Nagasasra Sabuk Inten (4) Karya SH Mintardja

Posted by

Loading...
Mendapat ingatan itu, kegusaran hati Mahesa Jenar seperti tergugah. Dalam sejarah hidupnya belum pernah ada seseorang penjahat yang sudah berada di bawah hidungnya terluput dari tangannya. Meskipun ia sekarang bukan lagi seorang prajurit Demak, ia tetap memiliki jiwa pengabdian untuk kedamaian hati rakyat. Karena itu sekali lagi ia ingin bertemu dengan Lawa Ijo, yang sejak peristiwa itu namanya tak pernah terdengar lagi. Tetapi ia yakin, bahwa apabila tak terbinasakan, pada suatu saat pasti Lawa Ijo akan muncul kembali. Watu Gunung yang memiliki ciri-ciri khas sama dengan Lawa Ijo, tentu mempunyai hubungan erat. Mungkin Watu Gunung adalah bekas gerombolan Lawa Ijo, atau mungkin juga muridnya. Maka timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mempermainkan orang ini sebagai undangan buat kehadiran Lawa Ijo.

Kenangan dan pikiran-pikiran itu hanya sebentar saja melintas di otak Mahesa Jenar. Sementara itu suara tertawa Watu Gunung sudah kian lemah, kian lemah. Para penonton pun menjadi kian ngeri dan ketakutan. Beberapa orang diantaranya terjatuh lemas seperti dicopoti tulang-tulangnya. Saat yang mengerikan tentu segera tiba. Para penonton yang mengharap segera berakhir riwayat kelima iblis itu, meratap dalam hati.

Tepat pada saat mulut Watu Ganung terkatup, matanya segera berubah jadi merah dan liar. Wajahnya tampak bertambah bengis. Ia memandang Mahesa Jenar dengan tajam. Tangannya direntangkan ke samping, sedangkan jari-jarinya yang kuat itu dikembangkan, siap untuk menerkam dan merobek lawannya. Setapak demi setapak ia maju mendekati umpannya.

Tetapi, sementara Mahesa Jenar pun telah siap, dan telah mendapat keputusan untuk mempermainkan lawannya. Tetapi ia tetap waspada dan hati-hati, sebab ia tahu betapa kuatnya Lawa Ijo. Kalau saja orang ini dapat mewarisi segala kehebatan Lawa Ijo, pertarungan tentu akan menjadi sangat sengit sekali.

Ketika jarak mereka tinggal kira-kira dua depa, Watu Gunung menggeram hebat. Lalu dengan gerak yang cepat sekali ia melompat menerkam Mahesa Jenar. Serangan yang dilontarkan dengan sepenuh tenaga, serta dari jarak yang begitu dekat dengan kecepatan yang tinggi, menjadikan darah para penonton berdesir. Apalagi ketika mereka melihat Mahesa Jenar tidak sempat menghindari serangan itu. Ia hanya dapat melindungi dirinya dengan tangannya, yang disilangkan di muka dadanya untuk menahan terkaman jari-jari Watu Gunung.

Memang saat itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berusaha menghindar. Ia hanya mempergunakan tangannya untuk melindungi dadanya. Dan ketika serangan itu datang, terdengarlah beberapa jeritan tertahan, justru dari para penonton. Sedangkan Ki Asem Gede pun tak sempat mengedipkan matanya. Mereka mengira bahwa akan terjadi suatu benturan yang dahsyat dan tangan Mahesa Jenar akan dipatahkan.

Tetapi apa yang terjadi adalah jauh dari itu. Sama sekali tak terjadi benturan yang keras. Sebab waktu tangan Watu Gunung menyentuh tangannya, Mahesa Jenar surut ke belakang selangkah untuk memusnahkan tenaga lawan. Sesudah itu ia gunakan enam bagian tenaganya untuk mendorong lawannya. Watu Gunung sama sekali tidak mengira bahwa ia akan mengalami pelayanan yang demikian. Karena itu seperti bola besi yang dilemparkan ke udara oleh tenaga seekor banteng, ia melayang sebentar dan terjatuh beberapa depa ke belakang. Hanya karena kelincahan dan keuletannya saja maka ia tidak terpelanting dan jatuh bergulingan. Meskipun tubuhnya bergetar, Watu Gunung berhasil tegak di atas kedua kakinya, bahkan ia telah siap pula dengan sebuah pertahanan.

“Bagus. Ulet juga orang ini,” desis Mahesa Jenar.

Tetapi Mahesa Jenar tidak mau memberi kesempatan lagi. Watu Gunung geragapan, cepat-cepat ia rendahkan tubuhnya dan melindungi lambungnya dengan siku. Tapi rupanya Mahesa Jenar tidak betul-betul menyerang lambung itu, sebab sebentar kemudian tangan kanannya sudah berputar mengenai tengkuk Watu Gunung. Kembali Watu Gunung terhuyung-huyung ke samping. Dikerahkannya semua tenaganya untuk menahan tubuhnya supaya tidak jatuh, dan dengan susah payah ia berhasil juga.

Perubahan yang terjadi demikian cepatnya itu, menyebabkan para penonton terkejut bukan kepalang. Malahan kemudian ada yang tidak percaya pada apa yang terjadi. Setan mana yang telah membantu Mahesa Jenar mendapat kekuatan itu.

Samparan beserta ketiga kawannya sampai berdiri. Sebagai orang yang penuh pengalaman, Samparan segera melihat kekuatan Mahesa Jenar yang luar biasa itu. Kalau mula-mula Mahesa Jenar tampak lemah dan tak bertenaga, itu karena ia sedang menjajagi sampai di mana kekuatan lawannya. Kalau mula-mula ia merasa yakin bahwa Watu Gunung akan berhasil, sekarang adalah sebaliknya, ia menjadi yakin kalau Watu Gunung akan binasa, atau setidak-tidaknya namanyalah yang binasa. Rupanya ketiga kawannya pun berpikir demikian juga.

