loading...

Fatwa MUI Tentang Zakat Fitrah

Posted by

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dalam rapatnya pada tanggal 5 Syawwal 1420 H, bertepatan dengan tanggal 12 Januari 2000 M, yang membahas tentang Pelaksanaan Zakat Fitrah[1], setelah :

Menimbang:

Bahwa setiap akhir bulan Ramadhan, menjelang Idul Fitri, umat Islam melaksanakan salah satu kewajiban agama berupa pembayaran zakat fitrah, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk anggota keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.
Bahwa selama ini, sebagian besar anggota masyarakat melaksanakan kewajiban pembayaran zakat fitrah melalui Panitia Pengumpulan dan Pembagian Zakat Fitrah untuk dibagi-bagikan kepada para mustahiq.
Bahwa selama ini, pada umumnya hasil pengumpulan zakat fitrah tersebut dipusatkan di suatu tempat untuk dibagi-bagikan kepada para mustahiq yang sebelumnya telah diberi kupon sebagai tanda pengambilan zakat fitrah.
Bahwa satu sisi, pembagian zakat fitrah kepada para mustahiq dengan cara mengambil langsung di pusat-pusat pendistribusian zakat fitrah memang sangat praktis, meringankan beban panitia dan memperlihatkan syi’ar kegiatan masyarakat Islam. Akan tetapi pada sisi lain, cara seperti ini telah menyebabkan antrian panjang, berdesak-desakan, berebutan, dan bahkan saling injak menginjak di antara sesama Hal ini merupakan mempertunjukkan kemiskinan masyarakat Islam sehingga mengundang perhatian salah seorang wartawan foto untuk memotretnya dan menyebarluaskan foto tersebut keseluruh penjuru dunia dengan judul “The Best Photo of The Year”.
Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang zakat fitrah dan menghindari terjadinya dampak negatif yang diakibatkan oleh tata cara pembagian zakat fitrah yang tidak baik, MUI Provinsi DKI Jakarta memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa tentang Zakat Fitrah dan Tata Cara Pelaksanaannya.
Mengingat:

Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
Pokok-Pokok Program Kerja MUI Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 – 2005
Pedoman Penetapan Fatwa MUI
Memperhatikan:

Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 5 Syawwal 1420 H, bertepatan dengan tanggal 12 Januari 2000 M, yang membahas tentang Pelaksanaan Zakat Fitrah.

Memutuskan:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridha-Nya memfatwakan sebagai berikut:

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayarkan oleh setiap orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan, sudah dewasa maupun sudah remaja, anak-anak, kanak-kanak, bahkan bayi yang baru lahir sekalipun, asalkan mereka menjumpai bagian akhir bulan Ramadhan (sebelum terbenamnya matahari) dan awal bulan Syawwal ( sesudah terbenamnya matahari akhir bulan Ramadhan) serta memiliki kemampuan untuk membayar zakat fitrah, mereka wajib membayarkannya. Dengan demikian, zakat fitrah merupakan kewajiban agama yang merata bagi setiap orang Islam. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat al-A’la ayat 14-15:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (١٤)وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (١٥)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang”. [QS. Al-A’la, 87: 14-15].

Demikian juga hadits shahih yang diriwayatkan Iman Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah ibn Umar RA:[2]

“Dari Ibnu Umar RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah segantang (2,5 kg) kurma, atau segantang syair (gandum) atas hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa yang beragama Islam. Rasul memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum masyarakat keluar untuk melaksanakan shalat ‘Id”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud dari sahabat Abdullah ibn Tsa’labah RA:[3]

“Rasulullah SAW bersabda: Shadaqah (zakat) fitrah, adalah segantang (2,5 kg), atau segantang syair (gandum) diwajibkan atas setiap kepala anak kecil atau orang dewasa, merdeka atau hamba sahaya, laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin. Adapun orang-orang kaya akan disucikan oleh Allah SWT, sedangkan orang-orang miskin, Allah akan mengembalikan kepadanya harta yang lebih banyak dari apa yang diberikannya”.

Tata cara pelaksanaan Zakat Fitrah adalah sebagai berikut:
Pada malam hari ‘Idul Fitri, setiap orang Islam mempersiapkan diri untuk membayar zakat fitrah, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya; seperti istri dan anak, termasuk bayi yang lahir sebelum terbenamnya matahari atau orang yang wafat sesudah terbenamnya matahari. Demikian juga orang tua dan mertua yang menjadi tanggung jawabnya. Adapun pembantu rumah tangga atau buruh yang bekerja pada seseorang, jika mereka mendapat gaji atau upah, maka wajib membayar zakat fitrah sendiri. Akan tetapi jika tidak mendapatkan gaji atau upah, maka yang wajib membayar zakat fitrah adalah majikannya.
Zakat fitrah yang wajib dibayarkan oleh setiap orang adalah bahan makanan pokok sebanyak 2,5 kg. Masyarakat yang makanan pokoknya beras, maka wajib membayar zakat fitrah beras. Demikian juga jika makanan pokok mereka jagung, gandum, kurma atau yang lain, maka mereka wajib membayar zakat fitrah dengan bahan makanan pokok tersebut sebanyak 2,5 kg. Menurut madzhab Syafi’i, zakat fitrah harus dibayarkan dalam bentuk bahan makanan pokok. Akan tetapi menurut madzhab Hanafi, zakat fitrah boleh dibayarkan dalam bentuk uang yang nilainya sama dengan harga bahan makanan pokok yang dipergunakan untuk membayar zakat fitrah.
Beras (bahan makanan pokok) yang dipergunakan untuk membayar zakat fitrah harus sama atau lebih baik kualitasnya dengan beras yang dimakan sehari-hari oleh orang yang membayar zakat fitrah. Jika setiap harinya mengkonsumsi nasi dan beras Cianjur, maka ketika akan membayar zakat fitrah harus dengan beras Cianjur atau yang lebih baik kualitasnya dari pada beras Cianjur. Mereka tidak boleh membayar zakat fitrah dengan beras yang kualitasnya lebih buruk. Sebagaimana telah diingatkan oleh Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 267-268:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (٢٦٧)الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (٢٦٨)

