Loading...

Tahun 2018, 100.000 Ton Daging Kerbau Asal India Siap Masuk Indonesia Melalui Bulog, Bagaimana Tanggapan PPSKI?

Loading...
loading...
Ternak Kerbau

Mengapa Bulog Mau Impor Lagi 100.000 Ton Daging Kerbau Asal India Pada Tahun 2018? Ini Alasannya!
Rencananya, pada 2018 Bulog akan mengimpor 7.000 ton—8.000 ton daging kerbau beku per bulan sembari tetap menjaga stok di angka 10.000-15.000 ton. "Kami cuma siapkan kira-kira Rp1 triliun karena itu kan turn over-nya tinggi. Rencana ke depan [impor] itu per bulan supaya bebannya tidak terlalu besar. Impor daging kerbau beku ini dilakukan sebagai alternatif konsumsi rakyat untuk menjaga agar harga daging sapi tidak melambung terlalu tinggi ditengah permintaan yang cukup masif. Hal ini pun diamini oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian Agung Suganda. Menurut Agung, rata-rata masyarakat di Indonesia sebenarnya lebih menyenangi daging segar, baik untuk kerbau maupun sapi, dibandingkan dengan daging beku.
Perum Bulog menyiapkan anggaran senilai Rp1 triliun untuk mengimpor 100.000 ton daging kerbau pada 2018. Usulan kuota impor ini akan segera diajukan ke Kementerian BUMN.

Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti menyebutkan rencana impor daging kerbau beku ini baru diusulkan dalam rapat koordinasi terbatas dengan kementerian terkait untuk selanjutnya Bulog akan mengajukan izin ke Kementerian BUMN.

"Nanti setelah [dari] Menteri BUMN keluar [rekomendasinya], kami harus mengajukan rekomendasi ke Menteri Pertanian. Setelah keluar, saya kembalikan ke Menteri Perdagangan untuk memperoleh izin impornya," jelas Djarot, Selasa (16/1).

Djarot menyebutkan pengadaan total 100.000 ton daging kerbau beku yang diimpor dari India rencananya akan dilakukan bertahap setiap bulannya sehingga Bulog tidak perlu mengeluarkan biaya pembelian daging sekaligus serta menghemat biaya penyimpanan.

Rencananya, pada 2018 Bulog akan mengimpor 7.000 ton—8.000 ton daging kerbau beku per bulan sembari tetap menjaga stok di angka 10.000-15.000 ton. "Kami cuma siapkan kira-kira Rp1 triliun karena itu kan turn over-nya tinggi. Rencana ke depan [impor] itu per bulan supaya bebannya tidak terlalu besar. Beban biaya simpan kan cukup mahal," katanya.

Jika nanti terealisasi, distribusi daging kerbau ini akan dilakukan melalui Asosiasi Distributor Daging Indonesia juga beberapa pengusaha dengan jalur distribusi kuat, tak jauh berbeda dengan tahun lalu.

Usulan untuk mengimpor 100.000 ton daging kerbau beku didasarkan pada penjualan tahun lalu yang mencapai 6.000 ton -7.000 ton per bulan ditambah cadangan untuk hari besar seperti Ramadhan, Lebaran, Natal, dan tahun baru.

Sampai akhir tahun 2017 kemarin, Bulog sendiri masih memiliki sisa stok impor daging kerbau beku asal India sebanyak 12.000 ton yang diestimasi akan habis pada pertengahan atau akhir Februari nanti.  Untuk antisipasi habisnya stok daging beku asal kerbau India ini maka impor pertama dari usulan 100.000 ton untuk 2018 ini diharapkan sudah bisa masuk pada akhir Februari atau awal Maret.

Seperti diketahui, realisasi impor daging kerbau beku asal India pada 2017 mencapai 55.000 ton. Sementara itu, izin ekspor yang belum terealisasi dari 2017 lalu masih ada sebesar 31.000 ton dan akan dimasukkan dalam pembaharuan izin di 2018.

"Kan batasnya [izin impor 2017] sampai 31 Desember. Sisa itu nanti akan diperbaharui jadi 100.000 ton," kata Direktur Komersil Bulog Tri Wahyudi dalam kesempatan yang sama.

