Upsus SIWAB dan Target 1 Juta Sapi Betina Bunting di Jawa Timur

loading...

Jawa Timur Ditarget 1 Juta Betina Bunting Dari Program Upsus SIWAB, Bagaimana Realisasinya?
Tahun ini, Upsus Siwab di Jawa Timur menarget 1.259.600 ekor sapi betina sebagai akseptor kawin suntik. Dari jumlah itu, angka kebuntingannya ditarget 1.005.629 ekor, sementara target kelahiran diharapkan mencapai 939.136 ekor. "Target Jatim tersebut kontribusinya mencapai 43 persen dari target nasional," jelasnya. Namun realisasinya hingga pertengahan Agustus, kawin suntik sudah melampaui target, yakni 1.314.874 ekor dari target 1.259.600 ekor. Sementara kebuntingannya 673.441 ekor atau 67,1 persen dari target 1.005.629 ekor, sementara kelahiran masih 42,5 persen atau 398.505 ekor dari target 939.136 ekor. "Hingga akhir tahun, kawin suntik ditarget bisa terealisasi 140 persen. Sementara kebuntingan dan kelahiran mencapai 100 persen," ujarnya. Tiga daerah di Jatim dengan target tertinggi realisasi Program Upsus Siwab adalah Kabupaten Tuban dengan target 95.000 IB dan kebuntingan serta 76.950 kelahiran, Kabupaten Jember dengan target 82.000 IB dan kebuntingan serta 66.420 kelahiran, dan terakhir Kabupaten Situbondo dengan 78.000 target IB dan kebuntingan serta 63.180 kelahiran. Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (UPSUS SIWAB) yang diluncurkan oleh Kementan sejak 2016 lalu mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (Inka).
Sebanyak 150 ekor sapi betina dikumpulkan di tanah lapang Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, akhir pekan lalu. Sebagian sapi-sapi tersebut dalam kondisi bunting. Sebagian lagi dalam kondisi berahi yang siap dikawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB). Ahmad Fauzi, siang itu membawa 2 sapi betina jenis Limosin miliknya. Dua ekor sapi milik bapak 3 anak itu diketahui sedang berahi. Dia pun bergegas meletakkan sapinya di tempat khusus untuk antre dikawin suntik.

Di tempat khusus tersebut, sudah ada 14 ekor sapi betina yang juga siap dikawin suntik. Dia tahu ciri fisik sapi betinanya saat sedang berahi. Dia menyebutnya dengan istilah "3A", yakni Abang, Aboh, Anget. Abang dalam istilah bahasa jawa adalah vagina sapi yang memerah. Aboh berarti vagina sapi yang memar, dan anget berarti bagian dalam vagina sapi yang berasa hangat jika disentuh. "Kalau statusnya sudah A3, harus cepat-cepat dikawin suntik, mumpung gratis," kata warga Desa Wonoayu itu. Beberapa petugas inseminator terlihat sedang menyiapkan alat suntik berisi straw atau semen beku sapi jantan. Karena sapi milik Ahmad Fauzi berjenis Sapi Limosin, maka petugas menyiapkan straw Sapi Limosin untuk dimasukkan ke vagina sapi betina milik Ahmad Fauzi. Sapi betina berusia 9 tahun milik Ahmad Fauzi cukup produktif.

