Bahaya Dibalik Manfaat Keong Sawah Untuk Konsumsi Jika Cara Mengolahnya Salah

loading...

Halal Haram, Kandungan Gizi, Manfaat Dan Bahaya Makan Keong Sawah

Journal of Environment Science, Toxicology, and Food Technology pada tahun 2013 menyatakan bahwa hewan bernama latin Pila ampullacea ini memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan gizinya diklaim cukup untuk menjadi alternatif daging yang harganya mahal. Menurut Persatuan Ahli Gizi Indonesia, dalam 100 gram keong sawah, terdapat kandungan 12 gram protein, 1 gram lemak, 64 kkal energi, 81 gram air, 12 gram karbohidrat, dan 217 miligram kalsium. Tidak hanya itu, terdapat juga omega 3, omega 6, omega 9, vitamin A, vitamin E, asam folat dan kandungan mineral berupa 60,52 miligram fosfor, 31,19 miligram magnesium, 10,9 miligram zat besi, 1,31 miligram zinc, dan 0,04 miligram sodium pada 100 gram daging keong sawah.

Keong Sawah [image source]

Sebelum dikenal sebagai bahan pangan, keong sawah lebih dulu beken dengan julukan hama padi. Pasalnya, binatang yang suka berkubang di sawah tersebut memang selalu menyantap tumbuhan padi. Bukan cuma memakan padi, para pasukan keong sawah juga kerap menggunakan batang padi sebagai tempat bertelur. Perkembangbiakan binatang ini bisa dikatakan sangat cepat, dan itu tentu saja membuat para petani kuwalahan. Untuk mengatasi hama keong sawah, biasanya petani memanfaatkan bebek untuk menyantap binatang kecil itu. Ada pula yang memanfaatkan pestisida untuk memberantas hama tersebut.

Makanan umum yang dikonsumsi di Asia Tenggara

sate keong sawah [image source]

Bukan cuma di Indonesia, ternyata keong sawah memang sudah jadi makanan yang umum dikonsumsi orang-orang di asia tenggara. Karena selain memiliki nilai gizi yang tinggi, keong sawah juga bisa diolah sebagai masakan yang berasa lezat. Meski demikian, kita juga patut waspada karena keong sawah adalah inang bagi beberapa penyakit parasit. Selain itu, jika hewan ini diambil di sekitar persawahan, biasanya akan menyimpan sisa pestisida dalam tubuhnya. Yah, memang lebih baik jika kita mengkonsumsi keong sawah yang sudah dibudidayakan saja, sehingga tidak memiliki sisa pestisida.

Berikut ini adalah perbandingan kandungan gizi keong sawah dengan beberapa jenis daging lainnya:
Gambar 1. Perbandingan Kandungan Gizi Keong Sawah dengan Beberapa Jenis Daging. Sumber: CNN Indonesia
Kandungan gizi yang berlimpah tersebut tentu memberikan dampak positif untuk tubuh, diantaranya adalah:

Omega

Omega 3 dan omega 6 merupakan asam lemak esensial yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh. Kedua nutrisi tersebut berguna dalam perkembangan otak, mengatur tekanan darah, meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Omega 9 merupakan asam lemak non-esensial yang diproduksi melalui lemak tak jenuh dalam tubuh. Nutrisi itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mengontrol kolesterol jahat dalam tubuh. Selain itu, ketiga nutrisi itu berperan dalam menjaga kesehatan rambut seperti mencegahnya dari kerontokan, meningkatkan elastisitas rambut, mempertebalnya, dan memelihara folikel rambut.

Protein

Kandungan protein yang terdapat pada keong sawah bermanfaat untuk pembentukan sel dan jaringan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, membantu proses pertumbuhan, dan mencegah penyakit kwashiorkor.

Kalsium

Kalsium sangat penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi, pemeliharaan gigi, menjaga sistem saraf dan peredaran darah, kepadatan tulang, dan kesehatan jantung.

Vitamin

Vitamin A untuk menjaga kesehatan mata sedangkan vitamin E berperan dalam proses regenerasi kuli dan menjaga kesehatan kulit. Asam folat sangat baik untuk ibu hamil agar bayinya tidak cacat.