Dia menambahkan, dalam impor pertama dari usulan 100.000 ton tersebut yang diestimasi akan terjadi pada akhir Februari nanti, pihaknya berencana mendatangkan minimal 5.000 ton.

Bagaimana PPSKI Menyikapi Rencana Impor Daging Kerbau Oleh Bulog Tersebut?

Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) menolak rencana pemerintah yang ingin mengimpor daging kerbau beku asal India di tahun 2018. Ketua Umum DPP PPSKI beranggapan kebijakan impor daging ini bisa merugikan peternak rakyat. Pasalnya, dengan beredarnya daging murah di pasar becek, harga daging segar dari peternak rakyat tidak dapat bersaing dengan harga daging kerbau impor dan daging dari penggemukan feedloter. “Harga sapi lokal sudah tidak bisa masuk,” ujar Teguh kepada Kontan.co.id, Minggu (21/1).

Teguh mengatakan, saat ini, harga sapi segar di pasaran mengikuti harga daging impor. Karena itu, pedaging pun tidak bisa membeli daging sapi dari peternak rakyat. Menurutnya, daging-daging segar yang ada di pasar saat ini bukanlah daging sapi dari peternak rakyat, melainkan daging sapi yang berasal dari feedloter.

Menurut Teguh, apabila harga daging sapi lokal terlalu mahal, ini merupakan kegagalan pemerintah dalam mewujudkan swasembada daging sapi. Menurutnya Program Swasembada Daging Sapi 2010 dan dilanjut Program Swasembada Daging Sapi 2014 telah gagal. Implikasinya, 50% pemenuhan daging sapi atau sekitar 250.000 ton daging harus diimpor. Dia bilang, karena impor tersebut, harga daging dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dollar dan harga daging internasional.

Dia juga berpendapat, ini merupakan kegagalan pemerintah dalam mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dollar. Tak hanya itu, pengelolaan dana APBN untuk program swasembada daging sapi yang tidak efektif. “Jadi sangat tidak adil. Pemerintah yang gagal, yang korban malah peternak rakyat,” ujar Teguh.

Bahkan, India yang merupakan asal daging kerbau yang akan diimpor ini pun dianggap belum bebas dari penyakit mulut dan kuku. Menurutnya, hal ini bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi.

Teguh menyampaikan, bila kebijakan impor daging kerbau dengan alasan harga murah untuk keadilan rakyat, maka kebijakan tersebut harus diterapkan pula untuk komoditas pertanian lain seperti beras, jagung dan komoditas lainnya dimana harganya lebih murah dibandingkan dengan produksi dalam negeri.

Teguh pun berharap pemerintah meninjau kembali rencana importasi daging kerbau yang sangat disportif kepada peternakan sapi lokal. Menurutnya, kebijakan impor daging kerbau beku yang dianggap murah ini sangat kontradiktif dengan target swasembada daging sapi yang dicanangkan akan dicapai di tahun 2024.

Alasan Pemerintah Impor Daging Kerbau India, Agar Harga Daging Sapi Tidak Melambung

Pemerintah menyatakan bahwa impor daging kerbau beku ini dilakukan sebagai alternatif konsumsi rakyat untuk menjaga agar harga daging sapi tidak melambung terlalu tinggi ditengah permintaan yang cukup masif.

Hal ini pun diamini oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian Agung Suganda. Menurut Agung, rata-rata masyarakat di Indonesia sebenarnya lebih menyenangi daging segar, baik untuk kerbau maupun sapi, dibandingkan dengan daging beku.

Hingga kini, Kementerian Pertanian belum menerbitkan rekomendasi impor, karena memang belum ada permohonan dari Bulog. Namun, harga daging segar khususnya sapi yang bervariasi dengan rata-rata di atas Rp100.000 per kilogram (kg) dianggap cukup tinggi. Oleh karena itu, impor daging kerbau beku menjadi salah satu alternatif yang bisa ditempuh.

"Saat ini, daging segar kita harganya kan bervariasi dengan rata-rata Rp110.000-120.000 per kg, harga itu kan relatif mahal. Oleh karena itu, pemerintah melalui daging kerbau ini berharap untuk menyediakan daging beku dengan harga terjangkau yaitu dipatok Rp80.000 per [kg]," katanya.

Sumber berita dari Bisnis.com dan Kontan.co.id

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 15:20
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.