Karena sudah 7 kali melahirkan. Jika proses kawin suntik kali ini berhasil, maka sapi betina milik Ahmad Fauzi akan melahirkan anak sapi yang ke-8. Jika anak sapinya betina, akan dipelihara sebagai indukan, jika anak sapinya jantan maka dijual. Harga anak sapi jantan hasil kawin suntik, kata dia, juga lumayan tinggi, tergantung bentuk posturnya. "Saya pernah jual sapi jantan berusia 6 bulan seharga Rp 20 juta," jelasnya.
Berdasarkan data Ditejen Peternakan tahun 2009-2014, konsumsi daging ruminansia meningkat sebesar 18,2% dari 4,4 gram/kap/hari pada tahun 2009 menjadi 5,2 gram/kap/hari pada tahun 2014. Dilain pihak dalam kurun waktu yang sama penyediaan daging sapi lokal rata-rata barumemenuhi 65,24% kebutuhan total nasional, sehingga kekurangannya masih dipenuhi dari impor baik yang berupa sapi bakalan maupun daging beku. Dalam rangka mempercepat pencapaian peningkatan produksi daging di dalam negeri guna memenuhi permintaan konsumsi masyarakat Indonesia, mengurangi ketergantungan impor terhadap daging dan ternak bakalan serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha budidaya ternak ruminansia. Kementerian Pertanian meluncurkan program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (UPSUS SIWAB). Upsus SIWAB mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (INKA).Program tersebut dituangkan dalam peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting yang ditandatangani Menteri Pertanian pada tanggal 3 Oktober 2016.
Selain kawin suntik gratis, dalam kesempatan itu juga digelar pemeriksaan serentak kandungan sapi gratis. Muthohar saat itu membawa 2 sapi miliknya dan milik tetangganya. Sapi miliknya diketahui sudah bunting 7 bulan sejak dikawin suntik Februari lalu. "Alhamdulillah bunting 7 bulan. Ini yang kelima kalinya," kata Muthohar. Muthohar mengaku memiliki 12 ekor sapi. Tujuh ekor di antaranya indukan. Sisanya pejantan yang pemeliharaannya dititipkan ke orang lain. Semua indukan miliknya bunting karena kawin suntik. Ahmad Fauzi dan Muthohar adalah peternak sapi di Desa Wonoayu yang tergabung dalam kelompok ternak Wonokoyo. Keduanya mengaku sangat terbantu program IB atau kawin suntik gratis dari pemerintah. "Sebelum ada program gratis, biaya kawin suntik 70.000 sampai 80.000 rupiah untuk sekali suntik. Sekarang gratis, lumayan, kami sangat terbantu," kata Mutohar. Layanan gratis tidak selesai pada layanan kawin suntik, pemeriksaan rutin oleh petugas inseminator juga gratis. Warga hanya diminta partisipasinya melaporkan perkembangan kesehatan sapi betinanya.

Di Desa Wonoayu, ada 300 lebih peternak sapi. Sebanyak 32 di antaranya tergabung dalam kelompok ternak Wonokoyo. Kata Mat Saidi, ketua Kelompok Peternak Wonokoyo, warga Desa Wonoayu sangat antusias dengan program IB. "Namun begitu, sosialisasi harus terus digalakkan agar peternak memahami pentingnya program IB," kata pria yang juga menjabat sekretaris Desa Wonoayu ini. Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, adalah satu dari beberapa desa di Kabupaten Malang yang disebut pusat peternakan masyarakat untuk sapi potong. Selain di Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, kata Kepala Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang Nurcahyo, peternakan rakyat juga tersebar di seluruh desa di Kecamatan Donomulyo, Kalipare, dan Kecamatan Gedangan. "Itu untuk sapi potong, untuk sapi ternak tersebar di Kecamatan Ngantang dan Kecamatan Pujon," katanya.

Antusias peternak untuk memanfaatkan program kawin suntik gratis, kata dia, juga sangat tinggi. Bahkan, menurut dia, rapor Kabupaten Malang dalam realisasi kuota kawin suntik gratis tahun ini sudah melampaui target. Dari jatah 70.000 IB gratis sepanjang 2018, target itu sudah terealisasi 100 persen hingga Agustus. "Alhamdulillah kami mendapatkan tambahan kuota 30.000 dari Pemprov Jatim. Jadi tahun ini kami dapat 100.000 jatah IB gratis," ujarnya. Sambut swasembada 2026 Kawin suntik gratis adalah instrumen utama Program Upaya Khusus Sapi Induk Betina Wajib Bunting (Upsus Siwab), program nasional Kementerian Pertanian untuk mengakselerasi percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri.

Program yang diluncurkan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Lamongan, Jawa Timur pada 2016 lalu itu juga untuk mengejar swasembada daging sapi yang ditargetkan Presiden Jokowi pada 2026, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak. Selain kawin suntik gratis, kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Wemmi Niamawati, program ini juga memiliki kegiatan pemeriksaan kebuntingan gratis, pelaporan kelahiran, pemenuhan pakan hijauan, dan pengendalian pemotongan betina produktif.Sebagai daerah lumbung ternak, di Jatim sendiri potensi akseptor IB lebih banyak dari target IB program Upsus Siwab.

