Mengenal Biotin, Defisiensi dan Manfaatnya

Posted by

Loading...
BIOTIN

a.Definisi Biotin
Penemuan biotin dan kepentingannya adalah hasil dari duamacam penelitian, yaitu oleh seorang ahli ilmu mikrobiologi dan ahli ilmu makanan ternak. Dalam tahun 1933 Allison, Hoover dan Burk mendapatkan faktor baru yang diberi nama “koenzim R”, yang dibutuhkan untuk respirasi dalam bakteri dari bungkul leguminosa, Rhizobia. Sebagai lanjutan dari penelitian Wildiers mengenai “bios”, Kogl dan Tonnismengekstraksi suatu zat dalam bentuk kristal dari kuning telur yang direbus yang direbus dari telur itik yang sangat penting artinya sebagai sumber “bios II” untuk pertumbuhan ragi. Zat ini disebut “biotin”

Dalam tahun 1940 Gyorgy dkk menemukan bahwa vitamin H, biotin dan koenzim R adalah zat tunggal. Maka dari itu makin jelas bahwa anak ayam dan mamalia yang diberi makan bagian putih telur yang mentah menimbulkan defisiensi zat makanan yang esensial untuk gizi hewan, ragi dan bakteria tertentu. Dua tahun kemudian duVigneaud dkk mengemukakan struktur dan sifat-sifat biotin. Biotin ini disintesis setahun kemudian oleh Harris dkk, dari Merck.

b.Sifat-sifat Biotin
Bitoin sama seperti thiamin yaitu mengandung sulfur. Bitoin merupakan kristal yang panjang dan bentuknya sepreti jarum putih. Mencapai pada 232-2330C. Larut dalam air dan 95% ethanol, tidak larut dalam lemak atau pelarut lemak. Biotin sangat stabil terhadap kondisi biasa; dapat rusak karena asam nitrit, perantara oksida, formaldehid dan asam keras dan basa keras; oksidasi ringan (dengan H2O2) biotin dikonversi menjadi sulfoksida; oksidasi kuat (dengan KM­nO4) menjadi sulfon. Perantara yang kuat (strong agent) dapat mengambil sulfurnya, yang kemudian akan menjadi desthiobiotin.

c.Sumber Biotin
Sumber-sumber yang sangat kaya dengan biotin adalah hati, ragi, melase (tetes), kacang tanah dan telur. Sumber-sumber yang cukup baik adalah tanam-tanaman yang berdaun hijau; sumber-sumber miskin adalah jagung, terigu, kacang-kacangan yang lain, daging dan ikan. Biotin didapatkana dalam bahan-bahan makanan sebagai bentuk ikatan dan bentuk bebas. Biotin dalam bentuk ikatan tidak dapat dipergunakan oleh hewan. Hampir setengahnya dari biotin dalam bahan makanan yang dideterminasi secara mikrobiologis, tidak dapat dipergunakan secara biologis.

Defisiensi biotin pada ternak anak ayam ditimbulkan oleh ransum dengan kadar biotin yang rendah. Meskipun demikian sintesis biotin dalam usus merupakan jumlah yang banyak, meskipun tidak seluruhnya dapat memenuhi kebutuhan tikus dan mamalia lainnya. Maka dari itu, hal yang tidak mungkin membuat tikus supaya difisien biotintanpa mempergunakan sulfonamid, mencegah soprophagi, memberi makan telur bagian putih yang mentah atau kombinasi dari teknik-teknik tersebut di atas.
Penelitian tentang kandungan biotin dalam bahan-bahan makanan dengan mempergunakan pengujian mikrobiologi baik dengan Lactobacillus arabinosus maupun L. ceci atau Saccharomyces cerevisiae memperlihatkan bahwa kandungan biotin dalam bahan-bahan makanan sangat bervariasi.

d.Defisiensi Biotin
Defisiensi biotin pada ayam mengakibatkan dermatitis yang gejala-gejalanya sama dengan defisiensi asam pantotenat. Terlihat pula adanya perosis. Bagian bawah dari kaki menjadi kasar, retak-retak dan hemorrhagis. Jari kaki menjadi nekrotis dan mengelupas. Luka-luka terlihat pada sudut mulut dan perlahan-lahan menjalar ke daerah sekitar paruh; pelupuk mata bengkak dan lengket menjadi satu.
Defisiensi biotin pada ayam petelur dan ayam bibit mengakibatkan daya turun tanpa mempengaruhi produksi telur.

