loading...

Impor Jerohan dan Secondary Cut, Upaya Turunkan Harga Daging?

Posted by

Sebelumnya ijin impor hanya berlaku untuk daging prime cut dan hanya boleh didistribusikan ke kalangan perhotelan dan Restoran besar (Horeka) dan dilarang dijual di pasar becek (pasar daging). Lantas bagaimana dengan jerohan impor dan secondary cut?

Pemerintah bakal membuka pintu selebarnya untuk impor jeroan dan secondary cut. Periode masuknya dipatok enam bulan sekali.

Sri Mukartini, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian menuturkan, izin impor jeroan berupa hati, jantung dan paru bisa diajukan setiap saat.

"Masa berlaku empat bulan diperpanjang menjadi enam bulan. Jadi ada tenggat. Kalau tiga bulan enggak mengajukan izin, maka rekomendasinya gugur," kata Sri di Gedung C, Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (19/7/2016).

Sementara untuk pengajuan izin impor, kata Kartini, bisa dilakukan sepanjang tahun, dengan masa realisasi enam bulan. "Setiap bulan, laporkan realisasinya. Tiap minggu, laporkan rencana distribusi. Mereka minta 1.000 ton, ternyata cuma 500 ton keliatan-kan. Berarti kamu (importir) enggak bener. Itu akan berpengaruh pada izin berikutnya," ujar Sri.

Soal negara, Kartini bilang ada 34 negara importir yang disetujui. Di mana, ke-34 negara itu bebas PMK (Penyakit Mulut dan Kuku). "Permentan Nomor 17 tahun 2016 tentang asal negara pemasukan daging tanpa tulang, itu boleh dari negara yang belum bebas PMK. Tapi yang bisa memasukkan hanya BUMN. Sekarang baru India yang diapprove, kita enggak tahu ke depannya. Bisa Brazil dan lain-lain," tutur Kartini, sapaan akrabnya.

Alasan Dibukanya Impor Jerohan dan Secondary Cut

Kementerian Perdagangan menilai, dibukanya keran impor jeroan sapi, bertujuan untuk meningkatkan kompetisi.

"Namanya perdagangan kan begini, kalau dia impor enggak laku, ya berarti enggak ada permintaan. Sekarang eranya kompetisi. Silakan saja, asal kita atur dan jamin dari K3L (Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan)," tutur Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Karyanto Suprih di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (14/7/2016).

Sebelumnya, impor jeroan sempat dilarang dengan alasan jeroan tidak sehat karena mengandung kolesterol tinggi. Namun, impor jeroan yang bakal dibuka ini, sifatnya situasional. "Kan situasional. Kan ada karantina. Dicek. Jangan ujug-ujug jeroan langsung masuk. Dilihat syarat-syaratnya dong," ujar Karyanto.

Karyanto menjelaskan ketentuan itu sifatnya dinamis, kalau memang dibutuhkan bisa dibuka kalau tidak dibutuhkan maka akan ditutup.

Sementara, Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengatakan, saat ini, sebetulnya tidak ada urgensi untuk mengimpor jeroan. "Nggak ada apa-apa (impor jeroan)," kata Mendag Tom, sapaan akrab Thomas Lembong.

Lebih lanjut Mendag Tom menjelaskan, importasi daging ditambah guna menyeimbangkan pasok di semua golongan. "Kita menambah importasi dan pasok di segala golongan, dari premium sampai secondary cut sampai jeroan jadi tentunya harus imbang antara golongan," tukas Mendag Tom.

Daging Kerbau Asal India Juga Bakalan Bebas Masuk, Siap-siap Peternak Sapi Lokal!

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian, Agung Herijadi memastikan, akhir bulan ini Kementan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengakreditasi lembaga sertifikasi di India untuk mengeluarkan sertifikat halal. "Dari kehigienisan aman dari segi halal RPH-nya disertifikasi oleh MUI jadi dijamin halal," kata Agung di kantornya, Jakarta, Rabu (13/7/2016).

Agung bilang, Rumah Potong Hewan (RPH) yang ditunjuk di India juga sudah lolos uji Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementan dan petugas karantina hewan Indonesia. "Jadi yang bakal masuk itu nanti kita seleksi," cetusnya.

Sementara itu, jenis daging yang akan dimasukkan persyaratannya adalah daging tanpa tulang yang sudah dipisahkan limpo glandulanya atau jeroannya. "Itu kan jeroannya dilakukan lebih kecil dari 2 derajat celcius. Tidak boleh kurang dari empat supaya asam aminonya tidak hancur," ujar Agung.

Agung berpendapat, India merupakan contoh negara pemakan daging kerbau yang bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) di negara tujuan sehingga tidak ada masalah.

Jadi jika semua urusan diatas beres, siap-siap saja daging India akan bebas masuk Indonesia!

sumber: inilah.com

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 21:32

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.