Loading...

Jenis Sapi Simbal dan Limbal, Hasil Persilangan Sapi Limousin dan Simmental Dengan Sapi Bali

Loading...
Sapi Bali

Sapi Limousin
Persilangan Induk Sapi Bali Dengan Limousin dan Simmental Lahirlah Sapi SIMBAL DAN LIMBAL

Kelemahan Reproduksi pada Sapi Simbal dan Limbal. Pedet yang berdarah Simmental-Bali (Simbal) maupun Limousine-Bali (Limbal) menurut beberapa ahli akan mengalami penurunan kemampuan reproduksi yang dipengaruhi oleh faktor semakin tingginya gene (darah) Bos Taurus dan asupan nutrisi yang kurang memadai. Hanya saja penurunan kemampuan reproduksi ini ternyata tergantikan dengan pertumbuhan sapi Limbal dan Simbal yang lebih cepat dari sapi Bali.
Sapi Simmental: Sapi Simmental merupakan bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), yang berasal dari daerah disekitar Simme di negara Switzerland namun saat ini sudah berkembang sangat pesat di benua Eropa dan Amerika. Saat ini, Sapi Simental termasuk salah satu sapi pedaging.
Sapi Limousin: Sapi limousin adalah sapi yang pertama kali dikembangkan di Perancis. Sapi limousin merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dari sapi simmental.
Sapi Bali: Banteng atau tembadau, Bos javanicus, adalah hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Banteng yang telah dijinakkan atau didomestikasikan pada beberapa daerah di Asia Tenggara dan Australia sering dikenal dengan sebutan Sapi Bali.
Perkembangan Sapi Simbal dan Limbal di Riau
Ternak sapi di Desa Suka Mulya, Kabupaten Kampar, berkembang cukup pesat. Saat ini ada sekitar 297 ekor dari jumlah petani ternak 97 orang yang melakukan pengembangbiakan sapi melalui penerapan teknologi Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik dari jenis induk sapi bali dikawinkan dengan sapi simental, limousine dan brahma.

Salah satu kelompok Peternak Sapi Muda Tani yang diketuai Sudaryanto bersama Joko Wahono (sekretaris) dan Rubiyo (Bendahara) membentuk kelompok sejak tahun 2009 sebanyak 25 orang. Awalnya mereka memelihara sebanyak 50 ekor sapi Bali, sampai saat ini berjumlah 92 ekor.

Kemudian mereka mencoba mengembangbiakkan sapi bali itu dengan cara inseminasi buatan atau kawin silang Sapi Bali dengan Sapi Simental, Sapi Bali dengan Limmousine atau Sapi Bali dengan Brahma.

Hasilnya sangat mengagumkan, tinggi jangkung, berbodi montok dan padat serta memiliki nilai jual cukup menggiurkan. Anaknya yang baru lahir umur dua bulan saja sudah bernilai Rp5 juta sementara sapi bali murni mungkin baru seharga Rp1 juta. Sedangkan yang sudah berumur 6 tahun harga jualnya mencapai Rp25 juta.

Soal pakan kata Joko Wahono, tidak sulit mendapatkannya, cukup dengan rerumputan atau rumput gajah, pakan selingan dengan memberi dedak bercampur konsentrat, ia mengaku sangat senang mengembangbiakan sapi dengan cara IB itu. “Keuntungannya jauh lebih banyak daripada jenis sapi bali biasa, sapi-sapi ini awalnya kami pelihara dengan induk sapi bali, dengan adanya Iptek maka kami manfaatkan ilmu itu, dan alhamdulillah hasilnya sangat mengagumkan,” ucap Joko penuh semangat.

“Penerapan Ilmu Teknologi dengan inseminasi buatan untuk ternak sapi ini kawin silang antara bibit sapi bali dengan simental, atau dengan brahma dan limousine sangat mengagumkan, luar biasa, bentuk badannya besar dan lebar, tinggi jangkung, jenis sapi hasil IB ini dapat berkembangbiak dengan baik,” kata Nurhasani yang turut memeriahkan kegiatan Harganas XXI dengan membuka Bazar Ternak di Desa Suka Mulya, Selasa (2/9).

Ia katakan, inilah manfaat ilmu dan teknologi, IB tidak saja membantu peternak mengembangbiakan ternaknya dengan hasil maksimal, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik memasukkan sperma sapi jantan yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu ke dalam saluran alat kelamin betina menggunakan metode dan alat khusus ‘insemination gun‘,” jelasnya.

