loading...

Terorisme: Antara Duka Cita dan Duka Citra

Loading...
DUKA CITRA

Ketika saya melayat ke rumah duka yang meninggal akibat ditabrak geng motor, saya hanya mendengar tangis dan melihat wajah-wajah pelayat dengan wajah berduka. Saya tidak mendengar ada yang berteriak menghujat geng motor. Kalau pun ada yang membicarakan perilaku jahat geng motor dibicarakan secara perlahan agar jangan sampai terdengar keluarga korban. Hari itu memang saatnya berduka. Saatnya membantu keluarga korban, menghiburnya agar tabah.

Ketika ada yang tewas akibat miras oplosan, para pelayat tidak ada yang menyalahkan korban atau keluarganya saat melayat. Walaupun dalam hati mereka menyayangkan , kenapa peristiwa itu sampai terjadi.

Itulah cara masyarakat dalam menyikapi dan menyampaikan rasa duka cita pada korban. Siapa pun korbannya, siapa pun pelakunya. Tanpa melihat latar belakang golongan atau agama. Apa pun alasannya. Satu anak manusia meninggal adalah kedukaan. Ungkapan duka baik diucapkan maupun tidak terucap. Ungkapan rasa duka yang tulus tanpa pencitraan.

Tengoklah dunia media sosial. Tragedi kemanusiaan yang beruntun terjadi belakangan ini telah dimanfaatkan oleh satu kelompok untuk menghantam kelompok lainnya. Kedukaan keluarga korban seolah-olah diabaikan. Hanya sekali-sekali disentuh. Selebihnya kedukaan itu dimanfaatkan untuk amunisi menembak kelompok lawan dengan rentetan cacian dan fitnah.

Ketika terjadi korban meninggal akibat terinjak-injak saat antri sembako. Satu kubu seolah pura-pura tidak tahu. Satu kubu lagi memanfaatkan untuk mengejek kubu lainnya yang dianggap tidak berperikemanusiaan karena tidak peduli pada korban. Kubu yang diejek mencari pembenaran dengan mencari kesalahan siapa penyebab terjadinya korban. Tidak ada ungkapan duka cita. Ketika panitia penyelenggara memberikan uang duka cita pada keluarga korban, yang terjadi adalah pertengkaran dua kubu malah memasuki babak yang lebih rumit.

Ketika terjadi tragedi kemanusiaan rusuh Mako Brimob yang menelan korban jiwa, setelah sekali mengucapkan duka cita, selebihnya dimanfaatkan untuk mengejek lawan yang berbeda aspirasi politik. Durasi ejekannya jauh lebih panjang dari duka yang diucapkan. Lawannya yang dianggap tidak mengucapkan rasa duka diejeknya, dituding sebagai tidak punya rasa kemanusiaan.

Bahkan ketika lawannya sedang mengucapkan rasa bela sungkawa yang dalam, saat yang bersamaan lawannya mengejeknya dengan suara keras. Ucapan duka cita seakan belum sah kalau tidak diucapkan di hadapannya. Mereka seolah pemilik tunggal ucapan duka cita. Mereka akan menilai, apakah ucapan duka cita itu tulus atau cuma basa-basi. Mereka penafsir tunggal ucapan duka cita.

Baru saja terjadi tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh teroris yang memang sudah pasti tidak berperikemanusiaan. Saya luruskan dulu makna teroris. Siapapun, apa pun latar belakang agamanya, golongannya, jika dia melakukan teror, apa lagi sampai merengut korban jiwa, patut dikutuk. Semoga masuk neraka jahanam.

Ada semacam rasa ketakutan dituduh tidak mengucapkan duka. Beberapa akun cepat memposting ucapan duka. Tapi yang lebih banyak bukanlah ungkapan rasa duka, tapi sudah dapat diduga, serangan yang lebih dahsyat pada kubu yang bersebarangan aspirasi politik yang tidak ada hubungannya dengan aksi teror.

Serangan teroris dimanfaatkan untuk pencitraan kubunya dengan menuduh kubu lawannya sebagai pro teroris. Satu cara pengucapan rasa duka yang rada aneh. Jika dulu ada yang menuduh kelompok lain pro PKI, bisa dipastikan yang menuduh akan dapat ganjaran penjara. Tapi menuduh kelompok lain pro teroris dianggap sebagai rasa cinta pada bangsa dan negara. Bahkan durasi mengutuk teror lebih sedikit dibanding menuduh lawannya yang berbeda aspirasi politik sebagai pro teroris. Tentu saja para teroris dan dalang di belakangnya bertepuk tangan karena telah berhasil mengadu domba masyarakat yang lagi tergila-gila pencitraan di tahun politik ini.

Setiap hari, dimana saja, akan ada korban oleh sebab apa saja. Dalam kesendirian, Saya ingin mengungkapkan rasa dengan hati perih.

Saya hanya ingin mengungkapkan duka cita bukan duka citra. Juga saya ingin mengungkapkan rasa duka pada persteruan yang tak berkesudahan. Perseteruan yang memanfaatkan segala cara,segala peristiwa untuk kepentingan golongan, termasuk memanfaatkan korban kekerasan.

Saya ingin mengungkapkan rasa duka yang mendalam dan mengutuk pelaku dan dalangnya sebagai orang orang pengecut tidak berperikemanusiaan. Terorisme dari manapun oleh siapapun patut dikutuk. Sebab tidak ada agama yg mengajarkan pembunuhan sadis kepada nyawa tidak berdosa.

“Bila kamu membunuh satu nyawa tanpa haq maka sesungguhnya kamu membunuh seluruh manusia di bumi” demikian firman Tuhan dalam Kitab-nya. (BN)

Sumber status fb

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 05:40
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.