Loading...

Persilangan Sapi Bali Dengan Banteng Jawa, Lahirlah Jaliteng

Loading...

Banteng Jawa dikawinkan dengan Sapi Bali, Muncul Jenis Sapi Jaliteng

Sapi bali selama ini dikenal sebagai sapi yang memiliki sifat reproduksi terbaik diantara jenis-jenis sapi lokal di Indonesia. Sapi bali juga sudah lama menjadi andalan ketersediaan daging segar asal sapi lokal. Sapi bali juga sudah menyebar hampir ke seluruh Indonesia, baik dikirimkan untuk langsung dijadikan sapi potong maupun dikirimkan dalam bentuk bibit keluar daerah seperti ke Bengkulu, Lampung, Kalimantan dll.

Ada upaya untuk meningkatkan performance sapi bali agar lebih bagus lagi produksinya terutama dalam hal kecepatan pertumbuhan dan juga ukuran bobot tubuh pada usia tertentu. Upaya ini juga ditujukan untuk meningkatkan bobot lahir sapi bali (pedet sapi bali) dan juga membuat sapi bali lebih tahan terhadap berbagai penyakit. Salah satu caranya adalah dengan menyilangkan sapi bali dengan banteng jawa. Apa itu banteng jawa?


Banteng Jawa merupakan salah satu satwa yang dilindungi oleh undang-undang. Jumlahnya di alam cenderung menurun setiap tahunnya. Salah satu usaha yang dilakukan untuk melestarikan mereka selain memeliharanya di lembaga konservasi, adalah dengan cara menyilangkan mereka dengan spesies lain agar gennya tetap lestari.
Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, memberikan apresiasi kepada Taman Safari Indonesia II Prigen dan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur yang telah berhasil menyilangkan Sapi Bali dan Banteng. "Ini merupakan keberhasilan pertama kali di tingkat dunia," kata Gubernur Jawa Timur yang akrab disapa Pakde Karwo itu. Pakde Karwo juga mengungkapkan, sapi spesies baru Jaliteng yang merupakan hasil persilangan antara Sapi Bali betina dan banteng jantan itu akan dipatenkan. "Jepang juga telah mempunyai niat serupa, karena itu kami akan mematenkan keberhasilan persilangan itu agar kekayaan plasma nutfah Indonesia tidak dicuri bangsa lain," katanya.
Salah satu satwa yang dicoba untuk disilangkan dengan Banteng Jawa adalah Sapi Bali. Penyilangan ini pun dilakukan di Taman Safari Prigen bekerjasama dengan Balai Penelitian Benih Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Persilangan pun berhasil dilakukan, kini anak-anak hasil perkawinan ini disebut sebagai Jaliteng.

"Jaliteng ini hasil perkawinan silang antara Banteng Jawa dan Sapi Bali. Soal nama, Jaliteng ini ada artinya yaitu Jawa Bali Banteng. Yang memberi nama waktu itu Gubernur Jawa Timur, Pakdhe Karwo," terang Idham Rustian, Kepala Divisi Sales, Marketing dan Komunikasi Taman Safari Prigen kepada detikTravel beberapa pekan yang lalu.

Penampakan Jaliteng di balik semak (Wahyu/detikTravel)

Menurut Ivan Chandra, dokter hewan sekaligus Kurator Herbivora Taman Safari Prigen yang mengawasi proyek ini, ada tujuan besar di balik persilangan tersebut. Yaitu untuk menciptakan nilai tambah dari satwa yang sekarang sedang dibiakkan.

"Jaliteng tidak hanya sekadar dibiakkan, melainkan ada tujuan tertentu yaitu agar mempunyai nilai tambah. Ketika dikawinkan akan meningkatkan produktivitas genetik maupun ketahanan akan penyakit. Ketika Sapi Bali dengan banteng, fisiknya akan kuat, nilai genetiknya meningkat, bantengnya juga tidak inbreed," jelas Ivan.

Produktivitas yang dimaksud Ivan adalah dari segi berat badan. Jika bayi Sapi Bali biasa begitu lahir beratnya hanya mencapai 16 Kg, bayi Jaliteng bobotnya bisa mencapai 22 Kg. Pertumbuhan fisik Jaliteng pun lebih cepat dari sapi biasa, di usia 4 tahun beratnya bisa mencapai 400 kg dan beratnya mencapai lebih dari 1 ton ketika dewasa.


Jaliteng belum bisa dikonsumsi (Wahyu/detikTravel)

Saat ini Jaliteng belum bisa untuk konsumsi manusia. Untuk mencapai tahap siap konsumsi, Jaliteng butuh penelitian lebih lanjut. Saat ini Jaliteng yang ada di Taman Safari Prigen baru pada tahap F1, alias keturunan pertama yang dilahirkan dari induk Banteng Jawa jantan serta indukan Sapi Bali betina.

