Sapi Bali Bisa Punah Jika Tidak Dibatasi Aturan Pengeluaran Sapi Dari Pulau Bali

Posted by

Loading...
Pembatasan Jumlah Pengeluaran Sapi Bali (Kuota) Per Tahun, Mampu Cegah Kepunahan Sapi Asli Pulau Bali Ini
Merebaknya dugaan penyelundupan Sapi Bali keluar daerah yang dikirim melalui sejumlah pelabuhan rakyat yang ada di Kabupaten Jembrana membuat Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pemprov Bali gerah.

Dinas mengimbau warga dan aparat setempat wajib ikut mengawasi pengiriman Sapi Bali yang pada tahun 2017 ini dialokasikan sebanyak 51.000 ekor.

"Untuk tahun 2017 ini kita kuota pengiriman Sapi Bali tersedia 51.000 ekor. Kalau tidak dibatasi, lama-lama bisa punah Sapi Bali ini," ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pemprov Bali, I Wayan Sumantra ketika ditemui Tribun Bali, Senin (13/3/2017).

Menurutnya, populasi Sapi Bali sempat terpantau mengalami penurunan beberapa tahun lalu akibat pengiriman keluar yang overload.

Terparah, pada tahun 2013 lalu, kuota pengiriman Sapi Bali tercatat di angka 65.000 ekor serta ditambah lagi pengiriman tambahan atas permintaan Pemerintah Pusat dengan alasan pertumbuhan ekonomi.

Akibatnya, populasi Sapi Bali pada periode yang sama tercatat mengalami penurunan dari sekitar 637.000 ekor menjadi sekitar 473.000 ekor saja.

Kondisi ini mau tak mau memaksa pihaknya mengambil langkah tegas dengan membatasi kuota pengiriman Sapi Bali pada tahun selanjutnya.

Upaya ini terbilang efektif mengingat saat ini populasi Sapi Bali pada dua tahun terakhir mengalami peningkatan yakni dari sekitar 537.000 ekor pada tahun 2015 menjadi 553.000 ekor pada tahun 2016. Sedangkan hingga Bulan Maret tahun 2017 ini diperkirakan kembali mengalami peningkatan sekitar 600 ekor Sapi Bali.

Meskipun demikian, kata dia, pihaknya tetap mewaspadai adanya aksi penyelundupan sapi-sapi Bali ini ke luar daerah melalui sejumlah "jalur tikus" yang tersebar di Bali.

Khusus untuk di Kabupaten Jembrana, Sapi Bali ini diduga santer diselundupkan melalui sejumlah pelabuhan rakyat yang ada di wilayah Kabupaten Jembrana, yakni di Desa Cupel, Kecamatan Negara serta di Banjar Sumbersari, Desa Melaya, Kabupaten Jembrana.

"Menjelang Idul Adha pengiriman kita tingkatkan dari 1.800 ekor sampai 2.000 ekor untuk penuhi permintaan. Saat itu biasanya permintaan Sapi Bali mencapai 20.000 ekor dan bisa ditambah lagi kuotanya hingga 2.000 ekor untuk kebutuhan luar biasa," bebernya.

"Dari dulu kita dengar ada penyelundupan Sapi Bali melalui Cupel dan Sumbersari. Modus pengirimannya malam hari dan pasti tidak melalui pelabuhan resmi. Warga dan aparat setempat yang tahu persis kondisi jalur ini diharapkan bisa membantu kami mengawal populasi Sapi Bali ini," imbuh Sumantra.

Sementara itu, Kapolsek Melaya, Kompol I Ketut Darmita menampik adanya dugaan penyelundupan Sapi Bali melalui pelabuhan tak resmi di Banjar Sumbersari, Desa Melaya, Kecamatan Melaya tersebut.

Menurutnya, pihaknya setiap sore memantau pergerakan di sekitar pelabuhan tak resmi tersebut untuk mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Namun ditegaskan jika selama ini di pelabuhan rakyat yang ada di wilayah hukumnya (Wilkum) tersebut tidak ada aksi penyelundupan Sapi Bali. Menurutnya, Sapi-sapi Bali yang diindikasikan sebagai sapi ilegal tersebut ialah sapi dengan kuota resmi yang dititipkan sementara di sejumlah pengepul sapi yang ada di Kecamatan Melaya.

