loading...

Tips dan Cara Budidaya Ulat Sutera Skala Rumahan

Posted by

Cara Membiakkan dan Memelihara Ulat Sutera Penghasil Benang Sutera Bahan Kain Berkualitas

Ulat Sutera. Ulat sutera adalah salah satu jenis ulat yang paling banyak dibudidayakan karena nilai ekonomisnya yang tinggi. Sebelum pemeliharaan ulat dimulai, beberapa hal perlu diperhatikan seperti: ketersediaan daun murbei sebagai ulat sutera pakan, ruang dan pemeliharaan peralatan serta memesan bibit / telur ulat sutera.

Kebutuhan pakan ulat sutera. Untuk Ulat kecil dianjurkan panen daun murbei untuk memangkas berusia 1 bulan dan untuk ulat besar cukur 2-3 bulan.
Tanaman murbei yang baru ditanam, dapat dipanen setelah berumur 9 bulan.
Untuk pemeliharaan 1 boks ulat sutera, dibutuhkan 400-500 kg daun murbei tanpa cabang atau 1.000 – 1.200 kg daun murbei dengan cabang;
Daun murbei jenis unggul yang baik untuk ulat sutera adalah Morus alba, M. multicaulis, M. cathayana dan BNK-3 serta beberapa jenis lain yang sedang dalam pengujian oleh Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan.

Ruangan Peralatan
Tempat pemeliharaan ulat kecil harus dipisahkan dari pemeliharaan ulat besar.
Pemeliharaan ulat kecil atau diadakan di tempat khusus di Unit Pemeliharaan ulat Kecil (UPUK).
Ruang pemeliharaan harus memiliki cukup ventilasai dan jendela.
Bahan dan peralatan yang perlu dipersiapkan adalah :
Limestone dinding
Klorin / papsol.
Pemeliharaan kotak / rak.
Daun.
Gunting stek.
Pisau, ember / baskom.
Jaring ulat.
Ayakan.
Kain penutup daun.
Bulu Ayam.
Kerta alas.
Kertas minyak / parafin.
Tisu tangan dan lain-lain.
Desinfeksi ruangan dan peralatan, dilakukan 2-3 hari sebelum memulai perawatan ulat, menggunakan larutan klorin 0,5% atau formalin (2-3%), disemprotkan secara merata.
Ketika tempat pemeliharaan ulat kecil berupa UPUK yang berlantai semen, maka setelah didesinfeksi dilakukan pencucian.
Pesanan Bibit
Pesanan bibit disesuaikan dengan jumlah daun yang tersedia dan kapasitas ruangan serta peralatan pemeliharaan.
Bibit dipesan selambat-lambatnya 10 hari sebelum pemeliharaan ulat dimulai melalui petugas / penyuluh atau langsung kepada produsen telur.
Apabila bibit/telur telah diterima, lakukan penanganan telur (inkubasi) secara baik agar penetasannya seragam.
Caranya adalah sebagai berikut :

Sebarkan telur pada kotak penetasan dan tutup dengan kertas putih yang tipis.
Simpan pada tempat sejuk dan terhindari dari penyinaran matahari langsung, pada suhu ruangan 25 ° C – 28 ° C dengan kelembaban 75-85%.
Setelah terlihat bintik biru pada telur, bungkus dengan kain hitam selama kurang lebih 2 hari.

Kegiatan pemeliharaan meliputi pemeliharaan ulat ulat kecil, serta pemeliharaan dari mengokonkan ulat ulat besar.

Pemeliharaan ulat kecil didahului oleh “Hakitate” adalah kegiatan penanganan ulat yang baru menetas disertai dengan pemberian makanan pertama.
Ulat yang baru menetas didesinfeksi dengan bubuk campuran kapur dan kaporit (95 : 5) lalu diberi daun murbei yang muda dan segar yang dipotong kecil-kecil.
Pindahkan ulat ke sasag kemudian ditutup dengan kertas minyak atau parafin.
Makan diberikan 3 kali sehari yaitu pagi, siang, dan sore hari.
Pada setiap instar ulat akan mengalami masa istirahat (tidur) dan pergantian kulit. Apabila sebagian besar ulat tidur ($ 90%), pemberian makan dihentikan dan ditaburi kapur. Pada saat ulat tidur, jendela/ventilasi dibuka agar udara mengalir.
Pada setiap akhir instar dilakukan penjarangan dan daya tampung tempat disesuaikan dengan perkembangan ulat.
Pembersihan tempat ulat dan pencegahan hama dan penyakit harus dilakukan secara teratur.
Implementasi adalah sebagai berikut:
Pada instar I dan II, pembersihan dilakukan masing-masing 1 kali. Selama instar III dilakukan 1-2 kali yaitu setelah pemberian makan kedua dan menjelang tidur.
Penempatan rak/sasag agar tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng berisi air, untuk mencegah gangguan semut.
Apabila lantai tidak ditembok, taburi kapur secara merata agar tidak lembab.
Desinfeksi tubuh ulat dilaksanakan setelah ulat bangun tidur, sebelum pemberian makan pertama.
Penyalur ulat kecil dari UPUK ke tempat pemeliharaan petani / kolong rumah atau Unit
Pemeliharaan Ular Besar (UPUB), dilakukan ketika sedang tidur pada instar III. Perlakuan pada saat penyaluran ulat sebagai berikut :
Ulat dibungkus dengan menggulung kertas alas.
Kedua sisi kertas diikat dan diletakkan pada posisi berdiri agar ulat tidak tertekan.
Penyaluran ulat sebaiknya dilaksanakan pada pagi atau sore hari.