IB lanjut Nurhasani, dapat memperbaiki mutu genetika ternak, tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya, mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu lama. Selain itu meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur serta mencegah penularan/penyebaran penyakit kelamin.
Sumber: https://www.antarariau.com

Upaya Peningkatan Performance Sapi Bali Dengan Inseminasi Buatan di NTT

Nusa Tenggara Barat sebagai provinsi penyangga kebutuhan sapi bibit rumpun Bali di tingkat Nasional, diharapkan mampu menghasilkan sapi bibit yang berkualitas dari segi kualitas kemurnian maupun mutu genetiknya. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu genetis dan performance ternak dengan program Inseminasi Buatan atau Kawin Suntik. Peternak sering kali mengidentikkan inseminasi buatan dengan persilangan (crossing), di mana induk sapi rumpun Bali diinseminasi dengan semen beku sapi dari golongan Bos Taurus khususnya Simmental dan Limousine.

Pedet yang berdarah Simmental-Bali (Simbal) maupun Limousine-Bali (Limbal) menurut beberapa ahli akan mengalami penurunan kemampuan reproduksi yang dipengaruhi oleh faktor semakin tingginya gene (darah) Bos Taurus dan asupan nutrisi yang kurang memadai.

Pada beberapa kasus peternak sering kali menunda kawin suntik terhadap sapi yang sedang berahi jika semen beku yang tersedia di Pos IB/Inseminator hanya dari rumpun Bali, menunggu sampai tersedia semen beku Simmental atau Limousine. Sering kali peternak beranggapan jika kawin suntik dengan semen beku Bali sama saja dengan kawin alam. Benarkah pendapat tersebut, penelitian yang pernah dilakukan oleh salah seorang Inseminator yang bertugas di Kecamatan Jonggat mungkin bisa memberikan gambaran tentang anggapan tersebut.

Hasil evaluasi berat lahir empat puluh (40) ekor pedet sapi bali yang lahir dari bulan Maret-Juli 2014 di Kelompok Tani Ternak Mandiri, Dusun Buncalang, Desa Sukerare, Kecamatan Jonggat – Lombok Tengah menunjukkan ada perbedaan berat lahir yang signifikan antara Pedet hasil Inseminasi Buatan dengan semen beku Bali yang diproduksi oleh Balai Inseminasi Buatan (BIB) Provinsi Nusa Tenggara barat dibanding Pedet hasil kawin alam dengan Pejantan dari rumpun yang sama (Bali).

Tabel : Hasil Penimbangan berat lahir pedet Sapi Bali dari Kawin Alam dan Inseminasi Buatan di Kelompok Tani Ternak Mandiri, Dusun Buncalang, Sukerare, Jonggat- Lombok Tengah.

Pedet Hasil IB

Dari tabel di atas setelah diuji secara statistik dengan Uji t (turkey test) didapatkan bahwa t hitung = 14,81; sedangkan t tabel = 1,725 pada P = 0,05, dimana t hitung > (lebih besar) dari t tabel menunjukkan adanya perbedaan berat lahir yang nyata antara Pedet hasil Kawin Alam dengan Pedet hasil Inseminasi Buatan dengan Semen Beku Bali.

Gambar perbanding Pedet Hasil IB dengan Kawin Alam

Pedet Sapi Bali hasil Kawin Alam

Pedet Sapi Bali Hasil Inseminasi Buatan menggunakan Semen Beku Bull (Pejantan Unggul) Bali produksi Balai Inseminasi Buatan (BIB)

Dari penelitian di atas diharapkan bisa menjadi referensi bagi Peternak, Inseminator maupun para pemangku kebijakan di bidang Peternakan, bahwa Inseminasi Buatan dengan Semen Beku Bali mampu memberikan perbaikan genetic dan performance ternak.

** disarikan dari Skripsi Lalu Wiramaya (Inseminator Kec. Jonggat-Loteng), mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Tenggara Barat-Mataram yang berjudul : PERBEDAAN BERAT LAHIR PEDET SAPI BALI ANTARA KAWIN ALAM DAN INSEMINASI BUATAN DI KECAMATAN JONGGAT LOMBOK TENGAH

Sumber: https://disnakkeswan.ntbprov.go.id

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 02:12
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.