loading...

Cara Membuat Proposal PKL Peternakan, Ini Contohnya!

Posted by

loading...

Contoh Proposal Praktek Kerja Lapangan (PKL) | Fakultas Peternakan

MANAJEMEN HATCHERY DI PT. PANCA PATRIOT PRIMA



PROPOSAL PRAKTEK KERJA LAPANGAN
Disusun oleh:
1.----------------
2. ----------------
3. -------------




Logo










PROGRAM STUDI S1-PETERNAKAN
FAKULTAS --------
UNIVERSITAS -------
KOTA
Tahun


Pengesahan




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Peternakan ayam merupakan sektor yang paling besar dan luas dalam dunia industri peternakan. Dewasa ini, sektor industri perunggasan di indonesia mengalami kemajuan ditandai dengan munculnya perusahaan besar yang tersebar di berbagai wilayah indonesia. Prospek di bidang perunggasan masih terbuka lebar dengan semakin sadarnya masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi sumber protein yaitu daging dan telur.
Usaha penetasan merupakan parameter dari suatu usaha peternakan pembibitan untuk menghasilkan telur tetas berkualitas. Ayam petelur yang baik memiliki ciri-ciri yaitu, kepala dan muka terlihat halus, lebar, merah; jenggel dan pial terlihat halus dan merah, mata terlihat bercahaya dan cerah serta kaki terlihat panjang, dan kokoh karena kualitas induk yang baik akan mempengaruhi anak yang dihasilkan. Dasar dalam menentukan kualitas telur ayam disebut dengan grading. Grading bertujuan untuk menyeleksi telur tetas yang sesuai standar untuk ditetaskan. Terdapat dua gramade yang digunakan yaitu grade A memiliki berat 56-60 gram dan gramade B memiliki berat 53-55 gram.
Pemeriksaan telur perlu dilakukan untuk memperoleh telur yang baik. Saat penetasan dilakukan Pemeriksaan telur (candling) yang dilakukan tiga kali. Menurut Sari et.al (2011) Pemeriksaan pertama dilakukan untuk mengetahui fertilitas telur. Pemeriksaan kedua dan ketiga dilakukan untuk mengeluarkan telur-telur dengan embrio mati. Daya tetas telur ditentukan berdasarkan perbandingan jumlah telur yang menetas dan tidak.

1.2.         Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari Praktek Kerja Lapangan yaitu untuk menambah ilmu pengetahuan tentang manajemen penetasan (hatchery) di PT. PANCA PATRIOT PRIMA. Manfaat yang diperoleh dari Praktik Kerja Lapangan adalah menambah wawasan dan dapat mengaplikasi teori yang diterima di bangku kuliah ke dunia kerja.


BAB II
TINJAUAN PURTAKA
2.1.      Grading (Seleksi Telur)
Dasar dalam menentukan kualitas telur ayam disebut dengan grading. Grading bertujuan untuk menyeleksi telur tetas yang sesuai standar untuk ditetaskan. Terdapat dua gramade yang digunakan yaitu grade A memiliki berat 56-60 gram dan gramade B memiliki berat 53-55 gram. Sebelum melakukan grading, operator harus mencuci tangan dengan desinfektan, alat-alat yang digunakan dalam proses gramading antara lain timbangan digital, spons, dan cutter untuk pembersihan telur yang kotor. Telur yang lolos grading disebut Hatching Egg (HE), sedangkan telur yang tidak masuk grade disebut Grade Out dengan ketentuan telur terlalu kecil atau besar (jumbo), kerabangnya kotor lebih dari 50 persen, bentuk tidak normal, kerabang tipis, kerabang terlalu putih, dan pecah ataun rusak, telur grade out akan dipisahkan dan dikirim ke gudang telur sebagai telur komersil (Rahmadi, 2009).
            Grading telur yang didasarkan pada mutunya, menghasilkan mutu antara lain mutu AA dengan ciri spesifik kulit bersih, tidak retak dan normal, diameter kantung telur tidak lebih dari 0,30 cm, putih telur cerah dan kental, kuning telur normal, dan tidak cacat.Mutu Akulit bersih, tidak retak dan normal, diameter kantung telur tidak lebih dari 0,42 cm, putih telur cerah namun agak encer, kuning telur agak normal, dan agak cacat. Mutu Bkulit tidak retak, sedikit bernoda dan abnormal, diameter kantung telur tidak lebih dari 0,90 cm, putih telur cerah dan sedikit encer, kuning telur agak normal dan membesar, dan agak cacat.Mutu Ckulit tidak retak, bernoda dan abnormal, diameter kantung telur tidak lebih dari 0,90 cm, putih telur cerah tetapi encer, kuning telur agak membesar, dan cacat(Winarno, 1993).

