loading...

Resmi! Sistem Kuota Impor Sapi dan Daging Dihapus

Posted by

Pemerintah resmi menghapus sistem kuota impor sapi. Tak hanya berlaku untuk sapi hidup, kuota impor daging beku juga dihapus. "Hilang, enggak ada kuota-kuotaan," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di kantornya, Senin, 26 September 2016.
Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mendukung langkah pemerintah ini. Sebab ia menilai pembatasan impor dengan kuota akan membuka peluang korupsi. "Kuota itu banyak moral hazard-nya, seperti kasus suap impor sapi dulu kan karena adanya kuota," katanya. Ia menambahkan, kewajiban mengimpor indukan juga bisa menambah populasi sapi di dalam negeri. "Ini kami apresiasi," katanya.
Sebagai penggantinya, pemerintah akan mengeluarkan ketentuan baru yakni importir diwajibkan mendatangkan satu ekor sapi indukan untuk setiap lima sapi bakalan yang diimpornya. Ketentuan itu akan dituangkan dalam revisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar ke Dalam Wilayah Republik Indonesia.


Kebijakan ini sebenarnya telah berjalan. Saat ini, Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan izin impor 300 ribu ekor sapi bakalan hingga 2018 dengan ketentuan tersebut.

Ada tiga perusahaan importir yang telah berkomitmen menjalankannya. Dua di antaranya adalah Santori dan Great Giant Livestock (GGL). "Mereka sudah tanda tangan di atas meterai untuk impor 60 ribu sapi indukan, di luar izin impor 300 ribu sapi bakalan yang didapatnya," kata Enggar.


Kendati izin ini sampai 2018, Enggar tidak menutup kemungkinan ada tambahan impor sapi jika ada pengusaha lain yang memenuhi syarat. "Ya keluarin lagi, mengajukan berapa pun sapi indukan saya kasih," katanya.

Yang pasti, kata Enggar, pada 2018 pemerintah akan melakukan audit di tiap perusahaan penerima izin impor. Bila terbukti mereka tak memenuhi ketentuan, "Kami sita sapinya, kalau tidak ada ya asetnya, itu sesuai perjanjian," kata Enggar.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mendukung langkah pemerintah ini. Sebab ia menilai pembatasan impor dengan kuota akan membuka peluang korupsi. "Kuota itu banyak moral hazard-nya, seperti kasus suap impor sapi dulu kan karena adanya kuota," katanya.

Ia menambahkan, kewajiban mengimpor indukan juga bisa menambah populasi sapi di dalam negeri. "Ini kami apresiasi," katanya.

Ijin Impor Akhir Tahun 2016 150 Ribu Ekor
Northern Territory Livestock Exporters Association atau NTLEA menyatakan izin impor sapi Australia yang diterbitkan Pemerintah RI untuk catur wulan terakhir 2016 akan sama jumlahnya dengan stok ternak yang tersedia. Setelah tertunda 2 bulan karena negosiasi para importir dengan Pemerintah RI terkait aturan baru, diperkirakan izin impor hingga akhir tahun berjumlah 100 ribu hingga 150 ribu ekor.

Untuk mendapatkan izin tersebut, sekitar 32 operator telah menyatakan setuju untuk membeli dan memenuhi rasio 20 persen sapi pembibitan dalam total sapi impor, yang akan dihitung jumlahnya pada akhir 2018.

Menurut CEO NTLEA Stuart Kemp jumlah ternak yang siap dijual di Australia utara akan memenuhi jumlah permintaan dari Indonesia. "Mengingat kawanan ternak sekarang agak kurang, dan hal ini bukan rahasia," katanya.

"Kita lihat di Queensland jumlah sangat sedikit, sedangkan di Kimberley dan di Territory didera musim hujan," katanya.

"Jumlahnya tak seperti yang kita inginkan untuk penuhi alokasin izin impor yang tinggi," tambah Kemp.

Menurut Kemp penghapusan sistem kuota impor Indonesia akan membuat sektor perdagangan ini lebih efisien.

"Kementerian (Pertanian RI) akan mengeluarkan rekomendasinya. Belum jelas apakah rekomendasi itu untuk satu bulan, tiga bulan, enam bulan atau setahun. Dan (para importir) bisa mengajukan izin tersebut setiap saat," katanya.

"Sepanjang (izin yang diajukan) masih dalam jumlah yang direkomendasikan Kementerian Pertanian, maka akan disetujui," tambah Kemp.

Sumber:
m.tempo.co
tribunnews.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:57

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.