Apalagi Mahesa Jenar telah mendesak demikian hebatnya. Anehnya, serangan serangan Mahesa Jenar tidak tampak membahayakan. Pada suatu kali, ketika Mahesa Jenar meloncat dengan dahsyatnya ke udara, kakinya bergerak menyambar kepala Watu Gunung, sehingga Watu Gunung terpaksa merendahkan diri untuk menghindar. Tetapi segera kaki itu ditarik, dan sekali menggeliat Mahesa Jenar telah berdiri di belakang Watu Gunung. Tangannya bergerak cepat sekali ke arah kepala Watu Gunung. Serentak hati para penonton tergetar. Hampir saja mereka bersorak, karena pasti kepala Watu Gunung akan terhantam. Tetapi rupanya Mahesa Jenar berbuat lain. Ia hanya menyambar saja ikat kepala Watu Gunung yang berwarna merah soga itu.

Mendapat perlakuan ini, wajah Watu Gunung menjadi merah, semerah ikat kepalanya yang disambar Mahesa Jenar itu. Giginya gemeretak menahan marah, dan tubuhnya bergetar secepat getaran darahnya. Bagi orang seperti Watu Gunung, lebih baik kepalanya diremukkan daripada dihina sedemikian.

Ki Asem Gede, yang sejak melihat perubahan sikap Mahesa Jenar sudah mendapat kepastian akan akhir dari pertarungan itu, melihat Mahesa Jenar berbuat demikian tak dapat lagi menahan geli hatinya. Tertawanya melontar tak terkendalikan sampai tubuhnya berguncang-guncang.

Mendengar suara Ki Asem Gede tertawa terkekeh-kekeh, hati Watu Gunung semakin terbakar. Maka secepat halilintar menyambar, tangannya tergerak, dan seleret sinar menyambar dada Mahesa Jenar.

Melihat sinar itu, sesaat Mahesa Jenar bimbang. Kalau ia menghindar, tentu pisau itu akan mengenai salah seorang penonton yang berdiri diluar arena itu. Tetapi ia tidak mempunyai waktu banyak untuk berbimbang-bimbang. Pada saat yang tepat ia miringkan tubuhnya seperti apa yang ia lakukan sewaktu ia menghadapi keadaan yang sama, ketika ia bertempur dengan Lawa Ijo. Tetapi sekarang ia tidak menghendaki pisau itu menelan korban orang yang tak berdosa. Dengan suatu gerakan yang sukar dilihat dengan mata, tangan Mahesa Jenar menyambar tangkai pisau itu. Tahu-tahu pisau itu sudah di tangannya.

Melihat adegan itu, penonton menjadi gempar. Mereka menjadi lupa bahwa diantara mereka masih ada empat orang iblis yang menyaksikan pertunjukan itu dengan penuh kemarahan. Kecenderungan mereka untuk memihak Mahesa Jenar akan menambah dendam keempat orang itu.

Ki Asem Gede yang paling tak dapat menguasai dirinya. Seperti orang anak kecil ia berteriak-teriak memuji. “Bagus …, bagus …, bagus ….”

Tetapi, tiba-Tiba teriakannya dan kegemparan penonton pun mendadak terhenti. Mereka melihat seorang dengan lincah meloncat ke dalam arena sambil memegang sebuah pedang pendek.

Itulah Gagak Bangah. Anggota termuda dari kawanan iblis itu. Rupa-rupanya ia tidak dapat lagi mengendalikan dirinya melihat Watu Gunung dihinakan sedemikian. Meskipun ia merasa bahwa ia sendiri tidak akan mampu melawan Mahesa Jenar, tetapi berdua dengan Watu Gunung adalah lain soalnya. Ia sendiri tidak sekuat Watu Gunung, tetapi ia mempunyai kelebihan dalam hal kecepatan bergerak. Dan kecepatannya itu apabila digabungkan dengan kekuatan tenaga Watu Gunung mungkin akan dapat merobohkan lawan yang bagaimanapun tangguhnya. Melihat seorang kawannya memasuki arena, hati Watu Gunung yang sudah tipis sekali itu menjadi tergugah kembali. Ia sudah tidak peduli lagi kepada peraturan yang ditentukan dalam pertarungan itu.

Melihat seorang lagi masuk dalam arena, Mahesa Jenar terkejut. Ia surut beberapa langkah ke belakang, dan pandangannya mengandung pertanyaan. Tetapi dengan tak banyak cakap, Gagak Bangah sudah memutar pedang pendeknya dan dengan kecepatan yang luar biasa ia menyerang Mahesa Jenar.

“Tunggu,” terpaksa Mahesa Jenar ingin mendapatkan penjelasan sambil meloncat menghindar9i serangan itu, “adakah kau ingin menggantikan Watu Gunung?”

Tetapi, ia tidak mendapat jawaban, bahkan kini Gagak Bangah dan Watu Gunung menyerang bersama-sama.

“Kalian melanggar peraturan,” sambung Mahesa Jenar sambil meloncat menghindari sambaran pedang pendek dan kemudian cepat sekali ia meloncat dua depa ke belakang sebelum kaki Watu Gunung mengenai tungkaknya.

“Tidak ada suatu peraturan pun yang dapat mengikat kami,” teriak Gagak Bangah dengan garangnya. “Kami berdiri di atas segala peraturan. Kalau kami berhak menentukan peraturan, kami pun berhak mengubah atau menghapus peraturan itu.”

Mahesa Jenar jadi sadar bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang licik dan tidak bersikap jantan. Ia paling benci pada sifat-sifat yang demikian. Ia lebih menghargai seseorang yang mengakui kekalahannya daripada orang yang licik dan curang. Itulah sebabnya kemarahan Mahesa Jenar tergugah.