"Saat ini belum bisa dikunsumsi karena perlu diriset lagi. Keturunan F1 kami nanti akan kami kawinkan dengan banteng lagi, F2-nya nanti kita olah lagi. Saat ini sudah ada 14 ekor F1, 6 jantan dan 8 betina. Sementara kita tampung dulu di TSI (Taman Safari Indonesia), rencananya akan dikirim juga ke BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan) untuk penelitian lebih lanjut," tambah Ivan.

Jaliteng Jantan (Wahyu/detikTravel)

Cara Membedakan Jaliteng Jantan dan Betina

Dari keturunan F1 Jaliteng yang dihasilkan, ada 8 betina dan 6 pejantan yang dilahirkan. Cara membedakan antar keduanya pun cukup mudah, yaitu melalui ciri fisiknya. Untuk pejantan, ciri fisiknya masih mirip dengan Banteng Jawa, sementara untuk yang betina mirip dengan Sapi Bali.

"Ketika memasuki usia 3 tahun warna hitamnya pejantan mulai nampak, sementara betina tetap berwarna coklat. Jantan punya fisik lebih kokoh, kalau betina lebih kecil. Di usia 5 tahun mereka sudah bisa kawin," papar Ivan.

Jaliteng Betina (Wahyu/detikTravel)
Sapi Jaliteng saat ini belum bisa dilihat oleh traveler yang datang ke Taman Safari Prigen karena sedang dalam masa penelitian. Sapi-sapi ini disimpan dalam kandang khusus yang terletak di bagian belakang, dekat dengan Rumah Sakit Hewan.

Diharapkan ke depannya Sapi Jaliteng ini dapat memberi manfaat berupa nilai tambahnya kepada masyarakat. Sehingga pelestarian Banteng Jawa memberikan dampak positif serta kesejahteraan bagi para peternak di kawasan Jawa Timur


Sekawanan Jaliteng sedang merumput (Wahyu/detikTravel)


Menantikan Turunan Ketujuh Sapi Jaliteng

Upaya Pemprov Jatim meningkatkan produksi dan produktivitas sapi yakni melalui program inseminasi buatan (IB). Salah satu program IB yang dilakukan melalui proses kawin antara Sapi Bali dengan Banteng Jawa yang dinamakan Jaliteng. Untuk mendapatkan bibit Jaliteng yang benar-benar bagus juga butuh waktu lama yakni hingga turunan ketujuh.

“Karena untuk mendapatkan bibit yang baik itu memang memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk mengetahui apakah bibit yang dihasilkan itu benar-benar bagus bisa sampai pada keturunan ketujuh,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Inseminasi Buatan Dinas Peternakan Jatim, Kusdiyanto, Kamis (14/4).

Ia menuturkan, program IB Jaliteng telah mulai dilaksnakan pada tahun 2011 dan hingga sekarang masih dalam tahap uji coba untuk mendapatkan bibit sapi terbaik. Namun pada kelahiran pertama Jaliteng pada tahun 2012, kata dia, memang lebih besar dari rata-rata berat hidup anak sapi Bali.

“Jika normalnya anak sapi Bali yang lahir memiliki berat sekitar 12 kg hingga 15 kg, maka berat Jaliteng saat dilahirkan mencapai 17 kg. Akan terus kami uji coba untuk mendapatkan bibit terbaik. Apalagi sekarang berat jenis sapi Bali juga semakin menyusut, tidak seperti beberapa tahun silam. Upaya ini juga untuk melestarikan bibit sapi Bali agar kembali bagus,” tuturnya.

Kini sapi Jaliteng yang telah berusia hampir empat tahun dibesarkan di tiga lokasi berbeda yakni BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan) Singosari Malang, Taman Safari Indonesia Indah II Prigen Pasuruan, dan UPT Dinas Peternakan Jatim di Tuban. “Jaliteng sekarang sudah tumbuh besar. Kami bersama BBIB Singosari terus memantau perkembangannya, karena Jaliteng ini bakal menjadi sapi andalan Jatim,” kata kepala Dinas Peternakan Jatim, Maskur beberapa waktu lalu.

Ia menuturkan, untuk Jaliteng di Taman Safari khusus untuk kunjungan wisata dan mengenalkan hasil persilangan Sapi Bali dan Banteng Jawa. Sedangkan di UPT ternak di Tuban menjadi fokus pemantauan Pemprov Jatim. Sedangkan di BBIB Singosari menjadi pusat kajian untuk menjadikan Jaliteng sebagai sapi pejantan unggul.

Menurutnya, persilangan Jaliteng ini bisa dikatakan berhasil, namun pemantauan perkembangannya khususnya mengatur pola makan terus dilakukan intensif. Untuk meneliti terkait reproduksi jaliteng, kata dia, prosesnya diserahkan pada Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari Malang.

