Pengusaha Tahu dan Tempe Lebih Menyukai Kedele Impor, Apa Alasannya?



Kedelai Impor Lebih Disukai Perajin Tempe Tahu Meski Harganya Cenderung Terus Naik Akibat Melemahnya Nilai Tukar Rupiah, Apa Saja Keunggulan Kedelai Impor Dibandingkan Kedelai Lokal?
Kedelai, atau kacang kedelai, adalah salah satu tanaman jenis polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur.
Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) menilai terdapat perbedaan signifikan antara kualitas produksi kedelai lokal dengan impor, terutama saat dijadikan bahan utama tahu dan tempe.

Ketua Umum Gakoptindo, Aip Syaifuddin berpendapat dari segi kualitas dan harga kedelai impor lebih ramah kepada industri dibandingkan dengan kedelai lokal. Aip mengilustrasikan 1 kg kedelai impor dapat dijadikan tempe seberat 1,8 kg. Sementara untuk 1 kg kedelai lokal hanya bisa dijadikan 1,4 kg tempe.

“Artinya ada perbedaan kualitas ketika pengembangan. Selain itu dari segi harga, kedelai impor juga lebih murah pada kisaran Rp7.000 per kg dibandingkan dengan kedelai lokal yang menyentuh angka Rp8.500 per kg,” katanya kepada Bisnis pada Selasa (28/8).

Aip mengatakan dari kebutuhan kedelai nasional yang mencapai 3 juta ton, 87% digunakan untuk memproduksi tahu dan tempe dan sisanya 13% dijadikan sebagai kecap dan tauco. Jadi sekitar 2,6 juta ton digunakan sebagai produksi tempe dan tahu.

Beruntungnya, kata Aip, pemerintah tidak memberlakukan kuota impor terhadap kedelai jadi tidak terjadi kenaikan harga signifikan seperti pada kasus bawang putih. Menurutnya, produsen merasa senang karena bahan utama selalu tersedia dengan harga yang terjangkau.

Selain itu, produsen juga terbantu karena di Amerika Serikat sebagai negara tujuan impor sedang melakukan panen raya atas tanaman kedelai. Jadi meskipun rupiah tengah tertekan dollar AS, harga beli kedelai tidak terganggu karena panen yang melimpah membuat harga jual kedelai jatuh.

“Harusnya dengan kenaikan dollar, otomatis harga kedelai juga naik. Tapi di Amerika sedang panen jadi harga jual turun. Turunnya itu sekitar 7%-10% pun selaras dengan kenaikan dollar di kisaran yang sama. Jadi harga tidak berpengaruh,” katanya.

Aip mengatakan selama masih ada kedelai impor, produsen memiliki opsi yang lebih terjangkau dibandingkan dengan kedelai lokal.

Konsumsi tahu dan tempe yang tinggi, membuat impor kedelai Indonesia sangat tinggi. Dengan kebutuhan kedelai dalam setahun 2,7 juta ton, baru sekitar 800.000 ton yang diproduksi petani lokal, selebihnya dipasok dari impor.

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin, mengungkapkan sebenarnya kedelai lokal memiliki keunggulan dibandingkan kedelai impor. Namun pasokannya yang sedikit dan tak pasti, membuat pengusaha tahu tempe lebih melirik penggunaan kedelai impor.

"Kalau kelebihan kedelai lokal itu non GMO (Genetically Modified Organisms), lebih natural, kalau orang bilang nggak pakai apa-apa. Kalau kedelai Amerika Serikat, Brasil, dan lainnya itu pasti GMO, makanya hasil panennya besarannya standar dan warna kuningnya bagus," terang Aip kepada detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Kendati kedelai impor telah mengalami rekayasa genetika, menurut Aip, sejauh ini kedelai GMO aman dikonsumsi.

"GMO tidak mengganggu kesehatan, kita sudah impor kedelai sejak tahun 1998, artinya sudah 18 tahun lebih, nggak ada keluhan apa pun orang makan tempe dari kedelai GMO. Di Amerika Serikat nggak ada masalah," jelas Aip.

Sementara itu, menurut Ketua Koperasi Pengrajin Tahu dan Tempe (Kopti) Jawa Barat, Asep Nurdin, kedelai yang dihasilkan petani lokal sebenarnya lebih berkualitas dalam hal aroma dan kesegarannya. Namun demikian, pengusaha kedelai harus banting tulang mencari kedelai lokal jika ingin memakainya sebagai bahan baku. "Kalau lokal itu lebih harum, kualitas lebih segar. Karena kalau impor itu kan pasti sudah dipanen 3 bulan lalu. Tapi masalahnya kedelai lokal ini susah sekali carinya," kata Asep.

