Potensi Kulit Kakao Sebagai Pakan Ternak Sapi

Posted by

loading...

loading...
Pakan Ternak Sapi Alternatif, Kulit Buah Kakao

Berdasarkan data dari Deptan, 2009. Lahan penanaman kakao mencapai 1.272,8 hektar dengan produksi 671,4 ton, mengalami peningkatan pada tahun 2008 menjadi 1.364,4 hektar dengan produksi 721,4 ton. Saat ini, luas tanaman kakao di Kabupaten Kapahiang provinsi Bengkulu tercatat sekitar 7.356 hektar.Sementara tanaman kakao terluas di Bengkulu terdapat di Kabupaten Bengkulu Utara.Di daerah ini luas tanaman kakao lebih kurang 8.500 hektar, tersebar di beberapa kecamatan.Sehingga limbah yang dihasilkan dari tanaman kakao ini sangat berlimpah.
Kakao merupakan salah satu tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan kalsium. Dalam prosesnya, kakao akan menhasilkan limbah yang berbentuk kulit kakao yang sangat banyak dan tersedia melimpah, sehingga kakao bisa dijadikan salah satu sumber pakan untuk pertumbuhan ternak. Menurut Guntoro et al., (2006) Kulit buah kakao (Shel food husk) kandungan nutrisinya terdiri atas P 8,11%, SK 16,42%,L 2,11%,Ca 0,08%,P 0,12% dan penggunaannya oleh ternak ruminansia 30-40, sedangkan menurut Amirroenas (1990) kulit kakao mengandung selulosa 36,23%, hemiselulosa 1,14% dan lignin 20%-27,95%.

Dengan demikian maka kakao sangat penting sebagai salah satu sumber pakan untuk mengganti pakan ternak yang berupa hijauan yang keberadaannya masih terbatas di Bengkulu.Propinsi Bengkulu memiliki luas wilayah19.788.7 km2 atau 1.978.870 ha., dengankawasan budidaya seluas 1.000.963 hasebagian besar (85,65%) terdiri dari lahankering yaitu seluas 857.338 ha. Kelapa sawit sebagai komoditi yang sangat diminati masyarakat, arealnya berkembang sangat pesat hingga mencapai luas tanam 82.939 ha, dikelola perkebunan besar swasta/negara 44.159 ha dan milik masyarakat 38.680 ha.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketersediaan pakan hijauan menjadi terbatas, sehingga diperlukan alternative lain yang bisa dilakukan sebagai pengganti hijauan pakan ternak.

Limbah kulit kakao dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, terutama ternak domba.Karena kakao mengandung sebagian besar adalah karbohidrat maka pakan yang akan terbentuk ialah merupakan pakan serat. Sehingga didalam pemanfaatannya sangat cocok digunakan sebagai pakan ternak domba atau kambing maupun ternak ruminansia besar lainnya.yang bisa mencerna pakan yang berbentuk serat.

Komposisi gizi limbah kulit buah kakao

Diketahui kandungan nutrien KBK adalah BK 89,99%, PK 6,39%, LK 1,82%, dan SK 31,21% (Munier, 2009). Laconi (1998) menemukan KBK mengandung SK yang tinggi (55,67%) dan protein yang rendah (8,35%).Kulit buah kakao hanya bisa digunakan sebagai pakan ternak ruminansia saja, karena selain kandungan proteinnya yang sedikit.Tetapi juga serat kasarnya sangat tinggi.

Menurut Guntoro et al., (2006) Kulit buah kakao (Shel food husk) kandungan nutrisinya terdiri atas P 8,11%, SK 16,42%,L 2,11%,Ca 0,08%,P 0,12% dan penggunaannya oleh ternak ruminansia 30-40, sedangkan menurut Amirroenas (1990) kulit kakao mengandung selulosa 36,23%, hemiselulosa 1,14% dan lignin 20%-27,95%.Berdasarkan pendapat diatas, maka perlu perlakuan lebih lanjut terhadap kulit buah kakao.Agar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Produksi limbah kulit kakao

Data dari BPS (2011) me-nunjukkan bahwa produksi kakao di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 70.919 ton.Sehingga kulit buah kakao bisa digunakan sebagai pakan ternak. Guntoro (2008) menyebutkan proporsi KBK bisa mencapai 74 hingga 75% dari berat total buah dan masih mengandung daging buah (flacenta) sekitar 2,5%.Sehingga kulit buah kakao tersedia sangat melimpah sebagai limbah.Dan dengan demikian kulit buah kakao dapat digunakan sebagai pakan ternak, misalnya ketika jika ketersediaan rumput berkurang karena kemarau panjang.

