loading...

Arti Probiotik, Jenis dan Manfaatnya Untuk Meningkatkan Produksi Ternak

Posted by

loading...

loading...

PROBIOTIKA,
PENGERTIAN DAN KEGUNAANNYA UNTUK MENINGKATKAN PENAMPILAN PRODUKSI TERNAK
(Oleh Winarno)

Tulisan atau cerita di bawah ini merupakan ringkasan dari sebuah buku dengan judul Probiotika yang di tulis oleh Prof. Suharsono dan dari referensi lain. Tujuan saya supaya teman-teman peternak skala kecil lebih tahu dan lebih pintar tentang probiotika. Supaya tidak mudah "diblithuk" (ditipu) oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggungjawab untuk mengambil keuntungan sepihak.
Selamat membaca dan memahami.

PENDAHULUAN
Jumlah penduduk dunia, khususnya Indonesia yang semakin banyak dan berkembang pesat berakibat pula terhadap perkembangan usaha di sektor peternakan.  Sektor peternakan dituntut untuk dapat menyediakan pangan yang cukup bagi penduduk Indonesia berupa protein hewani agar manusia Indonesia dapat menjadi manusia yang sehat, cerdas dan kuat.  Untuk memenuhi permintaan akan protein hewani tersebut, salah satu sektor usaha peternakan yang cukup memadai untuk menjadi andalan adalah peternakan unggas, terutama ayam broiler dan ayam petelur.

Usaha peternakan di bidang perunggasan (ayam) dewasa ini semakin berkembang pesat dan meningkat sebagai konsekuensi dari meningkatnya jumlah penduduk yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizi proteinnya.  Oleh karena itu usaha peternakan ini harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar selalu menguntungkan serta produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat baik kuantitas maupun kualitasnya.

Dalam dunia industri peternakan, khususnya peternakan unggas, pemberian makanan tambahan berupa feed additive atau supplement biasa dilakukan. Pemberian feed additive tersebut dilakukan untuk memperbaiki penampilan produksi dari ternak unggas.  Bermacam-macam jenis feed additive antara lain adalah obat-obatan, antibiotika atau hormon-hormon pertumbuhan.  Akan tetapi pemberian feed additive tersebut belakangan ini tidak memuaskan karena sedikit banyak mempunyai efek samping yang kurang baik, baik terhadap hewan ternaknya sendiri, maupun terhadap manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya.

Sebagai contoh pemberian antibiotika dapat menyebabkan resistensi terhadap suatu penyakit sehingga penyakit tersebut sulit untuk disembuhkan dan bahkan dapat menyebabkan timbulnya jenis penyakit baru. Penggunaan hormon-hormon pertumbuhan bisa menyebabkan efek yang kurang baik terhadap manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya, karena residu yang tertinggal dari hormon-hormon di daging ayam atau telur, secara tidak langsung akan ikut terkonsumsi juga oleh manusia yang memakannya dan terakumulasi dalam tubuh. Belakangan ini mulai berkembang makanan tambahan jenis baru berupa probiotika.

Probiotika merupakan suatu makanan tambahan atau feed additive, berupa mikroorganisme hidup, baik bakteri, jamur maupun yeast (kapang) yang diberikan melalui campuran ransum atau air minum.
Tujuan pemberian probiotika adalah untuk memperbaiki keseimbangan populasi mikroba di dalam saluran pencernaan, dimana mikroba-mikroba yang menguntungkan populasinya akan meningkat dan menekan pertumbuhan mikroba yang merugikan yang sebagian besar adalah mikroba penyebab penyakit  (mikroba patogen). Pemakaian probiotika ini tidak mempunyai pengaruh yang negatif baik kepada ternaknya sendiri , maupun kepada manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya.