Tetapi ia sekarang berhadapan dengan dua orang yang mempunyai keistimewaan masing-masing dan tergolong dalam tingkatan yang cukup tinggi. Karena itu ia harus mengerahkan sebagian besar kepandaiannya.

Ki Asem Gede yang menyaksikan kecurangan itu pun menjadi gusar. Untuk melawan dua orang, belum tentu Mahesa Jenar dapat menang. Karena itu ia sudah membulatkan tekad untuk melibatkan diri dalam pertempuran itu. Tetapi baru saja ia akan meloncat, tiba-tiba terdengarlah sebuah bisikan, “Jangan berbuat sesuatu Ki Asem Gede.” Ki Asem Gede terkejut bukan kepalang. Dan terasa di kedua belah lambungnya melekat ujung senjata tajam. Ketika ia menoleh, dilihatnya Wisuda dan Palian, yakni anggota ke-3 dan ke-4 dari kawanan iblis itu berdiri di belakangnya dan mengancamnya dengan keris. Maka terpaksa Ki Asem Gede mengurungkan niatnya, meskipun hatinya bergelora hebat, sambil menanti suatu kesempatan.

Sementara itu, pertempuran di arena bertambah hebat. Gagak Bangah dengan gesitnya menyambar-nyambar sambil mempermainkan pedang pendeknya, seperti seekor Sikatan menyambar belalang. Sedangkan Watu Gunung pun dengan mengandalkan kekuatannya menyerang dengan garangnya. Apalagi kini ia telah memegang pula sebuah belati panjang yang dicabutnya dari bawah kainnya, seperti yang dilemparkan tadi.

Tetapi, Mahesa Jenar pun ternyata tidak mengecewakan. Diam-diam ia merasa bersyukur bahwa dengan tidak sengaja Watu Gunung telah memberinya sebilah pisau belati panjang. Dan dengan senjata itu ia melayani kedua lawannya. Ia pernah mendengar bahwa belati kawanan Lawa Ijo terkenal keampuhannya serta terbuat dari baja pilihan. Apalagi kini senjata itu ada di tangan Mahesa Jenar yang mempunyai kepandaian dalam mempergunakan segala macam senjata. Maka dalam waktu yang singkat ujung belati itu dengan dahsyatnya menyerang lawannya dan seolah-olah berubah menjadi beribu-ribu mata pisau yang mematuk-matuk dengan garangnya.

Keadaan yang seimbang dari pertempuran itu tidak berlangsung lama. Sebab segera Mahesa Jenar berhasil mendesak lawannya ke dalam keadaan yang sulit. Sebenarnya Mahesa Jenar tidak biasa membinasakan lawannya, apalagi tidak ada sebab-sebab yang memaksa. Ia lebih suka mengampuni seseorang apabila orang itu sudah tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi tidak demikian halnya terhadap orang-orang yang licik dan curang. Sebab orang-orang yang demikian sudah tidak menghargai lagi sifat-sifat kejantanan dan kekesatriaan. Orang-orang semacam itulah yang selalu akan menimbulkan bencana. Karena itu terhadap orang-orang yang demikian, juga kepada lawannya itu, Mahesa Jenar telah mengambil keputusan untuk membinasakan sama sekali.

Maka segera ia merangsang lawannya lebih hebat lagi. Pisau panjang yang berada di tangannya itu bergerak semakin cepat sehingga hampir merupakan gumpalan gumpalan sinar yang bergulung-gulung mengerikan sekali.

Watu Gunung dan Gagak Bangah sama sekali tidak menduga bahwa Mahesa Jenar memiliki kepandaian yang demikian tinggi. Maka diam-diam mereka berdua mengeluh dalam hati. Karena mereka tadi memberi kesempatan kepada orang ini untuk bertanding membela anak Ki Asem Gede. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh mereka berdua.

Maka, sesaat kemudian terdengarlah bunyi berdentang dari senjata yang beradu. Ternyata pisau panjang Mahesa Jenar telah menyambar pedang pendek Gagak Bangah. Sambaran itu begitu kuatnya sehingga tangan Gagak Bangah merasa nyeri sekali. Belum lagi ia dapat memperbaiki keadaannya, kembali pedangnya disambar oleh pisau Mahesa Jenar. Dan benar-benar kali ini ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa sehingga pedangnya terpental jatuh.

Melihat keadaan itu, Watu Gunung segera berusaha menolong kawannya. Dengan lompatan yang cepat ia mendesak maju, dan membabat tangan Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar telah menarik tangannya kembali dan dengan sisi telapak tangan kirinya ia menghantam pergelangan tangan Watu Gunung. Hantaman itu sedemikian kerasnya terlepas dari tangannya. Maka kini sampailah saatnya untuk mengakhiri pertempuran.

Tetapi, Mahesa Jenar tidak mau membunuh lawannya dengan senjata. Segera dilemparkannya belati itu, dan secepat kilat sebelum Watu Gunung dan Gagak Bangah sempat menjatuhkan dirinya, kedua tangan Mahesa Jenar masing-masing meraih kepala kedua orang itu. Dengan tenaga yang didasari kegusaran hati, dibenturkannya kedua kepala itu sekuat tenaga. Maka terdengarlah suara hampir seperti sebuah ledakan diikuti oleh jerit ngeri melengking. Sekejap kemudian suara itu terputus dan kedua orang itu rebah di tanah dengan kepala pecah.

