loading...

Mengintip Peternakan kambing perah Limpa Kuwus Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU HPT) Baturraden, Purwokerto

Posted by

Prospek Pengembangan Kambing Perah Perlu Dukungan Peningkatan Mutu Genetik
Peternakan kambing perah Limpa Kuwus Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU HPT) Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah berada di ketinggian kurang lebih 640 meter di atas permukaan laut tepatnya di kaki Gunung Slamet. Meskipun hawanya dingin pagi itu (30/4) tetapi tidak menyurutkan beberapa peternak kambing perah yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Kambing Perah Indonesia (Aspekpin) mengunjungipeternakan tersebut.

Bukan hanya kunjungan, mereka pun bermaksud untuk menghadiri pengiriman perdana bibit kambing perah saanen oleh BBPTU HPT Baturraden. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan kesepakatan kerjasama antara BBPTU HPT Baturraden dengan Aspekpin terkait pengembangan pembibitan kambing perah di Indonesia.



Kepala BBPTU HPT Baturraden, Sugiono berharap dengan terjalinnya kerjasama ini menjadi suatu langkah awal yang baik untuk penyebaran kambing perah saanen ke seluruh wilayah Indonesia. “Kerjasama ini jugauntukmendukung peningkatan mutu bibit kambing perah khususnya saanen,” tandasnya.


Sugionomengungkapkan sebagaiUnit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian yang mendapatkan tugas dan fungsi perbibitan ternak perahmakakegiatan ini merupakan respon dari keinginan Aspekpin untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. Apalagi selama ini berdasarkan informasi Aspekpin, dilapangan sudah banyak terjadi inbreeding(perkawinan sedarah).


Sesuai dengan Permentan Nomor 55 Tahun 2013,BBPTU HPT Baturraden memiliki fungsi pelaksana penyebaran, distribusi, pemasaran dan informasi hasil produksi bibit ternak unggul sapi dan kambing perah bersertifikat serta hasil ikutannya dan hijauan pakan ternak. “Peternak meminta kepada kami pejantan kambing perah unggul untuk memberikan darah baru di peternakannya,” cetus Sugiono.


Ia utarakan permintaan susu kambing saat ini sangat besar, banyak peternak kambing perah yang tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Salah satu penyebabnya, karena sulit untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. “Kamimerespon permasalahan peternak kambing perah dengan membuka akses peternak memperoleh kambing perah yang unggulsehingga pemenuhan konsumsi protein hewani tidak hanya dari susu sapi, tetapi jugamelalui susu kambing,” kata Sugiono.

KetuaUmumAspekpin,Bondan Danu Kusuma menuturkan kalau tidak didatangkan genetik baru maka inbreedingakan terjadi dan saat ini sudah banyak ditemui. Salah satu ciri terjadinya inbreedingyaitu kambing banyak yang ukurannya lebih kecil dibandingkan indukannya. “Dengan adanya bibit pejantan saanenyang baruakan terjadi pembaharuan genetik di peternakan kambing perah yang ada di masyarakat. “Melalui upaya ini, permasalahan satu per satu yang terjadi di peternakan kambing perah nasional dapat diatasi dan dimulai darigenetiknyaterlebih dahulu,” jelasnya.


Iamenegaskan,kalau tidak melakukan regenerasi genetik kambing perah akan berbahaya ke depannya apalagidaging impor dan tepung susu kambing sudah banyak masukke Indonesia.Dan, kalau tidak melakukan regenerasi genetik,dampaknyabagipeternak hanya capek memberikan pakan, tetapi produksi susu dan pertumbuhannya tidak maksimal. “Dengan kambing yang mempunyai genetik bagus karena tercatat jelas silsilahnya, produksinya akan baik juga,” harapBondan.


Bibit Pejantan Saanen

Pejantan saanen yang disebarkan kepada peternak ini merupakan hasil dari perkawinan kambing saanen yang di impor dari Australia pada November – Desember 2015 laluyang berjumlah sebanyak 200 ekor. “Anak dari indukan tersebut yang kita distribusikan kepada peternak baru 10 ekorpejantan. Ke depan jumlahyang didistribusikansesuai stok yang ada di kandang termasuk mendistribusikan anak kambing betina supaya dapat memperbaiki jumlah produksi susu di peternak,” jelasSugiono.