"Mungkin saja sapinya dikandangkan dulu, tunggu sampai jumlahnya cukup baru dikirim secara resmi. Kalau di Melaya ada 2 pengepul, Sidem yang ada di Desa Tuwed dan Pak De yang ada di Banjar Sumbersari, Desa Melaya," terang Darmita ketika dikonfirmasi Selasa (14/3/2017).

Keunggulan Sapi Bali

Jelang Hari Raya Idul Adha tahun ini, sapi jenis ras Bali menjadi hewan kurban yang paling banyak diburu. Meskipun bernama ras Bali, ternyata sapi ini banyak berasal dari Jembrana, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sapi jenis ini memiliki banyak kelebihan dibandingkan sapi lokal atau impor. Keunggulan sapi bali dari sapi pedaging lain adalah terletak pada tulang sapi bali relatif lebih kecil dari sapi jenis lain, sehingga jumlah daging lebih tebal.

Selain itu, menurut penjual hewan Kurban dari CV Putri Basuki, H. Ruli Basuki, sapi Bali lebih jinak dan harganya lebih murah.

"Sapi Bali ini lebih banyak dagingnya, kandungannya bisa sampai 60 % dari bobotnya. Kalau sapi lokal itu 55 % (dagingnya)," kata Ruli saat berbincang, di tempat penjualnnya di bilangan Bintara, Bekasi Barat, Sabtu (9/9).

Sapi yang berciri berkulit coklat agak kehitaman ini dan badan lebih pendek dari sapi lokal ini, juga lebih murah dibandingkan dengan sapi jenis lainnya.

"Sapi Bali per kilo-nya Rp 62.000, kalau sapi lokal bisa Rp 67.000-Rp 70.000. Itu juga sudah naik dari tahun lalu," lanjut pemilik Rumah Potong Hewan (RPH) ini.

Selain itu, daging sapi Bali juga bisa dimasak apa saja, berbeda berbagai masakan.

"Kalau sapi Bali dibuat rendang bisa, bakso juga bisa. Kalau yang lokal kan dibuat rendang bisa tapi bakso enggak bisa. Yang impor BX (Brahma Cross) cuma bisa dibuat bakso, buat kurban juga susah lakunya," ucap pengusaha sapi sejak tahun 1991 ini.

Lalu bagaimana membedakan Sapi ras Bali dari sapi lain? Berikut ciri-ciri Sapi bali seperti dilansir situs jualansapi.com:

1. Sapi Bali berwarna hitam pada jantan yang telah mencapai usia 1 tahun atau jika telah mencapai usia dewasa kelamin. Warna hitam bisa berubah menjadi merah bata apabila Sapi Bali telah dikebiri.

2. Pada anak dan betina Sapi Bali berwarna merah bata

3. Bagian kaki dan bagian pantat berwarna putih,

4. Bagian ujung hidung atau cermin hidung dan ujung ekor berwarna hitam,

5. Gumba atau punggung ujung ekor bergaris hitam.

6. Sapi Bali tidak berpunuk, biasanya mempunyai ukuran badan sedang, serta mempunyai dada yang dalam, berkaki ramping.

7. Mempunyai kuku berwarna hitam serta ada warna putih pada Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal.

8. Kulit berwarna putih berbentuk oval atau white mirror terdapat pada paha bagian dalam.

Mengenal Budidaya Sapi Bali di Pulau Asalnya

Ukuran badan sapi bali termasuk kategori sedang dengan bentuk badan memanjang, dada dalam badan padat, bertanduk, kepala agak pendek, dan dahi yang datar.Bulu sapi bali umumnya pendek, halus, dan licin. Kulit berpigmen dan halus.Kepala lebar dan pendek dengan dahi datar, telinga berukuran sedang dan berdiri.Tanduk sapi bali jantan berukuran besar, runcing, dan tumbuh agak kebagiaan luar kepala.

