Ancaman Peternak Sapi Lokal Bukan Dari Impor Sapi Tetapi Impor Daging

Impor Sapi Dari Australia Bebas Bea Masuk Pada Jumlah Tertentu, Apakah Ini Membahayakan Peternak Sapi Lokal?

Selama ini masih banyak beredar informasi keliru yang menyesatkan bahwa nasib peternak lokal semakin tidak menentu akibat banyaknya sapi impor asal Australia. Informasi ini tidaklah bisa diklaim 100% benar mengapa?
Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA) resmi disetujui kedua negara pada Senin (4/3/2019). Perjanjian tersebut akan mengeliminasi 100 persen tarif barang asal Indonesia ke Australia dan 94 persen tarif barang Australia ke Indonesia.
Dengan nilai tukar rupiah yang semakin terpuruk terhadap dolar maka dipastikan harga sapi impor bakalan dari Australia juga akan semakin mahal. Mahalnya harga sapi bakalan impor akan ikut andil menentukan harga jual dari perusahaan penggemukkan sapi pada saat panen. Pengusaha sapi atau sering disebut feedlotter tidak mungkin akan menjual sapinya dengan harga murah karena harga bakalannya saja sudah mahal, belum lagi ditambah biaya pakan yang semakin mahal juga. Fakta menunjukkan bahwa harga bahan baku pakan ternak semakin lama semakin mahal.

Bahaya Daging Impor Lebih Nyata Mengancam Usaha Peternakan Sapi Lokal

Berbeda dengan impor daging, baik daging kerbau maupun daging sapi. Jika kedua jenis komoditi ini yaitu daging sapi dan kerbau diimpor secara berlebihan maka peternak sapi lokal akan semakin tertekan, mengapa demikian?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan kebijakan pembebasan tarif bea masuk impor sapi asal Australia ada batasannya. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu dikhawatirkan akan mengganggu industri peternakan di Tanah Air. "(Bebas bea masuk) sampai jumlah tertentu. Begitu dia lebih dari segitu, maka kena dia (tarif bea masuk impor)," ujar Darmin dikutip dari Antara, Senin (11/3). Darmin tidak menyebutkan secara detail batasan jumlah impor sapi yang dibebaskan dari bea masuk impor tersebut. Namun, ia memastikan bahwa impor sapi dari Australia tidak akan membuat sapi di dalam negeri semakin membludak.
Daging sapi dan kerbau impor adalah produk jadi yang siap diolah tanpa perlu memotong sapi atau kerbau di RPH, tinggal impor daging beku dan siap jual. Hal ini akan mengancam keberlangsungan usaha pemeliharaan dan penggemukkan sapi lokal karena dengan banyaknya daging impor yang masuk ke Indonesia dan membanjiri pasaran, jumlah sapi lokal yang dipotong di RPH-RPH akan terus tergerus dan akan turun dengan drastis.

Turunnya pemotongan sapi di RPH akan membuat pasaran sapi lokal di pasar hewan semakin sepi. Pembeli semakin sedikit dan efeknya harga sapi di pasar hewan bisa turun drastis karena tidak laku. Saat harga sapi turun terus sementara biaya pakan semakin mahal dan juga harga bakalan maupun pedet sapi yang tinggi akan menyebabkan gairah peternak untuk menggemukkan sapi lokal semakin menurun. Dari sinilah benang merah yang menunjukkan mengapa impor daging sapi maupun kerbau lebih membahayakan peternak sapi lokal jika dibandingkan dengan impor sapi bakalan.

Lebih Baik Impor Sapi Bakalan Daripada Impor Daging, Ini Alasannya!

Penulis lebih setuju impor sapi bakalan daripada impor daging beku karena dengan sapi bakalan yang harus masih dipelihara dan digemukkan terlebih dahulu bisa meningkatkan lapangan kerja. Bisa meningkatkan taraf hidup petani yang mau bermitra dengan perusahaan dalam penyediaan hijauan seperti jagung dan rumput.

Tanpa adanya sapi impor maka populasi sapi lokal siap potong akan semakin tergerus dan bisa habis dalam jangka waktu hitungan bulan saja dan hanya tersisa pedet dan betina indukan yang tidak mungkin dipotong. Impor sapi juga bisa menjamin keberlangsungan jalannya pemotongan sapi di RPH-RPH yang berarti masih ada peluang kerja untuk para jagal, tukang boning dan juga karyawan RPH lainnya.

Jadi peternak sapi lokal sebenarnya tidak perlu khawatir dengan impor sapi bakalan asal Australia karena harga sapi bakalan dari luar negeri ini tidaklah murah dan tidak akan berakibat langsung secara drastis menurunkan harga sapi lokal. Importir sapi juga tidak mungkin mendatangkan sapi dalam jumlah berlebihan karena ketersediaan bahan baku pakan ternak dinegara kita juga terbatas dan harganya akan semakin mahal jika permintaan terus naik akibat impor berlebihan.
Australia rencananya akan mengeliminasi 6.474 pos tarif menjadi 0 persen atau mendapatkan fasilitas bebas bea masuk. Beberapa produk itu, yakni tekstil, karpet atau permadani, ethylene glycol, lembaran polymers ethylene, pipa penyaluran untuk minyak dan gas (migas), furnitur berbahan dasar kayu, dan produk herbisida dan pestisida. Sebelum IA-CEPA, produk-produk tersebut mendapatkan tarif preferensi sebesar 5 persen. Selain itu, Australia juga meringankan persyaratan bagi kendaraan hybrid dan elektrik asal Indonesia untuk mendapatkan tarif 0 persen. Sementara Indonesia akan membebaskan bea masuk pada sejumlah produk Australia, salah satunya daging sapi.
Pasar ternak sapi lokal tidak akan mati hanya karena ada impor sapi asal Australia yang memang masih sangat dibutuhkan karena ketersediaan sapi lokal secara nasional masih jauh dari mencukupi. Data-data konsumsi daging dan juga ketersediaan sapi siap potong menunjukkan bahwa negara kita masih membutuhkan sapi impor hingga ratusan ribu ekor pertahunnya agar kebutuhan daging terpenuhi. Kesimpulannya impor daging sapi wajib dibatasi dan diawasi karena lebih membahayakan usaha peternakan sapi lokal jika dibandingkan dengan impor sapi bakalan. Impor sapi bakalan juga tidak boleh berlebihan, harus ada batasan-batasan yang berguna untuk melindungi peternak lokal akan keberlangsungan usahanya tetap jalan. Bukankah kita masih ingin bisa swasembada daging dan bukan mengandalkan daging impor maupun sapi impor?
Dilansir dari detik.com, Kementerian Pertanian (Kementan) berencana mengimpor daging sapi sebanyak 256 ribu ton di tahun 2019. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Agung Hendriadi produksi daging sapi di tahun depan hanya sebanyak 429 ribu ton. Angka itu lebih sedikit dari kebutuhan sebanyak 686 ribu ton.
"Produksi daging sapi dalam negeri 2019 adalah 429.412 ton. Kebutuhan daging sapi nasional disepakati 2,56 kg per kapita per tahun, ini kajian BPS ya," jelas dia usai bincang-bincang pertanian di Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (28/12/2018). "Dengan angka itu, maka total kebutuhan daging kita 686.270 ton (di tahun 2019). Jadi ada defisit 256.860 ton, itu yang mau diimpor," tegas dia. Lebih lanjut, ia mengungkapkan impor daging sapi tersebut akan terdiri dari sapi bakalan dan daging beku. "Terdiri dari sapi bakalan, dan beku ya," papar dia.
Diolah dari berbagai sumber

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 23:43
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.