2.2.      Fumigasi Telur Tetas
Fumigasi dapat dilakukan pada telur yang disimpan dalam ruangan penyimpanan atau dalam mesin tetas. Fumigasi telur dilarang dilakukan pada mesin tetas pada hari  ke 1 dan ke 2. Alat modern proses densifektan dengan cara fumigasi. Bahan kimia yang biasa dipakai untuk fumigasi adalah gas formaldehid. Fteumigasi merupakan proses disinfeksi pada telur, hanya bisa dilakukan pada mesin tetas otomatis. Fumigasi adalah membunuh dengan asap kuman yang ada dalam ruangan tempat menyimpan telur (Hartono dan Isman, 2013).
Metode fumigasi merupakan cara sanitasi telur tetas dengan menggunakan gas formaldehyde hasil pencampuran formalin dan kalium permanganat. Konsentrasi gas, kelembapan, dan waktu yang sangat terbatas serta daya terobosan yang lemah menyebabkan cara ini hanya efektif sebagai pembersih telur. Penggunaan yang berlebihan akan berdampak buruk terhadap daya tetas telur. Selain itu formaldehyde digolongkan sebagai zat yang bersifat karsinogen (dapat menimbulkan kanker (Murtidjo, 2005).

2.3.      Penyimpanan Telur

            Telur harus disimpan pada suhu serendah mungkin namun tidak menyebabkan isi telur membeku, karena dengan membekunya isi telur mengakibatkan volume isi telur membesar, sehingga dapat menyebabkan pecahnya kerabang telur. Oleh karena itu penyimpanan telur harus dilakukan pada suhu refrigerasi diatas suhu-2 °C (28 °F ) untuk mencegah kerusakan telur pada telur, karena pada suhu penyimpanan tersebut pelepasan CO2 dan air dari dalam telur dapat dihambat. Posisi peletakkan telur yang baik bagian tumpu berada diatas, apabila diletakkan terbalik menyebabkan ruang udara mendapat tekanan dari isi telur mengakibatkan terjadinya penambahan besar kantung udara yang akan mempengaruhi kualitas telur (Suradi, 2006). Penyimpanan telur terhadap jumlah bakteri yang dapat dihambat pada suhu kamar berkisar 27 – 0 0C memiliki masa simpan lebih pendek 8 hari di bandingkan dengan penyimpanan pada chilling bersuhu 4 0C bisa betahan sampai 3 minggu (Hardianto et al., 2012). 

2.4.      Proses Penetasan
Proses penetasan telur membutuhkan sumber panas yang dapat membantu penetasan, sumber panas yang digunakan yaitu lampu minyak, energi listrik dan sinar matahari. Penetasan telus unggas membutuhkan rentan waktu yang berbeda untuk telur ayam membutuhkan waktu 21-22 hari, itik membutuhkan waktu 28 dan wallet membutuhkan waktu 13 hari (Nasruddin, 2007).