Bila dilihat dari muka menyerupai huruf “U” yang melebar pada kedua ujungnya.Panjang setiap tanduk sapi jantan dapat mencapai 25-30 cm dengan jarak kedua ujung tanduk antara 45-65 cm.

Pada umumnya kulit antara kedua tanduk jantan hanya berbulu sedikit, bahkan banyak yang tidak berbulu. Dibagian kulit tersebut tampak terjadi pembentukan bahan tanduk yang kelak pada umur tua membentuk “jembatan tanduk” yang tebal dan berwarna abu-abu.

Sapi bali betina juga memiliki tanduk, tetapi ukurannya lebih kecil,tanduknya tumbuh agak mengarahketengah kepala dan dari kepala mengarah lateral dorsal-medial. Namun kadang-kadang terjadi kelainan pertumbuhan tanduk misalya,tanduk tumbuh mengarah kearah bawah belakang sehingga mengapit bagian telinga kiri dan kanan kelihatan pucat.

Biasanya ciri-ciri tersebut menunjukkan hewan yang kurang subur. Baik sapi bali jantan maupun betina tidak memiliki punuk.Leher sapi bali betina nampak panjang dan kecil.

Gelambir sapi bali jantan terdiri dari dua bagian, yaitu sebuah lipatan kecil diantara rahang dan sebuah lipatan kulit yang dimulai dari bagian bawah leher dan menjulur kedaerah dada. Sementara sapi betina menunjukkan sebuah gelambir kecil yang hanya ada dileher.
Kaki sapi bali mengecil kedaerah pergelangan sehingga terikat agak lemah,kukunya kecil, dan ekornya pendek dengan ujung bulu ekor serendah sendi tarsal. Pertumbuhan ambing sapi betina sangat jelek dan ditutupi oleh bulu yang halus. Hal ini membuat pertumbuhan anak sapi bali cenderung lambat.

Ciri khas yang membedakan sapi bali dengan sapi lainnya adalah adanya bulu berwarna putuh yang terdapat pada bagian bawah keempat kakinya dengan batas yanga jelas,dibagian pantat bawah ekor berbentuk oval atau lingkaran dan sering disebut dengan mirror atau cermin.

Ciri khas lainnya adalah di punggung sapi bali selalu terdapat suatu garis hitam yang jelas, dari bahu dan berakgir di ekor.yang sering di sebut dengan garis belut. Sapi bali memiliki pola warna yang unik dan menarik. Sapi bali betina memiliki warna bulu merah bata kecoklatan.

Warna ini akan tetap menurun pada anak sapi bali betina maupun jantan. Namun,anak sapi jantan mengalami perubahan warna menjadi coklat kehitaman seiring pertambahan umurnya.

Perjalan tersebut berjalan sejak umur 1,5 tahun dan berlangsung sampai umur sekitar 3 tahun. Pada akhirnya warna bulu sapi bali jantan berubah menjadi hitam mulus.Warna hitam pada sapi bali jantan akan mengalami perubahan menjadi merah bata bila sapi tersebut dijastrasi atau dikebiri.

Perubahan warna tersebut dimulai dari bagian tubuh belakang kedepan dan berlangsung menyeluruh setelah sekitar 4 bulan,perubahan warna tersebut disebabkan oleh adanya pengaruh hormon testeron.

Penyimpangan Pola warna bulu pada sapi bali tersebut dapat dikenal beberapa jenis sapi bali seperti :Sapi injin,Sapi poleng,Sapi bang,Sapi panjut, Sapi cundang,dan Sapi putih.

Penampakan warna sapi bali ternyata dapat pula dipengaruhi oleh daerah tempat hidup sapi tersebut,ada juga sapi bali yang tidak memiliki pigmen warna hitam sehingga kuku dan tanduknya berwarna kekuningan.