Di sisi lain, lanjutnya, penanganan pasca panen kedelai lokal juga terbilang buruk, hal inilah yang membuat kedelai lokal kurang diminati ketimbang kedelai impor.

"Sudah jumlahnya sedikit, penanganan pasca panen juga buruk. Tingkat kekeringan kurang standar, belum kering sudah dijual, pemecah kulitnya jelek, makanya banyak kotoran ikut masuk ke karung," tutur Asep.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan bahwa tidak ada kenaikan harga kedelai impor dari Amerika Serikat (AS). "Baru kemarin tanggal 4 September kami rapat anggota keseluruhan, dan saya menerima laporan harga yang stabil," jawabnya ketika dihubungi Tirto, Jumat (7/9/2018).

Aip yang membawahi sekitar 5 juta pengusaha yang tergabung dalam koperasi tempe tahu di 21 provinsi menjelaskan, harga kedelai masih berkisar di Rp7.000/kg. Menurut pengakuan Aip, harga tersebut relatif stabil sejak tiga bulan yang lalu. "Berita di CNN itu tidak benar. Harga kedelai tidak pernah sampai Rp5.000/kg. Tidak juga sekarang sampai Rp8.000/kg." tegas Aip.

Akhir-akhir ini marak pemberitaan mengenai naiknya harga kedelai akibat pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS. Kenaikan kedelai yang menjadi bahan pokok pembuatan tempe tahu itu dianggap merugikan para pengrajin.

Aip menjelaskan, kebutuhan kedelai impor bagi para pengusaha tempe tahu memang cukup tinggi, sekitar 2 juta ton setiap tahunnya. Lebih dari 80 persen kedelai impor itu memang disuplai dari Amerika Serikat. "Kita memang beli pakai dolar, tapi harga di sana sedang turun karena akhir tahun itu di sana sedang panen," jelas Aip.

Berdasarkan data di laman Kementerian Pertanian AS, harga kedelai mengalami penurunan sejak Juni lalu. Pada bulan Mei 2018 harga kedelai mencapai 9.84 dolar/bushel, kemudian turun pada Juni menjadi 9.55 dolar/bushel dan terus menurun pada Juli 2018 menjadi 9.10 dolar/ per bushel.

Pada Rabu 5 September 2018 kemarin, kedelai AS turun menyentuh harga 8.48 dolar/bushel.

Aip menambahkan, dalam waktu dekat ini Gakoptindo akan mengumumkan kepada publik bahwa pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS tidak berdampak kepada harga kedelai. Khususnya, juga tidak berdampak pada pengrajin tempe tahu.

"Kami baru selesai menyusun press release," tambahnya saat diwawancarai via sambungan telepon.

Sementara itu, hal berbeda justru disampaikan oleh Sekretaris Asosiasi Pengusaha Tahu Tempe Aceh Mulizar. Ia menyatakan harga kedelai naik membuat biaya produksi ikut naik, sementara harga jual tahu di masyarakat tidak mengalami kenaikan.

"Kalangan pengusaha tahu mengeluhkan harga kedelai yang terus meningkat. Sementara, harga jual tahu di masyarakat tidak mengalami kenaikan," kata Mulizar di Banda Aceh, Rabu (5/9/2018).

Menurut dia, kenaikan dolar turut berdampak naiknya harga kedelai impor secara perlahan. Harga kedelai impor sekarang ini Rp7.700 per kilogram naik dari sebelumnya Rp6.500 per kilogram. Kenaikan tersebut sudah berlangsung beberapa bulan terakhir.

Mulizar mengakui, kenaikan harga bahan baku tersebut sangat memberatkan kalangan pengusaha tahu karena harga jual tahu di masyarakat tetap Rp95 ribu per embernya. Satu ember ada tiga papan tahu yang isinya berkisar 30 potong tahu per papannya. Kami masih tetap bertahan dengan harga jual seperti itu," kata Mulizar.