2.4.1. Pre Warming
Tahap pre warming ditepmatkan di ruang adaptasi agar embrio tidak mengalami shock yaitu dengan suhu ruangselama 6 jam. Mesin tetas berukuran besar biaya pengoperasiannya mahal, sehingga disarankan pada saat penetasan disesuaikan dengan kapasitas maksimum mesin tetas tersebut. Pengisisan telur yang dibawah standar akan menurunkan efisiensi biaya penetasan. Setelah jumlah telur yang akan ditetaskan terpenuhi, maka telur tetas dikeluarkan dari cooling room (tempat pendinginan telur)  menuju setter. Perbedaan  antara cooling room dengan setter sangat jauh, maka perlu adanya penyesuaian temperatur agar embrio yang ada di dalam telur tidak mengalami cekaman.  di dalam cooling room sekitar 20oC, sedang didalam setter 37,5oC. Proses penyesuaian temperatur tersebut disebut pre warming. Lamanya proses pre warming didasarkan pada ketebalan kerabang telur. Pre warming pada telur ayam Hysex dilakukan selama 18 jam, sedangkan untuk telur ayam Hybro selama 12 jam. Ketika telur dipindahkan dari lingkungan dingin ke hangat, kondisi yang lebih lembab yang mengakibatkan bisa berkeringat. Telur bisa berkeringat ketika diangkut dari ruang telur dingin di pertanian untuk pembenihan yang hangat atau dari ruang telur dingin di hatchery untuk pra-pemanasan atau inkubasi (Tullett, 2009).

2.4.2. Setter
Telur yang sudah hangat dari pre warming dimasukkan ke dalam ruang setter . Telur disusun berdasarkan kandang, kualitas telur, dan umur induk ayam. Temperatur ruang setter 37,5 oC dan kelembaban 55%. Pemutaran telur tetas di dalam setter dilakukan selama 18 hari dengan frekuensi pemutaran satu jam sekali. Sudut pemutaran telur 90o dan kemiringan 45o. Bila telur tidak diputar, maka kuning telur akan melekat pada satu sisi kerabang telur dan berakibat pada kematian embrio.

2.4.3. Transfer Telur Tetas dan Candling
Transfer adalah proses pemindahan telur tetas dari setter ke hatcher saat umur embrio 18 hari. Sebelum masuk ke mesin hatcher, terlebih dahulu dilakukan candling (peneropongan). Candling dilakukan untuk memisahkan telur yang fertil, infertil dan explode. Menurut Nuryati dkk (2003), telur explode disebabkan telur terkontaminasi bakteri, kotor, pencucian telur kurang baik dan mesin tetas kotor.Transfer telur tetas dan candling dilakukan dengan cepat, maksimal 30 menit karena embrio dapat mati akibat perubahan temperatur telur yang drastis. Telur yang sudah diteropong dipindahkan ke kereta buggy hatcher yang berbentuk keranjang.

2.5.      Hatcher

Usaha penetasan merupakan parameter dari suatu usaha peternakan pembibitan untuk menghasilkan telur tetas berkualitas. Pemeriksaan telur perlu dilakukan untuk memperoleh telur yang baik. Saat penetasan dilakukan Pemeriksaan telur (candling) yang dilakukan tiga kali. Menurut Sari et.al(2011) Pemeriksaan pertama dilakukan untuk mengetahui fertilitas telur. Pemeriksaan kedua dan ketiga dilakukan untuk mengeluarkan telur-telur dengan embrio mati. Daya tetas telur ditentukan berdasarkan perbandingan jumlah telur yang menetas dan tidak.
Temperatur dan kelembaban dalam mesin tetas harus stabil. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kondisi telur agar tetap baik selama proses penetasan. Maulidya et.all(2013) menyatakan bahwa telur akan banyak menetas jika berada pada temperatur antara 36-40°C. Embrio tidak toleran terhadap perubahan temperatur yang drastis. Kelembaban mesin tetas sebaiknya diusahakan tetap pada 70 %. Penanganan DOC setelah menetas pada ayam broiler, meliputi beberapa hal yaitu pengumpulan DOC (pull chicks), seleksi (selection), culling  (pengafkiran DOC cacat), vaksinasi dan pengepakan hingga pengiriman.

