Loading...

Antara Sapi Lokal, Daging Impor dan Sapi Impor

Loading...
loading...
Harga Daging, Harga Sapi Lokal dan Harga Sapi Impor, Selalu Terkait dan akan Berpengaruh Antara Komoditas yang satu dengan yang lainnya

Gonjang-ganjing janji pemerintah yang mau menurunkan harga daging di kisaran 80 ribu rupiah menjadikan pemerintah seperti "menghalalkan" segala cara agar harga daging sapi benar-benar turun dari 100 ribuan menjadi 80 ribu per kg. Dan sampai saat ini janji tetap tinggal janji, harga daging tetap bertengger dihabitatnya saat ini masih di 100 ribuan per kg.

Impor daging kerbau India yang digembar-gemborkan akan mampu menurunkan harga daging tersebut ternyata hanya sebatas harga daging kerbaunya saja yang bisa 80 ribu tetapi harga daging sapi segar masih tetap mahal. Bahkan imbas negatifnya dari banjirnya daging kerbau impor tersebut ke pasar becek alias pasar tradisional menjadikan jumlah pemotongan sapi lokal hampir diseluruh RPH di pulau Jawa menurun drastis. Bahkan banyak RPH yang jumlah potongnya turun diatas 50% dari jumlah potong sapi normalnya.

Imbas berikutnya setelah pemotongan sapi di RPH turun adalah peternak dan pedagang sapi lokal mulai terkena efeknya yaitu harga sapi yang mulai turun dan sepinya pasar hewan. Banyak peternak lokal yang mengeluh saat akan menjual sapi peliharaannya yang siap panen ternyata harga tidak jauh beda dengan saat membelinya, padahal sapi tersebut sudah dia pelihara sekitar 6 bulan hingga 1 tahun. Dan yang lebih parah lagi, sapinya yang siap jual tidak ada yang mau beli karena stock jagal yang masih melimpah akibat jumlah pemotongan sapi hariannya turun drastis.

Banyaknya daging impor kerbau india yang dijual bulog dijadikan ajang spekulasi oleh para pedagang daging dengan menjual daging kerbau tersebut dioplos dengan daging sapi segar sehingga harganya bisa ikut tinggi karena pembeli tidak tahu bahwa yang dia beli adalah daging impor yang berupa daging kerbau asal India. Dan kondisi seperti ini terjadi dimana-mana.

Mau tidak mau jika kita menyoroti fenomena tersebut maka sudah saatnya impor daging kerbau beku asal India segera dihentikan. Impor daging kerbau tersebut terbukti tidak mampu menurunkan harga daging bahkan hanya membuat lesu perdagangan sapi lokal dan daging sapi segar. Jika tataniaga sapi lokal lesu maka dikhawatirkan minat peternak untuk menggemukkan sapi lokal bisa turun drastis dan kekurangan gairah, lantas bagaimana kita bisa swasembada daging jika peternak rakyat saja sudah malas memelihara sapi akibat pasarnya yang "letoy?".

Sudah saatnya dipikirkan bahwa pemenuhan kebutuhan daging dalam negeri tidak harus dilakukan dengan impor daging murah yang hanya akan merusak peternak lokal kita. Swasembada daging akan lebih baik jika dicapai dengan penggalakan bibit sapi bermutu dan unggul yang saat ini mulai digalakkan.

Sediakan pakan konsentrat dan hijauan murah yang terjangkau harganya oleh peternak lokal sehingga biaya produksi bisa ditekan. Sediakan transportasi ternak yang memadai dan berbiaya murah sehingga beban biaya transportasi dan juga resiko diperjalanan bisa ditekan serendah-rendahnya agar sapi peternak bisa bersaing dengan sapi impor.

Memang untuk saat ini impor sapi masih dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan daging dalam negeri. Impor daging kerbau dari India sudah saatnya di stop saja agar gairah peternak lokal dipedesaan bisa bangkit lagi untuk memelihara sapi. Impor daging sebaiknya hanya dilakukan dalam keadaan darurat, misalnya memang stock daging dipasaran benar-benar langka atau malah tidak ada.

Saatnya peternak sapi lokal dan produknya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, inilah yang disebut swasembada. Harga adalah mekanisme pasar, sebaiknya jangan terlalu dicampuri dan diatur karena bisa membuat pasar menjadi lesu dan membingungkan peternak maupun konsumennya.

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 01:37
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.