loading...

Bibit, Pakan dan Manajemen, 3 Faktor Penentu Keberhasilan Usaha Sapi Potong

Posted by

Bibit, Salah Satu Dari Tiga Faktor Utama Yang Menentukan Keberhasilan Usaha Ternak Sapi

Usaha penggemukan sapi saat ini menjadi primadona para petani peternak. Keuntungan usaha menggemukkan sapi tidak hanya dari hasil menjual sapinya yang sudah siap panen (sudah gemuk) tetapi juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari kotoran sapinya yang bisa diolah menjadi pupuk kompos yang memiliki nilai jual tinggi, apalagi sekarang sedang musimnya kembali ke organik.




Keberhasilan usaha ternak sapi, termasuk usaha penggemukkan sapi, ditentukan oleh 3 (tiga) faktor yang dominan, yaitu: pembibitan (breeding), pakan (feeding), dan pengelolaan (managing). Dalam makalah ini akan dibatasi hanya untuk membahas pembibitan (breeding) ternak sapi. Seleksi bibit ternak sapi dibedakan dalam 2 (dua) tujuan pemeliharaan, yaitu:
  • (a)Pemeliharaan sapi potong bakalan untuk tujuan digemukkan. keuntungan yang diharapkan adalah hasil dari penggemukan.
  • (b)Pemeliharaan sapi potong bibit untuk tujuan pengembangbiakan sapi potong. Keuntungan yang diharapkan adalah keturunannya.
Seleksi bibit untuk tujuan digemukkan
Pemilihan sapi potong bibit yang akan dipelihara tergantung pada selera (preverensi) peternak dan kemampuan modal yang dimiliki. Beberapa alternatif pemilihan bibit ternak sapi; berdasar lama dan pendeknya jangka waktu pemeliharaan serta berdasar bangsa atau type sapi potong yang akan dipelihara. Jangka waktu pemeliharaan yang pendek berarti harus memilih ternak jantan muda berkisar umur 1–1,5 tahun dengan masa pemeliharaan 3-6 bulan. Konsekuensi pemilihan ternak pada masa ini akan membutuhkan modal yang agak banyak karena kondisi ternak sudah menginjak remaja, akan tetapi biasanya keuntungan yang diperoleh lebih besar dari pada pemeliharaan sapi potong yang dimulai dari lepas sapih. Faktor penunjang lain cepatnya pemeliharaan ini karena fase pertumbuhan sapi yang lebih cepat dari pada fase pemeliharaan lepas sapih.

Pada jangka waktu pemeliharaan yang agak lama maka umur ternak sapi potong yang diusahakan berkisar lepas sapi sampai dengan umur 6 bulan. Waktu yang diperlukan untuk pemeliharaan atau penggemukan ini berkisar 1-1,5 tahun. Kondisi ini membutuhkan modal lebih kecil dari pada modal pada saat pemeliharaan sapi remaja.

Selain seleksi berdasar jangka waktu, juga berdasar bangsa/ type dari sapi potong yang akan dipelihara. Beberapa bangsa/ type sapi potong memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Jenis Sapi Bali

Sapi Bali merupakan sapi keturunan Bos sondaicus/ Bos banteng yang berhasil dijinakkan. Beberapa hasil penelitian bahwa sapi bali tergolong sapi yang cukup subur, sehingga sebagai pilihan ternak sapi bibit yang cukup potensial. Fertilitas sapi Bali (Darmadja, 1980 dalam Murtidjo, 1990) 83 - 86 persen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sapi Bali dari sudut pandang pengembangbiakan lebih baik dari pada sapi asal Eropa yang hanya mencapai 60 persen.

Sapi Bali betina rata-rata mencapai dewasa kelamin pada umur 18 bulan, dengan siklus estrus rata-rata 18 hari. Sedang pada usia muda berkisar antara 20-21 hari dan 16-23 hari pada sapi bali betina dewasa. Lama masa birahi sangat panjang, yaitu sekitar 16-23 jam dengan masa subur 18-27 jam (Pane, 1977 dalam Murtidjo, 1990). Lama keuntungan sapi bali berkisar 280 – 294 hari, sedang prosentase kebuntingan sebesar 86,56 persen. Tingkat kematian pada saat melahirkan tergolong kecil, yaitu berkisar 3,65 persen. Selain itu persentase kelahiran dari jumlah sapi Bali yang dikawinkan mencapai 83,4 persen.

