Bolehkan Menjamak Sholat Ashar Dengan Jumatan?

Posted by

Loading...

Menjamak Ashar dengan Jumatan?

Bolehkah menjamak shalat asar dengan jumatan? Matur nuwun.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat tentang hukum menjamak shalat asar dengan jumatan.

Pendapat pertama, hukumnya boleh.

Ini merupakan pendapat Syafiiyah, dibenaran oleh as-Suyuthi, az-Zarkasyi, dan yang difatwakan ar-Ramli.

Diantara dalil pendapat ini,

Jumatan diqiyaskan dengan shalat zuhur. Sehingga bisa diqiyaskan dengan shalat asar.

Pendapat kedua, hukumnya terlarang.

Ini merupakan pendapat madzhab hambali dan sebagian ulama syafiiyah.

Diantara dalil pendapat ini,

Pertama, bahwa tidak dijumpai dalil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenjamak jumatan dengan shalat asar.

Kedua, mengqiyaskan jumatan dengan shalat dzuhur adalah qiyas yang bertentangan dengan objek qiyas (qiyas ma’al fariq). Di sana ada perbedaan yang sangat jelas antara jumatan dengan shalat dzuhur.

Ketiga, hukum asal shalat harus dikerjakan tepat waktu, hingga terdapat dalil yang membolehkan jamak. Sementara tidak dijumpai dalil itu.

Dalam as-Syarh al-Mumthi dinyatakan,

وفيه شرط خامس: أن لا تكون صلاة الجمعة، فإنّه لا يصح أن يجمع إليها العصر، وذلك لأن الجمعة صلاة منفردة مستقلة في شروطها وهيئتها وأركانها وثوابها أيضاً، ولأن السنّة إنما وردت في الجمع بين الظهر والعصر، ولم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه جمع العصر إلى الجمعة أبداً،

فلا يصح أن تقاس الجمعة على الظهر لما سبق من المخالفة بين الصلاتين، بل حتى في الوقت على المشهور من مذهب الحنابلة فوقتها من ارتفاع الشمس قدر رمح إلى العصر، والظهر من الزوال إلى العصر وأيضاً الجمعة لا تصح إلا في وقتها، فلو خرج الوقت تصلّى ظهراً، والظهر تصح في الوقت وتصح بعده للعذر.

Terdapat syarat yang kelima untuk bolehnya jamak, yaitu selain jumatan. Karena tidak sah menjamak jumatan dengan shalat asar. Karena jumatan adalah shalat tersendiri, memiliki syarat, tata cara, rukun, dan janji pahala yang berbeda dengan shalat dzuhur. Karena yang ada dalam dalil adalah jamak antara dzuhur dan asar. Sementara tidak dijumpai riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menjamak shalat asar dengan jumatan.

Karena itu, tidak benar mengqiyaskan antara jumatan dengan shalat dzuhur. Terdapat perbedaan sangat jelas antara kedua shalat ini. Bahkan sampai dalam masalah waktu pelaksanaannya. Menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab hambali, waktu jumatan dimulai sejak matahari sudah meninggi hingga mendekati asar. Sementara waktu dzuhur antara tergelincirnya matahari sampai menjelang asar. Demikian pula, jumatan tidak boleh dilakukan kecuali di batas waktu yang ditentukan. Jika waktu shalat jumat telah habis, diganti dengan dzuhur. Karena shalat dzuhur bisa dilakukan setelah waktunya setelah udzur.

(as-Syarh al-Mumthi’, 4/402).

InsyaaAllah pendapat kedua yang lebih kuat. Atau setidaknya lebih mendekati sikap hati-hati.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Apakah shalat Jum’at itu wajib bagi musafir?

Bagaimana jika ia berada di kalangan orang mukim? Apakah ia juga mesti mendirikan shalat Jum’at bersama mereka?

Menghadiri shalat Jum’at adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim kecuali pada lima orang: (1) Budak yang dimiliki, (2) wanita, (3) anak kecil, (4) orrang sakit, dan (5) musafir.