Oleh karena itu, Mulizar mengharapkan pemerintah bisa turun tangan membantu menurunkan harga kedelai impor. Jika tidak, dikhawatirkan akan banyak usaha kecil produksi tahu tutup atau bangkrut.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk periode Januari hingga Juni 2018, AS masih menjadi negara pengimpor kedelai terbesar dengan nilai mencapai $499 juta (sekitar Rp7,4 triliun).

Kanada menjadi negara kedua pengimpor kedelai terbanyak ke Indonesia. Namun, jumlahnya berbanding jauh dengan AS, yakni hanya senilai $6,09 juta atau sekitar Rp90,8 miliar. Sementara, negara penyuplai kedelai lainnya adalah Malaysia, Prancis, dan Selandia Baru.
Importir tahan diri

Kontraksi pada harga komoditas pangan yang berbahan baku impor sudah terprediksi sejak nilai dolar meroket dalam sepekan terakhir.

Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Yusan memprediksi kedelai bakal menjadi salah satu yang paling berdampak terhadap kondisi ini.

Tapi, pedagang dan pembeli tak perlu terlalu khawatir. Sebab, perang dagang antara Tiongkok dan AS memberi keuntungan terhadap harga kedelai yang masuk ke Indonesia.

Menurut Yusan kepada Kontan, kenaikan harga kedelai saat ini masih tidak terlalu signifikan, sekitar Rp50 per kilogramnya. Alhasil, rentang harga kedelai di gudang importir masih berkisar Rp7.050 hingga Rp7.100 per kg.

Selain itu, para importir cenderung menahan diri karena permintaan dari Kementerian Perdagangan. “Kami memang diminta Kemendag untuk tidak memanfaatkan pelemahan rupiah untuk mengambil untung yang tinggi, sehingga keuntungannya kami tekan,” sambung Yusan.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk memastikan inflasi terkendali melalui stabilisasi harga pangan. Bersama Kadin, Kementan membentuk tim khusus yang bertugas mengawal masuknya impor ke dalam negeri.


Perajin Tempe Tahu Mengeluhkan Harga Kedelai

Perajin tahu di Kota Semarang, Jawa Tengah, mengaku usahanya kian sulit dengan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Sebagai pembuat tahu yang bergantung dari kedelai impor dari Amerika Serikat nasibnya, kini kian terjepit. Warseno, seorang perajin tahu yang beralamat di Jalan Tandang Raya, Jomblang Candisari itu mengeluhkan makin mahalnya harga kedelai saat ini. Ia bilang, harga kedelai terus mengalami kenaikan setiap harinya.

"Harga kedelai itu sudah naik bertahap. Setiap hari naiknya seribu rupiah. Dari awalnya, hanya Rp6.400 per kilogram. Kini jadi Rp7.500 per kilogram, " kata Warseno, Kamis 6 September 2018. Menurut dia, harga kedelai impor saat pelemahan rupiah ini setara dengan Rp7,5 juta per ton. Kondisi itu sudah cukup genting, mengingat harga bahan baku tak sebanding dengan jumlah penjualannya di pasaran.

Terhadap kondisi itu, dia tak mampu berbuat banyak. Ia juga tak bisa mengganti bahan baku kedelai impor dengan kedelai lokal. Paling-paling, bisa mengurangi jumlah produksi agar usahanya tetap bertahan. "Kalau kedelainya dikurangi, ya produk tahu jadi kurang baik. Jika harganya dinaikkan juga sulit. Apalagi persaingan antar perajin sangat tidak sehat. Mau enggak mau penghasilan kita jadi sangat mepet," jelasnya.

Untuk satu kali produksi tahu di tempatnya, Warseno membutuhkan satu ton sampai 1,5 ton kedelai. Jumlah itu mampu menghasilkan tahu terbaik yang distok di sejumlah pasar di kota lumpia. Ia menyebut bahwa di Jawa Tengah, jumlah penggemar tahu terbesar ada di Semarang. Sebagai pengusaha yang bergantung dari bahan impor, ia berharap, kondisi perekonomian nasional bisa segera stabil. Pemerintah pun diminta segera memastikan kondisi usaha kecil, sepertinya dengan beberapa kebijakan yang tepat.

Sumber:
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3376795/ini-keunggulan-kedelai-lokal-dibanding-impor-dari-as
https://tirto.id/gakoptindo-pastikan-harga-kedelai-impor-dari-as-tidak-naik
https://beritagar.id/artikel/berita/rasio-harga-dan-ukuran-tempe-akibat-kedelai-impor


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 07:47
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.