Dengan sukses lahir dan tumbuh besarnya Jaliteng, pihaknya pun kini mulai memetakan lokasi penyebaran Jaliteng. Rencananya Jaliteng akan ditempatkan di daerah Timur Jatim, seperti Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Lumajang karena secara geografis juga dekat dengan Bali yang jadi lokasi habitat asli indukan (sapi Bali) Jaliteng.


Perkembangan Sapi Jaliteng
Terinspirasi dari makanan bergaya Eropa, seorang penggiat konservasi sapi di kawasan Eretan, Kabupaten Indramayu, sengaja mengolah daging sapi hasil persilangan yang disebut Jaliteng menjadi steak lezat. Sapi Jaliteng merupakan hasil perkawinan silang antara sapi Bali dengan banteng Jawa.

"Setelah melihat hasil pengembangbiakkan sapi Jaliteng di Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen Jawa Timur, saya coba mengembangbiakkan di Indramayu. Ternyata berhasil, bahkan lebih cepat dari di Jawa Timur," kata penggiat konservasi Yan Benyamin.

Dia mengatakan upaya pengembangbiakan sapi Jaliteng sudah dilakukannya sejak tiga tahun lalu. Yan yang memiliki beberapa ekor Sapi Bali mendapat sumbangan sepasang sapi Jaliteng indukan hasil perkawainan silang di Jawa Timur.

Yan tidak menyangka dapat mengembangbiakkan sapi Jaliteng di Pantura Jawa Barat. Dari 112 ekor sapi Jaliteng anakan, sekitar 30 ekornya sudah dibagikan ke masyarakat sekitar.

"Dagingnya juga enak, bahkan lebih banyak dibandingkan daging sapi Bali biasa," kata dia.



Dia mengatakan, tulang sapi Jaliteng terbilang kecil. Jika dihitung, komposisi sapi Jaliteng 60 persennya berupa daging, sisanya berupa tulang. Komposisi itu berkebalikan dengan sapi biasa yang 60 persennya berupa tulang, sedangkan sisanya baru daging.

"Bobotnya sapi Jaliteng bisa sampai 500 kilogram per ekor," kata Yan.

Dalam pembiakkan sapi, Yan mengatakan sengaja melepas sapi miliknya ke alam liar. Tentu dengan penjagaan para pekerjanya. Ia juga rutin memanggil dokter hewan untuk memeriksakan sapi miliknya.

"Kalau sudah waktunya ya masuk kandang," ujar dia.

Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Komisaris Taman Safari Indonesia Tony Sumampau mengaku program perkawinan silang itu merupakan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan bagi peternak sapi.

"Awalnya merupakan gagasan Gubernur Jatim Pak Karwo yang ingin sapi Bali di Jatim secara genetik ditingkatkan mutunya sehingga dagingnya akan lebih dan sapi Bali di Jatim beratnya meningkat sehinga peternak lebih sejahtera," kata Tony.


Hasil kawin silang sapi Bali dan banteng Jawa menghasilkan sapi dengan komposisi daging yang lebih banyak dibandingkan tulang. (Liputan6.com/Panji Prayitno) Dia mengatakan, hasil perkawinan silang tersebut berhasil meningkatkan bobot sapi. Jika sapi Bali betina memiliki berat 350 hingga 400 Kg, berat sapi Jaliteng menjadi 600-700 kg.

Namun, aku Tony, kualitas anakan sapi Jaliteng mulai menurun. Maka itu, dia berinisiatif mengirim sepasang indukan sapi Jaliteng untuk dikembangbiakkan.

"Pak Yan kan ada sapi Balinya kenapa tidak dicoba dimasukkan satu Jaliteng sebagai pejantan dengan betinanya. Ternyata setelah dikirim, tubuhnya bagus, subur, dan sehat, bahkan sudah bisa dimakan dagingnya," kata Tony.

Tony mengatakan kualitas sapi Jaliteng bisa ditingkatkan dengan program penggemukan khusus. Untuk itu, sapi biasanya dimasukkan ke dalam kandang, diberi makan dan nutrisi yang baik.

Dia mengatakan, pesatnya pertumbuhan sapi Jaliteng di Eretan disebabkan genetika dan darah segar yang dihasilkan dari Banteng Jawa itu sendiri. Maka itu, bobot anakan sapi Jaliteng mencapai 26 kilogram lebih berat dibandingkan sapi Bali biasa.

"Tujuan utamanya adalah bagaimana negara kita bisa memenuhi kebutuhan daging di Indonesia dan tidak impor lagi. Bahkan jika peternak Indonesia mampu memelihara Jaliteng dengan baik, akan lebih sejahtera karena dagingnya lebih besar dan banyak," ujar dia.


Sumber detik.com, liputan6.com dan sumber lainnya

Loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 20:00
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.