Berbareng dengan itu. Ki Asem Gede yang melihat bahwa pertempuran itu hampir selesai, segera memutar otaknya. Bagaimana ia dapat membebaskan diri dari ancaman Wisuda dan Palian. Sebab tidak mustahil apabila kedua orang itu melihat kedua kawannya dibinasakan, maka mereka pun akan dibinasakan pula. Maka untuk sementara Ki Asem Gede berbuat seperti orang yang ketakutan dan tak berdaya. Tetapi, ketika Wisuda dan Palian baru memperhatikan saat-saat terakhir dari kedua kawannya, Ki Asem Gede segera bertindak. Dengan kecepatan yang luar biasa ia merendahkan dirinya dan kedua tangannya menangkap pergelangan Wisuda dan Palian yang memegang senjata. Dengan sekuat tenaga kedua orang itu ditarik ke depan lewat atas pundaknya, dan pada saat kedua orang itu terpelanting dengan kedua kakinya di atas, Ki Asem Gede mengubah gerakannya dengan menyentakkan kedua tangan korbannya itu kembali ke belakang. Dengan demikian kedua orang yang sebelumnya sama sekali tidak curiga itu terangkat dan dengan dahsyatnya terbanting ke depan. Kepala dua orang itu membentur tanah. Maka tanpa ampun lagi kedua orang itu lehernya terpuntir dan nafasnya putus seketika.

Orang-orang yang melingkari arena, melihat dua kejadian yang mengerikan dan terjadi pada saat yang hampir bersamaan itu, terdiam seperti patung. Bahkan tubuh mereka hanya dapat sebentar memandang Mahesa Jenar dan sebentar memandang Ki Asem Gede, yang sesudah mengeluarkan seluruh tenaganya itu kemudian menjadi lemas dan terduduk di atas tanah.

Mahesa Jenar tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ki Asem Gede. Maka ketika ia melihat keadaannya, ia menjadi cemas. Cepat-cepat ia melangkah menghampirinya. Dan pada saat yang demikian para penonton menjadi tersadar tentang apa yang baru saja terjadi. Segera terjadilah kegemparan. Beberapa orang berdesak-desakan ingin menyaksikan mayat-mayat di tengah arena itu, tetapi sebagian ingin melihat apa yang terjadi dengan Ki Asem Gede. Tetapi, kegemparan itu segera berubah menjadi jeritan yang hampir bersamaan keluar dari beberapa mulut para penonton. Sebab pada saat Mahesa Jenar sudah hampir sampai pada tempat Ki Asem Gede terduduk, ada tombak meluncur yang datangnya sangat cepat. Apalagi Mahesa Jenar sama sekali tak mengetahui, karena perhatianya tertuju pada Ki Asem Gede. Mendengar jeritan-jeritan itu Mahesa Jenar terhenti. Dan segera perasaannya yang tajam menangkap bahwa ada sesuatu terjadi di belakangnya. Cepat-cepat ia membalikkan diri. Semuanya itu terjadi hanya dalam waktu yang singkat, maka tak ada kemungkinan bagi Mahesa Jenar untuk menghindarkan diri. Maka yang dapat dilakukannya hanyalah, dengan tangannya melindungi dada.

Tetapi ketika tombak itu hampir menancap di tubuh Mahesa Jenar, terjadilah suatu benturan yang dahsyat diiringi dengan suara gemericing senjata beradu, sehingga timbullah bunga api yang memancar. Kembali para penonton terkejut bukan main. Kecuali Mahesa Jenar dan Ki Asem Gede, tak seorangpun yang melihat bahwa dari arah lain menyambar pula sebuah senjata sehingga membentur tombak yang hampir saja menembus tubuh Mahesa Jenar.

Apalagi ketika dua senjata yang beradu itu jatuh di tanah, maka darah orang-orang yang berkeliling arena itu berhenti dibuatnya. Ternyata tombak yang dilempar kearah Mahesa Jenar itu patah ujungnya, sedangkan di sampingnya menancap sebuah trisula.

“Mantingan…!” Teriak salah seorang diantara mereka.

“Ya, Dalang Mantingan,” sahut yang lain. Dan sebentar kemudian arena itu telah dipenuhi oleh teriakan orang menyebut nama Mantingan. Memang, Mantingan telah terkenal di daerah itu sejak beberapa waktu yang lampau. Tetapi kemudian lama ia tidak muncul, dan sekarang mereka melihat lagi sebuah trisula, yang bertangkai kayu berian, dan pada pangkalnya berukiran kuncup bunga kamboja. Hampir semua orang mengenal benda itu. Di mana benda itu berada, di sana Mantingan pasti ada, dan sebaliknya.

Tetapi meskipun mereka sudah mengetahui hal itu, ketika mereka mengikuti arah pandangan mata Mahesa Jenar, darah mereka tersirap juga melihat seseorang duduk dengan tenangnya di atas seekor kuda yang berwarna abu-abu. Sungguh mengagumkan. Tetapi, kekaguman mereka segera berubah menjadi keheran-heranan ketika mereka melihat Ki Dalang Mantingan, yang mempunyai nama demikian agungnya itu menunduk hormat kepada Mahesa Jenar.

“Malaikat manakah orang ini, sehingga orang seperti Mantingan masih juga menunduk hormat?” pikir mereka.

Tetapi mereka tidak sempat berpikir banyak, sebab mereka segera melihat Mantingan meloncat turun dan memburu ke arah dari mana tombak pendek tadi dilemparkan.

“Kau Samparan?” desis Mantingan.

Dan tampaklah diantara penonton, Samparan yang pucat dan gemetar. Ia kenal betul kepada Mantingan. Kalau pada saat yang lalu ia masih berani membusungkan dada, itu karena membanggakan kekuatan mereka berlima. Tetapi kini empat kawannya telah mengalami nasib yang mengerikan, sehingga hatinya pun berubah menjadi kerdil.

“Masih inginkah kau mengadakan sayembara tanding?” tanya Mantingan melanjutkan.

“Ampun Ki Dalang. Aku hanya sekadar menuruti permintaan Watu Gunung,” jawab Samparan gemetar.

Mantingan tersenyum mendengarkan jawaban ini, dan ia heran pula melihat kelakuan Samparan yang begitu pengecut.