2.6.      Pull Chick 

Pull chick adalah kegiatan menurunkan DOC dari mesin hatcher, termasuk sexing DOC (pemisahan DOC jantan dan betina), seleksi sambil memasukkan DOC ke dalam boks. Sexing dilakukan berdasarkan warna bulu. DOC jantan memiliki warna bulu kuning dan garis punggung berjumlah ganjil, sedangkan DOC betina memilki warna bulu coklat dengan garis punggung kuning berjumlah genap. Ruangan pull chick (pull chick room) berfungsi sebagai tempat pelaksanaan seleksi doc, pemotongan paruh, vaksinasi marek, pengemasan doc kedalam boks, dan penyimpanan sementara sampai doc dikirim ke pelanggan (Sudarmono,2003).        


BAB III
MATERI DAN METODE
            Praktek Kerja Lapangan ini akan dilaksanakan pada tanggal 26 Januari – 26 Februari 2015 di PT. PANCA PATRIOT PRIMA.

3.1.      Materi

            Materi yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan yaitu perusahaan di PT. PANCA PATRIOT PRIMA.
            Daftar nama anggota  proposal Praktek Kerja Lapangan adalah:
1.    -----------------------
2.  ---------------
3.    -----------

3.2.      Metode
            Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan yaitu berpartisipasi secara aktif mengikuti kegiatan rutin farm (perusahaan). Pengambilan data tentang perusahaan baik data primer maupun data sekunder dengan cara observasi secara langsung dan wawancara yang mencangkup seluruh aspek manajemen Heatchery. Data sekunder yang diperoleh dari catatan PT. PANCA PATRIOT PRIMA.



BAB IV
JADWAL KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
Kegiatan
Bulan
Sep
Okt
Nov
Des
Jan
Feb
Mar
Aprl
Mei
Jun
Persiapan proposal










Pelaksanaan PKL










Analisis Data










Penyusunan Laporan










Konsultasi










Ujian













           


DAFTAR PUSTAKA
Hardianto, Suarjana K., G., I., Rudyanto, D., M., 2012. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Kualitas Telur Ayam Kampung Ditinjau dari
Angka Lempeng Total Bakteri. Indonesia Medicus Veterinus. Vol. 1 (1).
Hal. 71-84.

Hartono, T., dan Isman. 2013. Kiat Sukses Menetaskan Telur Ayam. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Maulidya S.N, Ismoyowati dan Ibnu H. 2013.Pengaruh Temperatur Terhadap Daya Tetas dan Hasil Tetas Telur Itik. Jurnal Ilmiah Peternakan Vol. 1(1). Hal. 347-352.

Meisji L. S, Ronny R. N, Peni S. H dan Chairun N. 2011. Keragaan Telur Tetas
Itik Pegagan. Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol. 6 (2).

Murtidjo, A., B., 2005. Penetasan Itik dengan Sekam. Kanisius. Yogyakarta.
Nasruddin, MN. 2007. Penentuan Suhu pada Ruangan Penetasan Telur Berbasis
Mikroprosesor. Jurnal Penelitian MIPA. Vo. 1 (11). Hal, 30 – 33.

Rahmadi, F.I. 2009. Manajemen Pemeliharaan Ayam Petelur di Peternakan Dony Farm Kabupaten Magelang. Program Diploma III Agribisnis Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta. (Tugas Akhir).
Sudarmono, A, S, Drs. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius,
Yogyakarta.

Suradi, Kusmajadi, 2006. Perubahan Kualitas Telur Ayam Ras dengan Posisi         Peletakan Berbeda Selama Penyimpanan Suhu Refrigerasi. Jurnal Ilmu   Ternak. Vol. 6 (2). Hal. 136-139.

Tullett, Steve. 2009. Investigating Hatchery Practice Aviagen, Newbridge,
Ukraina

Winarno, F.G. 1993. Pangan; Gizi, Teknologi dan Konsumen. PT. Gedia Pustaka   Utama. Jakarta.


 Lampiran

loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:48

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.