Pemberian probiotika juga sering digunakan sebagai alternatif untuk membatasi penggunaan antibiotika yang terlalu sering dalam pengobatan penyakit, untuk menghindari resitensi suatu penyakit. Selain itu pemberian probiotika juga dapat digunakan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kontaminasi mikroba penyebab penyakit (mikroba patogenik) terhadap produk-produk hasil unggas, sehingga produk-produk yang dihasilkan terjaga kehigienisannya. Dengan demikian pemberian probiotika pada ternak unggas diharapkan akan mampu memperbaiki penampilan produksinya, baik kuantitas yaitu jumlah ternak, daging atau atau telur yang dihasilkan lebih banyak, maupun kualitasnya berupa produk-produk yang sehat dan aman untuk dikonsumsi.

DEFINISI PROBIOTIKA
Istilah “probiotika” berasal dari bahasa Yunani yang artinya dalam ilmu biologi berarti untuk kehidupan. Istilah tersebut pertama kali digunakan untuk menjelaskan substansi (zat) yang disekresikan oleh suatu mikroba/mikroorganisme yang dapat memicu pertumbuhan (Fuller, 1992).

Istilah probiotika didefinisikan kembali oleh Fuller pada tahun 1989 bahwa probiotik adalah sebagai bahan makanan tambahan berupa mikroba hidup baik bakteri, jamur maupaun kapang/yeast yang mempunyai pengaruh yang menguntungkan pada hewan inang dengan memperbaiki keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan (Fuller, 1992). Mikroba- mikroba tersebut secara alami telah ada dalam tubuh hewan, ternak atau manusia, dan merupakan bagian pertahanan tubuh karena membantu tubuh hewan, ternak atau mikroba-mikroba yang berbahaya bagi kesehatan. Di dalam saluran pencernaan, mikroba-mikroba ini mendukung kesehatan saluran pencernaan.

Mc. Naught and MacFie (2000) mengemukakan bahwa probiotika bisa dikatakan mempunyai status probiotika bila memenuhi sejumlah kriteria sebagai berikut :
1. Bisa diisolasi dari hewan inang dengan spesies yang sama;

2. Mampu menujukkan pengaruh yang menguntungkan pada hewan inang;

3. Tidak bersifat pathogen;

4. Bisa transit dan bertahan hidup dalam saluran pencernaan hewan inang;

5. Sejumlah mikroba harus mampu bertahan hidup pada periode yang lama selama dalam penyimpanan.

Walaupun istilah mikroba yang berkaitan dengan makanan tambahan (feed supplement) baru dimulai sekitar tahun 1974, tetapi penggunaan mikroba hidup sebagai makanan tambahan telah dimulai dari ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya. Makanan yang pertama kali sekali mengandung mikro organisme hidup adalah susu fermentasi (Fuller, 1992), dan saat ini dikenal sebagai dadih di Sumatra Barat dan yoghurt yang banyak  dijual di pasaran.

Mekanisme kerja dari probiotik masih banyak yang kontroversi, tetapi beberapa mekanisme berikut penting untuk menjadi bahan pertimbangan antara lain adalah :
1. Melekat Atau Menempel Dan Berkolonisasi Di Dalam Saluran Pencernaan.
Kemampuan probitika untuk bertahan hidup di dalam saluran pencernaan dan menempel di sel-sel usus adalah sesuatu yang diinginkan. Hal ini merupakan tahap pertama untuk berkolonisasi, dan selanjutnya dapat dimodifikasi untuk sistem imunisasi/kekebalan hewan inang.  Kemampuan menempel yang kuat di sel-sel ini akan menyebabkan mikroba-mikroba probiotika berkembang dengan baik dan mikraba-mikroba patogen akan ter-reduksi dari sel-sel hewan inang sehingga perkembangan organisme-organisme patogen yang menyebabkan penyakit tersebut, seperti Eshericia coli, Salmonella thyphimurium dalam saluran pencernaan akan mengalani hambatan.  Sejumlah probiotik telah memperlihatkan kemampuan menempel yang kuat di sel-sel usus manusia seperti Lactobacillus casei, Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus plantarum dan sejumlah besar Bifidobacteria. (McNaught and MacFie, 2000).

