loading...

Macam dan Jenis Sapi Lokal Indonesia

Posted by

Sapi Aceh


Berikut ini adalah informasi singkat mengenai salah satu sapi lokal asli Indonesia yang berasal dari ujung paling barat Indonesia di pulau Sumatare yaitu SAPI ACEH.

Sapi Aceh Jantan
Ciri-ciri sapi Aceh Jantan

  • Warna dominan merah bata dan pada daerah pundak
  • Berpunuk
  • Tanduk mengarah ke atas dan lebih besar
  • Kuping dan daun telinga tidak jatuh, tidak besar dan agak runcing
  • Tinggi gumba rata-rata 110 cm (3 thn)

Untuk sifat kuantitatitf ( ukuran permukaan tubuh, bobot badan, persentase karkas) terlihat pada tabel berikut:
No
Item
satuan
Sapi Jantan
Sapi Betina
1
Tinggi gumba
cm
116 + 24
102 + 21
2
Panjang Badan
cm
121 + 26
105 + 32
3
Linngkar Dada
cm
153 + 32
127 + 27
4
Bobot Badan
kg
253 + 65
148 + 37
5
Persentase karkas
%
49 -51 %

Sapi Aceh memiliki daya adaptasi dan kemampuan kerja yang baik dan memiliki daya tahan penyakit yang cukup baik. Sifat Produksi yang dimiliki Sapi Aceh yaitu: Kesuburan Induk (86 -90%), angka kelahiran (65 – 85%), umur pubertas (300 -390 hari), siklus birahi (18 – 20 hari), dan lama bunting 275 – 282 hari.

Beberapa Keunggulan Sapi Aceh
  • Serat dagingnya padat dan halus
  • Tahan terhadap cuaca ekstrim
  • Tahan terhadap penyakit
  • Tahan terhadap pakan yang kurang baik
  • Reproduksinya bagus

Sapi Aceh Juga Sudah Di Patenkan Sebagai Plasma Nutfah Asli Aceh

Seperti yang dimuat dalam republika.co.id, sapi Aceh ternyata telah dipatenkan dan diakui sebagai plasma nutfah asli Aceh. "Kini sapi aceh sudah menjadi sebuah nama tersendiri. Sama seperti sapi brahmana, sapi bali, maupun sapi Madura," kata Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Provinsi Aceh Ir Murtadha Sulaiman di Banda Aceh, Sabtu. Ia mengatakan, penetapan nama sapi aceh tersebut setelah melalui proses pengujian DNA oleh tim Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Plasma nutfah, kata dia, merupakan substansi dengan sifat keturunan yang memiliki karakteristik tersendiri dan harus dikembangkan terus menerus agar tidak punah.

Ia menyebutkan, plasma nutfah sapi aceh sudah dipresentasikan di depan dewan penguji bibit di Jakarta pada 3 Juni 2011. Presentasi itu diuji para pakar yang ahli di bidangnya. Syarat plasma nutfah lain, kata dia, populasi aceh mencukupi dan tidak akan punah. Populasi sapi aceh sekarang mencapai 82 persen dari total sapi di Provinsi Aceh.

"Selain itu, pemerintah Aceh juga menjamin kelestarian populasi sapi aceh tersebut. Karena itu, pemerintah Aceh mematenkan nama sapi aceh dan mengajukannya sebagai plasma nutfah secara nasional. Permohonan itu akhirnya disetujui," sebutnya. Secara fisik, ujarnya, memang ukuran tubuhnya kecil, tetapi dagingnya padat dan seratnya halus. Daya tahan tubuhnya luar biasa, bisa bertahan di segala musim, seperti kemarau, di mana rumput sumber makanan mengalami kekeringan.

"Pada musim kemarau yang rumputnya kurang saja reproduksi sapi aceh tetap bagus, sedangkan sapi lain, tingkat reproduksinya menurun kalau kekurangan makanan," ujarnya.

