Hijauan Untuk Pakan Kambing, Jenis dan Cara Memanfaatkannya


Peternak kambing yang sudah sangat berpengalaman biasanya sudah mengetahui dengan baik jenis hijauan apa saja yang bagus untuk pakan kambingnya. Beberapa jenis hijauan sangat baik sebagai sumber protein dan sebagian hijauan merupakan sumber serat. Keunggulan kambing dalam hal pakan adalah mudah menyesuaikan diri dengan berbagai macam dan jenis pakan serta perubahannya.

Pemberian pakan baik hijauan maupun konsentrat untuk kambing tentunya harus disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan kambing tersebut. Kambing untuk breeding atau dikembangbiakkan tentunya pakannya harus dibedakan dengan kambing untuk penggemukan. Pakan juga diberikan sesuai dengan umurnya baik dalam hal jenis pakan, persentasenya dan tentunya jumlahnya agar biaya pakan tetap terkendali dan efisien dan kambing bisa bertumbuh dengan baik.
Tips Cara Memilih Pakan Hijauan Untuk Kambing:
  • Pilih tanaman berumur relatif muda sekitar 35-42 hari
  • Imbangan daun/batang setingg mungkin
  • Utamakan bagian daun dibandingkan batang
  • Gunakan lebih dari satu jenis; 2-3 jenis hijauan yang disukai ternak
  • Tanaman legum sangat baik sebagai sumber protein yang murah

Pakan yang cukup dalam hal jumlah dan nutrisi akan membuat ternak kambing cepat berkembang dengan baik, pakan ini sebagian besar pada pakan hijauan seperti rumput-rumputan dan leguminosa dengan jumlah yang diberikan sekitar 70% sampai dengan 90% dari jumlah ransum. Kambing adalah jenis ternak yang tergolong unik, selain memiliki sistem cerna yang komplek ruminansia ini juga memiliki tingkat adaptif pakan yang tinggi dan selektif terhadap fraksi. Pakan pokok untuk ternak ini adalah rumput dan leguminosa namun sekarang ini peternak lebih memilih pakan konsentrat karena terbatasnya lahan gembala dan hijauan.

Ada beberapa jenis hijauan yang bisa dibudidayakan dengan mudah, jenis-jenis hijauan tersebut diantaranya adalah, Teresede (Gamal), Singkong Taun, dan juga Kaliandra. Ketiga jenis hijauan tersebut bila dibudidayakan sangat bermanfaat untuk pakan ternak kambing. Dengan memiliki tanaman hijauan sebagai pakan ternak, tentu bisa mengurangi pengeluaran untuk membeli pakan ternak yang lain, seperti, ampas tahu dan juga kulit kedelai dan juga yang lainnya. Jenis hijauan lain seperti rumput odot, daun murbei, dan daun dadap juga sering dimanfaatkan sebagai ramban atau hijauan untuk pakan kambing. Dengan Pakan Alami untuk mencapai hasil yang maksimal dari ternak kita, maka sudah sewajarnya kita memilih hijauan yang bermutu, cara menanam, cara meningkatkan mutu dari pakan yang mempunyai nilai nutrisi tinggi dan cara memberikankan pada ternak kambing kita.
Tips Pemberian Pakan Kambing
  • Hijauan segar diberikan sebanyak 10-20% dari bobot tubuh yaitu
  • Anak sapih diberikan sebanyak 2-3 kg/ekor/hari
  • Dara/Pejantan Muda diberikan 4-5 kg/ekor/hari
  • Induk/Pejantan diberikan 5-6 kg/ekor/hari
  • Pakan hijauan umumnya lebih murah dibandingkan bahan pakan lain
  • Maksimalkan pemberian dan konsumsi hijauan pakan
  • Pastikan alokasi hijauan telah mencukupi (harus terdapat sisa pakan pada hari berikutnya ± ≥10% dari jumlah yang diberikan)

Kambing diberikan pakan hijauan yaitu pakan yang telah dicampur rumput dan leguminosa yang total pemberiannya sesuai dengan keadaan fisiologi ternak. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, ternak kambing dapat diberikan kosentrat atau pakan penguat yang bukan hasil fermentasi seperti dedak, bekatul, ampas tahu, jagung giling (tepung jagung), gaplek, bungkil kedelai, bungkil kelapa,bungki sawit, dll, sesuai status fisiologis ternak.