Moncongnya seperti daging,pita hitam ditepi telinga berwarna agak kabur. Bulu mata tidak hitam seperti sapi bali lainnya dan lingkaran mata berwarna kuning muda. Garis belut berwarna keputih-putihan,dan rambut ekor juga putih dan warna kulit

Penampilan sapi bali banyak menarik perhatian berbagai pihak,ternak ini sangat responsif terhadap perbaikan mutu dan kualiyas, terutama pada pertambahan berat badan.
Penambahan ransum, baik hijauaan maupun konsentrat pada pakan ternak, akan meningkatkan berat badanya,meskipun demikian perlu diingat bahwa penampilan ternak juga dipengaruhi tata laksana pemeliharaannya.





Ukuran tubuh sapi bali termasuk dalam kategori sedang.Ukuran tubuh sapi bali jantan rata-rata lebih besar dari pada sapi betina. Penampakan ukuran tubuh ini dapat bervariasi tergantung wilayah tempat hidupnya.

Rata-rata ukuran tubuh sapi bali menurut jenis kelaminnya.Rata-rata ukuran tubuh sapi bali di derah bali lebih baik dari daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor genetik atau lingkungan yang memang cocok untuk pertumbuhannya.

Bila di ingat Bali adalah derah tempat awalnya sapi ini berkembang maka hal tersebut tidaklah aneh. Ukuran sapi bali di daerah pengembangan lain yang masih rendah mungkin diakibatkan oleh kondisi lingkungan setempat dan terjadinya penurunan genetik karena karna persilangan dengan jenis sapi lainnya.

Berat badan sapi bali sangat respondensifterhadap usaha-usaha perbaikan. Beberapa faktor yang dapat mempengaaruhi pertambahan berat badan adalah jenis kelamin,perlakuaan,lingkungan dan faktor keturunan.

Pada umur 1,5 tahun berat sapi bali mencapai 217,9 kg. Apabila disertai dengan pemberian konsentrat tinggi maka kenaikan berat badannya dapat mencapai 0,87 kg per hari. Dari segi ekonomi, penampilan berat badan selalu menjadi pertimbangan dalam menentukan harga jual.

Sapi bali memiliki kemampuan untuk mempertahan kan kondisi dan berat badannya meskipun dipelihara di padang gembalaan yang kualitasnya rendah.Disamping itu, kemampuannya mencerna serat dan memanfaatkan protein pakan lebih baik daripada sapi lainnya.

Dari segi reproduksi,sapi bali termasuk sapi yang subur. Persentase beranakknya berkisar antara 40-80 %,tingkat reproduksi yang tinggi ini juga terlihat dari selang beranak yang pendek yakni mendekati 1 tahun.

Sapi bali merupakan ternak potong andalan Indonesia hewan ini memiliki persentase karkas yang tinggi, lemaknya sedikit,serta perbandingan tulang dan dagingnya sangat rendah.
Selama ini sapi bali di jual untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal seperti rumah tangga, hotel,restoran, industri pengolahan daging, serta pasar antar pulau terutama untuk pasar kota-kota besar seperti Jakarta, Bali dan Surabaya.Sayangnya kualitas daging sapi bali masih rendah untuk memenuhi syarat kualitas daging secara umum, terutama pada nilai kepualaman, warna daging, pH , Dan total mikroba bakteri coliforem yang melewati batas maksimum.

Kualitas daging sangat sangat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi genetik, umur, jenis kelamin, lokasi anatomi daging, dan kesehatan ternak .

Adapun faktor eksternal meliputi pakan ternak, perlakuan sesaat sebelum disembelih, kebersihan tempat dan alat-alat penyembelihan, kebersihan alat ankut, kios daging, perlakuan di daging, perlakuan di dapur,sampai penyajian di meja makan.

Dari segi produksi karkas, sapi bali memiliki persentase karkas yang tinggi dari pada sapi unggul lainnya. Persentase karkas sapi baliu berkisar 56-57%

Keunggulan sapi bali tampak pada hidupnya yang sederhana, mudah dikendalikan dan jinak. Sapi bali dapat hidup dengan memanfaatkan hijauan yang kurang bergizi, tidak selektif terhadap makanan, dan memiliki daya cerna terhadap makanan serat yang cukup baik.