Sementara itu Mahesa Jenar dan Ki Asem Gede yang sudah agak pulih kekuatannya telah pula berdiri di samping Mantingan. Melihat tokoh-tokoh itu, hati Samparan semakin kecil dan wajahnya semakin putih. Untunglah bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang berhati lapang, selapang lautan yang sanggup menampung aliran sungai.

“AKU ampuni kau kalau anakku pada saat ini masih seperti pada saat kau ambil dari suaminya,” kata Ki Asem Gede kemudian.

“Demi Tuhan, putrimu disentuh pun tidak,” jawab Samparan cepat-cepat.

“Antarkan aku padanya,” perintah Ki Asem Gede.

Segera Samparan mempersilahkan Ki Asem Gede, Mahesa Jenar dan Mantingan untuk mengikutinya. Lewat Gandok sebelah barat, mereka masuk ke belakang menyusup masuk ke dapur, dan di sana mereka masuk ke kamar mandi yang kosong tak berair. Ternyata dasar kolam kamar mandi itu adalah sebuah pintu rahasia untuk memasuki ruang di bawah tanah.

Ki Asem Gede dan kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Apakah tempat itu bukan suatu alat perangkap saja.

“Kau mau main gila Samparan?” tanya Ki Asem Gede dengan suara geram.

“Mana aku berani berbuat sesuatu terhadap kalian,” sahut Samparan bersungguh-sungguh. Meskipun demikian mereka harus berhati-hati juga. Ki Asem Gede kemudian berjalan dahulu, baru Samparan di belakangnya kemudian Mahesa Jenar dan Mantingan dengan trisulanya di belakangnya lagi sambil mengawasi kalau-kalau Samparan akan mengkhianati mereka. Ruang di bawah tanah itu terdiri dua bagian. Bagian pertama adalah sebuah ruangan yang terbuka dan kosong, diterangi beberapa obor yang ditancapkan pada dinding ruangan. Di bagian atas ruangan tampak beberapa lubang udara yang dengan jalur-jalur bumbung dari tanah liat dihubungkan dengan udara terbuka. Sedang bagian kedua adalah sebuah ruang yang dipisahkan oleh sebuah dinding papan dengan ruang yang pertama. Dinding itu mempunyai sebuah pintu yang kuat dan dikancing dengan sebuah palang kayu yang cukup besar.

“Di situlah Nyai Wirasaba disimpan oleh Watu Gunung,” kata Samparan sambil menunjuk pada palang pintu yang besar itu.

Ki Asem Gede jadi tertegun. Ia ragu-ragu untuk membuka pintu itu. Jangan-jangan ada sesuatu yang berbahaya. Rupanya Samparan mengerti isi hati Ki Asem Gede, maka sambungnya, “Bolehkah aku membukanya?”

Ki Asem Gede masih ragu-ragu sebentar, tetapi kemudian katanya, “Bukalah, tetapi jangan main gila.”

Samparan maju perlahan-lahan mendekati pintu itu. Matanya memandang dengan tajam, seakan-akan ingin melihat langsung ke dalam ruangan yang tertutup itu. Baru setelah ia merenung sejenak, tangannya bergerak membukanya.

Baru saja pintu itu terbuka, serentak mereka terkejut melihat seorang yang meloncat keluar dan langsung menyerang Samparan dengan sebuah patrem. Untunglah bahwa Samparan sempat menghindar. Tetapi serangan itu tidak hanya terhenti di situ, bahkan bertambah sengit. Hanya sayang bahwa penyerangnnya tidak mempunyai pengetahuan tata berkelahi yang cukup sehingga dengan mudahnya Samparan mengelakkan diri.

Ketika orang itu melihat beberapa orang lain berada di tempat itu, apalagi setelah melihat Ki Asem Gede, ia jadi tertegun dan sebentar kemudian berubah menjadi keheran-heranan.

Tetapi sesaat kemudian ia berlari menjauhkan diri dan memeluk kaki Ki Asem Gede. Ia Nyai Wirasaba, putri Ki Asem Gede.

“Ayah!” serunya. Tetapi kemudian suaranya di kerongkongan. Ki Asem Gede pun memandang putrinya dengan terharu. Dengan susah payah ia berhasil membendung air matanya sehingga tidak mengalir. Baru beberapa lama ia tidak mengujungi putrinya itu. Dan sekarang ia menyaksikan putrinya dalam keadaan yang menyedihkan.

Orang-orang yang menyaksikan perisitiwa itu, mau tidak mau juga merasa terharu. Bahkan Samparan, seorang iblis yang selama ini tidak mempunyai rasa perikemanusiaan sedikitpun, menyaksikan hal itu dengan suatu perasaan yang aneh. Perasaan yang belum pernah dimilikinya.

Setelah suasana agak reda, segera mereka keluar dari ruangan di bawah tanah itu, dan untuk menenangkan perasaan Nyai Wirasaba, mereka sementara waktu beristirahat di gandok sebelah barat.

“Setan-setan itu tidak berbuat jahat kepadamu?” tanya Ki Asem Gede kepada putrinya.

Nyi Wirasaba tidak segera menjawab. Tetapi ia memandang Samparan dengan pandangan yang jijik, benci dan penuh kemarahan.

“Manakah kawan-kawan iblis itu?” tanyanya kepada Ki Asem Gede, tetapi sementara itu beberapa kali Nyi Wirasaba memandang Mahesa Jenar dan Mantingan dengan penuh pertanyaan. Lamat-lamat ia ingat, bahwa dengan Mantingan ia pernah berkenalan. Tetepi di mana, dan kapan? Sedangkan yang satu lagi sama sekali ia belum pernah melihat.

