Bahaya AGP Bisa Memicu Resistensi Antibiotik pada Manusia


Apa Itu AGP Pada Pakan Ayam dan Apa Bahayanya Bagi Kesehatan?
Ditemukannya dampak negatif dalam proses budidaya disinyalir menjadi penyebab AGP kehilangan keeksisannya. Penggunaan anti­biotik yang tidak terkontrol dan tidak sesuai prosedur menyebabkan resistensi mikroba terhadap antibiotik tersebut. Permasalahan ini membutuhkan solusi berupa produk yang mampu memacu pertumbuhan ternak tanpa menimbulkan resistensi. Penekanan ini disam­paikan Rolando Valientes, Regional Category Manager – Eubiotics – DSM Asia Pacific, dalam acara Simposium Nasional Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, di Dramaga Bogor
Ternak yang diberi pakan bercampur Antibiotic Growth Promoters (AGP), ternyata berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Residu antibiotik pada jaringan otot ayam atau telur, membuat manusia mengalami resistensi (kebal) pada beberapa jenis antibiotik.

Selama ini ada pemahaman yang salah, beredar luas di masyarakat. Awam beranggapan, ayam disuntik hormon pertumbuhan sehingga berpengaruh pada pertumbuhan manusia yang mengkonsumsi dagingnya.

"Itu anggapan yang salah. Kemudian muncul pemahaman, anak wanita lebih cepat mengalami datang bulan. Atau anak sekarang cenderung banyak yang obesitas. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, pakan ayam dicampur antibiotik," jelas Kabid Layanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati di kantornya Jalan Semeru, Selasa (6/2/2018).

Jika manusia mengkonsumsi daging atau telur ayam yang diberi pakan AGP, lanjut Christine, maka dampaknya akan mengalami resistensi pada beberapa jenis antibiotik.

"Antibiotik pada AGP itu untuk membunuh bakteri patogen pada pencernaan ayam. Seperti Salmonella, Campylobacter, Enterococci dan Escherichia coli. Beberapa kasus pencernakan pada manusia akibat bakteri itu, pasien sudah kebal dengan antibiotik seperti Klorafenikol dan Tetrasiklin," ungkapnya.

Pada penanganan klinis di tingkat puskesmas, lanjutnya, pemakaian Kloramfenicol lebih sedikit dibanding Thiamfenicol. Thiamfenicol ini merupakan antibiotik generasi berikutnya.

Christine menambahkan, sebuah penelitian di Semarang pada 2003 sudah menyebutkan mulai terjadi resistensi pada kedua antibiotik tersebut.

"Bahkan penelitian itu juga mengungkapkan mulai terjadi resistensi pada antibiotik Sefalospurin. Padahal ini merupakan antibiotik generasi ke III atau terbaru," paparnya.

Menurut Christine, pemakaian AGP pada pakan ternak, menuntut manusia untuk mencari antibiotik-antibiotik baru.

"Dari referensi yang saya dapat, AGP dipakai Inggris sejak 1950. Dan mulai dilarang sejak awal tahun 2000. Kita ini termasuk telat ya," pungkasnya.
Tujuan awal pemakaian AGP adalah untuk memacu pertumbuhan, meningkatkan efisiensi pakan dan sekaligus untuk meningkatkan daya hidup hubungannya dengan imunitas ternak. Dengan mekanisme kerja menekan populasi mikroba pathogen dalam organ pencernakan sehingga kesehatan meningkat dan proses absorsi nutrisi dalam organ pencernakan tidak terganggu.
AGP vs Non-AGP
Menurut formulator pakan unggas PT Gold Coin Indonesia, Herlan Noor Rafis, penggunaan AGP di pakan unggas umumnya bertujuan untuk mengontrol pertumbuhan Clostridium Perfringens pada usus. Bakteri gram positif ini adalah agen penyebab penyakit Necrotic Enteritis (NE) yang mengganggu penyerapan nutrisi sehingga pertumbuhan ayam terhambat.

Untuk fungsi tersebut, Herlan menjelaskan, jika dilihat dari aspek biaya maka manfaat AGP lebih tinggi ketimbang menggunakan imbuhan pakan non-AGP. Ia pernah punya hitungan, biaya penambahan AGP berkisar antara Rp 20 – 50 /kg pakan, sedangkan penambahan probiotik menghabiskan Rp 80 – 120/kg pakan. Ada selisih Rp 60 – 100/kg pakan tergantung dari AGP dan probiotik yang digunakan. “Tapi jika dilihat dari sisi performa, penggunaan imbuhan pakan non-AGP yang dikombinasikan, hasilnya performa ayam bisa menyamai AGP,” ungkap Herlan kepada TROBOS Livestock. Nilai lebihnya, produk ayam jadi bebas antibiotik.

