Loading...

Mengenal Teknik dan Cara IB Pada Ayam (Unggas)

Loading...

Panduan Pelaksanaan IB (Inseminasi Buatan) pada Unggas (Ayam)

Bisakah Ayam atau Unggas di IB, Bagaimana Caranya? 
Unggas (bahasa Inggris: poultry) adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk daging dan telur atau bulunya. Umumnya merupakan bagian dari ordo Galliformes (seperti ayam dan kalkun), dan Anseriformes (seperti bebek). Peternakan unggas adalah usaha membudidayakan unggas seperti ayam, kalkun, bebek, dan angsa dengan tujuan untuk mendapatkan daging dan telur, atau juga bulu dan kotoran. Lebih dari 50 miliar ayam dipelihara setiap tahunnya sebagai sumber daging dan telur.
Peralatannya dapat menggunakan alat-alat yang ada disekitar kita, sedang cara/tekniknya mudah. Kesulitan dalam praktek IB adalah cara mengeluarkan sperma dari pejantan. Kesulitan ini disebabkan karena peternak belum terbiasa, sehingga perlu berlatih.
Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus.
Manfaat Inseminasi Buatan :
  • Penggunaan pejantan lebih efisien
  • Mempercepat produksi telur tetas
  • Mempercepat produksi anak ayam umur sehari (DOC)
  • Sebagai sarana untuk meningkatkan mutu genetic
  • Memungkinkan dilakukan persilangan dengan ayam lain

    Beberapa kelebihan menggunakan inseminasi buatan diantaranya:
    1. Peternak tidak diharuskan mempersiapkan pejantan dalam jumlah yang banyak suatu kandang. Untuk melayani 25 ekor betina maka memerlukan satu pejantan saja. Sedangkan bila menggunakan persilangan secara alami maka satu pejantan hanya dapat melayani 5 – 6 betina.
    2. Dapat dilakukan pada ayam yang ada dikandang baterai sehingga dapat hemat tempat.
    3. Telur tetas yang dihasilkannya lebih bersih.
    4. Mudah menyeleksi ayam betina/ ayam jantan yang kurang potensial.
Alat dan bahan untuk IB
  • Spuit 1 ml
  • Tabung pengencer
  • Tabung penampung sperma
  • Nacl fisiologis 0,9%
  • Kain/tisu
Persiapan
  • Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan :
Alat suntik (spuit), tabung penampung sperma, tabung pengencer, nacl fisiologis 0,9% (pengencer sperma), kain lap atau tissu. Alat dan bahan ini dapat dibeli diapotik terdekat dan setiap kali digunakan dalam keadaan steril (dicuci dengan air mendidih).
  • Mempersiapkan materi induk dan pejantan :
Induk :
  • Minimal sudah mengalami periode peneluran pertama.
  • Mempunyai produksi tinggi dan berasal dari tertua yang berproduksi tinggi.
  • Induk tersebut sedang berproduksi.
  • Pemeliharaan induk sebaiknya dalam kandang batere individu.
Pejantan :
  • Berasal dari tertua dan mempunyai produksi tinggi.
  • Umur 1-1,5 tahun.
  • Pejantan harus dilatih sampai terbiasa spermanya (kurang lebih 7 hari).
  • Tanda pejantanyang sudah terlatih, begitu dilakukan pengelusan ekornya langsung terangkat.
  • Pemeliharaan pejantan tidak dicampur dengan induk.
Pengambilan Sperma
  • Dilakukan pada siang hari sekitar jam 15.00 wib
  • Pengambilan sperma dilakukan 2 orang, dimana 1 orang memegang ayam dan 1 orang bertugas mengambil sperma.
  • Bersihkan kotoran yang menempel dianus dan sekitarnya.
  • Rangsang pejantan dengan mengelus bagian punggung dari bawah ke leher kea rah ekor dan dari bawah anus kearah ekor, lakukan 5-7 kali.
  • Tekan pangkal ekor dengan posisi tangan dari atas sampai keluar spermanya, kemudian tamping sperma dalam tabung. Pengambilan sperma dapat dilakukan 3-5 kali dalam seminggu.
  • Encerkan sperma dengan Nacl fisiollogis 0,9% dengan perbandingan 1:6 sampai 1:10
  • Caranya: sedot Nacl fisiologis dengan spuit sesuai derajat pengencerannya, masukkan kedalam tabung. Ambil seperlunya Nacl tersebut, masukkan ke dalam tabung yang sudah berisi sperma (tabung penampung) goyangkan secara perlahan hingga tercampur.
  • Kemudian sisa Nacl dimasukkan lagi ke dalam tabung tersebut dan digoyangkan hingga tercampur. Umur sperma yang telah diencerkan kurang lebih 30 menit. Hindarkan sperma dari sinar matahri langsung.
  • Masukkan/sedot sperma yang telah diencerkan dengan spuit /alat suntik. Setelah sperma masuk ke dalam alat suntik maka sperma tersebut siap diinseminasikan.
PELAKSANAAN INSEMINASI BUATAN
  • Siapkan induk ayam yang akan diinseminasikan.
  • Bersihkan kotoran yang menempel dianus dan sekitarnya.
  • Pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) dilakukan 2 orang, dimana 1 orang memegang ayam dan 1 orang melaksanakan IB.
  • Tekan bagian tubuh dibawah anus hingga terlihat saluran reproduksi (sebelah kiri) dan saluran kotoran (sebelah kanan).
  • Masukkan/suntikkan sperma yang sudah diencerkan dengan spuit secara perlahan ke dalam saluran telur sedalam kurang lebih 2 cm. pada waktu akan dilakukan penyuntikkan penekanan bagian bawag tubuh dilepaskan, bersamaan dengan itu penyuntikkan dilakukan. Tiap unduk butuhkan sperma 1-2 ml.
  • Untuk mendapatkan hasil yang baik, sebaiknya IB diulang 3 hari setelah IB yang sebelumnya.
PENGAMBILAN TELUR
  • Pengambilan telur tetas dimulai pada hari kedua (telur yang pertama tidak digunakan).
  • Penyimpanan telur tetas maksimal 10 hari.
  • Cara meletakkan telur tetas, bagian tumpul (rongga udara) berada diatas.
  • Selanjutnya dilakukan penetasan sesuai prosedur.

    Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses inseminasi buatan diantaranya:

    1. Suhu dan udara sewaktu menampung sperma.
    2. Terhindarnya sperma dari tercampurnya urine dan feses.
    3. Adanya telur di dalam uterus. Untuk menghindarinya maka proses penyuntikan di lakukan pada sehari.
    4. Kondisi kesehatan ayam. Lebih berpeluang berhasil dibandingkan ayam yang Ayam yang dalam kondisi kurang prima.5. Umur ayam betina sebagai penerima sperma ayam jantan. Ayam yang siap untuk diinseminasi buatan sebaiknya yang berumur 8 bulanan ke atas. Ayam yang terlalu tua juga mempengaruhi tingkat keberhasilan.
    5. Pakan ayam. Ayam yang mendapatkan asupan pakan yang baik lebih siap untuk diinseminasi dibandingkan ayam yang kurang mendapatkan pakan yang bergizi.
    6. Pelaksana yang melakukan proses inseminasi buatan. Pelaksana yang profesional lebih memungkinkan sukses dalam melakukan proses inseminasi dibandingkan pelaksana yang masih pemula.
(Sumber: Litbang Pertanian dan sumber lainnya)

Loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 04:27
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.