Potensi Gen Tahan Penyakit Ayam Sentul

Salah satu masalah yang dialami peternakan ayam Indonesia adalah belum tersedianya bibit ayam unggul, khususnya yang tahan terhadap infeksi. Di samping itu, tingkat kematian ayam Indonesia yang diperlihara secara tradisional masih tinggi. Program pemuliaan untuk meningkatkan ketahanan ayam Indonesia terhadap infeksi dapat menjadi salah satu strategi dalam meningkatkan mutu genetiknya.

Informasi mengenai peningkatan mutu genetik ayam Indonesia khususnya sifat ketahanan infeksi inilah menjadi tema disertasi Muhammad Muhsinin untuk meraih gelar Doktor-nya di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).

Menurut Muhsinin, penelitiannya tersebut dilatarbelakangi keinginannya mengeksplor lebih lanjut mengenai ketahanan dari ayam asli Indonesia yang memiliki 27 rumpun. Ayam sentul, adalah satu satu rumpun ayam asli Indonesia yang ia teliti.

“Ayam sentul belum banyak dieksplor utamanya mengenai sumber daya genetik. Penelitian banyak dilakukan lebih ke arah produktivitas seperti bobot badan dan produksi telur. Sementara informasi sifat ketahanannya terhadap agen infeksi belum ada,” ujarnya. Terlebih lagi tingkat kejadian penyakit yang masih tinggi. “Sebenarnya bisa dikembangkan di ayam lokal lain, namun pada penelitian ini saya lebih fokus ke ayam sentul karena potensinya bagus untuk dikembangkan secara tradisional maupun semi intensif.”

Tiga Tahap Penelitian
Dalam penelitiannya, ada 280 sampel yang terdiri dari ayam sentul 96 sampel, ayam pelung 10 ekor, ayam merawang 23 ekor, ayam kampung 57 ekor, parent stock (PS) broiler, F1 persilangan ayam kampung x PS broiler (KB) 32 ekor dan F2 KB x KB 52 ekor. “Penggunaan sampel ayam lokal lainnya, untuk melihat keragaman gen,” akunya.

Muhsinin menerangkan, ada dua gen yang mengidentifikasi keragaman gen yakni gen NRAMP-1 (natural resistance-associated macrophage protein 1) dan gen iNOS (inducible nitric oxide synthase). Kedua gen ini bekerja sinergi di dalam sel makrofag yang merupakan salah satu sistem imun non spesifik. Perlakuan sistem imun non spesifik ini dalam menghadapi agen infeksi yang masuk ke dalam tubuh ayam sama baik terhadap baik, virus maupun parasit. “Jadi dengan memanfaatkan gen-gen yang berperan penting di sistem imun non spesifik ini akan sangat membantu untuk program seleksi terutama sifat ketahanan ayam, baik itu nanti sifat ketahanannya terhadap bakteri, virus parasit dan agen penyakit yang lain,” jelasnya.

Penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah mengidentifikasi keragaman gen NRAMP-1 dan iNOS pada rumpun ayam Indonesia. Tahap kedua adalah menganalisis asosiasi genotipe gen NRAMP-1 dan iNOS dengan sifat ketahanan infeksi, seperti konsentrasi leukosit dan diferensiasinya (heterofil, limfosit dan monosit), aktivitas dan kapasitas fagositosis dan clearance test. Tahap ketiga adalah menganalisis ekspresi gen NRAMP-1 dan iNOS.

Pendekatan molekuler dengan memanfaatkan kandidat gen sembagi marker untuk sifat ketahanan terhadap infeksi langkah yang tepat dan telah banyak memperoleh hasil yang baik. Karena sifat ketahanan tersebut memiliki nilai heritabilitas yang rendah. Artinya, program pemuliaan melalui seleksi secara konvensional belum memberikan progres yang signifikan terhadap sifat ketahanan infeksi. “Jadi dibutuhkan penanda genetik untuk membantu meningkatkan efektivitas seleksi,” tambahnya.

Potensi Genotipe
Hasil dari identifikasi keragamanan gen NRAMP-1 dan iNOS ditemukan 3 genotipe yaitu genotipe TT, TC dan CC. Kemudian dari ketiga genotipe itu dihitung frekuensi alel dan frekuensi genotipenya. Dari analisis frekuensi alel dan frekuensi genotipenya, ditemukan bahwa genotipe CC memiliki frekuensi paling tinggi di antara kedua gen tersebut (NRAMP-1 dan iNOS) di semua populasi ayam.

Ketiga genotipe diasosiasikan dengan parameter yang menjadi indikator terhadap sifat ketahanan ayam, mulai dari konsentrasi leukosit dan diferensiasinya, aktivitas dan kapasitas fagositosis dan clearance test. Muhsinin mengatakan, ketika ketiga genotipe diasosiasikan dengan parameter secara konsentrasi leukosit dan diferensiasinya, ketiga genotipe dalam kondisi normal. Artinya ketiga genotipe tidak sedang terinfeksi oleh agen penyakit. “Jadi ketika melakukan pengujian, memang ayam sudah tidak terinfeksi (dalam kondisi normal),” ujarnya. Sementara rasio H/L (heterofil limfosit) mengindikasikan bahwa tingkat stres panas di ketiga genotipe. Secara deskriptif memang ketiga genotipe dalam kondisi stres secara fisiologis karena pengaruh lingkungan. Namun begitu, genotipe CC memiliki H/L yang lebih rendah dibandingkan genotipe lainnya. Artinya ketika H/L rendah diindikasikan bahwa tingkat ketahanannya lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe yang lain.

Sumber trobos.com


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 22:58
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.