Karakteristik Sapi Aceh

Karakteristik sapi aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2907/KPTS/OT.140/6/2011Tentang Penetapan rumpun sapi aceh, terbagi menjadi 2 yakni secara kualitatif dan kuantitatif:

Sifat kualitatif sapi Aceh memiliki warna tubuh dominan merah kecokelatan (jantan) dan merah bata (betina), warna sekeliling mata, telinga bagian dalam dan bibir atas: keputih-putihan, leher lebih gelap pada yang jantan, memiliki garis punggung: cokelat kehitaman, paha belakang: merah bata, pantat : cokelat muda, kaki : keputih-putihan, ujung ekor : hitam, rambut : merah bata sampai cokelat, bentuk muka : pada umumnya cekung, bentuk punggung : pada umumnya cekung, bentuk tanduk : mengarah ke samping dan melengkung ke atas, bentuk telinga : kecil, mengarah ke samping dan tidak terkulai.
SAPI MADURA 


Sapi Madura adalah bangsa sapi potong lokal asli Indonesia yang terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi Zebu (Hardjosubroto dan Astuti, 1994), yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak (Anonimus, 1987). Karak-teristik sapi Madura sudah sangat seragam, yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas ; bertanduk khas dan jantannya bergumba

Sapi ras Madura merupakan plasma nutfah yang dilindungi sekaligus dipertahankan kemurniannya. Peraturan tentang itu dikeluarkan sejak zaman kolonial Belanda, tertuang dalam staatsblad (lembaran negara) No. 226/1923 dan No. 57/1934, serta No. 115/1937.

Itu juga tersirat pada pasal 13 a Undang-undang No. 6/1967, tentang pokok-pokok peternakan dan kesehatan hewan. Yang mana ada semacam upaya untuk menjaga jenis sapi Madura tetap bisa dipertahakan populasinya baik dalam bentuk maupun warna kulitnya. Selain juga untuk meningkatkan kualitas produksi dan tingkat populasinya. Paling penting lagi dengan kebijakan itu bisa mencegah tersebarnya penularan jenis penyakit antrax dan sapi gila yang selama ini menjadi momok yang menakutkan masyarakat.

Ciri-ciri umum fisik Sapi Madura adalah sbb: :
• Baik jantan ataupun betina sama-sama berwarna merah bata.
• Paha belakang berwarna putih.
• Kaki depan berwarna merah muda.
• Tanduk pendek beragam. Pada betina kecil dan pendek berukuran 10 cm, sedangkanpada jantannya berukuran 15-20 cm.
• Panjang badan mirip Sapi Bali tetapi memiliki punuk walaupun berukuran kecil.

Secara umum, Sapi Madura memiliki beberapa keunggulan seperti :
• Mudah dipelihara.
• Mudah berbiak dimana saja.
• Tahan terhadap berbagai penyakit.
• Tahan terhadap pakan kualitas rendah.


Dengan kelebihan-kelebihan tersebut , Sapi Madura banyak diminati oleh para peternak bahkan para peneliti dari Negara lain. Sudah banyak Sapi Madura dikirim ke daerah lain, apabila tidak diperhitungkan dengan baik, bisa jadi populasi Sapi Madura di pulau Madura akan terkuras serta mengancam kemurnian ras-nya.
Sapi dalam kehidupan masyarakat Madura, memang mempunyai tempat yang khusus. Jasanya terhadap para petani tidak dapat dipandang sebelah mata. Tanah pertanian yang tandus tetap dapat ditanami dengan bantuan Sapi. Alat transportasi yang sulit didapat dipedalaman Madura juga dapat teratasi dengan tenaga sapi yang di padukan dengan pedati, yang di sebut dengan “Sapi Pajikaran”.


Bukan hanya mempunyai tempat khusus di kehidupan para petani di Madura, Sapi Madura juga membawa pengaruh terhadap tradisi budaya yang memberikan efek positip terhadap kelestarian Sapi Madura ini. Sapi Madura berjenis kelamin jantan, dimanfaatkan sebagai “Sapi Kerapan”, sebagai bagian dari budaya tradisi pertanian ,yang nantinya menjadi salah satu aset pariwisata yang penting di tanah Madura

SAPI BALI


Sapi Bali merupakan sapi asli Indonesia yang ciri – cirinya khas dan berbeda dari bangsa sapi lainnya. Keunggulan sapi Bali : memiliki efisiensi reproduksi yang tinggi, daging dan karkasnya berkualitas baik dan persentase karkasnya tinggi (karkasnya bahkan bisa mencapai 57%), Selanjutnya yang juga sangat menarik adalah daya adaptasinya terhadap lingkungan yang sangat baik,dan yang tidak kalah penting adalah kemampuannnya menggunakan sumber pakan yang terbatas.

