Harga Jagung Terus Naik, Bagaimana Imbasnya Pada Pakan Ternak?


Dilema Kenaikkan Harga Jagung dan Nasib Peternak Terkait Naiknya Harga Pakan
Jagung (Zea mays ssp. mays) adalah salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia, selain gandum dan padi. Bagi penduduk Amerika Tengah dan Selatan, bulir jagung adalah pangan pokok, sebagaimana bagi sebagian penduduk Afrika dan beberapa daerah di Indonesia.
Kenaikan harga jagung naik berpotensi mengerek laju harga jual pakan ternak. Sebab, jagung merupakan bahan baku utama yang berkontribusi sebesar 50% dalam komponen biaya produksi pakan ternak. Karenanya, pemerintah diminta mengamankan harga jual jagung untuk mengantispasi kenaikan.

Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian mencatat harga jagung sekarang sudah mencapai Rp 5.380 per kilogram di tingkat petani. Sementara harga jual jagung eceran rata-rata sebesar Rp 6.320 per kilogram, naik dari harga acuan jagung sebesar Rp 4 ribu per kilogram sebagaimana yang tercantumdalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2017. Aturan itu juga menetapkan harga acuan jagung di tingkat petani dengan penghitungan persentase kadar air.

Kepala Seksi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Yoseph menyatakan komposisi produk pakan ternak sudah mengalami kenaikan.

Sebab, 70% dari Harga Produksi Pokok (HPP) berasal dari biaya produksi pakan, dengan rincian sebanyak 35% dikontribusi dari biaya pembelian jagung giling, 10% bekatul, 16% buntil kedelai, 4% bahan olahan, dan 5% premik, obat, serta vaksin. Sementara 30% sisanya dari biaya operasional dan distribusi.

Dia mencontohkan, dengan harga jagung yang mulai naik dari acuan Rp 4.000 per kilogram menjadi Rp 5.500 per kg, hal ini akan mengerek HPP menjadi Rp 7.280 per kilogram.

"Kalau komposisinya bergerak sedikit, ongkos produksi akan respons dengan cepat," kata Yoseph di Jakarta, Selasa (25/9).

Sementara di sisi yang lebih hilir, seperti harga telur dan ayam ras, menurutnya harga bergerak lebih elastis lantaran mengikuti perkembangan suplai dan permintaan konsumen.

Yoseph menyebutkan ongkos pengiriman juga menjadi salah satu faktor yang harus dijaga, untuk menentukan harga jual atau harga produksi jagung. "Untuk pakan, tidak hanya nilai tukar mata uang rupiah, tetapi juga komponen harga lainnya," ujarnya.
Musim kemarau panjang seolah menjadi berkah tersendiri bagi para petani jagung di Indonesia. Akibat panas berkepanjangan, jagung-jagung yang dipanen memiliki kadar air rendah sehingga meningkatkan harga jualnya. Ketua Asoasiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) Sholahuddin menyatakan, selama musim kemarau tersebut kadar air di dalam jagung hanya berkisar 14 hingga 17 persen. "Karena musim kemarau kualitasnya dapat sehingga harganya naik," kata Sholahuddin di Kompleks Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (3/8/2018). Tak hanya disebabkan faktor cuaca, kenaikan harga jagung disebut Sholahuddin terjadi akibat lebih sedikitnya produksi jagung pada semester II tiap tahunnya. Menurut dia, pada semester I tiap tahunnya terdapat produksi jagung sebesar 65 persen dari target. Sementara pada semester II produksinya hanya sebesar 35 persen. "Tahun ini target produksi jagung dalam negeri 30 juta ton. Per Juli kemarin sudah mencapai 18 sampai 19 juta ton," imbuh Sholahuddin. Oleh karenanya, harga jagung selama tiga bulan terakhir dianggap stabil dan ideal untuk industri jagung domestik. Adapun harga jagung saat ini dikatakan Sholahuddin stabil berada di angka Rp 3.600 hingga Rp 3.900 per kilogram. Angka itu sedikit meningkat dari Februari-Maret yang notabenenya musim hujan dan membuat kadar air di dalam jagung mencapai 35 persen. Pada periode tersebut, APJI mencatat harga jagung per kilogramnya sebesar Rp 3.200. Sebagai informasi, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 58 tahun 2018 telah mengatur perihal harga acuan jagung dengan kadar air 15 persen. Dalam permen tersebut, harga acuan tersebut ditetapkan sebesar Rp 3.150 per kilogram di tingkat produsen dan Rp 4.000 per kilogram pada level konsumen.
Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Sri Widayati, mengungkapkan bahwa sentra jagung masih tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sementara itu, 56 dari 92 pabrik pakan ternak masih berada di Pulau Jawa.

Untuk menjaga kualitas sebaran produk, produsen biasanya akan melakukan penyimpanan pascapanen dengan lantai jemur. "Perusahaan atau trader juga harus punya andil untuk mengadakan pengering," katanya.