CONTOH RANSUM UNTUK TERNAK DOMBA/KAMBING
NoStatus Fisiologis/kondisi ternakHijauanPenguat /
RumputDaun Legumkonsentrat
%%Kg
1Betina  dewasa75250,25
2Sedang Tumbuh60400,25
3Betina Bunting60400,40
4Betina Menyusui50500,45
5Pejantan Dewasa / Pemacek75250,50

Frekuensi pemberian hijauan yang ideal adalah 3 kali dalam sehari, berikan ternak hijauan sore hari dalam jumlah terbanyak, pagi hari dalam jumlah sedang dan siang hari dalam jumlah sedikit dan Frekuensi pemberian pakan minimal adalah 2 kali dalam sehari. Untuk meningkatkan konsumsi (palatabilitas) legum dapat dilakukan dengan melayukan legum selama 6-24 jam sebelum diberikan dan berikan terlebih dahulu daun dan tangkai daun yang lebih tua tanpa pakan lain.
Selain diberikan hijauan ternak juga dapat digembalakan. Lama penggembalaan menentukan seberapa banyak pakan hijauan dapat dikonsumsi. Ternak dapat digembalakan minimal 6 jam sehari untuk menjamin kecukupan pakan. Apabila hijauan tersedia banyak penggembalaan dapat dilakukan selama 4 jam. Jumlah hijauan yang tersedia di lapangan menentukan lama waktu penggembalaan. Gembalakan ternak pada saat intensitas sinar matahai rendah antara pukul 09:00 s/d 11:00 dan 14:00 s/d 17:00. Hindari penggembalaan yang terlalu pagi karena larva parasit mengkontaminasi tanaman pakan bagian atas.

Sistem penggembalaan dapat dilakukan dengan rotasi karena sistem ini dapat menekan populasi cacing parasit. Jumlah ternak per satuan luas areal penggembalaan perlu diatur sesuai dengan ketersediaan hijauan agar penggunaan lahan lebih efisien.

Macam-macam Jenis Hijauan Untuk Pakan Kambing

Gamal (Gliricidia Sepium)
Banyak penamaan berbeda di banyak daerah untuk gliricidia ini sbb: Gamal (Indonesia), Lirikside, liriksidia, Wit Sepiung (Jateng), Johar Gembiro Loka (DIY). Jawa Timur: Kelorwono, Joharlimo, Johar Bogor. Sunda: Cebreng, Cepbyer (Jabar), Kalikiria (Ciamis), Angrum (Garut), Ujan-Ujanan (betawi).

Teresede, atau sering juga disebut dengan (Gamal) dan juga nama lainnya, juga salah satu hijauan yang sangat baik buat ternak kambing. Kandungan protein (23% CP) dan kalsium (1,2%). Kandungan seratnya tinggi (45% NDF) yang terdapat pada daun teresede sangat bagus bila digunakan sebagai sumber hijauan untuk ternak kambing. Daun teresede mempunyai bau yang menyengat, makanya terkadang kambing yang belum terbiasa memakan teresede, pasti sedikit tidak suka memakannya. Untuk mensiasati bau menyengat, sebaiknya teresede sebelum diberikan sebaiknya dijemur atau dilayukan terlebih dahulu dan untuk membiasakan pemberian pada ternak kambing sebaiknya diberikan pada kambing dalam kondisi yang lapar.

Cara Budidaya Gamal

Pohon teresede ini selain ditanam dengan biji dapat juga dibudidayakan dengan cara stek, cara stek akan lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan biji, selain itu pengembangan dengan menggunakan stek akan memiliki masa panen yang lebih singkat dibandingkan dengan membudidayakannya dengan biji.

