Bungkil Sawit Pakan Ternak Unggas Alternatif

Posted by

loading...

loading...
Potensi dan Manfaat Bungkil Sawit Untuk Pakan Unggas

Penggunan hasil limbah pertanian bisa mangurangi biaya pakan di Indonesia seperti bungkil inti sawit yang sangat berlimpah karena di Indonesia banyak pabrik-pabrik sawit terutama di daerah sumatera dan Kalimantan, akan tetapi kandungan serat kasar yang terdapat pada bungkil inti sawit cukup tinggi 16-23 % .hal ini perlu dipertimbangkan pemakaianya sebagai bahan pakan unggas, karena sulit dicerna (Siregar et al,. 2003 ). Meskipun kandungan protein kasarnya cukup tinggi, yakni 11,30-17,00 % ( Chin, 2003) sehingga pemakaiannya cukup sebagai bahan pakan unggas, perlu mandapatkan perhatian karena sulit dicerna ( siregar dan miwandhono, 2004 ) oleh karena itu di upaya untuk menanggulanginya kelemahan bahan pakan tersebut.

Upaya yang bisa dilakukan adalah mefermentasi bungkil inti sawit itu sendiri sehingga kemungkinan terjadinya perombakan komponen nutrisi yang sulit dicerna menjadi lebih mudah tecerna, sehingga diharapkan pula nila nutrisinya meningkat dan menurunkan serat kasarnya, dan juga diharapkan juga bisa memperpajang daya simpan bahan pakan tersebut.

Komposisi Kandungan nutrisi bungkil inti sawit.

Kandungan nutrisi bungkil inti sawit sangat bervariasi, menurut siregar ( 1995 ) dikutip ( Zulfikar siregar dan edhi mirwandhono,2004 ) serat kasar BIS 15,5 %, protein kasar 16,5 %, lemak kasar 7,8 %, calcium 0,58 %, phosphor 0,31 %, energy metabolis 1670 kkal/kg. dan menurut siregaret al, ( 2003 ) dikutip (Yana sukaryana, Nurhayati,dan Chandra utami wirawati,2013) kandungan serat kasar ( 16-23 % ). menurut Chin ( 2003 ) dikutip (Yana sukaryana, Nurhayati,dan Chandra utami wirawati,2013) bahwa protein kasar 11,30-17,00 %, sedangkan menurut DEVENDRA ( 1977 )dikutip(SUPRIYATI, T. PASARIBU, H. HAMID, dan A. SINURAT,1998 )serat kasar 14,4 %, dan menurut Lubus ( 1980 ) serat kasar adalah 24 %. perbedaan ini disebabkan beberapa factor, contohya umur tanaman, teknik ekstraksi, daerah asal dan jenis tanaman sawit ( ARITONGA, 1984 )dikutip ( supriyanti, T.pasaribu, h.hamid, dan sinurat,1998).

Pengaruh Bungkil Inti Sawit Terhadap Peformans unggas

A.Terhadap ayam broiler

Ayam pedaging ( broiler ) merupakan ayam yang telah mengalami seleksi genetic sebagai penghasil daging dengan pertumbuhan yang cepat sehingga waktu pemeliharaannya lebih singkat, pakan efesien dan produksi dagingnya tinggi. Pertumbuhan ayam pedaging sangat cepet dimulai dari sejak DOC sampai berumur 7 hari, setelah itu kecepatan pertumbuhan akan menurun (North dan Bell, 1990). Nilai bobot akhir dipengaruhi oleh kecepatan pertumbuhan Pertumbuhan merupakan perubahan ukuran dan pertambahan berat, dalam jaringan-jaringan tubuh seperti otak, jantung, tulang, berat daging dan jaringan lainnya.

Bobot badan ayam pedaging selama penelitian Disini terlihat bahwa perlakuan control ( RO ) berbeda sangat nyata ( P < 0,01 ) dengan perlakuan ransum yang mengandung 400 ppm enzim mannanase terhadap bobot badan akhir ayam pedaging . dilihat dari rattan bobot badan akhir ayam pedaging, kesemuanya berada di bawah bobot badan akhir perlakuan ransum. Bobot badan akhir perlakuan R5 mampu mengimbangi perlakuan. Hal ini berarti bahwa penggunaan BISF hingga 15% memberikan hasil bobot badan akhir yang sama dengan. Perbandingan bobot badan akhir antara perlakuan berbagai tingkat enzim mannanase berbeda sangat nyata (p<0 .01="" 200="" 300="" akhir="" ayam="" badan="" bahwa="" berarti="" berbeda.="" berbeda="" bobot="" dan="" dapat="" dengan="" diberi="" digambarkan="" digunakan="" disini="" enzim="" hal="" ini="" kuadratik="" kurva="" linier.="" linier="" mannanase="" maupun="" menentukan="" menghasilkan="" menunjukan="" menyebabkan="" nyata="" optimum="" p="" pada="" pedaging="" pemberian="" penambahan="" penggunaan="" penurunan="" perbandingan="" perbedaan="" perlakuan="" ppm="" r1="" r2="" r3="" ransum="" sangat="" span="" terjadi="" tertinggi.="" tingkat="" titik="" untuk="" yang="">

Pertambahan bobot badan antara R0 dengan perlakuan R3 menunjukan perbedaan sangat nyata (p<0 .01="" berbagai="" diantara="" enzim="" mannanase="" menunjukan="" nyata="" p="" penambahan="" penggunaan="" perbedaan="" perlakuan="" sangat="" span="" tingkat=""> enzim mannanase terendah dan tertinggi, ternyata kurva linier menunjukan hasil yang berbeda sangat nyata (p<0 .01="" antara="" berbeda="" demikian="" dengan="" halnya="" hasil="" kuadratik="" kurva="" maupun="" menunjukan="" namun="" nyata="" p="" perbandingan="" perlakuan="" pula="" r1="" r3="" sangat="" span="" yang="">