Kelebihan yang paling mencolok adalah kemampuan beradaptasi dengan baik pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, terutama pada daerah baru yang belum ada ternak sapi atau belum mengenal budidaya pemeliharaan sapi. Oleh karena sifat inilah sapi bali sering disebut sebagai sapi perintis atau sapi pelopor.


Sapi bali termasuk ternak dwiguna, yaitu dapat dimanfaatkan sebagai ternak kerja dan ternak potong. Sebagai ternak kerja, sapi bali tergolong kuat dan cepat dalam mengerjakan lahan pertanian karena memiliki kaki yang bagus dan kuat dibandingkan dengan sapi peranakan ongol.

Sapi bali yang dapat di andalkan untuk pembangunan subsektor pertanian ini memiliki beberapa kelemahan yang menjadi faktor pembatas dalam program pengembangan sapi bali.

Kelemahan tersebut antara lain ukuran tubuhnya relatif kecil,produksi susu rendah sekitar 1-1,5 1/hari sehingga pertumbuhan anak sapi lambat, dan masih tingginya angka kematian anak pada pemeliharaan secara ekstensif,selain itu sapi bali mudah terserang penyakit khusus seperti penyakit jembrana dan ingusan.

Pertumbuhan sapi bali cenderung lambat, tetapi tetapi sangat responsif terhadap usaha-usaha perbaikan. Ternak ini akan mengalami penurunan berat badan pada waktu musimkerja. Namun setelah diberi makan kembali maka berat badannya kembali normal.

Sapi bali sebagai salah satu hewan ternak yang sudah menjadi bagain dari kehidupan masyrakat petani di bali selain babi, ayam dan itik. Sapi bali yang telah menjadi bagain dari masyarakat dalam pemeliharaannya masih belum terintensifkan sama sekali.
Hal ini disebabkan karena masyarakat peternak sapi bali masih beranggapan bahwa dia beternak hanya sebagai pekerjaan sampingan saja, hal ini buka tanpa suatu alasan tidak sedikit para peternak sapi bali yang dalam proses pemeliharaannya masih belum intensif.


Sebagai contoh adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan penggembalaan meskipun daerah tempat penggembalaan tersebut sama sekali tidak mendukung untuk keberlangsungan sapi bali itu sendiri seperti penggembalaan di daerah yang tandus dan tidak ada rumput hijauan.

Selain itu para peternak cenderung membiarkan sapi-sapi untuk tetap berada di luar (ditempat penggembalaan tadi) dan tidak dimasukan kekandang meskipun cuaca atau hari sudah berganti malam.

Meskipun pola pemeliharaan sapi bali masih belum intensif secara penuh, akan tetapi dalam kehidupan masyarakat petani di Bali, sapi bali memiliki beberapa manfaat penting seperti sebagai tenaga kerja, sumber pendapatan, sarana upacara agama dan sebagai sarana hiburan dan obyek wisata.

Inilah Daerah Sumber Bibit Sapi Bali
Kabupaten Konawe Selatan ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit sapi bali. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) nomor 803 tahun 2016. Beleid tersebut diresmikan saat Amran membuka acara Panen Pedet hasil inseminasi buatan (IB) sebanyak 627 ekor di daerah Konawe Selatan.

“Alhamdulilah hari ini kami tetapkan Konawe Selatan sebagai wilayah pusat pembibitan sapi baru. Kedepannya bagaimana kualitasnya menjadi lebih baik. Ini yang kita kejar,” kata Amran saat melakukan kunjungan kerja di Desa Wunduwatu, Kecamatan Andolo, Konawe Selatan, Rabu (11/1).

Sampai saat ini Menteri Pertanian sudah menetapkan 15 wilayah sumber bibit yang berada di 14 kabupaten di Indonesia, di mana terdapat empat wilayah sumber bibit sapi Bali. Yaitu Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Barru, Kabupaten Kelungkung, Kabupaten Barito Koala.

