loading...

Hubungan Tingkat Kecernaan Bahan Pakan Ternak dengan Produksi Gas Dalam Rumen

Posted by

Semakin banyak karbohidrat yang mudah terfermentasi oleh mikrobia rumen maka akan meningkatkan pula produksi gasnya. Apa Hubungan Produksi Gas Dengan Tingkat Kecernaan Pakan?

Produksi gas merupakan hasil proses fermentasi yang terjadi di dalam rumen yang dapat menunjukkan aktivitas mikrobia di dalam rumen serta menggambarkan banyaknya bahan organik yang tercerna. Selain itu produksi gas yang dihasilkan dari pakan yang difermentasi dapat mencerminkan kualitas pakan tersebut (Ella et al., 1997).

Proses fermentasi pakan didalam rumen akan menghasilkan beberapa senyawa dengan presentase yang berbeda jumlah gas terbesar yang dihasilkan oleh CO2 kemudian NH4, N2, H2S, H2, dan O2. Proporsi dari masing-masing gas sangat tergantung dari jenis ternak, jenis pakan dan waktu setelah diberi pakan (Widiawati, 2010). Fermentasi protein menghasilkan produk akhir NH3 yang sangat penting untuk sintesis protein didalam rumen. Amonia di dalam rumen sebagian dimanfaatkan oleh mikroba untuk sintesis protein mikroba. Sumber amonia selain dari protein juga berasal dari NPN dan garam-garam amonium dapat digunakan untuk sintesis protein mikroba (Arora, 1995).

Gas karbon dioksida (CO2) dan metan (CH4) merupakan hasil sisa proses fermentasi. Pengukuran gas menggunakan sistem pemindahan cairan rumen dianggap sebagai teknik untuk mengevaluasi bahan pakan ruminansia (Givens et al, 2000). Penetapan degradasi secara in vitro adlah metode laboratorium yang prinsipnya meniru sistem pencernaan padaruminansia yaitu dengan menginkubasikan sampel pakan ke dalam cairan rumen dan ditambahkan larutan buffer yang telah disiapkan dan proses tersebut berjalan secara anaerob. Tahap berikutnya adalah mengasamkan sampel dengan penambahan HCl yang kemudian sampel akan mengalami proses hidrolisis protein tercerna dengan pepsin selama 48 jam (Tillman et al., 1998). Metode pengukuran gas in vitro dapat untuk mengestimasi besarnya nilai degradasi bahan pakan yaitu relasi fraksi yang mudah larut, nilai fraksi yang potensial terdegradasi dan laju degradasi fraksi pakan. Teknik prouduksi gas fermentasi dikembangkan untuk mencari hubungan antara profil produksi gas suatu feed intake, kecepatan pertumbuhan (Jessop dan Nerreru, 1996).

Secara umum gas metan yang diproduksi mikrobia metanogenik bertujuan untuk menghindarkan ternak dari akumulasi H2 pada proses fermentasi di rumen. Sebagian besar mikrobia rumen menggunakan jalur Embden-Meyerhof-Parnas untuk mengoksidasi gula menjadi piruvat (Miller, 1995). H2 sebagai substrat bagi mikrobia metanogenik digunakan oleh beberapa mikrobia untuk menghidrogenasi ikatan rangkap pada asam lemak tidak jenuh (Basuki, 2000).

Semua gas yang dihasilkan dari VFA dan dari buffer bicarbonate dalam rumen ke atmosfer. Berarti bahwa diukur secara in vitro. Semua teknik, kecuali untuk Hohenheim gas test, didasarkan pada pengukuran dari tekanan dalam wadah dari volume tertentu (Givens et al., 2000).

Semua bentuk karbohidrat yang ada dalam bahan pakan yang diberikan pada ternak ruminansia akan mengalami degradasi ke arah yang lebih sederhana atau menjadi unit-unit yang lebih kecil karena adanya mikrobia rumen dan akan menghasilkan VFA dan gas yang terdiri atas CO2, CH4 dan sedikit H2, semakin banyak karbohidrat yang mudah terfermentasi oleh mikrobia rumen maka akan meningkatkan pula produksi gasnya, sekitar 50 % dari volume gas yang dihasilkan dari fermentasi terdiri dari CO2 dan CH4 (Evitayani et al., 2004). 
Semakin tinggi produksi gas, menunjukkan semakin tinggi pula aktivitas mikrobia di dalam rumen dan dapat menggambarkan bahan organik yang tercerna sehingga mencerminkan kualitas bahan pakan tersebut. Semakin tinggi produksi gas yang dihasilkan maka semakin baik kualitas bahan pakan tesebut, dalam arti kecernaanya tinggi (Ella et al., 1997). 

