loading...

Anoa, Jenis Kerbau Yang Terancam Punah

Posted by

loading...
Hewan Endemik Sulawesi Yang Diambang Kepunahan, Anoa Si Kerbau Kerdil


Secara taksonomi anoa masuk dalam genus kerbau, Bubalus, namun bentuk tubuhnya menyerupai sapi kerdil. Dikenal dua spesies anoa yaitu anoa datran rendah Bubalus depressicornis dan anoa gunung Bubalus quarlesi. Panjang tubuh anoa 160-172 centimenter, ekornya 18-31 centimeter. Ukuran tubuh yang kerdil menjadi daya tarik anoa. Anoa gunung biasanya berukuran lebih kecil. “Rata-rata tinggi badan anoa dewasa hanya 75 centimeter. Ada yang hanya 69 centimeter tapi ada mencapai 106 centimeter. Berat badan anoa maksimal 150 kilogram. Anak anoa berambut tebal tebal warna coklat kekuningan. Semakin tua, warna rambur semakin gelap yaitu coklat gelap sampai hitam. Anoa jantan berwarna lebih gelap,” papar ahli satwa liar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr.Abdul Haris Mustari.

Anoa endemik Sulawesi, penyebarannya saat ini terutama terdapat di Sulawesi Utara dan Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Pulau Buton. Sedangkan di Sulawesi Selatan, populasi anoa semakin langka bahkan di beberapa tempat satwa ini telah mengalami kepunahan lokal.



Kedua spesies anoa tersebut dilindungi undang-undang, dan termasuk katagori terancam punah Endangered Species oleh IUCN(International Union for Conservation and Natural Resources), artinya satwa langka tersebut akan punah apabila tidak segera dilakukan tindakan konservasi terhadap populasi dan habitatnya. Anoa juga tercantum dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu satwa yang tidak boleh diburu, ditangkap dan dibunuh serta diperdagangkan. Kedua spesies anoa tersebut termasuk dalam daftar sepuluh jenis mamalia yang menjadi prioritas nasional untuk dilestarikan.

Lebih lanjut, Dr. Mustari menjelaskan perilaku anoa. Masa hidup anoa sampai 25 tahun. Anoa betina dewasa kelamin pada usia 3 tahun sedangkan yang jantan pada usia 4 tahun. Anoa hidup soliter, kadang dua ekor dan jarang sekali dijumpai lebih dari tiga ekor. Anoa. Anoa betina sering bersama 1-2 ekor anaknya yang berbeda umur. Anoa jantan lebih sering menyendiri dan cenderung agresif terhadap anoa jantan lain terutama pada musim kawin yang berlangsung pada akhir musim kemarau (Agustus-Oktober). Masa kehamilan anoa selama sembilan bulan, dan hanya satu anak yang lahir per sekali kelahiran. Anoa makan berbagai jenis tumbuhan terutama kelompok dikotil sekitar 70% paku-pakuan termasuk perdu, semak dan liana serta. Anoa juga makan tumbuhan dari kelompok monokotil yaitu berbagai jenis rumput yang tumbuh di hutan termasuk pucuk dan rebung bambu. Buah matang yang jatuh ke lantai hutan juga menjadi makanan kesuakaan anoa seperti buah berbagai jenis beringin Ficus spp, Dongi/Dengen Dillenia ochreata, Konduri Parkia timoriana, dan Sukun Hutan Artocarpus sp. Anoa membantu penyebaran beberapa jenis tumbuhan asli Sulawesi sehingga regenerasi hutan senantiasa berlangsung, karena itu anoa sangat penting artinya dalam menjaga kelangsungan hutan tropis di Sulawesi.
Fakta Tentang Anoa:
  • Hewan yang bernama Latin Bubalus ini termasuk dalam spesies lembu liar terkecil. Itu sebabnya hewan ini disebut kerbau kerdil.
  • Anoa dataran rendah hidup hutan tropika, atau di savana. Tapi layaknya kerbau, hewan satu ini juga suka berkubang di rawa-rawa. Hidupnya selalu berpindah-pindah dalam hutan.
  • Hewan ini termasuk hewan semi soliter, yang hidup menyendiri atau bersama pasangannya. Jika terlihat bersama kawanannya dikarenakan betinanya akan melahirkan. Setelah itu, mereka akan memisahkan diri kembali.
  • Untuk mempertahankan diri anoa biasanya akan menceburkan diri ke dalam rawa. Apabila terpaksa melawan musuh, ia akan menggunakan tanduknya.
  • Satwa khas Sulawesi Tenggara ini aktif pada pagi dan sore hari ketika udara masih dingin. Mereka memang menyukai hawa dingin, itu sebabnya sering berendam di rawa atau kubangan lumpur.
  • Anoa adalah hewan herbivora yang memakan segala jenis tanaman yang mengandung air, misalnya rumput, pakis, tunas pohon, buah-buahan, dan umbi-umbian.
  • Khusus anoa dataran rendah biasa meminum air laut untuk memenuhi kebutuhan mineral dalam tubuhnya. Berbeda dengan anoa pegunungan yang sering menjilat garam alam untuk kebutuhan mineralnya.
  • Induk satwa ini hanya melahirkan satu bayi setiap tahunnya, dengan waktu kehamilan selama 276 sampai 315 hari. Bayi yang dilahirkan induknya hanya satu, jarang sekali terjadi hewan ini bisa melahirkan dua atau tiga anak sekaligus.
  • Saat lahir bayi anoa berbulu coklat keemasan atau kekuningan. Seiring bertambah usianya warna bulunya menjadi gelap dan cenderung hitam.
  • Anak anoa akan disapih ketika usia mereka mencapai 6 atau 9 bulan. Pada usia itu pula, hewan ini akan berlatih hidup mandiri.
  • Angka harapan hidup anoa mencapai 20-25 tahun. Pada umur 2 tahun hewan ini sudah bisa kawin dan berkembang biak.
  • Pejantannya sering menandai pohon dengan tanduk. Mereka juga menggaruk tanah setelah kencing. Tidak diketahui secara pasti, apakah perilaku ini untuk menunjukkan teritori mereka atau sekedar perilaku agresi hewan ini.
  • Anoa memiliki tanda putih di kepala dan kaki. Seringkali terlihat tanda putih menyerupai bulan sabit di tenggorokan. Umumnya bulu fauna ini lebih tebal dan berwarna kecoklatan ketika masih muda, semakin tua bulunya akan menipis dan berwarna semakin gelap.
  • Berbeda dengan anoa pegunungan yang memiliki bulu lebih tebal dibandingkan jenis dataran rendah. Bulu-bulunya juga dominan polos dan jarang dijumpai bercak putih. Warnanya juga lebih gelap. Tentu saja karena udara pegunungan lebih dingin, sehingga pertumbuhan fisiknya menyesuaikan dengan habitat hidupnya.
Populasi fauna endemik Pulau Sulawesi, anoa, saat ini dikhawatirkan kian susut akibat perambahan hutan dan perburuan di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah, habitat terbesarnya. Satwa liar kategori langka itu kini diperkirakan berjumlah kurang dari 5.000 ekor saja. Populasi anoa di tiga hutan yang ada di Gorontalo, yakni Suaka Margasatwa Nantu, Cagar Alam Panua, dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, diperkirakan hanya 450 ekor. Di Sulawesi Tenggara di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa diperkirakan terdapat 350 ekor anoa kata Dr Mustari.
”Di Suaka Margasatwa Nantu jumlah maksimal anoa 100 ekor, hutan Panua 50 ekor, dan di taman nasional Bogani Nani Wartabone jumlah anoa maksimal 300 ekor,” kata Dr.Mustari melakukan penelitian dari tahun 1994-2003 dan banyak menemukan warga mengkonsumsi daging anoa di daerah perbatasan Suaka Margasatwa Nantu dengan kawasan hutan Papualangi, di Desa Cempaka Putih, Kabupaten Gorontalo Utara, serta di sekitar Suaka Margasatwa Tanjung Peropa di Sulawesi Tenggara.