Dari total populasi 4.849.568 ekor sapi, potensi akseptor IB mencapai 1.750.60 sapi betina dewasa. Sebanyak 1.641.113 adalah sapi potong, dan 108.947 sisanya adalah sapi perah. Dari total tersebut, potensi kebuntingan sebanyak 1.225.042 ekor (70 persen dari total sapi akseptor), dan potensi kelahiran 1.102.500 (90 persen dari total sapi bunting). Pihaknya tidak khawatir kekurangan straw untuk mendukung Program Upsus Siwab di Jawa Timur, karena melalui Unit Pelaksana Teknis Inseminasi Buatan Dinas Perternakan dan Balai Besar Inseminasi Buatan memiliki alokasi semen beku sebanyak 2.202.520 dosis semen beku untuk berbagai jenis sapi dari Limosin, Simental, Brahman, Peranakan Ongole, Bali, Brangus, Madura hingga jenis kerbau. Program kawin suntik gratis, kata Wemmi, memiliki potensi menyumbang pendapatan masyarakat di Jawa Timur. Pada 2017, dengan total kelahiran pedet atau bayi sapi sebanyak 1.050.000 ekor, dia menghitung potensi pendapatan masyarakat selama 1 tahun mencapai lebih dari Rp 7,86 triliun. "Itu dengan asumsi, harga jual pedet hasil IB minimal 7,5 juta per ekor. Padahal ada yang menjual dengan harga 2 kali lipatnya," ujar Wemmi. Provinsi Jawa Timur sendiri selama ini disebut sebagai penyangga peternakan nasional.

Pada 2017, populasi sapi potong di Jawa Timur tercatat 4.573.893 ekor. Jumlah itu 28 persen dari total populasi sapi potong nasional sebanyak 16.599.247 ekor. Adapun untuk populasi sapi perah tercatat sebanyak 275.675 ekor. Populasi sapi perah Jawa Timur komposisinya separuh lebih atau 51 persen dari total populasi sapi perah nasiobal sebanyak 544.791 ekor.

Produksi daging sapi Jawa Timur pada 2017 tercatat 102.932 ton. Komposisinya 19 persen dari total produksi daging sapi nasional sebanyak 531.757 ton. Produksi susu sapi Jawa Timur juga menyumbang separuh lebih dari total produksi susu nasional atau 55 persen. Pada 2017, produksi susu sapi asal Jawa Timur tercatat 513.715 ton. Sementara produksi susu nasional sebanyak 920.093 ton.

Sementara itu, Program Upsus Siwab diragukan keberhasilannya oleh Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur. Karena di daerah, kelompok ini masih banyak melihat sapi indukan yang disembelih untuk kebutuhan konsumsi daging. "Jika masih banyak sapi betina yang disembelih untuk konsumsi, saya tidak yakin tujuan program untuk swasembada sapi potong bisa tercapai," kata Ketua PPSDS Jawa Timur, Muthowif.

Dia mencontohkan, di Surabaya dalam sehari, ada sekitar 150 ekor sapi yang dipotong. "Dari jumlah itu, 30 persennya adalah sapi betina. Bagaimana bisa meningkatkan populasi sapi kalau indukannya terus dipotong," ujarnya. Menurut dia, semua program pemerintah yang berupaya meningkatkan populasi sapi potong adalah bagus, namun juga harus dibangun infrastruktur di lapangan untuk memantau pemotongan sapi indukan.

Kelompok pedagang sebenarnya juga mendukung program Upsus Siwab, karena jika Indonesia sudah berstatus swasembada daging sapi, maka akan berdampak pada melimpahnya daging sapi di pasaran tanpa harus impor dari luar. "Kalau daging sapi melimpah, harga kan juga akan turun, dan daya beli masyarakat meningkat. Kita juga kan yang untung," jelasnya. Saat ini, harga daging di pasaran mencapai Rp 110.000 per kilogram. Untuk harga daging kualitas super Rp 130.000 per kilogram, sementara daging kualitas terendah mencapai Rp 90.000 per kilogram.

Sumber kompas.comsdan sumber lainnya

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Peternakan dan Herbal Updated at: 19:33
loading...
Copyright@2014-2018. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.