Rumput (Gramineae) merupakan famili tumbuh-tumbuhan yang paling luas penyebarannya. Rumput sebagai pakan ternak berupa rumput lapang (liar) dan rumput pertanian. Rumput pertanian disebut juga dengan rumput unggul merupakan rumput yang sengaja diusahakan dan dikembangkan untuk persediaan pakan bagi ternak. Rumput unggul ini dibagi menjadi dua jenis yaitu pertama rumput potongan seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum Schum.), rumput benggala (Pannicum maximum Jacq.), rumput mexico (Euchlaena mexicana Schrad.), dan Setaria spachelata Schum. Kedua yaitu rumput gembala seperti Brachiaria brizantha (Hochst. ex A. Rich.) Stapf., rumput ruzi atau rumput kongo (Brachiaria ruziziensis R. Germ. and C. M. Evrard), rumput australia (Paspalum dilatatum Poir.), Brachiaria mutica (Forsk.) Stapf., Cynodon plectostachyus (K. Schum.) Pilg., rumput pangola (Digitaria decumbens Stent.), dan Chloris gayana Kunth. (Sudarmono dan Sugeng, 2009).

Rumput gajah (Pennisetum purpureum) adalah tanaman yang dapat tumbuh di daerah marginal (Gambar 1). Tanaman ini juga dapat hidup pada tanah kritis dimana tanaman lain relatif tidak dapat tumbuh dengan baik (Sanderson dan Paul, 2008). Rumput gajah dipilih sebagai pakan ternak karena memiliki produktifitas yang tinggi dan memiliki sifat memperbaiki kondisi tanah (Handayani, 2002).

Menurut Hartadi et al,(2005) bahwa rumput pangola segar dewasa mengandung 48% natrium, 1,94% kalium, 78% kalsium, 0,05% fosfor, 35,11 mg/kg kobalt, 0,28 magnesium, 5,06 mg/kg selenium dan 56,20 mg/kg seng. Menurut Sudirman dan Imran (2001),KcBK dan KcBO rumput pangola secara in vitro dengan cairan rumen sapi sebesar 43,31% dan 45,76%.

Konsetrat adalah suatu bahan pakan yang mempunyai kandungan serat kasar yang rendah dan mudah dicerna, mengandung pati, maupun protein tinggi, sehingga nilai nutrien yang terkandung pada konsentrat lebih baik dari pada hijauan. Konsentrat berdasarkan sifat karakteristik fisik dan kimianya, serta penggunaannya dapat digolongkan ke dalam kelas empat dan lima. Kelas empat adalah konsentrat sumber energi sedangkan kelas lima adalah sumber protein.

Konsentrat sumber energi adalah bahan pakan dengan kandungan serat kasar kurang dari 18 % atau dinding sel kurang dari 35 % dan protein kasar kurang dari 20 %.

Konsentrat sumber protein adalah bahan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18 % atau dinding sel kurang dari 35 % dan kandungan protein kasar lebih besar dari 20 % (Agus, 2008).
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian terhadap pengukuran gas produk fermentasi rumen didapatkan kenaikan volume dari syringe yang terjadi secara signifikan. Kenaikan paling tinggi adalah konsentrat, sedangkan untuk rumput pangola dengan rumput gajah kenaikannya hampir sama. Semakin banyak gas yang dihasilkan, semakin baik kecernaannya oleh mikrobia dalam rumen, sehingga semakin baik pula kualitas bahan pakan tersebut. Faktor senyawa-senyawa sangat berperan aktif dalam proses fermentasi, senyawa harus dalam kondisi yang sesuai, selain itu juga dipengaruhi oleh faktor suhu, Ph, ukuran partikel sampel, pasokan oksigen, ternak donor, waktu inkubasi, jam istirahat, kualitas cairan rumen dan preservasi cairan rumen.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:02

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.