Waspadai Letusan Besar Gunung Agung Seperti Tahun 1963

Posted by

Loading...
Setelah sempat menyemburkan abu vulkanik sehari sebelumnya, tanda-tanda Ada Potensi Letusan Besar Gunung Agung Mulai Terlihat Dengan Semakin Meningkatnya Aktivitas Lava Yang Mulai Menyembur Dari Kawah Gunung Agung.
Saat ini ada 22 desa dengan radius 10 km dari titik bencana terpapar dampak meletusnya Gunung Agung. Seperti Ababi, Pidpid, Nawakerti, Datah, Bebandem, Jungutan, Buana Giri, Tulamben, Dukuh, Kubu, Baturinggit, Ban, Sukadana, Menanga, Besakih, Pempatan, Selat, Peringsari, Muncan, Dudat Utara, Amertha Bhuana, dan Sebudi.
Gunungapi Agung semakin menunjukkan aktivitas yang semakin tinggi dari biasanya, Selasa (28/11/2017) dinihari ini.

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana mengatakan malam ini, anomali termal pertama Gunung Agung terdeteksi satelit NASA Modis, 70 Megawatt (sumber:mirovaweb.it).

"Ini menandakan bahwa magma dengan volume signifikan sudah berada di permukaan," ungkap Devy.

Ia menambahkan sebagai perbandingan, danau lava (lava lake) Nyiragongo di Kongo bisa mencapai 100 megawatt.

Deteksi termal dapat dipengaruhi kabut/awan, bisa mempengaruhi nilai sebenarnya.

Sebelumnya, Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengamati lava sudah mulai menyembur dari dalam kawah Gunung Agung.

Pantauan tersebut sekitar pukul 20.00 Wita, Senin (27/11/2017).
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memprediksi Gunung Agung berpotensi mengalami letusan besar. Gunung setinggi 3.142 mdpl itu terus mengeluarkan lava dan melontarkan abu vulkanik ‎setinggi 3.400 meter. Meski terlihat dahsyat, masih dalam kategori letusan kecil.Sebab, sejatinya gunung yang terletak di Kabupaten Karangasem itu pernah meletus dahsyat pada 1963.

Meski demikian, Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), I Gede Suantika, tak menampik jika Gunung Agung kali ini berpotensi meletus dahsyat, tak jauh berbeda ketika ia meletus tahun 1963. Kala itu, ‎Volcanic Explosivity Index (VEI)‎ atau indeks letusan Gunung Agung berada di level 5.

"Ini sama dengan tahun 1963. VEI‎-nya itu antara 4 atau 5," kata Suantika, Minggu 26 November 2017. Ia memaparkan, penentuan indeks letusan berada di level 5 didasarkan pada analisis berbagai hal menggunakan teknologi yang dimiliki oleh institusinya. "Analisisnya berdasarkan alat-alat yang kita miiki, ketemu angka itu," ucap dia.
Bahkan, fenomena itu bisa teramati dari Pos Pantau Gunung Api Agung di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem.

"Suara dentuman sejauh ini belum ada terekam, seperti kemarin malam. Tapi kita baru mendeteksi adanya lava yang mulai menyembur dari dalam kawah," jelas Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi I Gede Suantika, Senin (27/11/2017) malam.

Ia menggambarkan, semburan lava itu seperti halnya air mancur.

Lava menyembur dangkal dalam kawah dan sesekali sampai tampak di atas kawah.

Namun, lava tersebut belum sampai meluber keluar dari kawah.

"Kalau semburan lava seperti ini, kami menyebutnya strombolian. Jadi lavanya itu menyembur pendek seperti itu. Ini belum letusan ekplosif Gunung Agung," jelasnya.

Pada Minggu (26/11/2017) malam, juga terdengar dua kali suara dentuman dari Gunung Agung sekitar pukul 20.30 Wita.

Bahkan, suara dentuman tersebut terdengar hingga Pos Pantau Gunung Api Agung yang berjarak sekitar 12 km dari kawah Gunung Agung.