Mengenai kewajiban menghadiri shalat Jum’at ini sebagaimana disebutkan dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Jumu’ah: 9).

Dari Thoriq bin Syihab, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

“Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim secara berjama’ah selain empat orang: budak, wanita, anak kecil, dan orang sakit” (HR. Abu Daud no. 1067. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ

“Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir.” (HR. Ad Daruquthni, namun sanadnya dho’if).

Walaupun hadits di atas dho’if, namunpara ulama sepakat bahwa shalat Jum’at tidak wajib bagi musafir. Berikut rinciannya.

Pertama: Seorang musafir tidak punya kewajiban untuk mendirikan shalat Jum’at, ia tidak punya kewajiban untuk mendirikan shalat Jum’at pada saat ia safar, ia juga tidak punya keharusan shalat ketika ia berada di jalan. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan shalat Jumat saat safar. Dan tidak ada yang pernah mengetahui beliau melakukannya. Yang dimaksud dalam bahasan kita adalah musafir mendirikan shalat Jumat sendiri. Ini jelas tidak dituntunkan. Jika para musafir mendirikan shalat Jumat bersama mereka sendiri, maka shalatnya tidak sah menurut pendapat empat madzhab.

Kedua: Jika mereka bisa melakukan shalat Jum’at karena mengikuti orang lain yang dikenai kewajiban Jum’at. Untuk kondisi kala ini, para ulama berselisih pendapat. Ada yang menganggap wajib Jum’at dan jama’ah. Ada yang menyatakan tidak wajib Jum’at dan tidak wajib Jama’ah. Jika musafir dikenakan kewajiban untuk berjama’ah karena mendengar adzan Jum’at, maka di sini pun mereka masih diberi keringanan, tidak sebagaimana orang mukim. Jika punya udzur, seperti kecapekan dan butuh istirahat, maka ia boleh tidak hadir Jum’at. [Disarikan darihttp://www.taimiah.org/index.aspx?function=item&id=956&node=4856]

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ditanya, “Saya pernah shalat Jum’at dan kala itu saya adalah musafir. Apakah yang kulakukan benar? Jika tidak demikian, apa yang mesti dilakukan?”

Jawab Syaikh rahimahullah, “Jika seorang musafir shalat Jum’at bersama orang yang mukim, shalat Jum’atnya sah dan ia tidak perlu shalat Zhuhur lagi, alhamdulillah.

Apakah jama’ah musafir dianjurkan untuk melakukan jam’ah shalat Zhuhur? Jika mereka adalah para musafir, maka diperintahkan untuk shalat Zhuhur sebanyak dua raka’at (secara qoshor). Jika mereka shalat bersama orang-orang yang mukim, maka hendaklah mereka mengerjakan shalat sebagaimana orang mukim. Jika orang mukim melakukan empat raka’at, maka hendaklah mereka pun melakukan demikian. Inilah yang diajarkan dalam ajaran Islam. Namun jika mereka shalat bersama para musafir, maka shalat Zhuhur, Ashar dan Isya dikerjakan sebanyak dua raka’at (secara qoshor) dan qoshor ini yang lebih afdhol. Jika mereka melakukan empat raka’at, maka tidaklah masalah.” [Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/16374]

Ringkasnya, shalat Jum’at tidaklah wajib bagi musafir. Bahkan jika mereka membentuk jama’ah untuk mendirikan shalat Jum’at sesama musafir, shalatnya tidak sah. Jika musafir tidak melaksanakan shalat Jum’at, maka diganti dengan shalat Zhuhur 2 raka’at secara qoshor. Namun jika berada di belakang orang mukim, maka ia boleh saja melaksanakan shalat Jum’at bersama mereka dan tidak perlu lagi melaksanakan shalat Zhuhur.

Wabillahit taufiq.

@ Makkah Al Mukarromah, KSA, Jum’at, 28 Jumadal Ula 1433 H

www.rumaysho.com

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 15:10

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.