Mengenal Bahaya Antibiotik Pada Ternak dan Manusia


Bahaya Residu Penggunaan Antibiotik Pada Ternak Dalam Jumlah Besar dan Terus Menerus Terhadap Kesehatan Manusia
Penggunaan antibiotik pada hewan sebenarnya sama seperti pada manusia, yakni untuk mengobati infeksi. Penyakit-penyakit pada hewan juga banyak yang dipicu oleh mikroorganisme, yang hanya bisa disembuhkan dengan antibiotik tentunya dengan dosis yang disesuaikan. Namun dalam praktiknya, hewan-hewan yang diberi antibiotik banyak yang kemudian malah menjadi gemuk. Akibatnya justru efek samping antibiotik yang dimanfaatkan, yakni untuk menggemukkan hewan ternak supaya cepat gemuk dan kalau dipotong dagingnya jadi lebih banyak.

Praktik penggunaan antibiotik dalam hewan ternak bisa memicu terjadinya kebal antibiotik pada manusia yang mengonsumsi daging hewan tersebut. Karena itu pemakaian antibiotik perlu dilakukan secara bijak.

Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba ( KPRA) Kementerian Kesehatan RI, dr. Harry Parathon, SpOG mengungkapkan, penularan bakteri resisten dari hewan ternak bisa melalui daging yang dimakan manusia. Jika hewan tersebut sering diberikan antibiotik, maka bisa terdapat residu antibiotik di dagingnya. Ketika di makan manusia, residu antibiotik ikut masuk ke tubuh. Hal ini sama saja dengan konsumsi antibiotik, padahal tidak sedang sakit katena infeksi bakteri.

Sesuai dengan namanya, seharusnya antibiotik hanya boleh digunakan untuk mengatasi penyakit akibat infeksi bakteri. Dalam jangka panjang, penggunaan antibiotik yang berlebihan bisa menyebabkan bakteri bermutasi dan menjadi kebal. Dampak tersebut memang tidak langsung dirasakan manusia. "Di tubuh kita ada bakteri yang mutasi tadi tapi, kita belum jatuh sakit selama kekebalan kita masih bagus. Tapi, misalnya suatu ketika saya kena stroke, bakteri pun mulai berulah," jelas Harry.
Residu yang ada dalam produk pangan asal ternak yang dikonsumsi akan menyebabkan turunnya tingkat kesehatan masyarakat sebagai konsumen karena dapat menyebabkan alergi, keracunan, resiko karsinogenik dan teratogenik serta yang paling utama yaitu timbulnya resistensi antibiotika. Resistensi antibiotika adalah kemampuan bakteri atau mikroba untuk bertahan terhadap efek dari suatu antibiotika akibat pemakaian antibiotika secara tidak tepat. Penggunaan antibiotika dengan dosis rendah secara terus menerus dapat menyebabkan mikroba patogen yakni mikroba yang dapat menyebabkan penyakit memiliki kemampuan beradaptasi terhadap serangan antibiotika tersebut, disamping itu juga dikhawatirkan dapat membunuh mikroorganisme yang menguntungkan. Adanya mikroba yang resisten dapat menjadi penyebab kegagalan pengobatan penyakit infeksi. Hal ini memberikan dampak yang sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat sebagai konsumen produk pangan asal ternak yang mengandung residu antibiotika.
Selain lewat daging yang dimakan, penularan juga bisa melalui kontak langsung dengan hewan yang mengalami resistensi antimikroba. Bakteri pada hewan yang sudah resistensi antibiotik bisa berpindah ke tubuh manusia. Akibat resistensi antibiotik pun baru terlihat ketika manusia tersebut sedang sakit atau daya tahan tubuhnya menurun. Pemberian antibiotik dalam peternakan seharusnya hanya boleh kepada hewan yang sakit. Itu pun ada obat antibiotik khusus untuk hewan. Faktanya, masih banyak yang memberikan antibiotik kepada hewan untuk meningkatkan pertumbuhan. Menurut Harry, edukasi mengenai resistensi antibiotik harus terus-menerus diberikan, baik kepada petugas kesehatan, masyarakat, dan juga para peternak.