Ki Asem Gede mengerti perasaan putrinya, maka segera diceritakan apakah yang sudah terjadi. Dan tiba-tiba saja Nyi Wirasaba berdiri lalu membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar dan Mantingan. Dengan suara yang terputus-putus ia menyatakan betapa besar terima kasihnya atas pertolongan mereka. Sekaligus ia teringat bahwa Mantingan telah dikenalnya pada waktu mereka masih sama-sama kecil. Tetapi yang kemudian tak lagi pernah bertemu sejak Mantingan mengikuti gurunya ke Wanakerta.

Sementara, Mahesa Jenar dan Mantingan tak habis-habisnya memandangi wajah Nyi Wirasaba. Wajarlah kiranya kalau Watu Gunung tergila-gila kepadanya. Betapa bahagianya orang itu, yang telah menerima anugerah Tuhan berupa kecantikan wajah yang sempurna, dan keserasian tubuh yang tanpa cela. Mantingan yang pada masa kanak-kanaknya sering bermain dan bertengkar bersama, tidak pernah membayangkan bahwa pada usia dewasanya perempuan ini akan memiliki kelebihan dari kawan-kawannya sepermainan. Tetapi, tak seorang pun yang mengetahui bahwa Nyai Wirasaba sendiri selalu meratap di dalam hati, menyesali nasibnya yang jelek. Karena memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bulat, yang telah beberapa kali menjeratnya ke dalam kesulitan-kesulitan yang hampir tak dapat diatasi. Bahkan pada saat yang terakhir ini, ia telah mengambil keputusan bahwa apabila tak ada pertolongan yang datang, ia lebih baik mengakhiri hidupnya dengan sebilah patrem yang berhasil dibawanya di dalam sabuknya, daripada hidup di dalam lingkungan iblis-iblis itu. Setelah perasaan Nyi Wirasabaa agak tenang, maka segera Ki Asem Gede mengajaknya meninggalkan rumah itu. Di luar masih banyak orang yang sejak tadi belum mau meninggalkan halaman itu. Meskipun mereka setiap hari melihat wajah Nyi Wirasaba, kalau Nyi Wirasaba kebetulan pergi ke pasar atau ke sawah, tetapi kali ini mereka ingin juga melihat wajah itu. Wajah yang menjadi sebab berakhirnya kelaliman Samparan dan kawan-kawannya. Ketika Nyi Wirasaba tampak melangkah ke luar pintu rumah Samparan, orang-orang berdesak-desakan mengerumuninya. Nyi Wirasaba menunduk malu. Di belakangnya menyusul Ki Asem Gede, Mantingan, Mahesa Jenar dan kemudian Samparan.

Suasana segera berubah menjadi tegang kembali ketika tiba-tiba Mahesa Jenar membalikkan diri, dan secepat kilat menangkap tangan Samparan dan diputarnya ke belakang. Samparan terkejut bukan kepalang, sambil menyeringai kesakitan. Tangan Mahesa Jenar yang menangkapnya itu begitu erat seperti tanggem besi yang menjepit tangannya. Bahkan tidak hanya Samparan yang terkejut, tetapi juga orang-orang yang menyaksikan, termasuk Ki Asem Gede dan Mantingan.

“Adakah aku berbuat salah?” rintih Samparan.

“Kau tidak berbuat salah, tetapi aku ingin mendapat keterangan dari kau,” jawab Mahesa Jenar.

Samparan dan orang-orang yang menyaksikan sibuk menduga-duga, keterangan apakah gerangan yang dikehendaki oleh Mahesa Jenar.

“Samparan,” Mahesa Jenar melanjutkan, “kau dan Watu Gunung adalah termasuk dalam satu gerombolan yang mempunyai persamaan kesenangan. Yaitu berbuat kejahatan. Dalam dunia kejahatan, sahabat jauh lebih berharga dari saudara, bahkan orang tua. Rahasia rahasia yang tak pernah didengar oleh keluarga sendiri, kadang-kadang didengar oleh sahabat-sahabatnya. Nah, katakanlah, aku yakin kau mengetahuinya, apakah hubungan Watu Gunung dengan Lawa Ijo?”.

Mendengar pertanyaan ini Samparan terkejut seperti disambar petir meleset. Tidak pula kalah terkejutnya Ki Asem Gede, Mantingan dan mereka yang ikut mendengarnya. Nama Lawa Ijo adalah nama yang tabu diucapkan. Sebab dengan menyebut namanya saja, sudah cukup alasan bagi Lawa Ijo untuk membunuh. Meskipun pada saat-saat terakhir Lawa Ijo tidak pernah lagi muncul, tetapi apabila nama itu disebutkan, orang yang mendengarnya telah cukup menggigil ketakutan.

Samparan tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ia berdiri pada suatu titik yang berbahaya sekali. Ia semakin takut kepada Mahesa Jenar, yang sama sekali tak diduganya akan mengajukan pertanyaan semacam itu. Dari manakah gerangan ia mencium kabar tentang Watu Gunung dan hubungannya dengan Lawa Ijo? Teranglah bahwa ia bukan orang sejajarnya, bahkan tidak sejajar dengan Mantingan. Kalau tidak, ia tidak akan seenaknya saja menyebut nama Lawa Ijo.

Ki Asem Gede dan Mantingan pun tergetar juga hatinya. Mereka berdua pun maklum akan kehebatan Lawa Ijo.

“Jawablah!”- desak Mahesa Jenar. Sementara itu, pegangannya pun makin dikuatkan. Samparan berdesis menahan sakit.

“Aku tak tahu,” jawab Samparan mencoba berbohong. Tetapi belum lagi ia selesai mengucapkan jawabannya, tangannya yang terpuntir itu terasa semakin sakit, dan terangkat ke atas.

“Kau tak mau menjawab?” geram Mahesa Jenar.

Keringat dingin memenuhi tubuh Samparan. Ia merasa serba salah, dan seakan-akan ia telah dihadapkan pada suatu keharusan memilih, mati di tangan Lawa Ijo atau Mahesa Jenar.

