loading...

Penyakit Sapi Antraks, Cara Penularan dan Pengendaliannya

Posted by

Inilah Daerah Endemis Antraks

Pedoman koordinasi Kejadian Luar Biasa (KLB) anthraks sedang dibuat oleh Komnas Zoonosis. Masih munculnya penyakit anthraks dikarenakan belum ada koordinasi yang matang, seperti penutupan wilayah tidak langsung dilakukan. Komitmen pemeritah pusat dan pemerintah daerah sangat penting tetapi peran masyarakat juga harus ditingkatkan dengan pemberdayaan

Saat ini 11 provinsi di Indonesia telah tertular antraks sehingga ditetapkan sebagai daerah endemis yaitu DKI Jakarta (Jakarta Selatan), Jawa Barat (Kota Bogor, Kab. Bogor, Kota Depok), Jawa Tengah (Kota Semarang, Kab. Boyolali), Nusa Tengara Barat (Sumbawa, Bima), Nusa Tenggara Timur (Sikka, Ende), Sumatra Barat, Jambi, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan (Makassar, Wajo, Gowa, Maros), Sulawesi Utara dan Papua.

Pada 2016 muncul kembali wabah antraks di Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Kasus meluas hingga Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Wabah antraks pada sapi terkini (April 2016) dilaporkan di Desa Ulapato A Kecamatan Telaga, Desa Lupoyo, dan Pentadio Barat Kab Gorontalo dan Kab Bone-Bolango Provinsi Gorontalo.

Kedua daerah itu sebelumnya belum pernah ada laporan kasus antraks. Karena awamnya masyarakat terhadap penyakit ini, maka kemudian diikuti dengan penularan antraks pada manusia sehingga menjadi kejadian luar biasa (KLB).

Cara Penularan Penyakit Antraks
Sumber penularan antraks adalah hewan mati, produk hewan (wol, daging) dan material tercemar (kandang, lingkungan dan peralatan). Akibat kurangnya pengontrolan terhadap sumber penularan ini, ditengarai kasus meningkat setiap tahun di Sulawesi Selatan (Gowa, Sidrap, Makasar dan, Pinrang).

Hal itu diungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Kajian Kebijakan Nasional Pengendalian dan Penanggulangan Antraks pada Ternak di Indonesia yang digelar Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jakarta (23/5).

Rumusan FGD yang dikeluarkan Balitbangtan menyebutkan infeksi antrak pada hewan hampir selalu melalui oral, seperti melalui pakan. Tetapi jika muncul kasus biasanya sifatnya tidak merata, atau spot-spot. Pada musim penghujan, perkembangan kasus mengikuti aliran air yang menuju lokasi pakan atau gembalaan. Sehingga ternak yang makan di situ akan terpapar antraks.

Vaksinasi
Vaksinasi adalah cara yg paling tepat untuk pencegahan dan harus rutin dilakukan. Perlu disediakan vaksin dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan daerah endemis dan area sekitarnya. Agar kemunculan kembali antraks pada masa mendatang dapat dicegah.

Evaluasi atas vaksinasi antraks telah menunjukkan vaksinasi mampu mencegah munculnya kembali kasus anthraks. Wilayah-wilayah endemis anthraks sebenarnya wajib mendapatkan vaksinasi antraks secara rutin. Sayangnya coverage vaksinasi antraks saat ini masih sangat rendah. Ternak-ternak yang telah divaksin seharusnya diberi chip untuk memudahkan monitoring.

Hasil pelaksanaan vaksinansi (pasca vasinasi) perlu dilakukan monitoring, namun terkendala dengan ketersediaan antigen anthraks. Dalam hal ini BB Litvet menyatakan diri siap membantu untuk penyiapan antigen utk Elisa, serum positif dan cut-off-nya

Pengendalian
Pengendalian penyebaran wabah anthraks dilakukan melalui pengawasan lalu lintas ternak. Ternak diijinkan keluar atau masuk suatu daerah harus berasal dari daerah yang tidak ada laporan kasus antraks dalam 20 hari terakhir. Ternak harus memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), dan tidak ada gejala klinis pada hari pengiriman.

Untuk ternak yang divaksinasi boleh melintas setelah minimal 20 hari pasca vaksinasi dan maksimal 6 bulan pasca vaksinasi. Sampai saat ini sayangnya tidak ada pemeriksaan laboratorium untuk antraks pada hewan hidup secara scientific base.

Pemberantasan dan pengendalian antraks harus dilakukan lintas institusi dan sektor. Perlu koordinasi antara Kementerian Kesehatan untuk penyediaan obat-obatan, Kementerian Pertanian (penanganan disposal), dan polisi untuk penegakan hukum dan membantu pengawasan lalulintas ternak.

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Peternakan dan Herbal Updated at: 19:49

0 komentar:

Post a Comment

Copyright@2014-2016. www.AgrobisnisInfo.com . Powered by Blogger.