loading...

Animal Welfare, Arti, Tujuan dan Manfaat Pelaksanaannya

Posted by

loading...
Pengertian Animal Welfare (Kesejahteraan Hewan)


Dalam konteks Indonesia, Animal Welfare (Kesejahteraan Binatang) adalah konsep yang agak baru dan belum dipahami secara luas. Konsep ini sulit untuk diterjemahkan dari bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia. Kata “kesejahteraan‟ mempunyai arti yang berbeda untuk kebanyakan masyarakat kita. Pada umumnya, istilah “kesejahteraan” terkait erat dengan hidupnya manusia. Namun, ada LSM binatang di Indonesia, seperti ProFauna, yang menerjemahkan “Animal Welfare‟ sebagai “Kesejahteraan Hewan atau Binatang‟. Para pekerja di LSM-LSM binatang ini mencoba untuk mengajar masyarakat di Indonesia bahwa konsep “kesejahteraan‟ tidak hanya berlaku untuk manusia, tetapi untuk binatang juga.

Animal Welfare (Kesejahteraan Binatang), adalah bentuk expresi diri yang berkenaan dengan hati atau moral. Semua manusia bertanggungjawab terhadap masing-masing binatang yang dipelihara atau bebas di alam. Dalam teori Kesejahteraan Binatang ada ajaran tentang kepedulian dan perlakuan manusia terhadap masing-masing hewan dan bagaimana masyarakat dapat meningkatkan kwalitas hidup hewan itu. Setiap jenis satwa liar dan hewan harus dibiarkan hidup bebas di alam atau hidup yang berkwalitas di lingkungan yang disesuaikan dengan pola perilaku, kebutuhan serta karakteristik habitat alamnya di kandang. Lagi pula, manusialah yang bertanggungjawab untuk mewujudkannya. Selanjutnya, para aktivis Kesejahteraan Binatang mengajarkan bahwa binatang memiliki perasaan seperti halnya manusia. Misalnya perasaan seperti kebosanan, stres, kesenangan, dan penderitaan.

Dalam prinsip Kesejahteraan Binatang, semua orang didorong untuk menumbuhkan empati terhadap hewan dan mengembangkan sikap menghargai hewan. Jika masyarakat memahami perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, mereka bisa memahami juga bagaimana binatang harus diperlakukan. Kesejahteraan Binatang mengukur baik kesenangan maupun kesehatan binatang.


Add caption



Ada beberapa ukuran berbeda untuk mengevaluasi kwalitas hidupnya. Yang pertama, ada yang menganalisa perasaan binatang saja. Yang kedua, ada yang memeriksa jika binatang sehat dan jika binatang mempunyai perilaku menyimpang atau tidak. Yang ketiga, ada yang mengevaluasi jika binatang dibiarkan hidup di lingkungan aslinya agar dapat hidup sealami mungkin, jadi perilaku alamiah sebanyak mungkin dapat ditunjukkan.

Animal welfare lebih terkonsentrasi terhadap peningkatan kwalitas individu hewan, bagaimana setiap species tersebut memperoleh hak hidup alamiah. Dalam pengertian kasar, konsep Animal Welfare lebih memilih 1 species yang hidup layak alami (sejahtera) dibandingkan lebih dari satu species tapi dengan kondisi yang terkurung dalam penyiksaan dan kehidupan yang tidak layak.

Sasaran Animal Welfare adalah semua hewan yang berinteraksi dengan manusia dimana intervensi manusia sangat mempengaruhi kelangsungan hidup hewan, bukan yang hidup di alam. Dalam hal ini adalah hewan liar dalam kurungan (lembaga konservasi, entertainment, laboratorium), hewan ternak dan hewan potong (ternak besar/kecil), hewan kerja dan hewan kesayangan.