“Aku tak mengetahui seluruhnya. Aku hanya pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh Watu Gunung,” jawab Watu Gunung.

“Apa katanya?” desak Mahesa Jenar pula. Kembali Samparan ragu-ragu.

“Kau takut kepada Lawa Ijo?” bentak Mahesa Jenar yang sudah mulai jengkel. “Bagus. Kau takut dibunuhnya. Tetapi bagaimana kalau yang melaksanakan pembunuhan itu aku?” lanjut Mahesa Jenar.

Tubuh Samparan mulai menggigil. Ia sudah melihat kedua kawannya dipecahkan kepalanya oleh orang itu. Kalau ia tidak menuruti perintahnya, jangan-jangan kepalanya akan dipecahkan pula. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk berkata, dengan harapan Lawa Ijo sudah tidak akan muncul kembali.

“Yang aku ketahui,” katanya, “Watu Gunung adalah tidak saja anggota gerombolan itu, tetapi ia adalah saudara muda seperguruan Lawa Ijo.”

Mendengar jawaban Samparan ini, orang-orang jadi gemetar dan ketakutan. Saudara muda Lawa Ijo binasa di desa mereka.

“Katakan yang lain, aku jadi tanggungan kalau Lawa Ijo marah,” sahut Mahesa Jenar. Samparan merasa bahwa ia tidak dapat berbuat lain daripada menuruti perintah itu.

“Watu Gunung pasti pernah berkata, di mana Lawa Ijo sekarang.”

Samparan dengan sangat terpaksa akan menjawab pertanyaan itu. Tetapi sebelum mulutnya bergerak, tiba-tiba ia merasa Mahesa Jenar mendorongnya sehingga ia terpelanting jatuh. Dan sementara itu sebuah pisau belati melayang tepat lewat tempatnya berdiri tadi, langsung mengenai dinding dan tembus masuk ke dalam rumah. Dalam pada itu, berkelebatlah sesosok tubuh di antara penonton meloncat lari meninggalkan halaman. Mantingan tidak mau melepaskan orang itu begitu saja. Secepat kilat ia memburunya, yang kemudian disusul oleh Mahesa Jenar. Tetapi Mantingan belum berpengalaman menghadapi orang-orang gerombolan Lawa Ijo. Maka ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang yang dikejarnya itu tiba-tiba berhenti membalikkan diri, dan sebuah sinar putih menyambar dadanya. Mantingan terkejut bukan main. Secepat kilat ia memukul sinar putih itu dengan trisulanya. Terdengarlah suara berdentang dengan hebatnya. Tangan Mantingan yang memegang trisula itu bergetar hebat, sedangkan pisau yang dilemparkan ke dadanya itu berubah arah. Tetapi meskipun demikian, lengannya tergores juga sedikit. Ia tertegun mengalami peristiwa itu. Dan Mahesa Jenar yang melihat darah di lengan Mantingan jadi terhenti pula. Dan sementara itu orang yang telah melemparkan pisau itu sempat menyelinap di antara pepohonan dan menghilang. Dari kejauhan terdengarlah gema suara orang tertawa. Suara itu mengiris ulu hati seperti suara ringkikan hantu kubur.

“Lawa Ijo telah datang,” desis Mahesa Jenar.

“Diakah Lawa Ijo?” tanya Mantingan.

“Mungkin, tetapi setidak-tidaknya salah seorang dari gerombolan itu,” jawab Mahesa Jenar. “Aku ingin suatu kali dapat bertemu dengan Lawa Ijo. Nah lupakan dia Kakang Mantingan untuk sementara. Marilah kita kembali. Mungkin Samparan dapat menunjukkan tempatnya,” lanjut Mahesa Jenar.

Maka segera mereka kembali ke rumah Samparan. Tampaklah orang-orang yang masih berdiri di halaman itu berwajah pucat-pucat ketakutan. Beberapa diantaranya menggigil, terduduk tak berdaya. Apalagi waktu terdengar suara tertawa di kejauhan.

Ketika Ki Asem Gede melihat tangan Matingan berdarah, cepat ia berlari menyongsongnya.

“Kau terluka?” tanya Ki Asem Gede.

Mantingan mengangguk mengiakan.

Cepat-cepat Ki Asem Gede memeriksa luka itu. Dan sebentar kemudian tampak ia mengangguk-angguk. “Tidak beracun,” gumamnya. “Karena itu marilah kita lekas meninggalkan tempat ini dan menyerahkan kembali anakku kepada suaminya. Sementara itu aku dapat mengobati luka Adi Mantingan, yang untung tak berbahaya”.

Tetapi, sementara itu Ki Asem Gede melihat Samparan seperti orang yang tidak sadar terduduk, di tanah. Tingkah Samparan tampaknya menggelikan. Sifat-sifat garangnya sama sekali tak berbekas. Apalagi setelah ia hampir saja disambar pisau. Yang ia tahu pasti, bahwa itulah pisau gerombolan Lawa Ijo.

“Samparan, kau kenapa?” tegur Mahesa Jenar.

Samparan memandang kepada Mahesa Jenar dengan mata yang layu dan mengandung suatu permohonan untuk mendapat perlindungan.

Mahesa Jenar menangkap maksud itu. “Samparan, kau jangan berbuat demikian. Tidakkah kau malu pada dirimu sendiri? Bagaimanapun kau adalah laki-laki yang mengenal cara untuk membela diri. Meskipun demikian, kalau kau memang merasa tak mampu berdiri sendiri, kau dapat mengikuti Kakang Mantingan nanti ke Prambanan. Aku memang masih memerlukan engkau. Tetapi pada saat ini kau barangkali tidak lagi dapat mengucapkan sepatah kata pun. Kakang Mantingan nanti kalau kembali ke Prambanan, akan mampir kemari menjemputmu. Dan percayalah bahwa pada waktu ini Lawa Ijo tidak akan berani menginjak rumah ini. Sebaliknya kau pun jangan meninggalkan rumah ini. Sebab ada dua kemungkinan, ditangkap oleh Lawa Ijo atau akulah yang akan memburumu” .