Berdasar Hasil penelitian Balitnak Grati dan Sidrap Sulawesi Selatan, bahwa Sapi Bali dengan berat badan 250 Kg yang digemukkan melalui 2 (dua) tahap pemeliharaan, dimana 3 (tiga) bulan pertama diberikan hijauan rumput saja dan pada 3 (tiga) bulan berikutnya diberi pakan tambahan berupa konsentrat bisa mencapai berat badan akhir 350 Kg. Hal ini mengindikasikan bahwa ternak sapi bali cukup potensial sebagai sapi bakalan untuk tujuan digemukkan.


Berikut ini perbedaan sapi bali dengan sapi ongole dilihat dari sudut pandang performance yang telah diberi pakan tambahan konsentrat selama 154 hari adalah sebagai berikut (tabel 1):
Sedangkan perbedaan karakteristik sapi bali dan sapi ongole berdasar parameter karkas yang diberi pakan konsentrat, ditunjukkan seperti tabel di bawah ini Tabel 2.):

Berdasar tabel tersebut di atas bahwa kedua type sapi tersebut masing-masing memiliki keunggulan, sehingga pemilihan jenis ternak tergantung pada tujuan dari pemeliharaannya. Untuk memperoleh prosentase daging yang lebih banyak dan lebih besar maka sapi ongole lebih unggul dari pada sapi bali, tetapi sebaliknya bila berdasar penyebaran ketebalan lemak bila dihubungkan dengan Marbeling.
Sedangkan perbedaan sapi Madura dengan sapi Grati dilihat dari sudut pandang performance yang telah diberi pakan tambahan konsentrat selama 154 hari adalah sebagai berikut (Tabel 3):
Sedangkan perbedaan karakteristik sapi Madura dan sapi Grati berdasar parameter karkas yang diberi pakan konsentrat, ditunjukkan seperti tabel di bawah ini (Tabel 4):
Berdasar kedua tabel tersebut di atas bahwa sapi Grati memiliki badan yang lebih besar dari pada sapi Madura, pun begitu pula luas penampang daging punggung. Melihat dua kriteria tersebut, maka Keputusan peternak akan lebih tepat bila memelihara pada pilihan sapi Grati dan menjual dengan sistem berat hidup.

Sapi Limousin

Sapi Limousin memiliki karakteristik bulu merah mulus, dengan bentuk tubuh memanjang, pada bagian perut agak mengecil tetapi bagian paha dan pinggul besar sehingga seolah-olah mirip dengan singa. Berat badan sapi janatan dewasa bisa mencapai 1–1,2 ton, dengan tingkat pertumbuhan yang sangat cepat, yaitu rata-rata pertambahan berat badan per hari dapat mencapai 1 -1,2 Kg/ekor/hari. Hal ini ditunjang dengan kemampuan sapi Limousin yang dapat mengkonsumsi pakan berkualitas rendah. Berat sapi Limousin betina dewasa rata-rata mencapai 650–800 Kg. Berdasar karakteristik tersebut tidak jarang sapi Limousin sangat digemari oleh peternak.


Seleksi Berdasar Ukuran Minimal Vital Statistik Sapi Potong
Termasuk seleksi berdasar performance adalah dengan melihat ukuran minimal vital statistik yang dipunyai ternak sapi potong, dengan kriteria sebagai berikut Tabel 5):
Penjelasan di atas hanya menginformasikan bila ternak tersebut dipilih pada usia muda dan dewasa. Lain halnya bila ternak yang akan dipilih pada masa masih pedet.

Secara umum persyaratan ternak pedet yang akan dipilih / diseleksi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya. (2) Matanya tampak cerah dan bersih. (3) Tidak terdapat tanda-tanda sering batuk, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.(4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba. (5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya. (6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur. (7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu. (8) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.

Apabila ternak sapi yang dipilih untuk digemukkan pada masa muda maka persyaratan umum yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
  • 1)Tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat.
  • 2)Kulit kendor, turgor elastik, dan tidak kusam yang dimungkinkan untuk penimbunan lemak pada saat penggemukan.
  • 3)Bentuk tubuh kompak (tidak cacat), penampilan enerjik atau agresif dan punggung rata.
  • 4)Paha besar dan jarak antara kedua paha lebar.
  • 5)Bibit sapi mudah ditemukan di pasar hewan setempat.