Aspek penting Animal Welfare
Beberapa bagian penting berkenaan dengan Animal Welfare yaitu : Welfare Science, Welfare law dan Welfare ethics. Welfare science mengukur kondisi pada hewan dalam situasi dan lingkungan berbeda, cara penilaian manusia melalui sudut pandang hewan. Welfare ethics mengenai bagaimana manusia sebaiknya memperlakukan hewan. Welfare law mengenai bagaimana manusia harus memperlakukan hewan.
Ketiga aspek di atas menjadi satu kesatuan utuh dalam memperlakukan hewan. Pada satu kondisi, seekor kera di simpan dalam kandang, diberi makan secara teratur, minum tersedia setiap saat dan kondisi kandang yang aman dari panas dan hujan. Dalam sudut pandang manusia, bisa jadi itulah yang terbaik, tapi dalam sudut pandang hewan bisa jadi bertolak belakang. Kebutuhan mereka untuk merasakan kebebasan alam liar dan berkembang alami bersama kelompoknya menjadi permintaan khusus mereka yang disampaikan pada setiap jeritan dan loncatannya dalam kandang itu.



Menilai kesejahteraan hewan dengan konsep Five of Fredoom 


Add caption

Konsep “Lima Kebebasan” (Five of Freedom) yang dicetuskan oleh Inggris sejak tahun 1992 dikenal sebagai panduan umum menilai kesejahteraan hewan. The Five Freedoms (Lima Kebebasan Binatang) ditetapkan pada akhir 1960-an. Pada periode itu, pemerintah Inggris Raya mendirikan komisi untuk menginvestagasi bagaimana binatang diperlakukan di pertanian setempat. Komisi itu menarik kesimpulan bahwa ada kebutuhan untuk menetapkan garis kebijaksanaan tentang bagaimana binatang seharusnya diperlakukan. Metode ini sudah dianggap sebagai metode internasional, dan RSPCA (Royal Society for the Prevention of Cruelty Against Animals) percaya bahwa siapapun yang memiliki binatang mempunyai tanggung jawab untuk memberi binatang itu Lima Kebebasan ini. 
Lima konsep kebebasan itu adalah :
1. Bebas dari rasa lapar dan haus
2. Bebas dari rasa tidak nyaman
3. Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit
4. Bebas mengekspresikan perilaku normal
5. Bebas dari rasa stress dan tertekan.


Bebas dari rasa lapar dan haus dimaksudkan sebagai kemudahan akses akan air minum dan makanan yang dapat mempertahankan kesehatan dan tenaga. Dalam hal ini adalah penyediaan pakan yang sesuai dengan species dan keseimbangan gizi. Apabila keadaan ini gagal dipenuhi maka akan memicu timbulnya penyakit dan penderitaan.

Bebas dari rasa tidak nyaman dipenuhi dengan penyediaan lingkungan yang layak termasuk shelter dan areal istirahat yang nyaman. Apabila keadaan ini gagal dipenuhi maka akan menimbulkan penderitaan dan rasa sakit secara mental yang akan berdampak pada kondisi fisik dan psikologi hewan.

Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit meliputi upaya pencegahan penyakit atau diagnosa dan treatmen yang cepat. Kondisi ini dipenuhi melalui penerapan pemeriksaan medis yang reguler. Apabila kondisi ini terabaikan maka akan memicu timbulnya penyakit dan ancaman transmisi penyakit baik pada hewan lain maupun manusia. Contohnya: penyakit Hepatitis dan TBC pada orangutan yang direhabilitasi.

Bebas mengekspresikan perilaku normal adalah penyediaan ruang yang cukup, fasilitas yang tepat dan adanya teman dari jenis yang sama. Apabila keadaan ini tidak terpenuhi maka akan muncul perilaku abnormal seperti stereotype, dan berakhir dengan gangguan fisik lainnya.

Bebas dari rasa takut dan tertekan yaitu memberikan kondisi dan perlakuan yang mencegah penderitaan mental. Stress umumnya diartikan sebagai antithesis daripada sejahtera. Distress merupakan kondisi lanjutan dari stress yang mengakibatkan perubahan patologis. Lebih lanjut kondisi ini terlihat pada respon perilaku seperti menghindar dari stressor (contoh: menghindar dari temperatur dingin ke tempat yang lebih hangat dan sebaliknya), menunjukkan perilaku displacement (contoh; menunjukkan perilaku display yang tidak relevan terhadap situasi konflik dimana tidak ada fungsi nyata), dan bila tidak ditangani akan muncul perilaku stereotipik yang merupakan gerakan pengulangan dan secara relatif kelangsungan gerakan tidak bervariasi dan tidak punya tujuan jelas.



