Daging Kerbau Impor Semakin Menekan Pelaku Usaha Peternakan Dalam Negeri

Posted by

Loading...
Kebijakan pemerintah melakukan impor daging beku secara masif dinilai memberikan dampak buruk bagi kelangsungan hidup dan bisnis ternak sapi potong rakyat di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf menjelaskan, saat ini para peternak rakyat yang melakukan budidaya sapi sudah tidak lagi berorientasi pada bisnis ternak sapi potong harian.

Menurutnya, para peternak menggantungkan nasibnya pada Hari Raya Idul Adha.

"Bisnis sapi potong sekarang, sudah tidak menguntungkan bisnisnya. Sekarang istilahnya tinggal panjang-panjangin usus, kuat-kuatin aja," ungkap Rochadi saat diskusi dengab media di Gedung Smesco, Jakarta, Senin (5/6/2017).

Menurut Rochadi, para peternak menggantungkan nasibnya pada Hari Raya Idul Adha karena pada momen tersebut harga daging sapi lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasa.

Dia menjelaskan, pada saag Idul Adha harga sapi mampu mencapai Rp 60.000 per kilogram berat hidup, sedangkan hari biasa hanya Rp 40.000 per kilogram berat hidup.

"Peternak lokal orientasi berubah jadi setahun sekali di Idul Adha," paparnya.

Menurut Rochadi, saat ini kondisi tersebut terjadi bukan hanya di wilayah Jakarta dan sekitarnya, tetapi sudah mulai ke wilayah Jawa Tengah dan Timur.

Hal tersebut menyusul penyebaran daging impor beku yang sudah menembus pasar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Dengan intervensi daging impor, ya sudah bubar (peternak). Daging India juga sudah merangsek ke Jawa Tengah, Jawa Timur. Peternakan rakyat seakan tidak boleh tumbuh," tegasnya.

Mediasi

Kendati demikian, pihaknya telah melakukan mediasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait permasalahan yang dihadapi peternak rakyat saat ini, namun, belum mendapatkan hasil yang lebih baik.

"Akhirnya peternak alih profesi karena sebagai peternak sudah tidak lagi menguntungkan," paparnya.

Berdasarkan data terakhir sensus ternak sapi dan kerbau Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sedikitnya ada 16,2 juta ekor populasi sapi dan kerbau di Tanah Air.

Angka itu terdiri dari jumlah sapi potong 14.367.975 ekor, jumlah sapi perah 566.974 ekor dan jumlah kerbau 1.265.699 ekor.

Namun, dari data Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) hanya mencapai 12,5 juta ekor.


Ternyata Daging Kerbau Impor Masih Belum Mampu Menurunkan Harga Daging Sapi

Tahun lalu, pemerintah memutuskan mulai mengimpor daging kerbau untuk memberikan opsi lain kepada masyakarat. Harapannya, harga daging sapi tidak terus menerus meroket setiap jelang Ramadhan atau lebaran lantaran permintaan yang tinggi.

Namun di mata Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), kehadiran daging kerbau tidak begitu saja mengubah besarnya permintaan masyakarat terhadap daging sapi.

" Daging Kerbau enggak (diminati) karena dagingnya memang berbeda ya," ujar Ketua IKAPPI Abdullah Mansyuri kepada Kompas.com, Jakarta, Selasa (25/4/2017).

Menurut ia, butuh waktu sosialiasi panjang agar masyakarat mulai meminati daging kerbau. Apalagi jelang Ramadhan dan lebaran, masyarakat sudah terbiasa menggunakan daging sapi sebagai makanan utama.

Saat ini tutur Abdullah, ketersediaan daging kerbau hanya bisa dijumpai di beberapa daerah saja. Dari sisi permintaan masyarakat pun masih kalah jauh dibandingkan daging sapi.

Dari data IKAPPI, permintaan konsumen terhadap daging kerbau masih di bawah 10 persen dari permintaan daging sapi. Angka itu tidak cukup ampuh untuk mempengaruhi harga daging sapi.