Sebab, investasi pengadaan silo atau tempat penyimpanan jagung biasanya relatif besar atau sekitar Rp 7 miliar termasuk di antaranya biaya sewa. Karenanya, pemerintah tengah berupaya menekan biaya produksi jagung dengan mengembangkan mobil pengering jagung dengan harga Rp 1,2 miliar per unit. "Itu akan masuk ke program kami tahun 2019," ujar Sri.

Kementerian Pertanian, memproyeksikan produksi pakan ternak tahun ini bisa mencapai 19,4 juta ton, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu 18,2 juta ton. Sedangkan kebutuhan jagung untuk pakan bagi pabrik penggilingan pakan sekitar 650 ribu ton per bulan dan kebutuhan peternak ayam layer yang butuh sedikit hanya 200 ribu ton per bulan.

Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudistira mengungkapkan infrastruktur dan jaringan logistik merupakan salah satu hal yang penting untuk mengamnkan pasokan produk pertanian dan pangan, di samping berperan untuk menekan biaya produksi.

Selain itu, dia juga meminta pemerintah mengembangkan teknologi pertanian serta tata kelola rantai pasok pangan. "Akan lebih baik jika ada jalur distribusi khusus untuk pasokan pangan," kata Bhima.

Sebelumnya, musim kemarau panjang yang terjadi di beberapa daerah mengerek harga jual jagung. Sebab, musim panas yang lebih panjang telah mengurangi kadar air dalam jagung sehingga kualitas produksi jagung yang tercapai dalam beberapa waktu terakhir semakin membaik sehingga harganya tinggi.

Ketua Umum Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) Shollahudin menyatakan kadar air hasil produksi jagung bisa mencapai 14% sampai 17%, sesuai kebutuhan industri. “Kualitasnya bagus sehingga harga naik,” kata Shollahudin, bulan lalu.

Selain karena kondisi cuaca, kenaikan harga jagung juga diakuinya karena produksi semester dua yang lebih rendah dibandingkan semester pertama. Menurutnya, semester I biasanya menyumbang 65% terhadap rata-rata produksi jagung selama tahun, sementara 35% sisanya biasanya ada di semester II. Menurut data APJI, produksi jagung nasional pada semester pertama telah mencapai 18 juta ton dari target produksi setahun sebanyak 30 juta ton.

Pasokan yang lebih sedikit pada semester kedua juga menjadi salah satu pemicu harga jagung yang tinggi. “Selama tiga bulan terakhir harga stabil dan ideal untuk industri,” ujar Shollahudin.

Dia menyebutkan harga jagung di tingkat petani saat ini stabil di kisaran Rp 3.500 hingga Rp 3.600 per kilogram dan sekitar Rp 3.900 per kilogram di pabrik. Sementara dari segi kualitas kadar air pada semester pertama atau saat panen musim hujan bisa mencapai 35%. Sehingga harga pada Februari dan Maret hanya sekitar Rp 3.200 per kilogram.

Kementerian Pertanian (Kementan) menekankan, ada banyak faktor terkait harga jagung yang kini tercatat naik di tingkat petani. Salah satunya distribusi panen jagung yang tidak merata.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP Kementan) Sumarjo Gatot Irianto mengatakan, pasokan jagung hingga hari ini masih terbilang cukup.

Bahkan dia mengaku telah memeriksa penyebab kenaikan harga jagung tersebut di pasar.

"Untuk produksi jagung sementara catatan kita itu 28 juta ton di Angka Ramalan I. Kita masih bicarakan kepada para petani jangan dilepas setinggi-tingginya harga ini. Kita memang belum tahu apa yang mengerek harga jagung jadi tinggi begini," tuturnya di Gedung Kementan, Selasa (25/9/2018).

Gatot menjelaskan, selain persoalan pasokan, dari sisi logistik juga berdampak besar pada harga jagung. Oleh karena itu, Kementan terus memperbanyak alat pengering jagung, terutama untuk daerah-daerah pedalaman.

"Distribusi panen juga berpengaruh, panen di Maluku dan Jawa kan beda, ini karena ada aspek logistiknya. Apalagi panen untuk di daerah remote, makanya kita tambah 1.000 alat pengering jagung. Untuk jagung multipurpose," ujarnya.

Sementara itu, hingga hari ini, Gatot mengungkapkan, luas tanam jagung telah mencapai 1.047.000 hektar. Itu belum terhitung hingga total akhir bulan September ini.

"Awal bulan September 780 ribu hektar, hari ini 1.047.000 ribu hektar. Ini belum selesai ya sampai September, kan masih ada 5 hari lagi," ungkapnya.

Sebagai informasi, saat ini harga jagung di tingkat [petani ]( 3609080 "")sebesar Rp 3.600 per kilogram (kg). Sementara, harga acuan jagung menurut Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) di tingkat petani ialah Rp 3.150 per kg dan Rp 4.000 di tingkat konsumen.

Sumber:
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/08/05/154756126/musim-kemarau
https://katadata.co.id/.../harga-jagung-naik-harga-pakan-ternak
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3652341/harga-jagung-petani-naik
 


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 05:12
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.