Nasib 40 Ribu Ternak Sapi Bali Yang Terdampak Aktivitas Gunung Agung, Terancam Dijual Murah?

Posted by

Loading...
Sapi Bali di Wilayah Berbahaya Sekitar Gunung Agung Mulai Diincar Pedagang Sapi Dengan Harga Murah

Karangasem boleh saja dijuluki Bumi Lahar di Pulau Dewata. Namun, kabupaten yang terletak di lereng Gunung Agung ini merupakan ujung tombak sektor peternakan Bali. Populasi sapi di Karangasem rata-rata 110 ribu ekor per tahun. Dari total 406 ribu jumlah penduduk, hampir 56 persen menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dengan menjadi peternak.

Ancaman erupsi di tengah status awas Gunung Agung membuat masyarakat Karangasem yang banyak menggantungkan hidup sebagai peternak terpaksa turun gunung. Mereka mayoritas mengungsi ke Kabupaten Klungkung, daerah terdekat yang tergolong aman. Sebagian masih bertahan karena tak ingin meninggalkan hewan-hewan ternak mereka.

Warga yang memilih mengungsi bahkan mengobral sapi-sapi mereka kepada makelar yang memanfaatkan situasi genting. Harganya pun jauh dari harga wajar, di bawah Rp 10 juta, bahkan ada yang menawar di bawah lima juta rupiah per ekor. Padahal, harga sapi normalnya dibanderol sekitar Rp 15 juta per ekor.

Kejadian tersebut didapati Dewa Gede Kamar, peternak sapi dari Desa Manduang. Meski demikian, Gede Kamar memilih tetap memelihara sapi-sapinya dan tidak menjual ke makelar. Keprihatinan mendalam membuat Gede Kamar tercetus ide menyediakan tempat evakuasi ternak gratis bagi peternak-peternak di Karangasem dan Klungkung yang ikut mengungsi. Lahan seluas 1,2 hektare (ha) disiapkannya untuk menjadi tempat penampungan ternak sementara.

"Tempat ini secara sukarela kami sediakan. Kasihan peternak-peternak seperti saya banyak yang jual murah sapi-sapinya," kata Gede Kamar, Senin (25/9).

Satuan Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Agung mencatat jumlah pengungsi hingga Senin, 25 September 2017 pukul 12.00 WITA mencapai 48.540 jiwa. Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menerangkan masih ada pengungsi yang kembali ke rumahnya untuk memberi makan ternak, kemudian pulang ke posko.

"Ternak-ternak tersebut masih ada yang belum dievakuasi karena keterbatasan data, sarana, dan prasarana, sementara prioritas utama evakuasi adalah masyarakat," kata Sutopo.

Penanganan ternak, kata Sutopo akan ditangani satuan tugas khusus dari Dinas Peternakan Kabupaten bekerja sama dengan Dinas Peternakan Provinsi Bali. BNPB terus mendampingi pemerintah daerah menangani evakuasi ternak.

Penanganan pengungsi bukan hal mudah mengingat adanya keterkaitan ekonomi, sosial, dan budaya antara masyarakat dan ternak. Sutopo mencontohkan pengalaman evakuasi masyarakat dan sapi saat erupsi Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta 2010.
Terdapat Sekitar 40 Ribu Sapi Disekitar Zona Merah Gunung Agung

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Karangasem, IR Supandi menyatakan wilayahnya merupakan kawasan peternakan sapi terbesar di Pulau Bali. Total 127 ribu sapi terdapat di Karangasem. Dari jumlah itu, 40 ribu ternak sapi berada di zona merah Gunung Agung berdasarkan rekomendasi PVMBG.

"Populasi sapi di Karangasem ada 127 ribu totalnya. Yang berada di zona merah Gunung Agung sekitar 40 ribu," kata Supandi, Senin (25/9/2017).‎

Prioritas utama saat ini memang mengungsikan manusia. Prioritas berikutnya baru mengungsikan hewan ternak, dalam hal ini binatang sapi milik warga. Sebab, sapi bernilai ekonomis tinggi bagi masyarakat Karangasem. Sapi terbesar berada di wilayah Kecamatan Rendang dan Kecamatan Kubu.

"Selain itu, kami menjaga juga populasi sapi Bali agar tak punah," ucapnya.‎

Ia mengaku akan segera mengidentifikasi kebutuhan di pengungsian sapi. Di Banjar Lebah, Kabupaten Klungkung, sudah ada ratusan sapi milik warga pengungsi yang dititipkan.

"Saya masih cek titik lainnya. Kita belum tahu ada beberapa titik. Sembari kita juga mengidentifikasi kebutuhan di penitipan sapi. Tadi beberapa ada yang butuh pakan dan kandang agar tak kehujanan. Kami akan bantu," tutur dia.

Soal adanya tengkulak yang menawar harga sapi milik warga dengan murah di tengah situasi bencana, Supandi tak bisa berbuat banyak. "Kita tidak bisa mengatur harganya. Tapi kami mengimbau agar tengkulak atau saudagar yang mau beli, mengedepankan rasa kemanusiaan," ujarnya.

Pemerintah Minta Pengungsi Gunung Agung Tak Jual Murah Sapinya
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita meminta peternak di Gunung Agung tidak menjual hewan ternaknya dengan harga yang sangat murah. Ia berharap warga yang sapinya telah dievakuasi menjualnya dengan harga pasar.

"Peternak dapat memanfaatkan lokasi-lokasi penampungan ternak sementara secara mandiri atau terkoordinir oleh tim Satgas PKH. Sehingga para peternak tidak panik dan tidak segera menjual sapinya dengan harga murah," kata Diarmita di Karangasem, Bali, Rabu (27/9/2017).

Sementara proses evakuasi ternak oleh Satgas PKH masih terus dilakukan bersama Pemkab Karangasem dan Pemprov Bali. Diarmita menyatakan evakuasi ternak ini juga menjadi perhatian Presiden Joko Widodo.

"Kami telah laporkan terkait kesiapan pelayanan posko siaga peternakan dan kesehatan hewan kepada Kepala BNPB terutama terkait jumlah keseluruhan bantuan untuk disampaikan ke Presiden saat kunjungan di Tanah Ampo Selasa (26/9) kemarin," ujar Diarmita.

Diarmita menyampaikan jika masyarakat ingin melaporkan untuk penyelamatan ternaknya dari ancaman erupsi Gunung Agung maka dapat menghubungi Satgas PKH di nomor 0812 3863 2084. Diarmita menyatakan sejauh ini sudah ada bantuan dari pemerintah berupa pembuatan kandang penampungan, pakan konsentrat, obat-obatan, necktag untuk identifikasi dan air minum bagi ternak.

"Ditjen PKH juga menyediakan 1 mobil truk untuk mengangkut ternak ke tempat penampungan ternak yang telah dibuat pada area yang lebih aman," ucap Diarmita.
Selain mendata penitipan ternak yang belum lengkap, Supandi menyatakan ketersediaan pakan ternak di zona merah Gunung Agung juga menjadi masalah. Maka itu, Pemkab Karangasem sangat berharap bantuan pemerintah pusat.

"Persoalannya adalah pakan ternak. Kalau terlambat satu hari, maka banyak sapi dijual dengan harga tidak layak. Kementan bilang akan segera membantu dan berproses, mudah-mudahan semakin cepat anggaran dari pusat maka semakin cepat kita sediakan tempat penitipan yang layak," ujar Supandi.

Sumber republika.co.id dan sumber lainnya

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 05:53

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.