Kawin Suntik / Inseminasi Buatan (IB)
Berbicara tentang pembibitan ternak tidak akan terlepas dengan kawin suntik (inseminasi buatan/ IB). karena dengan ini IB ini maka akan dapat memperbaiki mutu genetik ternak dan menghasilkan bibit ternak sapi yang berkualitas bagus.
Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut 'insemination gun'.
Tujuan Inseminasi Buatan:
  • 1.Memperbaiki mutu genetika ternak;
  • 2.Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya ;
  • 3.Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
  • 4.Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
  • 5.Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

Keuntungan IB
  • 1.Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
  • 2.Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
  • 3.Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
  • 4.Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
  • 5.Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
  • 6.Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
  • 7.Pejantan yang digunakan adalah pejantan bibit unggul.
  • 8.Memungkinkan perkawinan antara ternak-ternak yang sangat berbeda ukuran besarnya tanpa menimbulkan cidera atau kerugian pada ternak betina maupun pejantan.
Keunggulan Sapi Hasil IB
  • 1.Lebih baik daripada kawin alami.
  • 2.Pertumbuhan cepat, bobot badan 1–1,2 kg/hari.
  • 3.Bobot sapi dewasa 1–1,2 ton.
  • 4.Dapat mengkonsumsi pakan berkualitas rendah.
  • 5.Dapat beradaptasi dengan lingkungan.

Kerugian IB
  • 1. Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;
  • 2. Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
  • 3. 3.Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;
  • 4.Adanya Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).
Anatomi dan Fisiologi Alat Kelamin Betina
Pubertas (kematangan alat kelamin / dewasa kelamin) terjadi akibat aktivitas dalam ovarium (indung telur), umur pubertas pada sapi adalah antara 7 - 18 bulan, atau dengan berat badan telah mencapai kurang lebih 75% dari berat dewasa. Kecepatan tercapainya umur dewasa kelamin tergantung dari:
1.Jenis / bangsa sapi;
2.Gizi, Bila jumlah dan kandungan gizi pakan kurang jumlah atau mutunya, maka dewasa kelamin akan lebih lama dicapai, hal ini disebabkan berat badan yang kurang;
3.Cuaca, Di daerah tropis seperti di Indonesia, umur dewasa kelamin lebih cepat / muda
4.Penyakit, Karena mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berat badan, apalagi bila menyerang alat kelamin, maka kemungkinan besar umur dewasa kelamin lebih lambat dicapai.
Siklus birahi pada sapi betina yang normal biasanya berulang setiap 21 hari, dengan selang antara 17-24 hari. Siklus birahi akan berhenti secara sementara pada keadaan-keadaan:
• Sebelum dewasa kelamin;
• Masa post-partum.

Siklus birahi dibagi dalam 4 tahap, dan berbeda-beda pada setiap spesies hewan. Tahapan dan lamanya pada sapi dapat ditemui di bawah ini :
1. Estrus
Pada tahap ini sapi betina siap untuk dikawinkan (baik secara alam maupun IB). Ovulasi terjadi 15 jam setelah estrus selesai. Lama periode ini pada sapi adalah 12 - 24 jam.
2. Proestrus
Waktu sebelum estrus. Tahap ini dapat terlihat, karena ditandai dengan sapi terlihat gelisah dan kadang-kadang sapi betina tersebut menaiki sapi betina yang lain. Lamanya 3 hari.
3. Metaestrus
Waktu setelah estrus berakhir, folikelnya masak, kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan pertumbuhan / pembentukan corpus luteum (badan kuning). Lama periode ini 3 - 5 hari.
4. Diestrus
Waktu setelah metaestrus, corpus luteum meningkat dan memproduksi hormon progesteron.

Periode ini paling lama berlangsungnya karena berhubungan dengan perkembangan dan pematangan badan kuning, yaitu 13 hari.

Pada saat keadaan dewasa kelamin tercapai, aktivitas dalam indung telur (ovarium) dimulai. Waktu estrus, ovum dibebaskan oleh ovarium. Setelah ovulasi terjadi, bekas tempat ovarium tersebut itu dipenuhi dengan sel khusus dan membentuk apa yang disebut corpus luteum (badan kuning) Corpus luteum ini dibentuk selama 7 hari, dan bertahan selama 17 hari dan setelah waktu itu mengecil lagi karena ada satu hormon (prostaglandin) yang merusak corpus luteum dan mencegah pertumbuhannya untuk jangka waktu yang relatif lama (sepanjang kebuntingan).
Selain membentuk sel telur, indung telur / ovarium juga memproduksi hormon, yaitu:
• Sebelum ovulasi: hormon estrogen;
• Setelah ovulasi corpus luteum di ovarium memproduksi: hormon progesteron
• Hormon-hormon ini mengontrol (beri jarak) kejadian siklus birahi di dalam ovarium, selama kebuntingan.