Dinamakan Sapi bali karena Memang penyebaran populasi jenis sapi ini terdapat di pulau bali. Sapi Bali (Bos sondaicus) adalah merupakan salah satu bangsa sapi asli dan murni Indonesia, yang merupakan keturunan asli banteng (Bibos banteng) dan telah mengalami proses domestikasi yang terjadi sebelum 3.500 SM, dimana Sapi Bali asli mempunyai bentuk dan karakteristik sama dengan banteng. Hingga kini dalam bahasa bali Alus Nama Sapi Bali disebut “BANTENG” (*dalam Bahasa Bali ALUS) Oleh Orang-orang Bali.



Sapi Bali dikenal juga dengan nama Balinese cow yang kadang-kadang disebut juga dengan nama Bibos javanicus, meskipun sapi Bali bukan satu subgenus dengan bangsa sapi Bos taurus atau Bos indicus. Berdasarkan hubungan silsilah famili Bovidae, kedudukan sapi Bali diklasifikasikan ke dalam subgenus Bibovine tetapi masih termasuk genus bos.

Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai keturunan banteng, sapi Bali memiliki warna dan bentuk tubuh persis seperti banteng liar. Kaki sapi Bali jantan dan betina berwarna putih dan terdapat telau, yaitu bulu putih di bagian pantat dan bulu hitam di sepanjang punggungnya.

Sebagaimana banteng, sapi Bali tidak berpunuk, badannya montok, dan dadanya dalam. Dibandingkan dengan sapi lain, sapi Bali jantan terkenal lebih agresif. Karena itu, jangan mengenakan pakaian berwarna merah saat mendekati sapi ini agar tidak diserangnya. Walaupun begitu, sapi ini sangat penurut pada orang yang biasa dekat dengannya.

Kekhasan Fisik Sapi Bali
Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.


Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.

Sapi Bali dalam Kehidupan Petani Bali
Sapi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali.
•Sapi Bali sebagai tenaga kerja pertanian
Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.
•Sapi Bali sebagai sumber pendapatan
Sapi Bali mempunyai sifat subur, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Keunggulan lain yang sudah dikenal masyarakat adalah persentase karkas yang tinggi, juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat membuat sapi Bali menjadi sumber pendapatan yang diandalkan oleh petani.
•Sapi Bali sebagai sarana upacara keagamaan
Dalam agama Hindu, sapi dipakai dalam upacara butha yadnya sebagai caru, yaitu hewan korban yang mengandung makna pembersihan. Demikian juga umat Muslim juga membutuhkan sapi untuk hewan Qurban pada hari raya Idhul Adha.
•Sapi bali sebagai hiburan dan obyek pariwisata
Sapi Bali juga dapat dipakai dalam sebuah atraksi yang unik dan menarik. Atraksi tersebut bahkan mampu menarik minat wisatawan manca negara untuk menonton. Atraksi tersebut adalah megembeng ( di kabupaten Jembrana) dan gerumbungan (di kabupaten Buleleng).

BANTENG
Banteng atau tembadau (dari bahasa Jawa, banṭèng), Bos javanicus, adalah hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, and Bali. Banteng dibawa ke Australia Utara pada masa kolonisasi Britania Raya pada 1849 dan sampai sekarang masih lestari.
Terdapat tiga anak jenis banteng liar: B. javanicus javanicus (di Jawa, Madura, dan Bali), B. javanicus lowi (di Kalimantan, jantannya berwarna coklat bukan hitam), dan B. javanicus birmanicus (di Indocina). Anak jenis yang terakhir digolongkan sebagai Terancam oleh IUCN.