Ia mengaku perusahaannya sudah menggunakan imbuhan pakan non-AGP sejak 2010. Imbuhan pakan yang digunakan antara lain enzim, prebiotik, acidifier (asam organik), antioksidan, probiotik, plant extrac (herbal). “Penggunaan imbuhan pakan non-AGP tingkat efisiensinya bisa sama dan lebih baik, ini sangat berbanding lurus dengan baik tidaknya manajemen pemeliharaan unggas yang diterapkan peternak,” kata Herlan.

Herlan menilai, kondisi peternakan ayam di Indonesia belum semua mempunyai manajemen yang baik. Antara lain terkait masalah biosekuriti yang masih belum baik, kondisi kandang yang tidak standar, kondisi lingkungan dan iklim dengan kelembaban tinggi, serta fluktuasi cuaca yang tinggi. Semua itu dapat mempengaruhi tingkat stres serta kesehatan ayam, dan akibatnya berpengaruh pada performa ayam.

Menurut Herlan, di tingkat feedmill (industri pakan) bisa jadi penggunaan AGP dapat dikontrol atau dihilangkan, namun di peternak dengan kondisi tersebut penggunaan antibiotik akan sulit dikontrol. “Untuk di level peternak obsesi antibiotics free saat ini masih sulit tercapai,” kata Herlan.

Pendapat senada diungkapkan pakar pakan ternak dari Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Prof Nahrowi. Ia mengatakan, kondisi Indonesia sangat berbeda dengan kondisi di Eropa yang saat ini sudah melarang penggunaan AGP. Kondisi lingkungan dan model pemeliharaan unggas di negara-negara Eropa sangat mendukung untuk tidak memakai AGP.

Sementara Indonesia, kata dia, sampai saat ini model kandang, lingkungan, kualitas air, serta biosekuriti, masih sangat rentan buat kesehatan dari ternak unggas. Tak heran jika penggunaan AGP pada pakan saat ini sangat menguntungkan buat para peternak.

Kendati demikian Nahrowi sependapat, dalam soal ini tidak bisa hanya peternak semata yang diuntungkan. Konsumen juga harus diuntungkan dari produk ternak. Artinya, konsumen berhak atas hasil ternak yang aman buat kesehatan, di sisi lain usaha ternak juga harus menguntungkan peternak dan tidak ada residu yang mungkin berpotensi membahayakan usaha peternak itu sendiri.

Eubiotik Sebagai Pengganti AGP

Pada 1953, penggunaan antibiotik mulai dilakukan dalam industri perunggasan sebagai pemacu pertumbuhan (growth promoter) ayam dengan cara mematikan mikroflora dalam usus. Sejak itu pula, AGP (Antibiotic Growth Promoter) banyak digu­nakan dalam budidaya untuk meningkatkan performa ayam. Bahkan, penggunaan AGP diestimasi dapat meningkatkan pertumbuhan ayam sebesar 4 – 8 % dan meningkatkan utilisasi pakan 2 – 5%.
Setelah banyaknya laporan dan penelitian bahwa antibiotika menimbulkan sifat resisten yang mengakibatkan penyakit yang di derita manusia yang biasanya di beri antibiotika A sembuh, tapi sekarang tidak karena resistensia antibiotika secara tidak langsung terjadi dengan menumpuknya residu antibiotika yang di berikan ke ternak mengendap dalam jaringan metabolism manusia karena mengasup/memakan produk ternak dengan cemaran antibiotika tinggi dan ternyata ini bereaksi resistensi menimbulkan sifat kebal pada antibiotika sejenis yang peruntukan untuk pengobatan manusia. Maka sejak saat itu, ramai ramai banyak Negara mulai mengurangi bahkan ada yang melarang antibiotika peruntukan untuk ternak. Korea Selatan melarang AGP sejak 2011, Taiwan melarang bacitracin, chlortetracycline, lincomycin, neumocin, oxytetracyline, penicillin, spectinomycin, virginiamycin. Sedang Filipina melarang nitrofurans, chloramphenicol, olaquindoxs, furazolidone, Amerika sejak 2014 -2015 insidental pelaku bisnis tertentu. Indonesia dan Vietnam baru akan efektif pelarangan AGP per Januari 2018. Turki melarang sejak 2001 sedang Negara  Negara Eropa pelarangan AGP sejak 2006.
Namun sekarang ini, industri perunggasan berangsur mundur dalam penggunaan AGP. Ditemukannya dampak negatif dalam proses budidaya disinyalir menjadi penyebab AGP kehilangan keeksisannya. Penggunaan anti­biotik yang tidak terkontrol dan tidak sesuai prosedur menyebabkan resistensi mikroba terhadap antibiotik tersebut. Permasalahan ini membutuhkan solusi berupa produk yang mampu memacu pertumbuhan ternak tanpa menimbulkan resistensi. Penekanan ini disam­paikan Rolando Valientes, Regional Category Manager – Eubiotics – DSM Asia Pacific, dalam acara Simposium Nasional Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, di Dramaga Bogor (19/7).

