loading...

Muslim Jangan Terpecah Belah Hanya Karena Perbedaan yang Berstatus Khilafiyah

Posted by

Contoh masalah khilafiyah tentang celana atau kain diatas mata kaki. Kalau kita tilik pendapat para ulama salaf maupun kholaf memang beragam dalam menghukumi masalah tersebut. Sebagian mengatakan haram secara mutlak sedang yang lain menghukumi haram dengan syarat yaitu sombong.

Yang menghukumi haram secara mutalk berdasar hadits Nabi yang berbunyi:

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah Neraka.” (HR. Bukhari 5787).

Sedang ulama yang menghukumi haram dengan syarat  berdasar hadits Nabi yang berbunyi:

من جر ثوبه خيلاء ، لم ينظر الله إليه يوم القيامة . فقال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي ، إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لن تصنع ذلك خيلاء . قال موسى : فقلت لسالم : أذكر عبد الله : من جر إزاره ؟ قال : لم أسمعه ذكر إلا ثوبه

“Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: ‘Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Engkau tidak melakukan itu karena sombong’.Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz ‘barangsiapa menjulurkan kainnya’? Salim menjawab, yang saya dengan hanya ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya’. ”. (HR. Bukhari 3665, Muslim 2085)

Berdasar keterangan di atas berarti persoalan isbal masuk wilayah khilafiyah atau  ijtihadiyah di kalangan para ulama. Artinya memang tidak ada ijma’ di kalangan ulama mengenainya.

Dalam menyikapi masalah ijtihad, para ulama telah sepakat, agar bersikap bijak dengan tidak mencela atau mencaci orang yang berbeda pendapat dengan dirinya.  Imam Nawawi menjelaskan bahwa para ulama hanya mengingkari permasalahan yang diijmakkan. Adapun yang diperselisihkan (khilafiyah), tidak ada pengingkaran.” (Syarh An Nawawi ‘alaa Muslim: 2/23). Demikian juga Ibnu Taimiyyah dengan tegas mengatakan bahwa orang yang beramal dengan hasil ijtihad para ulama, tidak boleh diingkari dan tidak boleh dihajr (boikot).” (Majmuu’ al Fatawa: 20/207).

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:52

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.