Dilihat dari komposisi ransum, kandungan polisakarida mannan pada perlakuan R3 adalah yang paling tinggi yakni 400 ppm. Semakin tinggi penggunaan BIS tanpa pengolahan, maka kandungan polisakarida mannannya akan semakin tinggi. Namun sampai batas penggunnan enzim mannanase 300 ppm yang efektif mampu mendegradasi polisakarida mannan yang ada pada bungkil inti sawit. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Tangendjaja dan Patttyusra (1993) yang menyatakan bahwa penggunaan 10% BIS dapat menyebabkan pertambahan bobot badan lebih rendah daripada control.

B.Terhadap itik

Data konsumsi ransum dan bobot badan selama penelitian Pengaruh interaksi level (kadar) dan jenis bahan pakan (bungkil inti sawit yang tidak dan yang sudah difermentasi) dalam ransum tidak nyata mempengaruhi konsumsi ransum dan bobot badan. Pengaruh leveldan jenis bahan pakan (bungkil inti sawit yang tidak dan yang sudah difermentasi) dalam ransum tidak nyata mempengaruhi konsumsi ransum dan bobot badan. Demikian juga perbandingan antara perlakuan dengan _actor_ tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) dalam hal konsumsi ransum dan bobot badan itik. Hal ini mungkin disebabkan oleh kandungan gizi semua ransum yang dibuat sama. Penelitian mengenai penggunaan bungkil inti sawit dan produk fermentasinya dalam ransum itik belum banyak dilakukan. Akan tetapi penggunaannya dalam ransum unggas lain (ayam ras) sudah banyak dilaporkan. Batas yang aman tentang penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum ayam broiler sangat bervariasi dari 10% (AHMAD, 1982; TANGENDJAJA dan PATTYUSRA, 1993) hingga 20% (KAMAL, 1984). Hal ini mungkin karena perbedaan proses dalam menghasilkan bungkil inti sawit maupun kandungan gizi dalam bungkil inti sawit yang digunakan. Penggunaan bungkil inti sawit dari sumber yang sama dengan yang digunakan dalam penelitian ini untuk ayam broiler telah dilaporkan oleh KETAREN et al. (1999), dengan batas penggunaan yang aman 5%. Demikian juga produk fermentasi bungkil inti sawit seperti digunakan dalam penelitian ini hanya dapat digunakan 5% dalam ransum ayam broiler. Bungkil inti sawit dikenal sebagai bahan pakan yang kurang disukai ternak karena sifatnya yang kering dan kasar seperti pasir dan mengandung serat yang tinggi (RAVINDRAN dan BLAIR, 1992). Hal ini juga menjadi _actor pembatas dalam penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum unggas, terutama ayam ras. Proses fermentasi biologis dengan menggunakan A. niger (KETAREN et al., 1999) maupun R. oligosporus(TANGENDJAJA dan PATTYUSRA, 1993) belum dapat meningkatkanlevel penggunaannya dalam ransum ayam broiler. Hal ini berbeda dengan pada ternak itik seperti terlihat dalam hasil penelitian ini. Pemberian bungkil inti sawit atau produk fermentasinya hingga 15% dalam ransum belum menunjukkan pengaruh _actor_e terhadap pertumbuhan dan konsumsi pakan pada itik. Kemungkinan ternak itik mempunyai toleransi yang lebih tinggi daripada ayam terhadap _actor-faktor pembatas yang terdapat di dalam bungkil inti sawit dan produk fermentasinya. Hal ini juga telah dilaporkan oleh SINURATet al. (1996) dalam penggunaan bungkil kelapa dan produk fermentasinya

untuk ransum itik. Dari hasil ini juga ada kemungkinan bahwa bungkil inti sawit dan produk fermentasi bungkil inti sawit untuk ransum itik bisa digunakan lebih dari 15%, akan tetapi hal ini perlu diuji lebih lanjut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses fermentasi belum dapat meningkatkan batas penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum itik maupun dalam ransum ayam broiler (KETAREN et al., 1999). Sementara itu, manfaat proses fermentasi terlihat dari peningkatan nilai gizi bahan tersebut, sehingga dengan menggunakan produk fermentasi bungkil inti sawit, penggunaan bahan pakan lain seperti tepung ikan dan bungkil kedele dapat dikurangi sedikit.

Pengaruh Bungkil Inti Sawit Terhadap kecernaan unggas

Untuk memperoleh gambara tentang kecernaan bungkil inti sawit fermentasi yang dikutip dari ( PHILIPUS SEMBIRING, 2009 ). Menyatakan bahwa kecernaan bungkil inti sawit fermentasi ( 80,86 % ) lebih tinggi dibandingkan dengan bungkil inti sawit tampak fermentasi (46,53 % ). Atau dengan kata lain bahwa bungkil inti sawit yang difermentasi dapat meningkatkan kecernan protein sebesar 34,33 %, setelah uji-T menunjukan bahwa antara kecernaan protein bungkil inti sawit yang difermentasi dengan bungkil inti sawit tampak perlakuan berbeda sangat nyata lebih tinggi ( P < 0,05 ), sejalan dengan pendapat RANJAHN ( 1985) pengolahan bahan pakan ternak sangat berpengaruh terhadap kecernaan zat-zat makanan seperti fermentasi pakan.

loading...
loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 15:51

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.