Sementara itu, ahli mikrobiologi dari Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, Prof Dr Maksum Radji, M.Biomed mengakui bahwa pada kenyataannya penggunaan antibiotik pada hewan ternak bisa mempercepat penggemukan. Namun seperti apa mekanismenya, sampai sekarang belum jelas betul.

"Sampai sekarang masih dicari, sebenarnya apa yang membuat pemakaian antibiotik pada binatang bisa bikin gemuk," kata Prof Maksum.

Penggunaan antibiotik sebagai growth factor atau faktor untuk menggemukkan ternak tentu bukan tanpa risiko. Antibiotik yang dikonsumsi hewan secara terus menerus bisa menumpuk sebagai residu dalam dagingnya, yang kemudian dikonsumsi sebagai makanan manusia. Residu antibiotik yang terdapat dalam daging ternak itu akan masuk ke tubuh manusia. Kalau terjadi terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, maka residu tersebut akan terakumulasi dan membuat mikroorganisme di dalam tubuh menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut.

"Nanti ketika sakit, antibiotik jadi tidak efektif lagi. Ada korelasi antara makin banyak antibiotik dipakai, makin tinggi pula risiko resistensi antibiotik," tambah prof Maksum. Soal penggunaan antibiotik pada hewan, Prof Maksum menilai harus ada aturan dan pengawasan yang lebih ketat. Aturan yang sudah ada saat ini mungkin sudah cukup, namun kontrol atau pengawasan masih harus diperketat untuk menghindari penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada hewan.

Menurut Marc Spencer, Ketua Pusat Prevensi dan Pengawasan Penyakit, setiap tahunnya sekita 25.000 orang yang meninggal di Uni Eropa, karena infeksi yang tidak lagi bisa ditangani dengan antibiotika. Para dokter dan asosiasi perlindungan konsumen sudah sejak lama memperingatkan akan ancaman ini. Sebuah penelitian Ikatan Perlindungan Lingkungan dan Alam Jerman (BUND) menunjukkan bahwa lebih dari separuh ayam yang dijual supermarket Jerman tercemar oleh bakteri yang kebal antibiotika.

Thomas Janning dari Ikatan Peternak Unggas Jerman mengingatkan untuk tidak menebar panik. "Adanya bakteri yang resiten antibiotika pada daging unggas, tidak ada kaitannya dengan ancaman kesehatan pada konsumen.“

Tak mudah bagi konsumen untuk mengetahui apakah sepotong daging tercemar bakteri atau tidak. Armin Valet dari Lembaga Perlindungan Konsumen di Hamburg menyarankan kebersihan di dapur sebagai jalan keluar. Daging harus dimasak sedikitnya 10 menit dengan panas diatas 70 derajat selsius untuk mematikan bakteri yang bercokol. Ia juga menyarankan untuk menggunakan tilam pemotong yang berbeda untuk daging dan sayuran. Ini dapat mengurangi kemungkinan perpindahan bakteri dari daging ke sayur.

Menurut Valet, memakan daging dari ternak yang dipelihara secara organik bisa melindungi orang dari ancaman bakteri kebal antibiotika. Ahli mikrobiologi Professor Wolfgang Witte dari Institut Robert-Koch berpendapat serupa.

Perdebatan panjang seputar permasalahan ini mendorong pemerintah untuk bertindak. Kabinet Jerman memutuskan, bahwa penggunaan antibiotika dalam peternakan harus dikurangi. Kini akan dibentuk bank data yang mengawasi pemberian antibiotika. Menurut Undang-undang yang mungkin akan diberlakukan musim semi 2013, badan pengawas di negara-negara bagian Jerman akan memiliki wewenang lebih besar dalam mengawasi peternakan.