Penanaman setek lebih baik berasal dari batang bawah tanaman yang cukup usia (diatas 2 tahun), diameter batang cukup besar (diatas 4cm) dengan panjang setek bervariasi mulai dari 40cm sampai 1.5m. Jarak tanam juga bervariasi, antara 40 -50cm sampai dengan 1.5 – 5m tergantung kebutuhan. Walupun terkadang pohon tersede akan menggugurkan daunnya pada saat musim kering dan kondisi saat kondisi udara dingin, teresede bisa dikategorikan sebagai pohon yang selalu hijau (evergreen). Teresede bisa dipanen setiap 3 – 4 bulan sekali, dengan hasil antara 1 – 2 kg hijauan basah per tanaman.


Gliricidia memang kaya akan protein (20 – 26% CP) dan kalsium (1,2%). Kandungan seratnya tinggi (45% NDF) yang membuatnya sangat bagus sebagai sumber hijauan untuk ternak ruminansia. Permasalahan pada ternak hanya sebatas palatabilitasnya (kesukaan) saja, mengingat gamal ini memiliki bau menyengat, untuk mengatasinya sebelum diberikan sebaiknya dijemur atau dilayukan dan untuk membiasakan berikan pada saat ternak dalam kondisi lapar.

Budidaya gliricidia bisa dilakukan dengan penanam biji polong yang sudah tua ataupun dengan penanaman stek dari batangnya. Pemotongan pertama pohon gamal dianjurkan setelah tanaman berumur 1 tahun. Selang waktu atau interval pemotongan selanjutnya setiap 3 bulan sekali. Rata-rata produksi hijauan segar berkisar 2-5 kg per potong per pohon. Sistem pemangkasan dua kali selama musim hujan dan dua kali selama musim kering dapat mengurangi peranggasan daun gamal sehingga gamal akan tetap menghijau sepanjang tahun (Nitis et al., 1991).

Rumput Odot (Pennisetum purerium)

Termasuk rumput gajah jenis cvmott (Pennisetum purerium) cvmott, atau lebih umum dikenal dengan sebutan Rumput Odot.

Penamaan Odot sendiri berasal dari nama Pak Odot, peternak yang membawa rumput tersebut dari Malaysia. Jenis rumput ini belum banyak diketahui masyarakat kita, padahal mempunyai potensi yang sangat tinggi rumput odot sebagai pakan ternak seperti sapi, kambing, domba dll. Rumput odot sebagai pakan ternak jenis ini berbeda dari rumput Gajah(king grass) yang umumnya ditanam dan dibudidayakan oleh para peternak sekarang ini. Rumput gajah atau king grass umum tingginya sekitar 4,5 m, sedangkan rumput odot hanya dapat mencapai 1 meter, rumput odot ini sangat mirip dengan pandan yang daunnya rapat-rapat. Dengan keadaan seperti ini, rumput odot sangat efisien dalam hal pemakaian lahan untuk penanaman.

Kalau kita ada tanah atau lahan 1 m/ persegi rumput gajah biasa hanya menghasilkan sekitar 29,5 kg/tahun, maka untuk rumput odot sebagai pakan ternak dapat mencapai sekitar 36kg/tahun. Hampir semua bagian rumput odot bisa dimakan, sedangkan rumput gajah biasa hanya sekitar 60-70 % saja.

Berdasarkan hasil tes uji analisis laboratorium, kandungan nutrisi, rumput odot sebagai pakan ternak juga mempunyai nilai persentase persentase yang tinggi. Berikut ini adalah tabel nutrisi dari rumput odot.

Komposisi Nutrient Rumput Odot
NoUraianNilai Nutrisi
%
1Protein Kasar (PK)17 – 19
2Protein Kasar (PK) daun17 – 19
3Protein Kasar (PK) batang8,1
4Kadar Lemak kasar daun2,72
5Kadar Lemak kasar batang90,1
6Digestibility daun72,68
7Digestibility daun62,56
8Lignin2,5

Dari table diatas menunjukkan bahwa potensi Rumput Odot sebagai pakan ternak bisa memenuhi kebutuhan gizi ternak. Oleh karena itu rumput odot sangat baik sebagai pakan ternak untuk pemeliharaan jangka panjang (lebih dari 6 bulan) baik dengan hanya memakai pakan hijauan saja ataupun untuk penggemukan yang ditambah dengan pakan penguat atau konsentrat.

