Restiningtyas • Subandiyono Subandiyono • Pinandoyo Pinandoyo

Journal article Journal of Aquaculture Management and Technology • 2015

Tepung daun lamtoro merupakan sumberdaya bahan baku yang potensial untuk bahan baku pakan ikan nila merah (Oreochromis niloticus). Namun pemanfaatannya terkendala dengan adanya kandungan zat antinutrisi yang terkandung di dalam daun lamtoro seperti neutral detergent fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF), defisiensi asam amino esensial dan kandungan mimosin. Hasil fermentasi diharapkan terjadi peningkatan terhadap kualitas bahan pakan yang akan digunakan campuran pakan ikan. Daya cerna ikan dapat meningkatkan serat kasar pada daun lamtoro menurun setelah proses fermentasi. Fermentasi tersebut menggunakan probiotik yang mengandung bakteri Tricoderma sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh tepung daun lamtoro yang difermentasikan dan ditambahakan kedalam pakan terhadap pertumbuhan ikan nila merah (O. niloticus). Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Ikan diberi pakan buatan dengan kadar tepung daun lamtoro yang telah difermentasi sebanyak 0, 5, 10, dan 15%. Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan relative (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisien sirasio (PER), dan kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung daun lamtoro sebesar 10% memberikan pengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap nilai RGR, EPP, dan PER yaitu masing-masing sebesar 2.09%/hari; 60.84% dan 2.03% namun tidak berpengaruh nyata (P&gt;0.05) terhadap nilai SR. Berdasarkan pada hasil penelitian ini dapat simpulkan bahwa tepung daun lamtoro sebesar 10% dalam pakan mampu meningkatkan pertumbuhan ikan nila merah (O.niloticus). Dosis optimum tepung daun lamtoro yang dapat ditambahakan kedalam pakan buatan untuk benih ikan nila merah adalah sebesar 10.00 – 11.25%.

Sumber http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79196 dan sumber lainnya

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 04:02
loading...
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.