Saat ini, harga daging sapi segar ada dikisaran Rp 116.000-123.000 per kg. Sementara harga daging kerbau beku dibanderol dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 65.000 per kg oleh Bulog.

" Daging kerbau tidak bisa serta merta menurunkan harga daging sapi karena permintaannya tidak signifikan kecuali bisa diatas 25 persen permintaannya terhadap daging sapi," kata Abdullah.

Jelang Ramadhan tahun ini, pemerintah melalui Perum Bulog kemungkinan akan mendatangkan kembali daging kerbau dari India. Jumlahnya mencapai 10.000-20.000 ton. Jumlah itu akan menambah stok daging kerbau yang ada dari 39.000 ton menjadi kurang lebih 59.000 ton.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, impor daging kerbau dari India akan jalan terus hingga mencapai 100.000 ton. Angka tersebut merupakan kuota impor daging kerbau yang ditetapkan pemerintah pada tahun lalu.

Daging Kerbau Impor Malah Menekan Usaha Peternakan Dalam Negeri


Impor daging kerbau asal India yang dijual kepada konsumen dengan harga murah memukul aktivitas ekonomi para jagal dan peternak sapi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, pelaku usaha peternakan sapi terancam mati.

Hal ini terungkap dalam forum diskusi publik bertema Kesejahteraan Peternak Sapi Lokal Menjelang Hari Raya, Milik Siapa? yang diselenggarakan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi di Jakarta, Jumat (28/4/2017).

Diskusi melibatkan pimpinan komisi IV DPR Herman Khaeron, Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha Syarkawi Rauf, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fajar Sumping, Dekan Fakultas Peternakan UGM Ali Agus, perwakilan Rumah Pemotongan Hewan, perwakilan jagal, dan para peternak sapi.

Perwakilan Jagal di Jabodetabek Edy Wijayanto menyampaikan sudah setahun ini terjadi penurunan penjualan daging segar dari RPH Tapos Jawa Barat ke pedagang. "Pasokan sapi lokal lancar, tetapi ke pedagang daging agak seret," katanya.

Dulu, RPH dapat memotong 5-6 ekor sapi tiap harinya, maka sejak enam bulan terakhir menurun menjadi 4 ekor sapi tiap harinya. "Saat ini tersisa satu ekor sapi tiap harinya," imbuhnya.

Edy melihat penjualan yang menurun sebagai imbas derasnya daging kerbau asal India. Apalagi setelah pemerintah menetapkan HET daging beku Rp80.000 per kg. Pedagang eceran lebih memilih daging kerbau asal India karena relatif murah. "Karena permintaan pasar terutama dari katering, bakso, dan industri olahan. Sementara konsumsi rumah tangga relatif stabil," katanya.

Edy menyebut RPH Tapos mendapat pasokan sapi dari NTT, Bali, Jateng, dan Jatim. "Dari Bali biasanya 14 ekor setiap kali pengiriman tahun lalu. Ini akan terpotong dalam waktu 3-4 hari. Sekarang, baru bisa habis dalam waktu 10 hari," imbuhnya.

Perwakilan pedagang sapi lokal antar pulau Toto Suwoto menyebut peternak sapi kini tengah kritis. Dia menyampaikan peternak membeli sapi bobot 300 kg seharga Rp50.000 per kg hidup. Setelah digemukkan dan siap panen pada bobot 500 kg, dijual seharga Rp42.000 per kg hidup di tingkat peternak. Dengan harga ini, sapi lokal sangat sulit dijual ke pasar.

"Sapi tidak terserap oleh pasar. Penjualan menurun drastis. Jika dulu mampu memotong 100 ekor sapi per bulan, saat ini hanya 25 ekor sapi per bulan," imbuhnya.

Sumber: kompas.com dan sumber lainnya

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:42

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.