Back Crossing Ternak, Kendala dan Evaluasi Produktivitasnya

Posted by

Loading...

Perkawinan Silang Ternak dan Cara Menghitung Indeks (Angka) Produktivitas Sebagai Evaluasi Hasil Persilangan Ternak

Persilangan balik adalah sistem perkawinan silang yang keturunannya selalu disilang balikan (back crossing) dengan bangsa tetua dari bangsa pejantan dari ras boer dengan maksud untuk mengubah bangsa induk lokal atau PE menjadi bangsa pejantan boer yang berasal dari ternak impor.
Gambar bagan dari komposisi darah dalam persilangan secara grading up tertampil berikut ini;

Catatan :
Pejantan yang digunakan dalam setiap persilangan harus berbeda-beda keturunan atau tetuanya guna menghindari silang dalam.

Hasil silangan pertama disebut silangan I atau grade I, karena dalam hal ini grade I merupakan hasil silangan biasa, dapat pula disebut sebagai F1. Tetapi silangan 2 disebut Grade 2 (disingkat G2) dan seterusnya.

Komposisi darah dari grade 4 (G4) adalah mendekati 100% boer, yaitu sebesar 93% - grade 4 ini disebut sebgai Appendix-4 (G4) dan ini yang menjadi tujuan dari pengembangan boerawa di Tanggamus sebagai ras baru di Indonesia.

Kendala-kendala yang akan dihadapi di lapangan dalam pembentukan boerawa grade 4 yaitu dengan model pembentukan boerawa di tingkat peternak dengan kelompok tani ternak di pedesaan dan dengan latar belakang perekonomian rendah/dhuafa akan berakibat pada :

1. Perkawinan dengan IB mempunyai keberhasilan kurang dari 50%, sehingga peternak akan lebih menyukai perkawinan secara alami.

2. Grade 1/F1 betina akan dijual peternak.

3. Grade 1/F1 akan dipelihara peternak sampai besar dan mempunyai kemungkinan besar akan digunakan sebagai pejantan.

4. Ilmu pembentukan boerawa tingkat peternak jauh dari memadai.

5. Asumsi F1 adalah boerawa sebagai hasil akhir harus dihilangkan dan harus diawasi recording secara ketat.

6. Merasa sayang terhadap induk PE jika diganti dengan boerawa grade 1 dan sayang diganti dengan grade 2 dan seterusnya.

7. Perlunya investasi besar untuk membeli boerawa yang dijual peternak agar betina dapat dijadikan induk dan menjauhkan pejantan boerawa (sebelum G4) sebagai pejantan.

8. Perlunya peternak atau kelompok atau peternakan khusus penampungan betina unggul hasil-hasil persilangan.

9. Perlunya evaluasi hasil persilangan-persilangan boerawa dari tinjauan produktivitas dan peningkatan perekonomian peternak.

Evaluasi hasil persilangan. Dengan produktivitas, dimaksudkan seberapa besar hasil yang diperoleh dari seekor ternak pada kurun waktu tertentu. Untuk kambing boerawa indeks produktivitas dapat berupa jumlah berat hidup cempe boerawa sapihan per tahun.
Untuk mendapatkan produktifitas berat hidup per tahun harus dicari angka kelahiran pertahun, angka panen cempe per tahun dan rerata berat hidup cempe boerawa pada umur tertentu.

Contoh 1 :
Seekor kambing PE (dengan kawin IB) dapat beranak 3 kali selama 2 tahun, jumlah anak boerawa sepelahiran 150% dan angka panen cempe boerawa 80%, sedangkan rerata berat cempe boerawa pada umur 7 bulan adalah 15 kg. Akan dicari indeks produktifitas kambing boerawa di Tanggamus.

Penyelesaian :
Angka sepelahiran; 3 kali / 2 tahun = 3/2 per tahun
Panen cempe; 150% x 80% = 120%
Jadi indeks produktifitas; 3/2 x 1,20 x 15 kg = 27 Kg
Indeks produktifitas sebesar 27 kg berarti dalam 1 tahun kambing PE tersebut dapat menghasilkan boerawa sapihan sebanyak 1,2 ekor dengan berat total 27 kg.

Perhitungan angka produktifitas ini sangat penting dalam evaluasi persilangan dalam membentuk kambing boerawa, karena biasanya persilangan hanya memperbaiki angka produksinya yaitu daging tetapi kurang bahkan kadang-kadang berpengaruh negative terhadap angka reproduktivitasnya.

Berikut ini rekaan hasil suatu persilangan.

Contoh 2.
Apa yang terjadi jika kambing betina PE disilangkan dengan pejantan boer sehingga anak F1 boerawa kecepatan pertumbuhannya bertambah, tetapi reproduksinya berkurang.

Dimisalkan umur 7 bulan berat hidup menjadi 20 kg, tetapi hanya dapat beranak sekali dalam 1 tahun dengan angka sepelahiran 135%.
Penyelesaian :
Angka kelahiran; 1 kali / 1 tahun = 1 ekor pertahun.
Panen cempe; 135% x 80% = 108%
Jadi produktifitas; 1 x 1.08 x 20 kg = 21 kg.
Dari hasil persilangan itu dapat diambil kesimpulan sebgai berikut:
Ditinjau dari kecepatan pertumbuhannya, kambing silangan/boerawa lebih baik dari pada kambing lokal, karena berat badan umur 7 bulan kambing silangan = 20 kg, sedangkan kambing lokal 15 kg. Kalau dilihat dari angka sepelahiran, mulai tampak sedikit kerugian dari persilangan, yaitu 150% jadi 135% karena perbedaan yang kecil ini maka sering diduga bahwa produktivitas kambing silangan lebih baik, karena lebih besar badanya, namun bila dihitung dari produktivitasnya, kambing silangan hanya dapat beranak 1 kali dalam 1 tahun.

Pustaka;
Wartomo Hardjosubroto. 1994. "Aplikasi Pemuliabiakan Ternak Di Lampangan". PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 16:40

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.