Loading...

Peternakan Sapi Perah Terbesar Berkapasitas 10.000 Ekor Sapi

Loading...
loading...
Jagad Peternakan Sapi Perah Indonesia Kembali Menggeliat Dengan Dibukanya Peternakan Sapi Perah Terbesar di Desa Wlingi, Blitar, Jawa Timur

Penggiat dan praktisi peternakan tentu sangat mengetahui jika Jawa Timur adalah salah satu propinsi utama sebagai lumbung sapi nasional. Dalam hal sapi potong, Jawa Timur memang sudah lama menjadi jujugan para pedagang sapi dari propinsi lain untuk berbelanja sapi lokal.

Seiring dengan pertumbuhan populasi sapi lokal untuk pedaging, Jawa Timur juga membuka peluang investasi untuk pengusaha yang akan mengembangkan peternakan sapi perah sebagai penyedia susu segar dengan skala besar. Dan peluang ini telah dimanfaatkan oleh PT Greenfield Indonesia dengan mengembangkan farmnya di daerah Wlingi Blitar. Dan ini adalah farm kedua setelah sebelumnya Greenfied juga mengembangkan peternakan sapi perah di Gunung Kawi, Malang dan sekaligus membuat pabrik untuk pengolahan susunya.
Sebenarnya PT Greenfield bisa dibilang masih beranjak dewasa di usianya yang mulai menginjak 20 tahun. Didirikan pada tahun 1997, ketika Indonesia sedang merana akibat krisis moneter, Greenfield berani hadir demi gizi Indonesia yang lebih baik. Dan dalam waktu yang relatif singkat ini, Greenfield berhasil menjadi raksasa produsen susu nasional yang memasok 6% dari hampir 20% produksi susu nasional. Hebatnya lagi, dalam waktu singkat ini pula Greenfield berhasil menarik hati di pasar Asia. Capaian ini berdasarkan data dari Nielsen Company tahun 2015 yang menempatkan Greenfield di urutan pertama produk susu paling diminati di dunia. Apa yang membuat Greenfields pada akhirnya begitu digemari warga dunia? Kalau berdasarkan keterangan dari Edgar Collins, kuncinya ada pada sapi. Susu yang lezat itu dihasilkan dari sapi yang happy. karena sapi-sapi yang diternak oleh PT Greenfields sendiri ini dirawat dengan kasih sayang.
Peternakan sapi perah terbesar di Indonesia seluas 172 hektar dibuka di Wlingi, Blitar, Jawa Timur pada Selasa (6/2/2018). Peternakan yang dikelola PT Greenfield Indonesia dan dapat menampung 10.000 ekor sapi itu diharapkan dapat meningkatkan produksi susu segar dalam negeri.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto yang ikut membuka peternakan mengatakan, Indonesia sampai saat ini masih belum mampu mencukupi kebutuhan susu. Tahun 2016, kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri untuk industri pengolahan susu adalah 3,7 juta ton. Namun, pasokan susu segar hanya 852 ribu ton alias 23 persen dari kebutuhan. Sisanya, Indonesia masih harus mengimpor dalam bentuk susu skim, butter milk powder, dan anhydroud milk fat.

"Kami ingin meningkatkan pasokan susu segar dalam negeri dari 23 persen menjadi 41 persen pada 2022," ungkap Airlangga. Bagi PT Greenfield Indonesia, peternakan sapi perah ini merupakan yang kedua di Indonesia. Sebelumnya, produsen susu segar dengan market share tertinggi di Indonesia itu telah memiliki peternakan sapi perah di Babadan, Gunung Kawi, Malang.

"Peternakan baru ini kami harapkan bisa memenuhi permintaan Indonesia. Saat ini peningkatan permintaan susu segar sedang naik," kata Edgar Collins, CEO AustAsia Dairy Group, perusahaan yang memayungi Greenfield. Penambahan sapi perah untuk peternakan baru ini akan dilakukan dalam beberapa tahap. Akhir 2018, peternakan baru ini akan punya 7.266 sapi perah dengan kapasitas produksi 2,2 juta liter susu per bulan.

Selanjutnya, pada akhir 2019, diharapkan peternakan telah berisi 9.264 sapi perah dengan kapasitas produksi 3,8 juta liter susu per bulan. 2020, diharapkan target 10.000 sapi perah dengan kapasitas produksi 4,1 juta liter susu tercapai. "Tahun ini Greenfield berkontribusi sebesar 5 persen dari total produksi susu mentah Indonesia. Saat peternakan ke-2 beroperasi secara penuh, kontribusi kami terhadap produksi susu mentah Indonesia akan meningkat jadi 10 persen," ungkap Edgar.

Setelah memiliki 8 peternakan di China, Greenfield yang merupakan anak dari Japfa Group menargetkan membuka 5 peternakan sapi perah di Indonesia. "Peternakan ketiga mungkin akan dibuka dalam dua tahun ke depan. Yang selanjutnya kami masih akan lihat lagi permintaan dan kebijakan," ungkap Edgar.

Darmanto Setiawan, Head of Manufacturing PT Greenfield Indonesia juga mengatakan bahwa penambahan peternakan ini sesuai dengan target perusahaan untuk meningkatkan variasi produk. Saat ini, persentase penjualan tertinggi Greenfield adalah susu pasteurisasi, yaitu 65 persen. Sementara, banyak jenis produk susu yang belum tergarap.
Selain berkontribusi dalam pasokan susu nasional, Greenfield juga memasarkan produk-produknya ke negara-negara di Asia Tenggara hingga Hong Kong sebanyak 50% dari total susu yang diproduksi. Dengan dibangunnya peternakan kedua ini, total susu yang diproduksi oleh PT Greenfield ditargetkan bisa berkontribusi lebih dari 10% dari produksi susu nasional di mana per harinya dari peternakan baru ini akan dihasilkan 125 ton susu. Dengan begitu diharapkan Greenfields bisa turut menekan angka impor susu Indonesia.
"Yang baru-baru ini kita garap adalah susu UHT kemasan kecil, 250 ml dan 200 ml. Ini pangsa pasarnya besar," katanya. Greenfield juga mulai menggarap produk yoghurt segar dan beragam jenis keju. Selain dari sisi produksi, Greenfield juga akan mengembangkan peternakan sapi perah yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya adalah mencukupi kebutuhan listrik dari biogas kotoran sapi. Edgar mengatakan, peternakan di China telah menerapkan teknologi tersebut. "Tahapan berikutnya, Greenfield Farm 2 akan memiliki sistem pembangkit listrik sendiri dengan kapasitas 1,5 MW," katanya.

Sumber: kompas.com, detik.finance.com, dan sumber lainnya.



Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 18:20
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.