Dari hasil penelitian beberapa peneliti IPB, dan uji coba tanam yang dilakukan Qiara Intsitute yang dikelola para dosen serta alumni IPB, hasil produksi rumput Odot dapat mencapai lebih dari 60 ton per hektar. Hasil panen pertama pada saat umur rumput odot sekitar 3-4 bulan, berikutnya bisa kita setiap sekitar 50-60 hari. Rumput odot bisa disimpan sampai 3 hari tanpa adanya perlakuan khusus, dan masih dapat dimakan ternak dengan lahap.

Ciri-Ciri Rumput Odot yaitu:
  • Mempunyai laju pertumbuhan yang cepat seperti rumput gajah
  • Berumpun dan bertunas atau rhizoma
  • Rumput odot mempunyai akar yang kuat dan dalam
  • Daunnya dan batang halus tidak berbulu
  • Batangnya rumput ini lunak dan lembut sehingga sangat mudah dimakan ternak, tanpa perlu dicacah terleih dahulu dan ternak kita tentunya akan sangat lahap untuk memakannya
  • Mempunyai kadar air sekitar 80%, sehingga ternak kita terhindar dari dehidrasi.
Murbei/Mulbery (Morus Alba) Murbei / Mulbey

Protein merupakan salah satu nutrien yang menjadi faktor penentu tingkat produktivitas ternak termasuk kambing dandomba. Namun pada umumnya bahan pakan sumber protein yang berasal dari kacang-kacangan maupun hasil samping industri pertanian harganya mahal sehingga terkadang tidak terjangkau oleh daya beli peternak skala kecil maupun yang berada dipedesaan. Dilain pihak, ternak ruminansia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan ternak nonruminansia dalam hal pemanfaatan sumber protein dari hijauan untuk mencukupi kebutuhan akan protein. Oleh karena itu, meningkatkan produktivitas domba dan kambing, perlu dicari alternatif sumber protein yang murah dan tersedia sepanjang tahun.

Tanaman murbei dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah iklim tropis seperti Indonesia. Hijauan dari tanaman murbei mempunyai kandungan protein yang tinggi (>20%) sehingga sangat potensial untuk digunakan sebagai sumber protein hijauan pada pakan kambing dan domba. Suplementasi hijuan murbei pada pakan domba dapat meningkatkan total konsumsi bahan kering sebesar 22,5% dan dibarengi dengan peningkatan kenaikan bobot badan harian domba sebesar 85% dibandingkan pakan yang tidak disuplementasi dengan hijuan murbei.

Komposisi Nutrien Daun Murbei

Informasi potensi produksi tanaman murbei telah banyak dilaporkan, namun informasi tersebut terkait dengan kebutuhan daun murbei sebagai pakan ulat sutera.Penelitian pemanfaatn murbei sebagai pakan ternak baru dijumpai sebagian kecil di India, Jepang dan Korea. Percobaan pemanfaatan daun murbei sebagai pengganti konsentrat unggas di Jepang telah dilaporkan oleh Machii et al (2002), sedangkan untuk bahan pakan ternak ruminansia, penelitian telah dilakukan antara lain oleh Singh dan Makkar (2002), yang meakukan pengujian secara in vitro. Sanchez (2002) melaporkan bahwa di Indonesia, tanaman murbei baru digunakan sebagai pakan ulat sutera, sedangkan penelitian atau pemanfaatan daum murbei sebagai pakan ternak belum dijumpai. Kondisi yang berbeda terjadi di Negara-negara bagian Amerika yang telah menggunakan daun murbei sebagai bahan pakan ternak.

Tanaman murbei mempunyai potensi sebagai bahan pakan yang berkualitas karena potensi produksi, kandungan nutrient dan daya adaptasi tumbuhnya yang baik (Singh & Makkar, 2002). Produksi daun murbei sangat bervariasi, tergantung pada varietas, lahan, ketersediaan air dan pemupukan. Martin et al (2002) melaporkan produksi biomassa murbei mencapai 25 ton BK/ha/tahun dan produksi daun sebesar 16 ton BK/ha/tahun, sedangkan Boschini (2002) melaporkan produksi daun sebesar 19 ton BK/ha/tahun.