Amran mengatakan yang harus dikejar saat ini ialah peningkatan kualitas. Di Konawe Selatan, Amran mengatakan tidak hanya sapi pedet bali, tapi juga sapi brahman, ongkol, dan lomosin. "Kemudian yang lain kami kembangkan. Ide brahman, ongkol dan limosin. Karena tahun lalu sudah berhasil kurang lebih 1,4 juta ekor," katanya.

Amran mengatakan jika pengembangan ini berhasil maka dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena bila kualitas sapi-sapi tersebut dapat sebaik sapi wagyu maka harganya pun tinggi.

"Jika kualitasnya sama dengan wagyu itu maka kesejahteraan untuk rakyat. Karena harga tiga sampai lima potong di hotel-hotel satu juta setengah, kalau dikalkulasi bisa satu dua miliar per sapi, tapi lagi-lagi harus kualitasnya ditingkatkan," tambahnya.

Tujuan adanya pewilayahan sumber bibit antara lain untuk membentuk wilayah atau daerah pemurnian ternak asli Indonesia, Amran mengatakan sehingga ternak lokal Indonesia dapat lestari. Juga mewujudkan dan menjamin ketersediaan bibit ternak baik secara jumlah maupun mutu.

Bisakah Sapi Bali Bersaing Dengan Sapi Wagyu Jepang?
Perusahaan ternak sapi asal Jepang, Kamichiku Holdings, melakukan serangkaian kunjungan ke Provinsi Bali. Pemerintah Provinsi Bali menggunakan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan varietas sapi Bali sebagai salah satu hewan ternak unggulan.

"Kami juga memperkenalkan program Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) yang mengintegrasikan pertanian dengan ternak sapi," kata Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta, Rabu (1/2).

Sapi Bali merupakan sapi asli Indonesia dengan jumlah populasi cukup besar. Sapi Bali memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mampu beradaptasi dengan lingkungan dengan ketersediaan pakan berkualitas rendah, tingkat fertilitas tinggi, dan kandungan proteinnya lebih lama setelah dibakar.

Satu kekurangan sapi Bali, menurut Sudikerta, adalah dagingnya kurang empuk, sehingga masih belum bisa bersaing ketat dengan pasar internasional. Padahal, populasi sapi Bali terus meningkat sehingga kualitas produk dari dagingnya perlu peningkatan.

Sudikerta berharap Kamichiku Holdings bisa bekerja sama untuk meningkatkan kualitas daging sapi Bali, dari sisi pengelolaan pakan dan perawatan. Sapi Bali diharapkan bisa bersaing dengan daging sapi Jepang yang terkenal, yaitu wagyu.

Presiden Direktur Kamichiku Holdings Masashi Kamimura mengatakan, perusahaannya bergerak di bidang peternakan dan pengelolaan sapi wagyu integratif. Kamichiku mempertahankan kualitas produknya dengan memerhatikan perawatan sapi, sejak proses penggemukan, pemberian pakan, hingga kesehatan sapi.

"Omzet bisnis pengolahan sapi yang kami dapatkan per tahunnya mencapai empat triliun rupiah atau sekitar 35 miliar yen," ujarnya.

Omset yang besar tersebut, kata Masashi tak lepas dari komitmen perusahaan mempertahankan kualitas daging sapinya. Ia mengatakan, jika pemerintah provinsi tak mau menyilangkan sapi Bali dengan wagyu maka perlu dicari alternatif lainnya.

Caranya adalah pemberian pakan berkualitas, menjaga kesehatan sapi dengan ketat, serta teknik pemotongan sapi yang sesuai aturan. Sapi bali, kata Masashi, berpotensi besar dikembangkan, terlebih memiliki keunggulan proteinnya lebih tahan lama dibanding wagyu jika dibakar. "Ke depannya pihak kami siap bekerja sama mengembangkan sapi bali," katanya.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali mendata populasi sapi bali pada 2014 mencapai 558 ribu ekor. Jumlah tersebut sedikit menurun menjadi 538.073 ekor pada 2015. Angka tersebut tak mengalami banyak perubahan pada 2016.

Sumber:tribunnews.com, republika.co.id dan sumber lainnya

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:08

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.