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang meyakinkan itu, Samparan menjadi agak tenang sedikit. Perlahan-lahan ia berdiri dan membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar. Ia mempunyai suatu kesan yang aneh. Kehebatannya, kegarangannya, tetapi juga keluhuran budinya. Sehingga tidak langsung, ia telah memandang ke dirinya sendiri, yang beberapa saat lalu masih merasa sebagai seorang yang tak terkalahkan. Alangkah luasnya dunia ini. Dan berapa saja orang-orang yang sakti tinggal di dalamnya. Baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih. Yang satu memenangkan yang lain, dan yang lain lagi dapat mengatasinya pula. Dalam waktu yang sesingkat itu, Samparan telah menyaksikan orang-orang seperti Watu Gunung, Ki Asem Gede, Mantingan, Lawa Ijo, dan Mahesa Jenar. Belum lagi nama-nama yang pernah didengarnya dan yang belum dikenalnya.

Segera setelah itu, Ki Asem Gede beserta kawan-kawannya meninggalkan tempat itu untuk menghantar Nyi Wirasaba kepada suaminya yang rumahnya tak begitu jauh, hanya berantara dua bulak yang tak begitu lebar.

Di perjalanan itu, timbullah suatu pertanyaan di hati Mahesa Jenar maupun Mantingan. Sebenarnya pertanyaan itu telah timbul sejak mereka mengetahui persoalan Nyi Wirasaba. Dalam persoalan ini, kenapa Ki Wirasaba sendiri tidak berbuat sesuatu untuk membebaskan istrinya? Bahkan yang didengar oleh Mahesa Jenar dari murid Wirasaba yang menghadap Ki Asem Gede, sudah ada dua orang murid Wirasaba terluka. Mengingat bahwa Ki Wirasaba sedikitnya memiliki empat orang murid, menunjukkan bahwa ia pun memiliki pengetahuan tentang tata berkelahi, tetapi ia tak berbuat apa-apa. Itulah suatu hal yang aneh. Mungkinkah Ki Wirasaba tidak mencintai istrinya, atau barangkali terikat sesuatu perjanjian dengan Samparan dan kawan-kawannya?

Mahesa Jenar dan Mantingan, seperti orang yang sepakat untuk tidak menanyakan hal itu. Mereka takut kalau-kalau ada suatu rahasia yang dapat menyinggung kehormatan Ki Asem Gede.

Setelah mereka berjalan beberapa lama, segera mereka memasuki desa tempat Ki Wirasaba tinggal.

Rumah Ki Wirasaba adalah rumah yang cukup besar, berdiri di tepi jalan induk di desanya. Berhalaman luas dan mempunyai ciri-ciri yang agak berbeda dengan halaman di sekelilingnya. Halaman Ki Wirasaba disegarkan oleh tanaman-tanaman berbunga yang berdaun hijau sejuk. Di sudut halaman terdapat sebuah jambangan berisi air yang bersih bening. Dan di sana-sini bergantung sangkar-sangkar burung. Berkeliaran pula binatang-binatang piaraan ayam, itik, angsa dan sebagainya. Halaman itu berdinding batu merah yang disusun teratur, yang seakan-akan menjadi batas dari dua daerah yang tampak sangat berlainan. Halaman-halaman lain di desa itu masih ditumbuhi bermacam-macam pohon serba tak teratur. Bahkan di sana-sini masih ada pohon-pohon liar yang tumbuh, rumpun-rumpun bambu yang hebat, pohon beringin tua, dan randu alas, yang masih merupakan tempat-tempat yang dianggap keramat oleh penduduk di sekitarnya.

Mahesa Jenar dan Mantingan waktu melangkahkan kaki memasuki halaman rumah Ki Wirasaba, telah dijalari suatu perasaan aneh. Mereka berdua adalah orang-orang yang telah banyak melihat daerah-daerah lain, bahkan kota-kota besar, tetapi jarang mereka merasakan kesejukan seperti yang dirasakan pada saat itu. Alangkah mesranya tangan yang telah menggarapnya, sehingga halaman itu menjadi begitu indahnya.

Tetapi mereka tidak sempat merasakan kesejukan itu lebih lama lagi. Tiba-tiba mereka tersentak melihat Nyi Wirasaba yang tiba-tiba saja berlari mendahuluinya. Pintu rumah itu, yang ternyata tidak terkunci, didorongnya kuat-kuat sehingga hampir saja ia jatuh tertelungkup. Ia segera menghilang di balik pintu rumahnya. Segera setelah itu terdengarlah suara Nyi Wirasaba bercampur isak yang tertahan. “Kakang …, Kakang Wirasaba …, aku kembali Kakang. Kembali kepadamu….” Sesudah itu, yang terdengar hanyalah tangis Nyi Wirasaba yang tak tertahan lagi.

Ki Asem Gede, Mantingan dan Mahesa Jenar tertegun sejenak. Suatu peristiwa yang mengharukan. Pertemuan antara seorang istri dengan suaminya yang dicintai, setelah mereka dipisahkan beberapa saat tanpa adanya suatu harapan untuk dapat bertemu kembali.

Ki Asem Gede bertiga berdiri saja di muka pintu seperti patung.

Sebentar kemudian terdengarlah suara yang berat dan dalam. “Nyai, masihkah aku berhak menerima kau kembali? Atau masih berhakkah kau kembali kepadaku …?”

———-oOo———-

Lanjutan Silahkan Sabar Tunggu Updatenya... Segera!

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 07:39

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.