Penyakit Meningitis Babi (meningitis streptococcus suis (MSS))

Posted by

Loading...
Gejala-gejala dan Penyebab Meningitis Babi
Tanda-tanda Serangan Penyakit Meningitis Babi. Dilansir dari outbreaknewstoday, Senin (13/03/2017), gejala meningitis babi biasanya diawali dengan rasa mual, demam, sakit kepala, hingga muntah-muntah. Namun bila tidak langsung ditangani secara intensif, dampak meningitis babi bisa berimbas pada penyakit yang lebih serius lagi. Pendarahan kulit, sepsis, endocarditis, arthritis, dan bronkopneumia yang tadinya bersifat sementara bisa menjadi permanen, hingga menyebabkan komplikasi pada pendengaran yang berakhir dengan tuli permanen.

Biasanya, pengidap penyakit ini merupakan peternak babi atau orang-orang yang biasa bersentuhan dengan hewan ini, seperti para pekerja di pemotongan hewan dan rumah makan yang menyajikan hidangan babi. Meski begitu, meningitis babi bisa dicegah dengan mengubah kebiasaan, seperti menghindari kontak langsung dengan babi, memakai sarung tangan pelindung dan menghindari cedera, cuci tangan secara menyeluruh setelah mengolah babi atau daging babi mentah.
Sebanyak 13 Kasus Meningitis Babi Ditemukan di Bali

Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam mengonsumsi daging babi terkait kasus dugaan meningitis streptococcus suis (MSS) atau meningitis babi yang dialami sejumlah warga di Abiansemal, Kabupaten Badung.

"Kami telah melakukan sejumlah langkah investigasi terkait suspect atau dugaan MSS di wilayah Kabupaten Badung," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya, di Denpasar, Jumat (10/3).

Dari hasil investigasi, hingga saat ini ditemukan 13 kasus, di antaranya tujuh kasus sudah diambil sampel darah dan dilakukan pemeriksaan di Laboratorium Mikrobiologi Klinik RSUP Sanglah. "Hasil sementara, pemeriksaan sampel yang dikirim ke RSUP Sanglah, dua kultur darah pasien telah dinyatakan positif MSS," ucapnya.

Suarjaya mengemukakan bahwa MSS merupakan meningitis bakteri akut zoonosis yang penularannya dari babi ke manusia. Penularannya melalui makanan (produk babi yang mentah misalnya darah segar, usus, jeroan dan daging yang terinfeksi). Selain itu, luka lecet saat mengolah daging babi yang terinfeksi juga berpotensi menularkan penyakit ini.

Gejala klinis MSS antara lain panas/riwayat panas, perubahan kesadaran, kaku kuduk, sakit kepala dan sering menimbulkan tuli saraf derajat sedang, berat dan bilateral. "Untuk mencegah penularannya, masyarakat kami imbau membeli daging babi di tempat yang resmi sehingga dapat dipastikan babi yang dipotong dalam keadaan sehat," ucapnya.

Selain itu, saat mengolah daging babi pastikan tangan tidak luka atau tutup luka dengan baik bila mengolah daging babi. Masyarakat pun diminta proaktif dan peka terhadap lingkungan sekitar.

"Bila di sekitar lingkungan ada peternak yang memiliki babi sakit, mohon diinfokan jangan dijual ke pengepul daging babi. Pastikan juga masakan berbahan daging babi yang kita makan sudah benar-benar matang," ujarnya.

Suarjaya menambahkan, masa inkubasi MSS adalah beberapa jam hingga 14 hari setelah makan produk babi terinfeksi yang mentah atau setengah matang seperti olahan kuliner tradisional Bali berupa "lawar merah dan komoh".

Penanggulangan Kasus Meningitis Babi Yang Terjadi di Bali 
 
Sebanyak 30 dokter hewan yang tersebar di masing-masing kecamatan di Kabupaten Badung, Bali, diintensifkan untuk menangani kesehatan babi agar tidak menularkan penyakit meningitis streptococcus suis (MSS) atau meningitis babi.

"Puluhan dokter hewan yang dikerahkan Dinas Pertanian dan Pangan Badung ini bertugas untuk melakukan pembinaan dan penyuluhan dienam kecamatan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I.G.A Sudaratmaja di Mangupura, seperti dikutip dari Antara, Rabu (15/3/2017).

Peran dokter hewan, selain mencegah penyebaran penyakit zoonosis (penularan dari hewan kepada hewan lainnya) pada satwa babi, juga untuk menyosialisasikan kepada masyarakat agar secara rutin membersihkan kandangnya.

Sudaratmaja juga menegaskan, dokter hewan yang dikerahkan dalam menangani kasus ini nantinya juga bertugas melakukan pengambilan sampel darah dari hewan babi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Sebelumnya petugas sudah mengambil sampel empat ekor babi yang dipelihara peternak di Banjar Tanggayuda, Desa Bongkasa, Badung untuk dilakukan pemeriksaan," katanya.

Ia mengatakan, pemeriksaan sampel darah hewan tersebut dilakukan di Banjar Tanggayuda, Desa Bongkasa karena babi yang diduga terjangkit MSS dalam kondisi hidup dikirim dari daerah itu menuju ke Desa Sibang untuk dilakukan pemotongan.

"Petugas kami hanya baru mengambil beberapa ekor sampel darah babi yang ada di daerah setempat, karena diduga menjadi penyebab penyakit tersebut dan mewakili asal hewan babi yang dipotong di Desa Sibang," ujar Sudaratmaja.

Sudartmaja mengklaim, dari hasil pemeriksaan laboratorium hasil pemeriksaan darah babi di daerah itu secara keseluruhan negatif atau terbebas dari bakteri MSS.

Selain itu, pihaknya juga sudah memberikan surat edaran kepada kepala desa se-Kabupaten Badung untuk melakukan pencegahan penyakit ini. "Upaya ini kita lakukan sebagai bentuk Komunikasi, Indormasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat di Badung," katanya.

Ia menerangkan, isi surat edaran tersebut terkait mendorong masyarakat yang memelihara ternak babi agar rutin menjaga kebersihan kandang babi tersebut, menjaga kebersihan ternak, memotong ternak di Rumah Potong Hewan yang telah disiapkan pemerintah.

"Isi surat edaran itu juga mengimbau kepada masyarakat agar mengolah daging babi secara higenis. Selain itu, menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar tidak resah atau khawatir mengonsumsi daging babi.

Dari berbagai sumber berita

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:40

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.