2. Berkompetisi Terhadap Makanan Dan Memproduksi Zat Anti Mikrobial.
Mikroba probiotika menghambat organisme patogenik dengan berkompetisi untuk mendapatkan sejumlah terbatas substrat bahan makanan untuk difermentasi. Substrat bahan makanan tersebut diperlukan agar mikroba probiotika dapat berkembang biak dengan baik. Substrat bahan makanan yang mendukung perkembangan mikroba probiotika dalam saluran pencernaan disebut “pre-biotika” (Petterson and Burkholder, 2003). Prebiotika ini terdiri dari bahan-bahan yang pada umumnya banyak mengandung serat. Pada makanan manusia, pre-biotika dapat ditemukan pada beberapa jenis makanan seperti biji-bijian, sayur-sayuran seperti brokoli, kembang kol, sayuran hijau, buah-buahan, produk olahan kedelai seperti tempe, tahu, tauco, beberapa sumber karbohidrat seperti terigu, bawang merah dan bawang Bombai (Anonymous, 2003 dan 2004).

Sejumlah mikroba probiotika menghasilkan senyawa/zat-zat yang diperlukan untuk membantu proses pencernaan substrat bahan makan tertentu dalam saluran pencernaan, yaitu ENZYM.

Mikroba-mikroba probiotika penghasil asam laktat dari spesies Lactobacillus, menghasilkan enzim selulase yang membantu proses pencernaan serat. Enzim ini mampu memecah komponen serat kasar yang merupakan komponen yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan unggas. Saat ini penggunaan bahan makanan ternak untuk unggas kebanyakan berasal dari limbah industri atau limbah pertanian yang pada umumnya mengandung serat kasar tinggi.

Penggunaan probiotika yang menghasilkan enzim selulase, mampu membantu memanfaatkan makanan berserat kasar tinggi dari limbah industri dan limbah pertanian tersebut, dan mikroba probiotika membantu proses pencernaan ternak, khususnya unggas sehingga serat kasar dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan jaringan dan peningkatan bobot badan.

Mikroba probiotika juga mampu men-sekresikan produk anti microbial yang disebu BAKTERIOSIN. Sebagai contoh Lactobacillus acidophyllus menghasilkan 2 (dua) zat atau komponen bakteriosin, yaitu bacteriocine lactacin B dan acidolin. Bacteriocin lactacin B dan acidolin bekerja menghambat perkembangbiakan bakteri pathogen (McNaught and MacFie, 2000).

3. Merangsang Mukosa Meningkatkan Sistem Kekebalan Hewan Inang.
Mikro-organisme probiotika mampu mengatur beberapa aspek dari sistem kekebalan hewan inang. Kemampuan mikroba probiotika mengeluarkan toksin (racun) yang menghambat perkembangan mikroba-mikroba patogen dalam saluran pencernaan, merupakan suatu kondisi yang dapat mengingkatkan kekebalan hewan inang. Toksin-toksin yang dihasilkan tersebut merupakan antibiotika bagi mikroba-mikroba pathogen sehingga penyakit yang ditimbulkan oleh mokroba pathogen tersebut akan berkurang dan dapat hilang atau sembuh dengan sendirinya. Hal ini akan memberikan keuntungan terhadap kesehatan hewan inang sehingga tahan terhadap serangan penyakit. Penggunaan probiotika pada unggas dilaporkan dapat menurunkan aktifitas urease, suatu enzim yang bekerja menghidrolisis urea menjadi ammonia sehingga pembentukan ammonia menjadi berkurang atau bahkan hilang. Amonia adalah suatu bahan yang dapat menyebabkan keracunan pada unggas (Yeo and Kim, 1997).

