loading...

Bagaimana Cara Meningkatkan Potensi Genetik Sapi?

Posted by

Pengembangan peternakan sapi perah memiliki banyak tahapan yang dilalui dan setiap tahapan itu harus dikelola dengan baik agar berhasil. Peternak perlu proaktif dan selalu mencari peluang peningkatan di setiap tahap produksi. Aspek yang penting untuk diperhatikan adalah pakan dan nutrisi, reproduksi, kesehatan, dan manajemen pemerahan. Aspek genetik merupakan aspek lainnya yang tidak terlihat namun memiliki peran dalam meningkatkan produktivitas sapi perah di masa yang akan datang. Peternak mungkin membayangkan bahwa aspek ini sulit dilakukan dan memerlukan teknologi serta biaya yang tinggi. Mungkin untuk taraf penelitian memang seperti yang dibayangkan, dan membutuhkan kemampuan analisa dan akademik yang baik, namun ada sisi lain yang dapat disederhanakan dan dilakukan oleh peternak dalam upaya meningkatkan potensi genetik sapi perah.
            Semua yang terlihat dari penampilan (performa) sapi perah dikendalikan oleh kode genetik tertentu, diantaranya produksi susu, lemak, dan protein, reproduksi, efesiensi pakan,  lama hidup, kemampuan beranak, dan resistensi terhadap penyakit seperti mastitis, serta sifat konformasi tubuh seperti bentuk ambing, kaki dan pertulangan. Karena Penampilan ternak sapi perah dimunculkan dari potensi genetik dan lingkungan serta  interaksi antara potensi genetik dengan lingkungan, maka memungkinkan bagi peternak untuk memodifikasi penampilan ternaknya menjadi lebih baik.
Pertanyaan yang haris dijawab peternak terkait dengan peningkatan genetik ternak, yaitu Apa pentingnya memahami genetik pada ternak? Jika setiap aspek dari penampilan sapi perah berada dibawah kontrol kode genetik tertentu, adakah cara agar mendapatkan manfaat dari informasi genetik?
Pentingnya Genetik Ternak
            Jawaban untuk pertanyaan pertama, adalah pemahaman genetik hanya menjadi penting apabila peternak menginginkan peningkatan penampilan (performa) ternak sapi perah di masa depan dan bukan hal yang secara instan membuat ternak menjadi lebih baik dengan waktu yang pendek. Apabila peternak menginginkan sapi-sapi dara yang akan dijadikan pengganti bagi sapi betina yang majir dan tidak produktif, memiliki penampilan produksi yang lebih baik, maka kesabaran dan komitmen dalam melakukan pencatatan produksi dan reproduksi ternak yang dipeliharanya akan menajdi suatu hal yang mutlak dilakukan.
            Perubahan dan peningkatan genetik ternak pengganti (Replacement stock) terjadi saat penentuan tetua untuk generasi selanjutnya berdasarkan sifat genetik yang diharapkan mampu meningkatkan produksi ternak-ternaknya. Peternak perlu memahami kebutuhan di peternakannya terlebih dahulu baru menetapkan sifat genetik yang diharapkan untuk dikembangkan.
Data produksi susu, reproduksi, atau efesiensi pakan pada betina serta data evaluasi genetik terhadap semen beku pejantan sapi perah akan memberikan informasi berharga bagi peternak. Informasi ini tentunya didapatkan melalui serangkaian kegiatan rekording yang berkelanjutan dan terarah. Peternak perlu terlebih dahulu memahami arti penting melakukan pencatatan bagi kemajuan usaha peternakan sapi perahnya dimasa yang akan datang, dengan demikian peternak dapat menetapkan seleksi genetik terhadap pejantan dan betina yang akan menjadi tetua bagi sapi-sapi dara pengganti untuk generasi selanjutnya.
Memanfaatkan Informasi Genetik
            Seperti yang telah diketahui sebelumnya, bahwa penampilan ternak dimunculkan dari potensi genetik, lingkungan, dan interaksi potensi genetik dengan lingkungan. Sehingga Informasi terhadap potensi genetik dan lingkungan perlu dicatat dan dipahami oleh peternak. Potensi genetik yang umumnya terlihat dan dicatat peternak adalah produksi susu, sedangkan mengenai lingkungan seperti perkandangan dan pola pemeliharaan (seperti pemberian pakan, obat-obatan dan  manajemen pemerahan) belum tersentuh oleh pencatatan.
            Peran lingkungan dalam memunculkan potensi genetik ternak sangat besar. Pola pemeliharaan dalam pemberian pakan, ternak dengan potensi genetik yang sama baiknya namun dipelihara dengan pola pemberian pakan yang berbeda maka hasil produksi susunya akan berbeda, selang beranaknya akan berbeda dan hasil yang diperoleh secara ekonomi juga akan berbeda.
Ternak yang diberikan pakan dengan nutrisi yang cukup tentunya akan lebih baik dibandingkan dengan ternak yang diberikan pakan dengan kekurangan nutrisi. Kondisi seperti ini harus dipahami terkebih dahulu oleh peternak apabila ingin melakuan peningkatan potensi genetik ternaknya. Sehingga informasi mengenai lingkungan yang sesuai dengan kondisi spesifik peternakan perlu dikumpulkan dan dipahami secara baik oleh peternak. Karena mungkin saja, informasi-inormasi tersebut antara satu peternakan dengan peternakan lain berbeda. 
            Pada umumnya informasi genetik berupa produksi susu dijadikan acuan dalam penyeleksian dibandingkan selang beranak. Hal ini dimaklumi karena produksi susu berkaitan langsung dengan pendapatan peternak dilapangan. Data mengenai produksi susu lebih mudah diperoleh dibandingkan data selang beranak.
            Apa yang dilakukan Peternak dengan data produksi susu tersebut?. Pada umumnya peternak menggunakan data tersebut untuk mengambil uang penjualan susu kepada koperasi. Apabila paradigma tersebut diubah, bahwa data tersebut bukan hanya sebagai data penjualan susu tetapi juga sebagai dasar untuk melakukan seleksi, maka proses peningkatan genetik dapat dilakukan di level peternak.
            Sebagai ilustrasi, disuatu peternakan rakyat terdapat ternak sebanyak lima ekor dengan produksi susu selama laktasi (305 hari) adalah sebagai berikut: Sapi A (3.660 ltr); Sapi B (3.965 ltr); Sapi C (3.050 ltr); Sapi D (3.355 ltr); dan Sapi E (2.745 ltr). Peternakan tersebut memberikan pakan yang kandungan nutrisinya cukup dan dengan sistem perkawinan IB yang menggunakan semen beku pejantan sapi perah unggul. Diagram yang menunjukkan produksi susu di perternakan ditunjukan seperti dibawah ini.