Indikator Kesejahteraan hewan
Gangguan pada kesejahteraan hewan dapat diamati berdasarkan 3 indikator yaitu: Indikator fisiologi dan psikologi, indikator immun dan produksi serta indikator perilaku. Perubahan yang terjadi pada hewan dapat diamati berdasarkan perubahan pada fisik, mental maupun perilaku.

Secara fisiologi kondisi perubahan kesejahteraan hewan akan mengaktifkan sistem saraf pusat (SSP) dan memberikan respon baik pada sistem saraf otonom maupun sistem endokrin. Akibat dari respon sistem saraf otonom akan berdampak pada Sistem SAM (Simpatetic Adrenal Medulary) dan Sistem PNS (Parasimpatetic Nervous System). Respon Sistem SAM mengakibatkan peningkatan Cardiac output (tachycardia, cardiac muscle contraction), peningkatan aliran darah ke otot (vasokontriksi perifer, kontraksi limfa), peningkatan air intake (respiratory rate, relaksasi bronkhiol). Sementara respon dari Sistem PNS (Parasimpatetic Nervous System) adalah penurunan Cardiac output (branchicerdia). Gangguan secara terus menerus pada system syarafnya berakibat munculnya stress dengan gejala seperti Peningkatan aktifitas adrenocortical. Juga lambat laun berpengaruh pada penurunan aktifitas hormonal reproduksi. Gejala dari prilaku dapat terbaca melalui penurunan performance yang bisa diakibatkan oleh peningkatan tekanan darah kronis, meningkatnya kerentanan penyakit, penyembuhan luka yang lama, Cardiovascular pathologis, dan juga kematian.

Contoh akibat pengabaian kesejahteraan hewan pada hewan ternak dan hewan potong adalah beberapa testimony yang menyatakan bahwa rasa daging sapi import, baik dari Australia, Selandia Baru maupun Jepang, memiliki karakter daging yang lebih empuk dan serat yang halus dibandingkan daging sapi dalam negeri. Kebenaran testimony ini dapat ditelusuri secara ilmiah bahwa pembentukan daging yang berkualitas sangat bergantung pada perlakuan selam proses pemeliharaan, pengangkutan dan penyembelihan. Efek stress pada hewan sebelum dipotong akan berdampak buruk pada kualitas karkas dan daging yang disebut Dark Firm Dry (DFD).

Dark Firm Dry (DFD) terjadi akibat dari stress pre-slaughter sehingga mengosongkan persediaan glycogen pada otot. Keadaan ini menyebabkan kadar Asam laktat pada otot berkurang dan meningkatkan pH daging melebihi dari normal. Pada kondisi seperti ini maka proses post mortem tidak berjalan sempurna terlihat pada warna daging terlihat lebih gelap, kaku dan kering yang mana secara umum lebih alot dan tidak enak. pH daging yang tinggi akan mengakibatkan daging lebih sensitif terhadap tumbuhnya bakteri. DFD beef adalah indikator dari stress, luka, penyakit atau kelelahan pada hewan sebelum disembelih.



Perangkat Hukum Animal Welfare

Add caption

Detail mengenai Animal Welfare, memang belum diatur secara khusus dalam peraturan perundangan tersendiri. Namun, ada beberapa peraturan yang dibuat untuk melindungi kehidupan binatang di Indonesia. Diantaranya, ada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang-undang ini menegaskan penjagaan keseimbangan ekosistem flora dan fauna di Indonesia. Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa, Peraturan pemerintah Nomor 8 tahun 1999 tentang pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar. Selain itu pada tahun 1998 ada undang-undang yang diajukan untuk melindungi satwa liar di luar habitatnya, yaitu SK. Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 479/Kpts-II/1998 yang kemudian diperbarui dengan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.53/Menhut–II/2006 tentang Lembaga Konservasi. Kemudian Peraturan Menteri Kehutanan No. P.52/Menhut–II/2006 yang mengatur mengenai Peragaan Jenis Tumbuhan dan Satwa liar dilindungi.

Dalam UU No.18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, defenisi Animal Welfare juga secara gamblang dijelaskan. Animal Welfare diartikan sebagai segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.

loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:44

0 komentar:

Post a Comment

loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.