4. Membantu Proses Pencernaan Makanan Di Dalam Saluran Pencernaan Secara Enzimatis :
4.1. Amilolitik, memecah amilum (karbohidrat) menjadi gula sederhana;
4.2. Proteolitik, memecah protein kasar menjadi asam amino;
4.3. Lipolitik, memecah lemak menjadi asam lemak;
4.4. Selulolitik, memecah serat kasar menjadi zat gula sederhana;
4.5. Lignolitik, memecah lignin menjadi zat gula sederhana;
4.6. Asidofilus, meng-asamkan saluran pencernaan sampai di usus besar supaya pH-nya sekitar 5,5 supaya mikroba pathogen terhambat pertumbuhannya.

MIKROBA PROBIOTIKA
Sejumlah spesies mikroba telah berhasil diisolasi dan telah diidentifikasi serta digunakan sebagai probiotika. Fuller (1999) melaporkan bahwa mikroba-mikroba yang termasuk ke dalam probiotika antara lain :
Lactobacillus delbruecki sub-spesies bulgaricus
L. acidophilus
L. casei
L. rhamnosus
L. plantarum
L. fermentem
L. brevis
L. lactis
Streptococcus salivarius sub-spesies thermophilus
S. lactis
Enterococcus faecium
E. faecalis
Bifidobacterium bifidum
B. pseudolongum
B. brevis
B. thermophilus
Bacillus subtilis
B. cereus
B. toyoi
B. natto
B. mesentricus
B. licheniformis
Clostridium butyricum
Pediococcus pentosaceus
Saccharomyces cerevisiae
Aspergillus oryzae
Aspergillus niger
Candida utilis
Candida pintolepsi
Bacillus subtilis
Rhizopus oligospurus
Trichoderma viridae, dan masih banyak lagi.

Beberapa mikroba probiotika telah diperjualbelikan secara komersial, baik dalam bentuk tunggal mau pun dalam bentuk campuran.

PEMBERIAN PROBIOTIKA DAN MANFAATNYA PADA TERNAK UNGGAS
Di dalam saluran pencernaan hewan, ternak atau manusia terdapat sekitar 100 – 400 jenis mikroba yang secara sederhana dikelompokkan dalam mikroba baik (yang menguntungkan) dan mikroba jahat (yang merugikan, yang bisa menyebabkan penyakit atau mikroba pathogen). Semua mikroba hidup dalam keseimbangan. Jika keseimbangan terganggu, misalnya mikroba yang jahat lebih banyak dibandingkan dengan mikroba yang baik, maka cepat atau lambat akan timbul penyakit. Terjadinya diare misalnya adalah akibat bakteri Eschericia coli, Kolera oleh bakteri Vibrio cholera. Atau tipus, oleh bakteri Salomonella thyposa, S. thypimurium.

Pemberian probiotika seperti telah dikemukakan di bagian terdahulu adalah untuk memperbaiki keseimbangan populasi mikroba di dalam saluran pencernaan hewan dimana mikroba-mokroba yang menguntungkan populasinya lebih tinggi daripada populasi mikroba yang merugikan. Pada manusia perbandingan persentase jumlah mikroba yang baik yang dianjurkan adalah sekitar 85% : 15% (Anonymus, 2004). Perbandingaqn tersebut tentu saja dapat tercapai dengan pemberian atau penggunaan PROBIOTIKA dan PREBIOTIKA.

Pemberian probiotika pada unggas bisa dalam bentuk campuran ransum atau melalui air minum. Bisa probiotika tunggal atau yang campuran.
Beberapa keuntungan penggunaan probiotika pada hewan atau ternak khususnya unggas adalah :
1. dapat memacu pertumbuhan;

2. memperbaiki konversi pakan;

3. menjaga kesehatan ternak antara lain dengan mencegah terjadinya gangguan pencernaa. Terutama hewan-hewan muda, pra-pencernaan faktor-faktor anti nutrisi seperti penghambat enzin trypsin, asam phitat, glucosinolat dan lain-lain.