Status konservasi Terancam

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan :Animalia
Filum :Chordata
Kelas :Mammalia
Ordo :Artiodactyla
Famili :Bovidae
Upafamili:Bovinae
Genus :Bos
Spesies :B. javanicus

Nama binomial Bos javanicus

d’Alton, 1823

Hewan ini bertubuh tegap, besar dan kuat dengan bahu bagian depannya lebih tinggi daripada bagian belakang tubuhnya (Alikodra, 1983). Panjang tubuh dan kepala banteng adalah 18-22.5 cm; panjang ekor 6.5-7 cm, memiliki tinggi 12-19 cm dan berat 400-900 kg (Grzimek, 1975; Lekagul & Mc. Neely, 1977). Di kepalanya terdapat sepasang tanduk, pada bagian dadanya terdapat gelambir (dewlap) yang dimulai dari pangkal kaki depan sampai bagian leher, tetapi tidak mencapai daerah kerongkongan.
Banteng dapat mencapai tinggi sekitar 1,6m di bagian pundaknya dan panjang badan 2,3 m. Berat banteng jantan biasanya sekitar 680 – 810 kg — jantan yang sangat besar bisa mencapai berat satu ton — sedangkan betinanya lebih ringan. Banteng memiliki bagian putih pada kaki bagian bawah dan pantat,punuk putih, serta warna putih disekitar mata dan moncongnya, walaupun terdapat sedikit dimorfisme seksual pada ciri-ciri tersebut. Banteng jantan memiliki kulit berwarna biru-hitam atau atau coklat gelap, tanduk panjang melengkung ke atas, dan punuk di bagian pundak. Sementara, betinanya memiliki kulit coklat kemerahan, tanduk pendek yang mengarah ke dalam dan tidak berpunuk.

Banteng merupakan satwa liar yang menyukai daerah hutan terbuka dan berumput. Menurut Hoogerwerf (1970) dalam Alikodra (1983), penyebaran banteng meliputi wilayah yang cukup luas yaitu daerah pantai pada ketinggian 0 m dpl sampai daerah pegunungan dengan ketinggian 2132 m dpl.

Kemampuan berkembangbiak suatu populasi banteng ditentukan oleh struktur populasi (populasi, kepadatan, sex ratio dan stratifikasi umur) dan kondisi kualitas dan kuantitas lingkungan. Perkawinan biasanya dilakukan pada malam hari. Lamanya bayi dalam kandungan adalah 9.5-10 bulan dan jumlah anak setiap induk berkisar antara 1-2 ekor. Banteng termasuk hewan monoestrus artinya mempunyai 1 musim kawin dalam 1 tahun. Umur termuda banteng betina untuk mulai berkembangbiak adalah 3 tahun, sedangkan untuk banteng jantan lebih dari 3 tahun. Banteng dapat mencapai umur 21-25 tahun, sehingga seekor betina sepanjang umurnya dapat menurunkan anaknya sebanyak 21 kali.

Banteng banyak terdapat di areal terbuka, namun sangat tergantung ketebalan semak-semak dan hutan tempat berlindung. Banteng mungkin aktif setiap saat namun akan menjadi nocturnal di area yang mengalami gangguan manusia (Lekagul & Mc. Neely, 1977).
Banteng hidup dari rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Banteng umumnya aktif baik malam maupun siang hari, tapi pada daerah pemukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua sampai tiga puluh ekor. Di Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran menjadi pertahanan terakhir hewan asli Asia Tenggara ini.

Banteng telah didomestikasi di beberapa daerah di Asia Tenggara dan Australia dan dikenal sebagai sapi bali. Hingga tahun 2009 diperkirakan jumlahnya di Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta ekor. Banteng ternak dan liar dapat saling kawin dan keturunan yang dihasilkannya sering kali subur (fertil). Ada 11 provinsi utama yang memiliki populasi sapi Bali terbanyak. Populasi terbanyak di Sulawesi Selatan, Bali, NTT, NTB, Sumsel , Sultra, Gorontalo, Kalsel, Sulteng, Sulbar, dan Lampung. Sapi Bali merupakan sumberdaya genetik hewan asli Indonesia, karena kerabat liarnya ada di Indonesia.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 02:29

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.