Kandungan nutrient daun murbei meliputi 22-23% PK, 8-10% total gula, 12-18% mineral, 35% ADF, 45,6% NDF, 10-40% hemiselulosa, 21,8% selulosa (Datta et al, 2002). Kualitas daun murbei yang tinggi juga ditandai oleh kandungan asam aminonya yang lengkap. Pada daun murbei juga teridentifikasi adanya asam askorbat, karotene, vitamin B1, asam folat dan pro vitamin D (Singh & Makkar, 2002).

Komposisi nutrien daun murbei
NoUraianNilai Nutrisi
%
1Air84,28
2Protein Kasar (PK)20,15
3Serat Kasar13,27
4Lemak Kasar3,62
5Abu10,58

Sumber : Samsijah (1992).

Komposisi nutrien yang lengkap serta produksi daun yang tinggi, menjadikan tanaman murbei potensial dijadikan bahan pakan ternak, menggantikan konsentrat khususnya untuk ternak ruminansia (Doran et al, 2006). Selain kandungan nutriennya yang lengkap, tanaman murbei juga mengandung senyawa aktif 1-deoxynojirimycin (DNJ) yang berpotensi menjadi agen slow release RAC (Syahrir,dkk, 2010).

Senyawa DNJ ditemukan terdapat pada tanaman murbei sebanyak 0,24% (Oku et al, 2006). Senyawa ini mampu menghambat proses hidrolisis oligosakarida menjadi monomer-monomernya (Breitmeier, 1997; Arai et al,1998). Senyawa DNJ masuk ke sisi aktif enzim glukosidase (Romaniouk et al, 2004; Chapel et al, 2006), sehingga menghambat kinerja enzim untuk menghidrolisis substrat. Karena itu, senyawa DNJ diduga dapat melepas RAC secara perlahan (Syahrir,dkk, 2010). Khusus pada ternak ruminansia, mekanisme slow release RAC dalam system rumen akan menjaga kesinambungan penyediaan RAC, sehingga mikroba-mikroba penghasil enzim pencerna karbohidrat structural dapat berkembang optimal (Syahrir,dkk, 2010).

Dadap / Cangkring (Erythrina variegata)

Dadap atau cangkring adalah sejenis pohon anggota suku Fabaceae (=Leguminosae). Tanaman yang kerap digunakan sebagai pagar hidup dan peneduh ini memiliki banyak sebutan yang lain. Di antaranya dadap ayam, dadap laut (Jawa), dadap blendung (Sunda.), theutheuk (Madura.), dalungdung (Bali), deris (Timor); galala itam (Maluku) dan lain-lain. Dadap / Cangkring di Giga Farms

Pohon yang berukuran sedang, mencapai tinggi 15–20 m dan gemang 50–60 cm. Bagian kulit batang yang masih muda dan halus bergaris-garis vertikal hijau, abu-abu, coklat muda atau keputihan; batang biasanya dengan duri-duri tempel kecil (1–2 mm) yang berwarna hitam. Tajuknya serupa payung atau membulat renggang, menggugurkan daun di musim kemarau.

Daun majemuk beranak daun tiga, hijau hingga hijau muda, poros daun dengan tangkai panjang 10–40 cm. Anak daun bundar telur terbalik, segitiga, hingga bentuk belah ketupat dengan ujung tumpul, anak daun ujung yang terbesar ukurannya, 9-25 × 10–30 cm.

Bunga-bunga tersusun dalam tandan berbentuk kerucut, di samping atau di ujung ranting yang gundul, biasanya muncul tatkala daun berguguran, menarik banyak burung berdatangan untuk menyerbukinya. Mahkota berwarna merah jingga hingga merah gelap; benderanya 5,5-8 × 8 cm, berkuku pendek, tidak bergaris putih. Polong tebal dan berwarna gelap, menyempit di antara biji-biji, 15–20 cm × 1.5–2 cm, berisi 5-10 butir biji berbentuk telur, coklat, merah atau ungu mengkilap.