Tanda-Tanda Ternak Yang Birahi
Interval / jarak waktu antara satu periode birahi ke periode birahi berikutnya, selama 21 hari. Lama birahi sapi antara 10-24 jam. Observasi birahi dilakukan 2 (dua) kali sehari pagi dan sore.
  • 1. Keluar lendir transparan agak tebal menggantung pada vulva atau pangkal ekor. Tampak tidak tenang
  • 2.Vulva bengkak dan kemerahan
  • 3.Palpasi vulva terasa hangat
  • 4.Nafsu makan hilang
  • 5.Menguak-nguak mencari pejantan
  • 6.Menaiki dan diam bila dinaiki
  • 7.Tampak tidak tenang

Pencatatan Kegiatan IB
Pencatatan diperlukan untuk menentukan kemajuan program inseminasi buatan pada individu sapi betina, pada sekelompok ternak betina dalam suatu peternakan atau sekelompok betina dalam suatu wilayah inseminasi buatan yang tidak dapat dipisahkan dari usaha peningkatan mutu ternak. Sistim pencatatan meliputi:
1.Sistim pencatatan dan laporan yang mencakup penampilan ternak peserta IB, yaitu identitas ternak, tanggal birahi, tanggal perkawinan dan tanggal melahirkan serta kesehatan.
2.Sistim pencatatan dan laporan operasional IB yang mencakup jumlah dosis IB dan jumlah kelahiran pedet.

Koleksi Pejantan IB
Pejantan yang digunakan untuk program inseminasi buatan, dalam upaya untuk meningkatkan mutu genetik keturunan hasil IB. Ada beberapa jenis sapi yang direkomendasikan:
A.Sapi Potong: 1) Limousin, 2) Simmental, 3) Ongole, 4) Madura, 5) Bali, 6) Brangus, 7) Brahman dan 8) Angus
B.Sapi Perah hanya Sapi FH

Saat Perkawinan Yang Tepat
Mengetahui saat perkawinan yang tepat pada sapi potong merupakan syarat untuk dapat memahami waktu pelaksanaan inseminasi buatan untuk perkawinan induk sapi potong. Pengetahuan ini sangat penting artinya bagi peternak.

Pelaporan Program IB
Keberhasilan program pelaksanaan inseminasi buatan ditentukan oleh kemampuan peternak melaporkan permintaan pelayanan inseminasi buatan kepada inseminator yang tepat untuk dilaksanakan inseminasi buatan.

Prosedur pelaporan IB dapat ditempuh:
1.Menghubungi pos IB terdekat.
2.Peternak menghubungi langsung inseminator.
3.Peternak menghubungi inseminator melalui telepon.

Kesuburan dan Kemajiran
Kesuburan (fertilitas) adalah kemampuan sapi betina untuk bunting melahirkan anak hidup setiap sekitar 12 bulan. Sedangkan kemajiran (ketidaksuburan) adalah keadaan dimana seekor sapi betina hanya mampu melahirkan dengan jarak kelahiran lebih panjang dari pada 12 bulan. Istilah ini juga dipakai bagi sapi betina yang sulit menjadi bunting.
Keadaan ekstrim dari kemajiran adalah sterilitas, dimana sapi tidak mampu untuk bunting sama sekali. Sapi yang steril biasanya dipotong karena merugikan untuk dipelihara, kecuali untuk tenaga tarik.

Harapan Untuk Kesuburan
Secara umum, setiap pelaksanaan inseminasi buatan hanya berhasil menghasilkan kebuntingan maksimal 55%, artinya, bila 100 ekor sapi betina di inseminasi satu kali, hanya 55 sapi betina yang akan melahirkan seekor anak sapi yang sehat, hal ini mungkin disebabkan oleh :
• beberapa ovum (sel telur) tidak keluar dari ovarium (indung telur), atau bahkan tidak ada ovulasi sama sekali;
• beberapa ovum yang dibuahi mati sebelum hari ke-13, hari ke-14 sampai hari ke-42 atau setelah 42 jam
Bila hal ini terjadi, maka sapi akan mampu birahi lagi dan dapat di inseminasi kembali pada estrus berikutnya. Setelah iniseminasi inipun harapan keberhasilannya tetap 55%. Oleh karena itu, 6% dari seluruh populasi sapi memerlukan lebih dari 3 kali inseminasi sampai berhasil bunting, meskipun mereka sehat.