Penggunaan obat-obatan dalam usaha peternakan hampir tidak dapat dihindarkan, karena ternak diharapkan selalu dapat berproduksi secara optimal, yang berarti ternak harus selalu dalam keadaan sehat. Terkait dengan manajemen kesehatan ternak, upaya pencegahan maupun penanggulangan penyakit menggunakan berbagai jenis obat, terutama antibiotika, memiliki banyak efek samping yang tidak kita sadari. Hal ini sudah menjadi perbincangan sejak lama dan dapat memberikan efek tidak langsung, seperti penggunakan antibiotika pada pakan sebagai pemacu pertumbuhan ternak (growth promotor) dan sebagai imbuhan pakan ternak (feed additive).

Antibiotika merupakan suatu senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri (bakteriostatik) atau bersifat membunuh bakteri (bakterisidal). Kemampuan beberapa antibiotika dosis rendah dalam memacu pertambahan bobot badan ternak, telah mendorong pemakaian antibiotika tertentu yang seharusnya tidak digunakan sebagai imbuhan pakan.

Mudahnya memperoleh antibiotika di pasaran yang bertujuan untuk meningkatkan produksi peternakan secara cepat, telah mendorong pemakaian antibiotika secara berlebihan tanpa memperhatikan segi keamanan produk pangan asal ternak.

Sebagai contoh, penambahan antibiotika pada pakan ayam broiler dapat meningkatkan pertambahan bobot badan ayam secara maksimal karena mekanismenya adalah merangsang pembentukan vitamin B kompleks oleh mikroba dalam saluran pencernaan. Akan tetapi, penggunaan antibiotika yang tidak sesuai aturan ini telah memberikan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat sebagai konsumen.

Dalam penggolongan obat hewan, antibiotika termasuk obat keras, yang berarti apabila pemakaiannya tidak sesuai dengan ketentuan, maka dapat menimbulkan bahaya bagi hewan dan atau manusia yang mengkonsumsi produk asal hewan tersebut. Menurut peraturan, antibiotika untuk pengobatan pada ternak hanya dapat diperoleh dengan resep dokter hewan.

Namun pada kenyataannya, berbagai jenis antibiotika bisa diperoleh dengan mudah dari toko obat hewan atau poultry shop, sama halnya dengan mudahnya memperoleh antibiotika untuk pengobatan manusia tanpa menggunakan resep dokter.

Pemakaian antibiotika secara tidak tepat dan tidak wajar baik dari pemilihan jenis antibiotika, dosis dan lama pemakaiannya untuk pengobatan ternak atau sebagai growh promotor dan imbuhan dalam pakan ternak, akan menimbulkan residu dalam produk peternakan seperti daging, susu dan telur.

Adanya residu merupakan suatu permasalahan yang serius yang selama ini mungkin tidak disadari oleh konsumen, karena pengaruh yang ditimbulkannya memang tidak terlihat secara langsung. Akan tetapi akan membahayakan kesehatan masyarakat, apabila produk peternakan seperti susu, daging dan telur yang mengandung residu tersebut dikonsumsi secara terus menerus setiap hari.

Residu antibiotika dalam produk peternakan dapat dihindari apabila semua pihak memperhatikan serta mentaati peraturan pemakaian antibiotika. Kesadaran sedini mungkin akan bahaya residu antibiotika dalam produk pangan asal ternak dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi resiko konsumen terpapar residu dalam produk pangan asal ternak yang dikonsumsi. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah untuk menanggulangi permasalahan ini, akan tetapi masyarakat umum sebagai konsumen, peternak maupun produsen pakan ternak juga turut berperan dalam menanggulangi bahaya pencemaran residu antibiotika dalam produk pangan asal ternak. Pemahaman yang paling penting adalah perlunya kondisi lingkungan pemeliharaan ternak yang baik.


Sumber Referensi
www.detik.com
www.kompas.com
sumber lainnya


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 00:59
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.