Pemberian probiotika pada broiler dilaporkan dapat memperbaiki pertumbuhan, angka koversi pakan serta meningkatkan ketersediaan vitamin dan zat makanan lain (Barrow, 1992; Yeo and Kim, 1997). Pemberian probiotika pada ayam broiler sebaiknya pada 3 (tiga) minggu pertama pemeliharaan (Yeo and Kim, 1997).

Pada ayam petelur dilaporkan bahwa pemberian probiotika dapat memperbaiki produksi telur, konsumsi ransum, tetapi tidak terhadap bobot telur (Bahlevi et al., 2001). Sedangkan Panda et al (2003) melaporkan pemberian probiotika dapat memperbaiki produksi telur, berat kerabang dan tebal kerabang telur serta menurunkan kadar kolesterol di kuning telur.

Di beberapa negara Eropa dan Amerika saat ini sedang dikampanyekan pembatasan penggunaan antibiotika pada hewan-hewan ternak. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya resistensi dari penggunaan antibiotika dan menghindari pengaruh negative antibiotika pada manusia (konsumen). Selain itu pemberian antibiotika juga bisa mengganggu keseimbangan mikroba di dalam saluran pencernaan. Sebagai alternative yang aman dari penggantian penggunaan antibiotika adalah dengan pemberian probiotika. Karena tidak mempunyai pengaruh samping yang negative bila diberikan dalam dosis yang tepat (Petterson and Burkholder, 2003; Cavazzoni et al, 1998; Yeo and Kim, 1997).

Penggunaan probiotika juga merupakan suatu cara pendekatan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kontaminasi penyakit, terutama penyakit thypus terhadap produk-produk unggas, yaitu daging dan telur ayam. Sehingga daging dan telur ayam yang dihasilkan higienis dan aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Hal ini akibat ter-reduksinya mikroba-mikroba pathogen penyebab penyakit.

Penggunaan probiotika saat ini tidak hanya berkembang untuk ransum-ransum hewan atau ternak, tetapi juga berkembang pesat pada makanan manusia. Sejumlah produk makanan manusia telah dilengkapi probiotika dan prebiotika seperti produk olahan susu untuk bayi. Susu formula untuk bayi dilengkapi probiotika atau prebiotika yang menguntungkan sehingga bayi lebih tahan terhadap penyakit dan lebih sehat. Produk olahan lain adalah susu fermentasi seperti yogurt dan Yakult.

Dengan demikian pemberian probiotika pada ternak unggas diharapkan dapat memberikan manfaat terutama peningkatan performans baik kuantitas mau pun kualitasnya sehingga usaha peternakan menjadi lebih produktif, ekonomis, higienis dan sehat (PEHAS).

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2003. Mengenal Probiotik dan Prebiotik. Tabloid Ibu dan Anak : Ekuator Edisi 23 Mei 2003. Internet http://www.ekuator.com/index.p.
Anonymous, 2004. Probiotika dan Prebiotika Nan Sehat.
Fuller, R. 1992. Probiotic for Farm Animal. In Gerald W. Tannock, 1992. Probiotics The Scientific Basic. Chapman & Hall, London
McNaugth, C.E., and J.MacFie 2000. Probiotic In Clinical Practice : a critical review of the evidence. Nutrition Research 21 (2001) 343-353.
Petterson, J. A., and K.M. Burkholder, 2003. Application of Prebiotic and Probiotic in Poultry Production. Poultry Science 82: 627-631
Yeo, Jinmo and Kyu Il Kim, 1997. Effect of Feedening Diets Containning an Antibiotic, a probiotic, or yucca extract on growth and Intestinal urease activity in broiler Chick. Poult. Sci. 76: 381-385.

loading...
loading...
loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 17:39

0 komentar:

Post a Comment

loading...
loading...
Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.