Rolando menyampaikan, AGP kehilangan pamornya, salah satu contohnya terjadi pada jaringan restoran cepat saji terbesar di dunia McDonald’s pada Maret 2015 mengumum­kan bahwa dalam dua tahun ini hanya akan menghasilkan produk ayam dan telur di Amerika Serikat (AS) yang berasal dari ternak yang bebas dari antibiotik yang digunakan di manusia. Sedangkan kompetitornya, Chick-Fil-A, sejak tahun 2014 lalu telah memberikan pernyataan yang lebih ekstrem, bahwa mereka berjanji hanya akan menyediakan produk asal ayam yang sama sekali tidak pernah menggunakan antibiotik. Di Asia, in­dustri perunggasan Kee Song Brothers yang memegang pangsa pasar 15% di Singapura juga mengikuti. “Larangan penggunaan antibiotik sudah berlaku di beberapa negara di Asia, seperti di Korea Selatan larangan total penggu­naan AGP sejak juli 2011, Taiwan melarang penggunaan antibiotik (bacitracin, chlortetra­cycline, lincomycin,neomucin, oxytetracyline, penicillin, spectinomycin,dan virginiamycin), Filipina telah melarang penggunaan antibiotik (nitrofurans, chloramphenicol, olaquindox,dan furazolidone), larangan penggunaan AGP di Vietnam akan berlaku pada Januari 2018, sementara Indonesia di waktu yang sama (Januari 2018) berencana meninggalkan AGP,” paparnya.

Rolando menyebut,untuk meniadakan AGP pada pakan ayam, ada tiga hal yang menjadi fokus utama dalam produksi,yaitu manaje­men, nutrisi, dan kesehatan ternak itu sendiri. Menurutnya, manajemen meliputi:kepadatan, manajemen pakan, ventilasi (suhu dan kelem­bapan) dan TLC (tender, loving, care). Nutrisi terdiri dari kontrol kualitas bahan baku pakan yang ketat (kualitas dan keamanan), kontrol mikotoksin, penggunaan vitamin yang optimal, dan penggunaan enzim (protease, amylase, xylanase, phytase, dan lain-lain) dalam memak­simalkan kecernaan bahan pakan. Kemudian kesehatan terdiri dari peningkatan kebersihan dan sanitasi, vaksinasi dan memastikan respon optimal, penggunaan antibiotik yang bijaksana, dan penggunaan eubiotik seperti asam organik dan senyawa minyak esensial.

Penggunaan Eubiotik

Eubiotik adalah produk tanpa antibiotik yang mampu menjaga kesehatan dan per­forma ternak dengan memodulasi mikroflora dalam saluran cerna. “Ada 4 konsep eubitotik,pertama senyawa yang langsung memodulasi mikroflora melalui penghambatan pertumbu­han (asam organik, senyawa minyak esensial). Kedua, probiotik yang mampu memperbaiki keseimbangan mikroba usus (Lactobaciluus spp., Enterococcous faecium, ragi). Ketiga, prebiotik berupa oligasakarida yang berfungsi sebagai makanan probiotik sehingga dapat bersaing dengan patogen untuk menciptakan keseimbangan mikroflora (mannan, glukan, inulin). Keempat, immune modulator, se­nyawa yang merangsang sistem kekebalan tubuh hewan (nukleotida),” katanya. Rolando mengklaim, eubiotik yang mensinergikan antara asam organik dengan minyak esensial adalah konsep baru kombinasi pengganti AGP. Menurutnya, Asam organik yang paling efektif untuk nutrisi ternak adalah asam Benzoat, dan jenis minyak esensial yang memiliki performa superior adalah Thymol, Eugenol dan Piperine.

Adapun mekanisme kerja kombinasi minyak esensial dan asam organik pada unggas, jelas Rolando, piperin berinteraksi dengan reseptor dinding sel pankreas dan merangsang peningkatan sekresi enzim pencernaan utama yaitu lipase, amilase, dan tripsin. Thymol dan eugenol menyerang dinding sel bakteri tertentu (patogen), membuat permeabilitas dinding sel bakteri patogen meningkat, sehingga memudahkan asam benzoat masuk ke dalam sel. Kemudian asam benzoat memasuki sel bakteri dan mengganggu fungsi sel dengan mengurangi pH di dalam sel, sehingga dengan signifikan mengurangi cadangan energi yang mengakibatkan bakteri patogen berhenti memperbanyak diri dan pada akhirnya mati.

Tak hanya untuk unggas, eubiotik juga dapat digunakan pada babi. “Mekanisme kerjanya, asam organik (asam benzoat) ber­tindak mengatur pertumbuhan jamur serta bakteri dengan menurunkan pH pada saluran gastrointestinal dan membunuh secara lang­sung, bertindak sebagai anti mikroba di usus dengan mengurangi mikroorganisme patogen seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Staphylococci,namun tidak (sedikit) berpengaruh terhadap populasi bakteri baik di usus” tandasnya.

Sumber detik.com, trobos.com dan sumber lainnya


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:18
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.