Selain bermanfaat untuk tubuh, keong sawah juga berpotensi memiliki peluang bisnis yang menggiurkan. Salah seorang warga Subang, Jawa Barat bernama Duyat Soding berpenghasilan 4 juta per hari dari bisnis keong sawah yang dijalannya. Silahkan simak video berikut untuk mengetahui kisahnya:

Tidak hanya bermanfaat untuk tubuh, ternyata keong sawah juga membahayakan tubuh. Berikut ini adalah dampak negatif keong sawah untuk tubuh:

Menyebabkan cacingan

Keong sawah merupakan salah satu inang perantara cacing Trematoda. Cacing itu berkembang biang dalam tubuh manusia di jaringan usus dan saluran empedu. Gejala awal yang ditimbulkan bermacam-macam seperti nyeri perut, diare, mual dan muntah, sulit buang air besar, dan demam.
Gambar 2. Ilustrasi Terkena Diare. Sumber: Media Konsumen

Menyebabkan penyakit Schistosomiasis

Cacing Schistosoma merupakan penyebab penyakit Schistosomiasis. Cacing itu masuk melalui pori-pori kulit. Schistosomiasis menyebabkan gagal ginjal dan infeksi pada usus, kantung kemih, dan ureter bahkan kematian pada penderitanya. Jika infeksi tidak segera ditangani, dapat menyebabkan diare berkepanjangan dan menjalar ke hati lalu menyebabkan hati mengalami peradangan sehingga hati tidak dapat berfungsi dengan baik. Anda akan merasa demam, sakit kepala, diare, batuk-batuk, dan nyeri pada hati sebagai gejala awal terkena Schistosomiasis.
Gambar 3. Lifecycle of Schistosomiasis. Sumber: Centers for Disease Control and Prevention

Menyebabkan meningitis

Cacing Angiostrongylus Cantonensis ditemukan di perairan dangkal seperti persawahan. Penyakit meningitis disebabkan oleh cacing itu dan dapat menular melalui mata, hidung, dan mulut. Tanda-tanda jika Anda terkena meningitis adalah Anda akan mengalami demam dan menggigil, kebingungan, mual dan muntah, sakit kepala yang hebat, leher kaku, dan sering pingsan.
Gambar 4. Penyakit Meningitis. Sumber: Mayo Clinic

Berbagai penyakit itu dapat Anda terima bila Anda tidak mengolah keong sawah dengan benar sebelum dikonsumsi seperti contoh kasus keracunan massal akibat keong sawah yang terjadi di Bogor. Rubaeah mengatakan bahwa hasil uji laboratorium menunjukkan sampel makanan olahan keong sawah yang sudah matang positif mengandung bakteri. “Jika pengolahan tidak memenuhi standar higienis dan sanitasi, menimbulkan kuman yang menyebabkan gejala-gejala keracunan itu, mual, muntah, diare dan panas demam” lanjut Rubaeah. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus Anda perhatikan ketika mengolah keong sawah menjadi makanan:

Mencuci keong sawah hingga bersih dan tidak ada lumpur, pasir, dan tanah.

Daging keong sawah dicuci secara berulang untuk memastikan tidak ada lumpur, pasir, dan tanah yang masih menempel pada keong sawah. Bila perlu, daging keong sawah direndam di dalam air garam yang telah diberi air perasan lemon untuk mengangkat dan menghilangkan cacing-cacing yang masih menempel pada keong sawah.

Memasak keong sawah hingga matang.

Perebusan hingga mendidih atau digoreng dengan minyak zaitun/jagung dapat membunuh kuman, bakteri, dan cacing yang terdapat pada keong sawah. Pastikan Anda tidak mengonsumsi keong sawah dalam kondisi mentah ataupun setengah matang agar Anda terhindar dari berbagai macam penyakit.

Menjaga kebersihan tubuh

Setelah Anda mengolah keong sawah, pastikan Anda segera membersihkan anggota tubuh yang langsung berhubungan dengan keong sawah menggunakan sabun antiseptik untuk meminimalisir masuknya kuman, bakteri, dan cacing ke dalam tubuh Anda.

Tidak ada penanganan khusus terhadap korban keracunan keong sawah karena gejala umum dari keracunan makanan adalah muntah dan diare. Untuk pertolongan pertama, Anda dapat melakukan beberapa hal berikut ini:

Perbanyak minum cairan

Anda akan mengalami dehidrasi ketika keracunan karena Anda sering muntah sehingga membuat kondisi cairan di dalam tubuh Anda tidak stabil. Jika Anda kehilangan banyak cairan, itu akan membuat kondisi tubuh Anda semakin memburuk. Oleh sebab itu, Anda disarankan banyak meminum air mineral untuk menggantikan cairan Anda yang hilang.

Istirahat yang cukup

Setelah meminum air mineral, tubuh Anda perlu beristirahat. Istirahat yang cukup dapat mengurangi rasa mual, muntah, sakit kepala, dan dehidrasi.

Hindari obat anti muntah

Ketika Anda keracunan makanan, tubuh Anda akan mengalami penolakan terhadap racun dengan cara memuntahkannya. Oleh karena itu, jangan meminum obat anti muntah. Hadapkan kepala Anda ke bawah agar cairan yang berisi racun tidak masuk ke dalam tubuh Anda ketika Anda ingin muntah.

Jika dalam waktu 24 jam kondisi Anda tidak membaik, segera pergi ke klinik atau rumah sakit untuk menerima perawatan lebih lanjut.

