Ini Lho Beda Pengelolaan Dana Haji Malaysia dan Indonesia

Posted by

loading...

loading...

Sebelum berkomentar tentang kemauan pemerintah untuk menggunakan dana haji meniru Malaysia, baca dulu yang dibawah ini agar lebih clear permasalahannya!

Pendaftaran haji di Malaysia TIDAK MELALUI Kementerian Agamanya. Melainkan melalui sebuah lembaga yg ditunjuk pemerintah untuk mengelola tabungan hajinya, Lembaga Tabung Haji Malaysia (LTHM).

Pada saat pendaftaran pun, calon jamaah haji sudah diedukasi bahwa uang tabungan hajinya yg sebesar RM 9.980 atau setara dengan Rp 31.066.191 pada kurs Ringgit terhadap Rupiah Rp 3.112.84 per Ringgit Malaysia, yg disimpan di Tabung Haji Malaysia kemudian akan diinvestasikan kepada bisnis riil yg keuntungannya akan dibagikan kepada jamaah haji dan tambahan fasilitas selama berada di tanah suci (fasilitas setara Haji Plus jika di Indonesia). Artinya, sedari awal calon jamaah TAHU dan SETUJU bahwa dana tabungannya akan kemudian diinvestasikan. Ada kejelasan AKAD.

Pertanyaannya, calon jamaah haji kita apalah tahu dananya akan dipakai? Apalagi dipinjam pemerintah untuk pembangunan infrastruktur?

Adapun pemerintah Malaysia, berfungsi sebagai pengawas dan juga penjamin jika kemudian ada permasalahan terjadi. Bukan sebagai debitur (peminjam dana) sebagaimana di Indonesia.

Apa saja kelebihan dari Lembaga Tabung Haji Malaysia ini
1.  Subsidi agar ongkos haji jauh lebih murah dengan fasilitas di tanah suci yg mewah (setara fasilitas Haji Khusus/ONH Plus jika di Indonesia).

2.  Pengelolaan dana seluruhnya menggunakan sistem syari'ah.

3.  Menjadi lembaga keuangan non-perbankan terbesar di dunia.

4.  Bentuk investasi Lembaga Tabung Haji Malaysia berupa: Saham di Bank Islam Malaysia, perkebunan sawit, real estate, teknologi dan padar modal syariah. Tidak ada sama sekali untuk pembangunan infrastruktur, bukan?

5.  Laporan neraca keuangan disampaikan secara detail kepada calon jamaah haji. Sehingga ada transparansi dan profesionalisme yg benar-benar dijaga.

6.  Memberikan pelayanan haji sebagai berikut:
a. Program Manasik Haji sebanyak 15 kali. Di Indonesia hanya 10 kali.
b. Memberikan pelayanan akomodasi bintang 5 bagi seluruh jamaah hajinya baik di Makkah, Madinah, Arafah, Muzdalifah dan Mina. Megara kita bsru level setaraf Bintang 3.
c. Mendirikan Rumah Sakit di Makkah, Madinah dan Mina untuk fasilitas kesehatan jamaah haji.
d. Mengelola transportasi udara bagi jamaah haji.
e. MELARANG PETUGASnya untuk turut serta menunaikan ibadah haji selama di tanah suci. Artinya, petugas pelayan FOKUS melayani. Sementara di Indonesia, petugas 'nyambi' ibadah.

Jadi, jika kemudian mengambil contoh Malaysia sebagai pembenaran pemerintah bahwa dana haji bisa digunakan untuk keperluan lain, sungguh tidak apple to apple. Berbeda. Sangat jauh berbeda.

Dari penamaan 'produk' saja sudah beda. Malaysia menggunakan istilah yg transparan, TABUNG HAJI. Artinya, dana tersebut adalah tabungan. Tabungan ada akad penggunaan dana oleh pihak ketiga yg dijamin pemerintah. Kita menggunakan istilah ONGKOS NAIK HAJI. Berbeda jauh bukan?

Ambil satu aspek saja lagi, Akad. Dalam Islam, akad itu begitu penting. Akad bisa menghalalkan apa yg tadinya diharamkan. Apakah pemerintah dan atau perbankan menyampaikan akad persetujuan bagi jamaah calon haji yg menyetorkan dananya utnuk kemudian dananya teraebut disetujuinya untuk 'diputar'?

Belum lagi aspek syari'ah dalam pengelolaannya. Belum lagi aspek laporan perkembangan dana haji. Belum lagi standar pelayanan dan seabreg urusan lainnya yg membuat kita semakin jauh tertinggal dalam urusan ini dengan negeri jiran kita.

loading...
loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 06:23

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.