Loading...

Nilai Dolar Makin Tinggi, Sapi Tak Terbeli

Loading...
loading...
Sapi Impor
Harga sapi di Australia mengalami penurunan yang cukup tinggi akibat musim kemarau yang mengakibatkan ketersediaan pakan hijauan di negeri kanguru semakin langka. Bahkan untuk antisipasi langkanya pakan sapi, pemerinta Australia sampai memandang perlu untuk memperlunak peraturan perburuan kanguru dalam arti peternak diperbolehkan menembak kanguru di area peternakannya untuk menjaga ketersediaan pakan dan air minum ternaknya.

Sebenarnya saat harga turun inilah saat paling tepat para pengusaha penggemukan sapi impor untuk berbelanja sapi bakalan asal Australia dalam jumlah besar agar mendapatkan margin keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual yang semakin lebar. Tetapi ternyata saat ini hal tersebut  tidaklah sesuai dengan yang diharapkan oleh pengusaha penggemukan sapi atau yang biasa disebut feedlotter. Mengapa? Karena meskipun harga sapi dari Australia mengalami penurunan tetapi sepertinya hal itu tidak akan terlalu berpengaruh terhadap turunnya harga bakalan sapi tersebut dalam mata uang rupiah karena ternyata saat ini nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang sangat ekstrim terhadap dolar Amerika.

Mengikuti perkembangan nilai mata uang rupiah yang semakin terpuruk ke level Rp 14.600 per 1 dolar Amerika, apa efeknya bagi industri peternakan sapi di Indonesia?

Untuk peternak sapi lokal, dalam jangka pendek efek negatifnya belum akan terasa karena semua transaksi jual beli sapi lokal di pasar hewan dilakukan dengan mata uang rupiah. Efek jangka panjang akan terasa saat harga kebutuhan hidup terus naik, harga pakan sapi naik sehingga beban biaya untuk menggemukkan seekor sapi akan semakin mahal. Memang secara otomatis harga sapi lokal akan ikut naik tetapi jika semua harga barang naik bisa berakibat daya beli turun dan sapi bukanlah kebutuhan utama yang akan dibeli konsumen meski harganya tinggi.

Konsumen akan lebih mementingkan membeli bahan kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng sedangkan daging sapi hanya akan jadi alternatif saat ada dana lebih saja untuk dibelanjakan daging. Mereka akan mencari alternatif lain pengganti daging sapi yang harganya lebih terjangkau seperti daging ayam maupun ikan.

Efek negatif nilai dolar yang makin tinggi akan sangat dirasakan oleh pengusaha penggemukan sapi impor. Hal ini karena untuk membeli bakalan sapi impor mereka butuh dolar sebagai alat pembayaran internasional. Meski harga sapi bakalan di Australia tetap namun karena kurs rupiah demikian lemah maka sampai di Indonesia harga sapi impor akan sangat mahal saat dikonversi dalam rupiah.

Jika pengusaha penggemukan sapi impor tidak mampu membeli bakalan sapi dari luar negeri karena terpuruknya nilai tukar rupiah maka untuk mengisi kekosongan kandang mereka akan belanja bakalan sapi lokal dari pasar hewan termasuk juga memborong pedet dipasaran. Hal ini akan semakin mendongkrak harga sapi lokal terus naik dan biasanya akan disambut gembira oleh peternak dalam jangka panjang. Kebalikannya oleh jagal kenaikan harga sapi akan dianggap musibah apalagi jika harga daging tidak bisa ikut naik karena daya beli turun.

Efek karambol yang bersifat negatif akibat turunnya nilai tukar rupiah secara ekstrim hingga 14.600 per dolar Amerika akan memukul industri ternak sapi menjadi bisnis berbiaya tinggi. Peternak sapi impor akan mengalami efek ini lebih dahulu dibandingkan dengan peternak sapi lokal. Namun pada gilirannya semua peternak sapi, blantik, jagal, penjual daging dan konsumen akan sama-sama menanggung beban turunnya nilai tukar ini.

Semoga pemerintah tidak tutup mata dan segera mengantisipasi agar nilai rupiah tidak semakin jatuh terpuruk.

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:35
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.