Kondisi dan perlakuan ulat besar berbeda dengan ulat kecil. Ulat besar membutuhkan kondisi ruangan yang dingin. Suhu ruangan yang baik adalah 24 ° C – 26 ° C dengan kelembaban 70 – 75%.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ulat besar adalah sebagai berikut :

Membutuhkan tempat pemeliharaan/ruang yang besar di bandingkan tempat ulat kecil.
Daun dipersiapkan untuk ulat besar, disimpan di tempat yang bersih, sejuk dan ditutupi dengan kain basah.
Daun murbei yang diberikan kepada ulat besar tidak lagi dipotong secara keseluruhan bersama dengan cabang-cabangnya.
Penempatan Pakan teratur diselingi antara ujung dan pangkalnya.
Pemberian makanan pada ulat besar (instar IV dan V) dilakukan 3-4 kali sehari yaitu pada pagi, siang, sore dan malam hari.
Menjelang ulat tidur, pemberian makan dikurangi atau dihentikan. Pada saat ulat tidur ditaburi kapur secara merata.
Desinfeksi tubuh ulat dilakukan setiap pagi sebelum pemberian makan dengan menggunakan campuran kapur dan kaporit (90:10) ditaburi secara merata.
Pada instar IV, pembersihan tempat pemeliharaan dilakukan minimal 3 kali, yaitu pada hari ke-2 dan ke-3 serta menjelang ulat tidur.
Pada instar V, pembersihan tempat dilakukan setiap hari.
Seperti pada ulat kecil, rak/sasag ditempatkan tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng yang berisi air.
Apabila lantai ruangan pemeliharaan tidak berlantai semen agar ditaburi kapur untuk menghindari kelembaban tinggi.

Mengokonkan Ulat
Pada instar V hari ke-6 atau ke-7 ulat biasanya akan mulai mengokon. Pada suhu rendah ulat akan lebih lambat mengokon. Tanda-tanda ulat yang akan mengokon adalah sebagai berikut :

Penurunan nafsu makan atau berhenti makan sama sekali.
Tubuh ulat menjadi tembus kekuningan (transparan).
Ulat cenderung untuk berjalan ke tepi.
Dari mulut serat ulat sutra keluar.
Jika tanda-tanda ini sudah terlihat, perlu untuk mengambil tindakan sebagai berikut :

Mengumpulkan ulat dan masukkan ke dalam alat pengokonan yang telah disiapkan oleh percikan merata.
Alat pengokonan yang baik digunakan adalah : rotari. Seri frame, pengokonan bambu dan mukade (terbuat dari daun kelapaatau jerami yang dipuntir membentuk sikat tabung).

Waktu Pemanenan Kepompong

Pemanenan dilakukan pada hari ke-5 atau 6 hari sejak ulat mulai membuat kepompong. Sebelum panen, ulat yang tidak mengokon atau yang mati diambil lalu dibuang atau dibakar.

Selanjutnya, penanganan kokon yang meliputi kegiatan sebagai berikut :

Membersihkan kokon yaitu menghilangkan kotoran dan serat pada lapisan luar kokon.
Seleksi kokon yaitu pemisahan kokon yang baik dan kokon yang cacat / jelek.
Pengeringan kokon yaitu penanganan terhadap kokon untuk mematikan pupa serta mengurangi kadar air dan agar dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu.
Penyimpanan kokon dilakukan jika tidak langsung dijual atau menunggu proses pemintalan.
Metode penyimpanan kokon adalah sebagai berikut :

Dimasukkan ke dalam kotak karton, kantong kain/kertas.
Ditempatkan pada ruangan yang kering atau tidak lembab.
Selama penyimpanan, sekali-sekali dijemur ulang di sinar matahari.
Lama penyimpanan kokon tergantung pada cara pengeringan, tingkat kekeringan dan tempat penyimpanan.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 23:12

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.