loading...

Antara Ternak Kerbau dan Masyarakat Lebak Banten, Bersinergi

Posted by

Bagi masyarakat Kabupaten Lebak Provinsi Banten, kerbau merupakan ternak yang lebih mudah dipelihara dibandingkan sapi. Tidak heran daerah ini di tingkat nasional menjadi salah satu sentra peternakan dengan komoditas utama kerbau.
 
Seperti Henta peternak asal Desa Curug Panjang Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak yang sudah memelihara kerbau secara turun temurun. “Saya beternak kerbau sejak kecildan tidak terpikir untuk beternak ayam, sapi, atau domba karena bukan keahliansaya,” cetus pemilik 9 ekor kerbau ini.
 
Jamaluddin, Kepala UPTD Peternakan Wilayah III Dinas Peternakan Kabupaten Lebakmembenarkan,usaha beternak kerbau di wilayahnya sudah berlangsung lama bahkan secara turun temurun. Awalnya, kerbau dipelihara untuk ternak kerjaseperti membajak sawah dan ladang milik petani, serta dimanfaatkan sebagai  tabungan. “Secara umum kerbau di Kabupaten lebak dipelihara secara ekstensif dengan cara digembalakan.Dan populasi terpadat berada di perkebunan sawit maupun karet milik PTPN dan perusahaan swasta,” ungkapnya.


Alasan masyarakat di Kabupaten Lebak lebih banyak memilih beternak kerbau dibanding sapi, diungkapkan Jamaluddinkarena kerbau memiliki daya cerna serat kasar lebih baik, lebih tahan terhadap iklim yang ekstrem, danlebih mudah digembalakan karena suka hidup berkelompok. Selain itu, masa produktifnya lebih lama, dapat melahirkan anak sampai usia 20 tahun. “Dagingkerbau lebih diminati masyarakat di Kabupaten Lebak  karena teksturnya yang kasar sehingga tidak mudah hancur walaupun dimasak lama,” klaimnya.
 
Iman Santoso, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lebak menyatakan, di tahunlalu, selain Kabupaten Serang dan Kabupaten Dompu,Kabupaten Lebak terpilih menjadi salah satu SPR (Sentra Peternakan Rakyat) untuk komoditas kerbau. Kultur masyarakat di Kabupaten Lebak yang lebih menyukai daging kerbau dibandingkan sapidibuktikan dengan dibuktikan dengan warung makanan di daerah ini yang tidakmenggunakan daging sapi, melainkan daging kerbau. Bahkan, beberapa olahan makanan khas daerah Lebak berasal dari daging kerbau. “Untuk harganya, daging kerbau lebih rendah Rp 5.000 – 10.000 per kg dibandingkan daging sapi,” terangnya.
 
PolaIntensif
Dengan keterbatasan teknologi  dan pengetahuan beternak pada komoditas iniseperti bagaimana cara mengembangbiakkan secara efisien dan cepat merupakan pekerjaan rumah semua pihak untuk meningkatkan populasi kerbau. Maka sejak 2014, Iman sudah mulai mengubah UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) di Kabupaten Lebak tidak hanya sapi, tetapi kerbau juga.
 
“Upaya ini dimulai dengan pengadaan 20 ekor indukan kerbau dan di 2015 menyiapkan kebun rumput seluas 5 hektar. Karena kalau dipelihara secara intensif, penanganan IB (inseminasi buatan) dan gangguan reproduksi agak lebih mudah dibandingkan ekstensifikasi,” ujarnya.
 
Dipaparkan Agus Rianto, Kepala UPTD Ternak Sapi dan Kerbau Dinas Peternakan Kabupaten Lebak, UPTD-nya memiliki kerbau sebanyak 25 ekor dengan umur yang bervariasi dan sapi sebanyak 8 ekor. “Semuapemeliharaannya dilakukan secara intensif dan tidak adanya penggembalaan sepertiyang dilakukan peternak di masyarakat,” jelasnya.
 
Untuk pemeliharaan secara intensif, pemberian pakan dilakukan sebanyak 3 kali pada pagi, siang, dan sore. Pagi hari kerbau diberi rumput dengan tambahan dedak sebanyak 3-4 kg per ekor. Setelah itu, kerbau dimandikan per kelompok pada kubangan yang sengaja dibuat di dalam UPTD dan perlakuan sama pun dilakukan pada siang hari setelah makan. Sedangkan, pada sore hari selain rumput ditambah pemberian jerami dan pengobatan untuk mencegah cacingan secara rutin setiap 6 bulan sekali. “Kubangan diperlukan sebagai kebiasaan alamidan tidak bisa dihilangkan karena bisa membantu proses kesuburan organ reproduksikerbau,” jelasAgus.
 
Sementara untuk urusan reproduksi seperti pendeteksian birahi menggunakan kerbau jantan.Birahi kerbau tidak sama dengan sapi karena tidak terlihat dan biasanya terjadi pada rentang waktu pukul 10 – 12siang. Ditambahlagi, konsentrasi lendir pada kerbau betina sedikit sehingga terkadangpada saat sedang birahi tidak terlihat karena terhapus oleh ekornya.“Pada rentang waktu itu dengan bantuan satu ekor kerbau pejantankami monitor kerbau betina yang birahi agar dapat langsung dilakukan IB sehinggajarak kelahiran(calving interval) bisa lebih pendek,” terangnya.

Sumber: Trobos.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:10

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.