                                                                                                       
Berdasarkan diagram tersebut, maka terlihat ada dua ekor sapi yang produksinya berada dibawah rataan, yakni Sapi C dan Sapi E. Informasi ini tentunya dapat dijadikan dasar bagi peternak untuk melakukan penyingkiran (culling) bagi ternak tersebut, dan menggantinya dengan ternak betina lain yang memiliki nilai produksi di atas rataan atau menggunakan anak betina dari sapi B yang memiliki nilai produksi paling besar. Sehingga produksi susu total dipeternakan tersebut semakin lama semakin baik, dengan catatan peternak mengendalikan lingkungan peternakannya. Ilustrasi tersebut tentunya memberikan gambaran bahwa data yang dioleh menjadi informasi dapat memberikan nilai tambah bagi peningkatan genetik di suatu peternakan dan bisa dilakukan oleh peternak. 
Peluang Peningkatan Genetik
            Peluang peningkatan genetik sapi perah dari level peternak  masih besar. Hal tersebut didukung dengan program Uji Zuriat Nasional dan SISI (Sistem Informasi Sapi Perah Indonesia) yang akan memberikan dukungan data. Banyaknya petugas rekording dimasa depan serta Pengawas Bibit Ternak tentunya dapat memberikan kontribusi untuk memperbesar peluang tersebut.
            Negara-negara yang maju di industri sapi perah, tentu melewati fase sebagaimana negara Indonesia sekarang ini. Namun dengan sedikit mengubah cara pandang beternak sapi perah yang berintegrasi dengan penerapan sistem seleksi genetik melalui kontinuitas pencatatan, maka negara kita ini akan mampu memajukan peternakan sapi perah.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 00:35

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.