Namun bagi para peternak yang ingin mendapatkannya, harus menebus bibit kambing jenis saanen umur 4 bulan seharga Rp 2 juta per ekor sesuai patokan tarif yang sudah ditentukan Kementerian Keuangan. Harga tersebut jauh lebih murah dari harga bibit kambing dipasaran yang mencapai Rp 6 jutaper ekor.

Saat ini BBPTU Baturadden mengelola 240 ekor kambingperah saanenyang terdiri dari betina dewasa sebanyak 167 ekordan kambing jantan dewasa 12 ekor. Adapun sisanya merupakan kambing betina muda dan jantan muda sebanyak 61 ekor.

Bondanmenambahkan, bibit kambing perah iniakan didistribusikan kepada anggota Aspekpin. Namun akan dibagi dengan alokasiuntukAspekpin wilayah Jawa Timur 2 ekor, Jawa Tengah 3 ekor, DI Yogyakarta 1 ekor, Jawa Barat 2 ekor, DKI Jakarta 1 ekor,dan Banten 1 ekor. “Jumlah 10 ekor ini tidak cukup, karena anggota Aspekpin tersebardi Sumatera, Bali,dan Kalimantan. Bahkan, setiap provinsi di pulau Jawa pun anggotanya sebanyak 1.000 peternak,” jelasnya.

Mengingat bibit pejantan yang disebar sedikit, lanjut Bondan, maka polanya adalah peternak di Jawa Tengah yang mendapat 3 ekor dan disebar di daerah Cilacap, Pemalang,dan Solo. Sehingga, peternak kambing perah di Jawa Tengah bagian utara bisa mendekat ke Pemalang, kalau bagian barat ke Cilacap dan bagian timur ke Solo. Setelah itu, bagi peternak kambing perah yang berada di daerah sekitar tersebut bisa datang membawa kambing perah betinanya untuk dikawinkan dengan bibit unggul. “Bukan jantannya yang dibawa, tetapi kambing betinanya. Karena, penempatan bibit – bibit unggul ini disentra peternak kambing perah,” urai Bondan.

Terkait harga bibit Rp 2 juta per ekor, ia tanggapi cukup terjangkau. Kalau beli langsung ke luar negeri harus memikirkan administrasi dan jumlah pembeliannya tidak boleh sedikit. “Intinya kalau ada yang lebih mudah mengapa pilih yang sulit,” ujar Bondan.

Ia melanjutkan, bibit kambing saanen ini akan dikawinkan dengan saanen yang sudah ada atau di upgradedulu supaya anaknya berproduksi lebih baik. Ke depan juga akan dikawinkan dengankambingetawa untuk mengejar kualitas susukarena kambing saanen mempunyai keunggulan dari segi kuantitas, tetapi untuk rasa tidak bisa mengalahkan etawa.

Bondanberharap, BBPTU HPT yang sekarang sudah mendekat kepada asosiasi lebih dapat mengetahui kondisi genetik kambing perah di lapanganagarsemakin baik. “Dan bagi peternak kambing perah yang ingin mendapatkan bibit unggul kambing perah harus melalui persetujuan Aspekpin. Pasalnya, kita akan melakukan pencatatan mulai dari siapa peternaknya, jumlah bibit unggulnya,dan dikawinkan dengan kambing milik peternak siapa?Jangan sampaiyangterjadi, peternak yang bersangkutan sudahmendapat bibit unggultetapi beberapa waktu kemudiansudah tidak ada di kandang,” katanya.

Saat ini berdasarkan pengalaman dilapangan,kambing perah saanen laktasi pertama rata-rata produksi susunya 1, 5 – 2,5 liter per hari. Jika di luar negeri bisa mencapai di atas 5 literper hari sehingga perlu dioptimalkan produksinya. “Produksi susu yang optimal dipengaruhi 3 faktor yaitu genetik, pakan,dan perawatan. Jika ketiga unsur tersebut sudah baik produksi susu 2-3 liter per hari cukup tutup mata saja,” cetus Bondan.

Sumber Trobos.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:04

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.