Jarak Antar Kelahiran
Jarak antar kelahiran (calving interval) yang baik adalah kurang dari 12 bulan, sebaiknya 10 sampai 11 bulan. Pada jarak ini, waktu istirahat bagi rahim setelah kebuntingan cukup panjang, dan sapi telah siap lagi untuk bunting sehingga memaksimalkan keuntungan bagi pemiliknya. Terutama pada sapi perah, jarak antar kelahiran ini sangat penting karena mempengaruhi siklus laktasi dan produksi susu.


Penyebab Infertilitas
Infertilitas biasanya ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda birahi atau meskipun dikawinkan / diinseminasi, kebuntingan tidak terjadi.
1.Tidak ada gejala-gejala birahi
Tidak ada gejala birahi, bila terjadi pada sapi bunting dan setelah melahirkan, maka keadaan tersebut adalah normal. Tetapi apabila kejadian ini terjadi pada sapi yang tidak bunting (setelah positif didiagnosa tidak bunting) dianggap abnormal. Bila dilihat dari umur dan berat badan seharusnya sudah mencapai pada usia dewasa kelamin tetapi gejala birahi belum juga tampak maka dianjurkan untuk dipotong sebagai ternak afkir, Sebaiknya memang ditunggu dan diamati beberapa saat karena kadang-kadang dewasa kelamin memang datang terlambat dan sebaiknya diperiksakan pada dokter hewan atau petugas ATR.

Beberapa kemungkinan bisa menjadi penyebab tidak terjadinya birahi pada sapi dewasa, diantaranya :
  • a.Saat sedang bunting
  • b.tidak ada cukup pakan atau intake makanan kurang
  • c.adanya kista dalam ovarium, kelainan ini dapat diobati dengan Prostaglandin (PGF 2a), birahi diaharapkan terjadi 2-3 hari setelah pengobatan
  • d.badan kuning yang menetap (corpus luteum persistence), yang dapat terjadi disalah satu atau kedua ovarium, pengobatan juga dilakukan dengan menggunakan Prostaglandin (PGF 2a).
  • e.tanda-ta nda birahi pada sapi sebenarnya terjadi , tetapi tidak terlihat (terlewatkan) oleh petani.
2.Meskipun di inseminasi beberapa kali, sapi tetap tidak bunting dan birahi lagi
3.Keadaan ini dapat disebabkan oleh :

a.Tidak ada pembuahan, penyebabnya antara lain:
  • (1) pejantan mungkin tidak subur
  • Ada masalah dengan penyimpanan atau perlakuan semen. Kalau ini terjadi, maka sapi yang lain yang di Inseminasi dengan semen yang sama juga tidak akan bunting
  • Bila semen baik, maka kesuburan sapi betina harus diperiksa oleh Dokter Hewan,
  • terjadi perlukaan dalam indung telur atau terjadi perlekatan, bila hal ini terjadi maka tidak dapat diobati
  • Tidak terjadi ovulasi dalam jangka waktu yang lama setelah melahirkan. Pengobatan dapat dicoba dengan HCG (hanya boleh dilakukan oleh Dokter Hewan)
  • Ovulasi terlambat (lebih dari pada 15 jam setelah birahi). Pengobatan dengan HCG
  • Adanya infeksi atau kelainan dengan hormon dalam uterus (rahim). Infeksi dalam rahim kadang-kadang sembuh sendiri setelah 2 siklus birahi. 
  •  Infeksi dalam vagina
b. Embrio (janin) mati segera setelah pembuahan, penyebabnya adalah :
  • Ketidak sesuaian genetis antara induk dengan pejantan, dapat dicoba dengan menginseminasi menggunakan semen dari pejantan lain
  • Stress
  • Demam : suhu badan tinggi (infeksi umum), yang menandakan adanya serangan penyakit menular
  • Penyakit pada hati
  • Pakan kurang atau terlalu banyak
  • Infeksi dalam rahim
c.Siklus birahi singkat. Yang normal biasanya 18-24 hari, abnormal apabila siklus berjalan kurang dari 18 hari, kemungkinan penyebabnya adalah:
  • Sista pada follikel : nimfomania, sapi birahi secara berulang dengan jarak yang sering (tidak sesuai dengan siklus), selalu menaiki sapi betina lain, dan kadang banyak keluar cairan (lendir) dari vulva. Pengobatan dapat dilakukan dengan HCG (hanya oleh Dokter Hewan)
  • Salah mengidentifikasi atau monitoring birahi.
d. Siklus birahi yang panjang (lebih dari 24 hari) :
  • Kesalahan mengidentifikasi birahi. Biasanya yang kita lihat adalah siklus birahi yang ke dua (selanjutnya) 

Sumber:http://hendri-wd.blogspot.co.id

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 00:30

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.