Hasil ikutan pengolahan buah coklat terdiri atas 75% kulit buah kakao, 22% kulit biji kakao dan 3% plasenta (Darwis et al., 1999). Jumlah kulit buah kakao yang dihasilkan dalam produksi kakao sebesar 75,67% dari buah utuh (Darwis dkk. 1988). Selain guntoro (2008) yang menyatakan bahwa proporsi KBK 75%, tetapi juga Darwis et al (1999) juga menyatakan jumlah KBK sebesar 75,67%. Sehingga ini menjadi penguat pendapat, bahwa kulit buah kako itu tersedia melimpah sebagai limbah.Sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Penggunaan limbah kulit kakao pada ruminansia

M. Zain dalam penelitiannya Substitusi Rumput Lapangan dengan Kulit Buah Coklat Amoniasi dalam Ransum Domba Lokal. Mendapatkan substitusi rumput dengan kulit buah kakao amoniasi tidak berpengaruh terhadap konsumsi dan kecernaan ransum, pertambahan bobot badan ternak serta efisiensi ransum pada domba.

Tillman et al. (1989) menyatakan bahwa konsumsi ransum dipengaruhi oleh bentuk dan sifat fisik pakan, dan komposisi kimia ransum, frekuensi pemberian dan anti nutrisi dalam ransum.Amoniasi diyakini dapat meningkatkan kualitas sifat fisik kulit buah kakao dan punya potensi untuk menurunkan faktor pembatas penggunaan kulit buah kakao sebagai pakan (Aregheore, 2002).Kulit buah kakao yang diamoniasi tidak mempengaruhi kecernaan, karena Amoniasi menyebabkan tekstur kulit buah kakao menjadi lebih lunak disbanding sebelum diamoniasi.

Amoniasi dapat meningkatkan kandungan protein kasar (Nguyen et al., 1998; Granzin & Dryden, 2003), sehingga ketersediaan nitrogen untuk pertumbuhan mikroba menjadi lebih baik.Maka kandungan protein kasar yang terkandung dalam kulit buah kakao mengalami peningkatan. Sehingga proses amoniasi terhadap kulit buah kakao dapat meningkatkan kecernaan nutrien.

Amoniasi dengan urea menyebabkan terlepasnya ikatan antara lignin dan selulosa atau hemiselulosa yang terkandung dalam kulit buah kakao.Sehingga kecernaannya bisa menyamai rumput.

Pertambahan bobot badan pada ternak yang diberi ransum kulit buah kakao amoniasi sama dengan ternak yang mendapat ransum rumput lapangan disebabkan konsumsi dan kecernaan ransum juga tidak berbeda. Dan Efisiensi penggunaan ransum antar perlakuan juga sama karena konsumsi dan PBB juga sama. Hal ini sejalan dengan pendapat Tillman et al. (1989) yang menyatakan bahwa besarnya efisiensi ransum tergantung pada jumlah konsumsi bahan kering yang mampu memberikan pertambahan bobot badan. Suatu ransum akan lebih efi sien digunakan apabila ransum tersebut dikonsumsi dalam jumlah sedikit dan mampu memberikan PBB yang besar (Tillman et al., 1989).

Selain dengan amoniasi, kulit buah kakao dapat juga diperlakukan dengan cara fermentasi. Agar kulit buah kakao dapat di konsumsi sekaligus dapat di cerna oleh ternak. Salah satu cara fermentasi kulit buah kakao adalah dengan menggunakan biofit. Fermentasi KBK dengan menggunakan probiotik selama 2 minggu menunjukkan adanya peningkatan komposisi PK dari 9,15% menjadi 14,9%, dan juga terjadi penurunan komposisi serat dari 32,7% menjadi 24,7%. Disamping adanya peningkatan kandungan protein dari hasil fermentasi, KBK juga dapat disimpan dalam jangka panjang untuk pakan ternak atau tidak menjadi busuk (Aminah dan Layla, 2004).

loading...
loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 15:39

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.