Dentuman ini sempat mengagetkan warga yang kebetulan masih berada di Pos Pantau.

dentuman tersebut juga terekam dalam alat seismograf tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Dentuman itu terekam dari alat seismograf kita, yang mempunyai spektrum gelombang punya frekuensi 20 Hz. Jadi setiap 20 Hz, itu sudah kami anggap dentuman," jelas Suantika.

Ia menjelaskan, detuman itu terjadi karena semburan abu vulkanik yang menyembur keatas kawah, memiliki volume berlebih.

Sementara lubang yang dilewatinya cenderung sempit, sehingga hal ini menyebabkan suara dentuman.

"Suara dentuman ini baru pertama kali terekam setelah Gunung Agung mengalami peningkatan aktivitas vulkanik," jelas Gede Suantika. Hal ini pun menunjukan Gunung Agung terus melalui fase atau menununjukan gejala letusan besar dikemudian hari.
Letusan Gunung Agung pada tahun 1963 mulai terjadi pada 18 Februari 1963 dan baru berakhir 27 Januari 1964. Letusan dahsyat ini mencatat 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang luka. Mayoritas korban berjatuhan karena awan panas letusan yang melanda tanah lebih dari 70 kilometer persegi.

Letusan 1963 diawali gempa bumi ringan yang dirasakan penghuni Kampung Yeh Kori. Sehari kemudian, terasa kembali gempa bumi di Kampung Kubu, di pantai timur laut kaki Gunung Agung, sekitar 11 kilometer dari lubang kepundannya.

Letusan pun semakin dahsyat. Gunung Agung bergemuruh dan melemparkan bola api. Wilayah Pura Besakih, Rendang, dan Selat dihujani batu-batu kecil dan tajam, pasir, dan hujan abu pada 23 Februari 1963. Hujan lumpur lebat turun di Besakih sehari kemudian, mengakibatkan bangunan-bangunan di sana roboh. Awan panas dah hujan lahar muncul.

Tanggal 17 Maret 1963 merupakan puncak dari kegentingan tersebut. Suara letusan berkurang dan hilang. Sisanya adalah aliran lahar ke wilayah-wilayah di bawahnya. Aktivitas Gunung Agung benar-benar berhenti 27 Januari 1964.
Penutupan Bandara Ngurah Rai Diperpanjang Akibat Abu Gunung Agung
Rapat evaluasi dari Angkasa Pura I Bandara I Gusti Ngurah Rai pun selesai dilakukan, Selasa (28/11/2017) dinihari sekira pukul 01.40 WITA tadi.

GM AP I Bandara I Gusti Ngurah Rai, Yanus Suprayogi mengatakan dari hasil pengamatan di Bandara sebaran debu vulkanik kini semakin melebar.

"Penutupan operasional kita perpanjang hingga keesokan hari paginya. Atau sampai Rabu esok pagi. Sesuai NOTAM AirNav Indonesia yang akan dikeluarkan setelah ini," tegasnya.


Yanus menambahkan hal tersebut dilakukan karena sebaran debu vulkanik semakin melebar dan bahkan sampai di Banyuwangi dan Jember.

Berikut keputusan hasil rapat evaluasi erupsi Gunung Agung oleh Komunitas Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Bali:

1. Menindaklanjuti adanya erupsi Gunung Agung Pada Pukul 24.00 Wita, ketinggian Vulcanic Ash/Erupsi Mencapai ketinggian 3000 m2

2. Pada Pukul 23.10 wita berdasarkan Meteorological watch office, telah menerbitkan berita meteorologi significant untuk penerbangan yang didasarkan dari informasi: pengamatan dari VA Advisory Darwin, bahwa semburan vulcanic ash dari gunung agung telah mencapai pada ketinggian 30.000 feet bergerak ke arah selatan-barat daya dengan kecepatan 5-10 kts dan masih mengarah ke bandara I Gusti Ngurah Rai Bali

3. Hingga pukul 00.00 Wita, Paper Test telah dilakukan dan hasilnya adalah NIL adanya Vulcanic Ash di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Bali. 4. Dengan pertimbangan air space/ ruang udara bandara masih tertutup oleh sebaran vulcanic ash sesuai dengan ploting VA Advisory, maka Notam Closed Bandara akan dilanjutkan hingga 24 jam ke depan.

Sumber tribunnews.com dan sumber lainnya

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 18:11

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.