loading...

SISKA : Sistem Peternakan Dengan Istegrasi Sawit-Sapi, Upaya Swasembada Sapi

Posted by

Pengembangan Peternakan Integrasi Sawit Sapi

Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengembangkan sapi Brahman Cross (Bx) eks bantuan pemerintah dengan pola integrasi sapi-sawit.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur Dadang Sudarya memaparkan, pedet yang lahir dari 1.926 sapi induk Bx sebanyak 1.028 ekor. “Tahun lalu Kaltim mendapatkan alokasi pengadaan sapi Import Brahman Cross pada kegiatan Pengembangan Integrasi Ternak Ruminansia sebanyak 2.078 ekor,” ungkapnya dalam rilis Kementerian Pertanian pada Rabu (03/8).



Sebagian dari induk-induk itu dalam kondisi bunting kurang lebih 6 bulan. Angka kematian di Instalasi Kesehatan Hewan Sementara (IKHS) mencapai 119 ekor. Jumlah induk yang berhasil diserahkan kepada kelompok ternak sebesar 1.926 ekor, yaitu 701 ekor di Kabupaten PPU dan 1.225 ekor di Kabupaten Paser.

“Sampai akhir Juni 2016 bahwa pedet yang lahir di Kabupaten PPU sebanyak 483 ekor, mati induk sebanyak 52 ekor dan mati anak sebanyak 93 ekor, sehingga jumlah akhir sapi adalah 1.039 ekor,” urai Dadang. Sedangkan jumlah pedet yang lahir di Kabupaten Paser sebanyak 545 ekor, mati induk sebanyak 56 ekor dan mati anak sebanyak 45 ekor, sehingga jumlah akhir sapi adalah 1.669 ekor

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengunjungi lokasi pengembangan sapi indukBx dengan pola integrasi sapi – sawit di Desa Gunung Intan Kecamatana Babulu Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Senin (1/8).

Amran juga mendatangi Kelompok Ternak Sumber Makmur yang menerima 50 ekor sapi induk Bx bunting. Dari induk itu telah lahir 28 ekor pedet, dan kematian induk hanya 1 ekor.

Kepada kelompok-kelompok peternak sapi itu Amran menghimbau terus menjalankan program Inseminasi Buatan (IB), sehingga induk sapi bisa cepat bunting lagi. "Jangan dibiarkan induknya menganggur, ini pabriknya. Jangan ditunda kebutingannya, biar sapi – sapi ini nambah terus," kata dia.

Bupati PPU Yusran Aspar mengatakan lahan yang dipergunakan kelompok peternak untuk mendirikan kandang kelompok adalah bantuan dari Pemda. “Peternak telah mengelola sendiri ternaknya, dan ternyata terbukti hasilnya saat ini” ungkap Yusran.

Kementerian Pertanian merilis argumen pemilihan jenis sapi Bx impor ex Australia untuk digunakan sebagai induk sapi potong. Kabarnya jenis sapi ini mudah beradaptasi dengan lingkungan, pertumbuhan jauh lebih cepat, tahan terhadap penyakit, budidayanya relatif mudah serta produksi dagingnya tinggi.

Sapi Brahman Cross berkembang dengan sangat baik di Australia Utara (Nothern Territory) dengan agroklimat yang tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Pada dasarnya jenis ternak sapi apa saja bisa berkembang dengan baik di Indonesia asalkan jumlah dan kualitas pakan yang diberikan mencukupi, serta tersedia air minum yang cukup.

Induk Brahman Cross ini cocok dipelihara dengan model pemeliharaan ekstensif/model ranch yang dicoba diadopsi dengan pemeliharaan dilepas dibawah kebun sawit dengan dibatasi oleh pagar listrik (electric fencing), sehingga sapi-sapi Brahman Cross ini segera bisa beradaptasi.

Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya penyediaan lahan untuk pakan hijauan dengan penerapan pola integrasi sapi-sawit yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Biomassa yang berlimpah dari kebun sawit dan dari limbah pabrik sawit sangat membantu dalam penyediaan pakan. Hal ini menjadi jawaban atas kesulitan penyediaan lahan dan penyediaan hijauan pakan yang dialami dalam budidaya sapi potong.

Sumber: trobos.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 22:58

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.