Apakah Keong Sawah HALAL?

Dalam kaidah Syariah (hukum Islam), sejatinya ketentuan halal atau haram itu merupakan hak prerogatif Allah dan Rasul-Nya, yang disebutkan di dalam Al-Quran dan/atau Al-Hadits. Orang tidak boleh menetapkan sesuatu itu halal atau haram, tanpa merujuk pada ayat-ayat Al-Quran dan/atau Hadits Nabi saw. Perhatikanlah makna ayat yang tegas menyatakan, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (Q.S. An-Nahl, 16: 116). Sedangkan ketentuan dalam Hadits Nabi saw adalah sesuai dengan penetapan ayat: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Q.S. Al-Hasyr, 59: 7).

Selanjutnya, dalam aspek bahan konsumsi, Al-Quran dan Al-Hadits menjelaskan bahwa yang haram itu sudah tertentu, dan jumlah serta jenisnya sangat sedikit. Selebihnya dari yang ditetapkan haram itu, yang jumlah dan jenisnya jauh lebih banyak, adalah halal untuk konsumsi umat manusia: “Dia-lah Allâh, yang menjadikan segala yang ada di bumi (halal) untuk kamu sekalian.” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 29). Termasuk diantaranya adalah hewan Keong Sawah (Pila ampullacea) ini. Karena, tidak ada satu pun nash yang menyebutkan secara Sharih, atau eksplisit, bahwa hewan ini haram dikonsumsi.

Apalagi, Keong Sawah yang populer di masyarakat disebut “Tutut” itu termasuk hewan air. Tidak hidup di dua alam, meskipun ia bisa hidup di darat selama beberapa saat. Ia bukan jenis hewan Barma’iyyun, ungkapan dengan gabungan dari kata Barrun artinya daratan, dan Maa’un bermakna air; atau hewan yang hidup di dua alam.

Pada prinsipnya, hewan air hukumnya halal dikonsumsi, berdasarkan nash dari Al-Quran maupun Al-Hadits Nabi saw. Diantaranya, ayat yang menyebutkan, “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu...” (QS. Al-Maidah, 5: 96).

Yang dimaksud dengan air di sini bukan hanya air laut, namun termasuk juga hewan air tawar. Karena pengertian “al-bahru al-maa’ “ adalah kumpulan air yang banyak. Imam Asy-Syaukani mengatakan, “Yang dimaksud dengan air dalam ayat di atas adalah setiap air yang di dalamnya terdapat hewan air untuk diburu (ditangkap), baik itu sungai atau kolam.” (lihatlah Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani, 2/361, Mawqi’ At-Tafasir).

Sedangkan Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Dawud no. 83, An Nasai no. 59, At Tirmidzi no. 69).

Secara umum, Keong sawah juga tidak mengandung unsur Khobaits, atau lebih spesifik lagi unsur Istiqdzar, hal yang dianggap menjijikkan. Berbeda dengan siput atau bekicot, jenis keong juga, yang hidup di darat, dan ada yang menyatakannya menjijikkan, bahkan mengandung zat racun yang berbahaya bila dikonsumsi. Namun pendapat bahwa bekicot itu menjijikkan juga sebagai Lil-Ihthiyati, untuk kehati-hatian. Masalah menjijikkan itu sendiri dihukumi haram, merupakan pendapat dalam Madzhab Syafi’i. Sedangkan tiga Imam Madzhab yang lain, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hanbali, menyatakan, menjijikkan itu tidak merupakan faktor yang menyebabkannya menjadi haram.

Selanjutnya, pendapat yang menyatakan hewan yang hidup di dua alam itu sebagai hewan yang haram dikonsumsi, juga merupakan pendapat dalam Madzhab Syafi’i dan Hanbali, sedangkan dalam Madzhab Hanafi dan Maliki tidak mengharamkannya. Menurut Imam Hanafi dan Maliki, hewan meskipun dianggap hidup di dua alam, namun ia tetap dihukumi satu dengan melihat kondisi faktualnya. Kalau hewan itu lebih banyak hidup dan berkembang biak di air, sebagai indikatornya, maka dihukumi sebagai hewan air. Tapi kalau lebih banyak hidup dan berkembang biak di darat, maka ia dihukumi sebagai hewat daratan.

Maka sebagai kesimpulannya, menurut pendapat dalam Madzhab Syafi’i yang terkenal lebih ketat saja, mengkonsumsi Keong Sawah itu hukumnya halal. Demikian pula pendapat jumhur (mayoritas) ulama dan Imam madzhab yang lain. Adapun bahasan tentang kandungan gizinya, maka dipersilakan untuk mengkonsultasikannya dengan pakar ahli gizi. Wallahu a’lam. Sumber MUI

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 19:56
loading...
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.