Menurut Pria yang bertahun-tahun meneliti anoa ini, populasi anoa yang menyusut drastis dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Populasi anoa di seluruh Sulawesi bahkan jumlahnya tidak lebih dari 5000 ekor. Salah satu predator alami yang menyebabkan anoa terancam, kata dia, adalah ular phyton yang suka memangsa anak anoa atau anoa muda. Selain itu, anoa juga jarang melahirkan, yakni hanya satu anak per kelahiran.

”Namun predator utama anoa adalah manusia. Warga menganggap anoa adalah sapi hutan yang boleh diburu dan dikonsumsi. Tapi warga enggan menyebutkan dapat dari mana daging anoa itu. Biasanya daging anoa banyak diburu untuk dikonsumsi. Namun tidak dijual secara terbuka, melainkan door to door,” kata Dr.Mustari. Selain dikonsumsi dagingnya, tanduk anoa dijadikan trophy yang dipajang di dinding ruang tamu oleh penduduk di Sulawesi. Pria yang sejak tahun 1994 sampai sekarang aktif meneliti ekologi dan konservasi anoa di habitat alamnya di Sulawesi ini mengatakan aparat setempat tidak serius menangani perburuan liar anoa di kawasan itu. Bahkan hingga saat ini tak satu pun pemburu anoa yang pernah ditangkap. Degradasi hutan yang terjadi karena pembukaan hutan untuk perkebunan, permukiman, maupun penebangan liar juga turut andil dalam mempercepat proses kepunahan hewan pemalu ini.

Sisi lain, sebenarnya, anoa mempunyai potensi tinggi menjadi sumber pangan protein hewani bagi masyarakat Sulawesi. Hal ini akan mengurangi ketergantungan impor daging dari luar Sulawesi. “Namun perlu penelitian serius untuk mendomestifikasikan atau melakukan penangkaran anoa menjadi hewan budidaya. Cara ini dapat menjadi upaya perlindungan dari kepunahan anoa, di samping peningkatan gizi masyarakat setempat. Masyarakat pun memanfaatkan potensi lokal untuk memenuhi kebutuhan pangannya,” ujar Dr.Mustari.

Kata Dr Mustari bahwa saat ini sedang disusun dokumen nasional Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Anoa sebagai upaya konservasi anoa yang mencakup beberapa program yaitu:

1. Pengendalian perburuan liar

2. Pengelolaan populasi anoa di habitat alaminya

3. Pengelolaan habitat anoa

4. Peningkatan peran Lembaga Konservasi termasuk kebun binatang dan taman safari untuk perbaikan pengelaolaan anoa ex-situ

5. Pembentukan pangkalan data dan informasi untuk pengelolaan anoa

6. Peningkatan pendidikan dan kesadaran publik untuk melestarikan anoa

7. Peningkatan kerjasama para pihak (stake holder) untuk melestarikan anoa

8. Pendanaan yang berkelanjutan untuk menunjang upara pelestarian anoa

loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 22:20

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.