Memiliki kandungan protein (dan nitrogen) yang tinggi, itulah kenapa daun dadap juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau untuk pupuk hijau. Sebatang pohon dadap yang berukuran sedang, yang dipangkas 3-4 kali setahun, dapat menghasilkan 15-50 kg hijauan pakan ternak dalam setahunnya. Sejauh ini, daun-daun dadap diketahui tidak bersifat racun (toksik) bagi ternak ruminansia. Perakaran dadap bersimbiosis dengan bakteri Bradyrhizobium mengikat nitrogen dari udara, dan meningkatkan kesuburan tanah. Kelebihan lainnya, dadap dapat digunakan sebagai pemberantas serangga.




Kaliandra


Kaliandra termasuk dalam kelompok klasifikasi plantae, family fabaceae, kaliandra dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi hingga 1500 mdpl. Tumbuhan ini relatif kuat untuk bertahan pada saat musim kemarau, meskipun pertumbuhannya tidak sesubur seperti disaat musim penghujan.

Selain mempunyai manfaat untuk pakan ternak kambing, kaliandra juga bermanfaat untuk menahan erosi tanah, karena akar dari kaliandra yang kuat. Manfaat lain kaliandra adalah, jika ditanam pada tanah yang kurang produktif, kaliandra dapat menekan pertumbuhan gulma karena daunnya yang rimbun.

Daun kaliandra hampir mirip dengan daun mlanding (Petai cina), namun perbedaanya adalah daun kaliandra agak lebih tipis dan halus jika dibandingkan dengan daun mlanding. Buah kaliandra juga hampir mirip dengan petai cina. Dari buah inilah kaliandra berkembang biak. Selain dari biji buahnya, untuk mengembangbiakkannya juga bisa dengan cara mencabut bibit kalindra yang masih kecil kemudian menanamnya secara berpencar di lahan yang lain.

Ada banyak jenis kaliandra yang tumbuh di Indonesia, namun yang lebih terkenal adalah kaliandra bunga merah (Calliandra calothyrsus) dan kaliandra bunga putih (zapoteca). Kaliandra banyak digunakan sebagai tanaman penghijauan dan juga dimanfaatkan untuk ternak ternak, karena kandungan protein pada daun kaliandra yang cukup tinggi.

Ketela Taun


Singkong taun, atau sering disebut juga dengan singkong karet memiliki daun-daun yang lebar dan tebal, perbedaan singkong karet dengan singkong biasa pada umunya adalah, singkong taun hanya dimanfaatkan daunnya saja, karena singkong taun, ubinya tidak bisa dikonsumsi.

Pada umumnya, singkong taun diambil daunnya untuk dibuat sayur, selain itu daun singkong taun sering dimanfaatkan untuk pakan ternak. Kandungan protein yang tinggi dalam daun singkong taun, sagat baik bila diberikan pada ternak kambing.

Selain mempunyai daun yang lebar dan besar, ciri-ciri yang menonjol dari singkong taun adalah memiliki pokok batangnya yang besar. Biasanya singkong ini seringkali ditebang/pangkas dan kemudian akan tumbuh lagi, tebang dan tumbuh lagi hingga bertahun-tahun. Walaupun pohon singkong karet ini memiliki batang yang sangat besar, namun singkong taun hanya memiliki umbi yang kecil, semacam akar yang menggembung saja.


Kandungan Asam Sianida Dalam Singkong Taun

Daun singkong karet mengandung asam sianida atau HCN. Untuk itu bila digunakan untuk pakan ternak sebaiknya daun singkong taun harus dicampur dengan hijauan yang lain, seperti kaliandra teresede dan juga hijuan lainnya.


Adapun untuk cara budidayanya sangat mudah, potongan batang dari singkong taun dapat tumbuh dengan mudah bila ditanam pada berbagai kondisi lahan. Apabila sudah tumbuh dan memiliki batang yang besar, singkong taun juga tahan terhadap kondisi kering ataupun kemarau yang pamjang. Bila akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak, singkong taun dapat ditanam disekitar pekarangan, agar lebih mudah dalam merawat serta memetiknya.

Diolah dari berbagai sumber


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:52
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.