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampuna daripada-Nya dan karunia.Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. [QS. Al-Baqarah, 2: 267-268].

3. Zakat fitrah harus sudah diserahkan kepada fakir miskin yang berhak menerimanya paling akhir pada pagi Hari Raya ‘Idul Fitri sebelum pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri. Jika diserahkan setelah pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri, maka tidak lagi berfungsi sebagai zakat fitrah, melainkan shadaqah biasa. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan sahabat Abdullah ibn Abbas:[4]

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, dan untuk memberi makan bagi orang miskin. Barangsiapa menunaikan zakat fitrah sebelum shalat (‘Idul Fitri), maka ia adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya sesudah shalat (I’dul Fitri), maka ia menjadi shodaqah biasa”.

Jika zakat fitrah diserahkan melalui Panitia Pengumpulan dan Pembagian Zakat Fitrah, maka panitia harus bertanggung jawab mengantarkan zakat fitrah langsung ke rumah para mustahiq sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan para remaja masjid atau pengurus RT setempat. Hendaknya panitia menghindari pembagian zakat fitrah dengan menyuruh para mustahiq mengambilnya di pusat-pusat pendistribusian zakat fitrah. Karena hal itu menyebabkan antrian panjang, berdesak-desakan, berebutan, dan bahkan saling injak menginjak di antara sesama Di sisi lain, hal itu juga merupakan propaganda kemiskinan umat Islam yang tidak layak dilihat umat lain. Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah SAW telah bersabda:[5]

“Cegahlah mereka dari keluar berkeliling meminta-minta pada hari raya ini”. (HR. AL-Baihaqi)

Di antara hikmah dan manfaat zakat fitrah adalah sebagai berikut:
Membersihkan jiwa manusia dari berbagai sifat yang kurang baik seperti sombong, angkuh, kikir dan pelit. Demikian juga membersihkan manusia dari ucapan dan perbuatan yang keji atau tidak bermanfaat selama bulan suci Ramadhan.
Menghilangkan kesedihan kaum fakir miskin. Karena dengan memberikan zakat fitrah kepada mereka, maka kebutuhan hidup mereka terpenuhi, minimal satu hari, pada hari raya Idul Fitri. Dengan demikian, mereka dapat menyambut hari raya Idul Fitri dengan suka cita sebagaimana yang dirasakan oleh seluruh umat Islam, baik kaya maupun miskin.
Mewujudkan rasa “persamaan” antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin, dan antara orang-orang yang terkemuka dengan rakyat jelata karena mereka sama-sama membayar zakat fitrah dalam kadar yang sama.
Jakarta, 5 Syawwal 1420 H.

12 Januari 2000 M.

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

Ketua,
ttd

Prof. KH. Irfan Zidny, MA

Sekretaris,
ttd

KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,
Ketua Umum,
ttd

KH. Achmad Mursyidi

Sekretaris Umum,
ttd

Drs. H. Moh. Zainuddin

[1]Fatwa ini merupakan penyempurnaan atas: 1. Seruan MUI DKI Jakarta tentang Penunaian Zakat Fitrah, bulan Juni 1977 yang ditandatangani oleh KH. Abdullah Syafi’ie dan H. Gazali Syahlan, 2.Seruan MUI DKI Jakarta kepada Panitia Pengumpulan dan Pembagian Zakat Fitrah DKI tanggal 28 Agustus1978 M/24 Ramadhan 1398 H yang ditandatangani oleh KH.Rahmatullah Shiddiq dan H. Gazali Syahlan, 3.Fatwa MUI DKI Jakarta tentang Pembagian Zakat Fitrah tanggal 22 Juni 1982, dan 4. Seruan MUI DKI Jakarta tentang Penunaian Zakat Fitrah dan shalat ‘Ied tanggal 18 Mei 1987 M/20 Ramadhan 1407 H yang ditandatangani oleh KH. Achmad Mursyidi dan Drs. H.Z. Arifin Nurdin, SH.

[2]Muhammad bin ‘Isma’il Abu ‘Abdullah Al-Bukhari, al-Jami’ as-Shahih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar al Fikr, 1987), juz ke-2, hal. 547, no. 1432. Lihat juga, Husain Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi, al-Jami’ as-Shahih, (Makah: Isa Baby al-Halabi, 1955), juz ke-2, hal. 677, no. 984.

[3]Abi Dawud Sulaiman, Sunan Abi Dawud, (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), juz ke-2, hal. 114, no. 1620.

[4]Ibid., juz ke-2, hal. 111, no. 1609.

[5]Ibrahim bin Muhammad Al-Husaini, Al-Bayan wa Ta’rif fi Asbab Wurud al-Hadits as-Syarif, (Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, 1401), juz ke-1, hal. 116.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:07

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.