e.Fungsi metabolis dari biotin
Menurut Lynen, fungsi metabolis dari biotin adalah sebagai berikut :
a.Biotin dalam metabolisme karbohidrat
Enzim biotin melaksanakan reaksi-reaksi karboksilasi dan dekarboksilasi yang menyangkut fiksasi karbon dioksida. Di antara reaks-reaksi ini adalah:
·Konversi bolak balik dari asam piruvat menjadi asam oksaloasetat
·Konversi asam malat menjadi piruvat, antara konversi dari asam suksinat dan asam propionat
·Konversi asam oksalosuksinat menjadi asam α – keto – glutarat
·Reaksi-reaksi lain dari dehodrogenasi
b.Biotin dalam metabolisme lipida
Dalam banyakmikroorganisme tapi tidak dalam hewan, telah terlihat ada hubungan antara biotin dengan C18 asam yang tidak jenuh, terutama asam oleat. Asam oleat akan membantu kebutuhan biotin dan sebaliknya, dalam pertumbuhan kebanyakan mikroorganisme. Meskipun demikian, belum pernah didemonstrasikan bahwa asam oleat mempunyai efek membantu dalam kebutuhan biotin untuk hewan-hewan.
c.Biotin dalam metabolisme protein
Kelebihan glisin yang sangat besar dalam ransum tikus, menyebabkan alopecia, berjalan tidak terkendalikan dan penurunan dalam pertumbuhan. Gejala-gejala ini dapat dicegah dengan pemberian biotin. Defisiensi biotin pada mamalia merintangi konversi normal dari rantai yang didedaminasi dari leusin menjadi oksaloasetat.

f.Kebutuhan Biotin
Kebutuhan biotin untuk ayam periode starter dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Dalam tahun 1942 Patrick dkk memperlihatkan bahwa kebutuhan biotin per hari untuk anak ayam dan kalkukn muda berturut-turut kira-kira 2-5 mikrogram selama 4 minggu pertama dari hidupnya. Penulis-penulis ini menyatakan bahwa mungkin ransum kalkun muda kekurangan biotin, kalau biotin yang terdapat dalam bahan-bahan makanan tidak dapat dipergunakan.

Peneliti-peneliti sekarang telah menemukan defisiensi biotin pada ayam yang penyakitnya dikenal dengan “hati berlemak da sindroma ginjal”. Penyakit ini banyak terdapat broiler yang mendapat ransum mengandung terigu atau terigu-jawawut dengan protein dan lemak rendah. Meskipun demikian, Pane dkk di Australi menunjukkan bahwa tepung daging juga dapat membantu perkembangan penyakit “hati berlemak dan sindroma ginjal”.

g.Defisiensi Biotin
Defisiensi biotin ditandai dengan dermatitis pada kaki dan kulit sekitar paruh dan mata. Gejala ini memperlihatkan persamaan seperti asam pantotenat. Dengan demikian, dirasakan perlu membuat diagnosa perbandingan antara defisiensi biotin dan asam pantotenat dengan jalan memerikasa komposisi yang diberikan kemudian menentukan vitamin mana yang defisien. Ini bisa diteliti dengan memberi ransum kepada dua kelompok anak ayam dengan menambahkan ke dalam ransum dengan iotin kepada kelompok nomor satu dan penambahan asam pantotenat kepada kelompok nomor dua. Perosis juga gejala defisien biotin yang khas. Dalam tahun 1942 Jukes dan Bird mempergunakan ransum murni yang mengandung semua zat-zat makanan yang diketahui kecuali biotin. Gejala perosis yang timbul dapat segera dicegah dengan sempurna dengan penyuntikan biotin kristal pada tingkat kira-kira 2 mikrogram biotin perhari. Hasil penyuntikan biotin ini juga memperbaiki pertumbuhan, tapi tidak dapat mencegah dermatitis dengan sempurna.

h.Faktor-faktor yang meningkatkan kebutuhan biotin
1)Avidin adalah glikoprotein yang disekresikan oleh mukosa saluran telur dari ayam dewasa kedalam bagian albumin dari telur. Avidin-biotin kompleks sulit untuk diobservasi, karena tidak dapat dipecahkan dengan pencernaan proteolitik. Avidin didenaturasi oleh panas yang lembab sehingga ikatan avidin dengan biotin dapat dicegah.
2)Biotin menjadi tidak aktif kalau mengalami ketengikan oksidatif. Biotin murni bisa menjadi tidak aktif dalam waktu 12 jam bila ditambahkan ethil linoleat yang tengik, dengan adanya α –tecopherol yang tadinya 96% tidak aktif, sekarang turun mejadi 40% setelah 48 jam dalam inkubasi in vitro pada temperatur 370C.
3)Faktor-faktor lain yang meningktakan kebutuhan biotin adalah tersedianya dalam bahana makanan, sintesis atau distruksi mikroorganisme usus, dan pembawaan ke dalam telur.

i.Anti biotin
Dittmer dan du Vigneaud mendapatkan bahwa biotin sulfon dan desthiobiotin adlah anti biotin untuk L. casei tapi tidak untuk ragi. Juga asam amidazolidon kaproat adalah persenyawaan antibiotin. Tiga dari persenyawaan-persenyawaan ini berkaitan dengan avidin.

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 04:41

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.